EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 63


__ADS_3

...


 


Aku sama sekali tidak berniat untuk mendekat, aku memutuskan untuk duduk di kursi panjang yang menempel di koridor yang sama dengannya


Meskipun agak jauh tapi aku pikir Bayu terlihat sangat keren jika sedang serius seperti itu. Sesekali dia tampak


melipat tangannya di depan dada lalu menunduk seperti tengah berpikir keras. Dua lelaki itu bukanlah anggota tim Bayu, aku tidak mengenal mereka.


Aku tidak ingat sudah berapa lama menunggunya, hanya saja sejak tadi beberapa orang yang duduk di sampingku sempat bertanya aku sakit apa. Atau aku sedang apa duduk di sini, atau yang lebih kagetnya lagi ada yang menduga aku sedang di rawat untuk program kehamilan menyadari di dekatku ada sebuah pintu tempat dokter kandungan.


Pandanganku kembali beralih menatap Bayu, mungkin dia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Aku menjadi sedikit


bersalah karena dia harus di sini menemaniku.


Detak jantungku tiba-tiba berdetak cepat saat Bayu melirikku tanpa sengaja. Dari tatapannya dia terlihat kaget


melihatku ada di luar ruangan, lalu lelaki itu kembali beralih mendengarkan ucapan pria di hadapannya.


Perhatianku teralihkan saat seorang wanita yang sepertinya seumuran denganku sedang duduk berdampingan dengan seorang pria. Keduanya duduk di hadapanku sejak tadi dan aku baru sadar kalua wanita itu sedang menatapku dengan tatapan kesal.


Karena tidak mengerti dengan maksud tatapan wanita itu, aku hanya balas menatapnya acuh tak acuh. Lalu tiba-tiba saja dia merangkul pria di sampingnya saat aku sedang meliriknya.


Melihatnya aku jadi mengerti maksud tatapannya itu. Apa mungkin dia mengira aku sejak tadi duduk di hadapan mereka untuk menggoda lelakinya itu? Ohh ya ampun! Lelucon apa ini.


Kemudian ujung mataku melihatnya seolah meminta lelaki di sampingnya itu untuk mencium pipinya, setelah sang


pria menuruti kemauannya, wanita ini melirikku puas. Aku yang sejak tadi ingin tertawa berusaha keras menahannya.


Apa aku terlihat semenyedihkan itu? Duduk sendirian di sini dengan status sebagai pasien?


Seperti timing yang pas, aku menangkap gerakan Bayu yang sedang bersalaman dengan dua lelaki di hadapannya, lalu aku menatapnya yang sedang berjalan perlahan mendekat ke arahku.


Tiba-tiba saja aku ingin menjahili wanita di hadapanku ini, dengan sengaja aku menggerak-gerakkan kedua kakiku.


Saat Bayu sudah dekat dan berjarak lima meter dari tempatku duduk, aku melepaskan sandal slipper hitam sebelah kanan milik salah satu perawat di UGD –yang sempat tadi pagi aku pinjam- hingga sedikit terlempar dan berhenti tepat di depan kaki wanita di hadapanku ini.


Dengan ekspresi kaget yang di sengaja, aku segera berdiri perlahan bermaksud ingin mengambil sandalku itu namun seperti yang aku duga, Bayu tiba-tiba berjalan cepat dan menggantikan aku untuk berjongkok mengambilnya.

__ADS_1


“Maaf.” Ucap Bayu tersenyum kecil pada wanita itu lalu mengambil sandalku. Aku bisa melihat wanita itu balas


tersenyum pada Bayu dan memperhatikan setiap gerakkannya saat dia mendekatiku dan berlutut di hadapanku.


“Kenapa kamu keluar?”


“Aku bosan.” Jawabku memperhatikan Bayu yang sedang membantuku memakaikan kembali sandal hitam ini.


“Maaf karena aku justru mengobrol dengan mereka. Apa aku mengobrolnya lama sekali?” Bayu mendongak menatapku.


“Apa kau sedang sangat sibuk? Mungkinkah aku mengganggumu? Lebih baik kau segera pergi, mereka pasti menunggu kehadiranmu.” Aku sedikit meringis tidak enak.


“Tidak tidak! Mereka sedang ada pekerjaan di daerah sini dan mereka hanya datang ke sini untuk meminta saranku


tentang suatu hal. Bukan hal yang mendesak.”


“Kau sedang tidak berbohong ‘kan?” Aku menatapnya curiga. Bayu justru terkekeh pelan dan menggeleng.


Lalu dengan gerakkan yang tiba-tiba aku memeluk lehernya dan menempatkan daguku di bahunya. Memeluknya erat. Bayu yang kaget dengan tindakanku hanya diam kaku.


“Aku baru ingat, sejak tadi pagi aku belum mengungkapkan betapa aku merindukanmu. Pantas saja aku mencarimu seperti ini karena aku sangat merindukanmu.” Aku berbisik pelan, mengungkapkan apa yang aku pikirkan sejak tadi.


Mendengar ucapannya membuatku kembali berpikir tentang suntikan itu. Akibat racun itu aku sekarang mengalami


kerusakan jantung secara perlahan, dan orang yang ada di balik semua ini adalah Daniel.


Aku ingat saat kejadian kemarin malam, saat aku berteriak meminta ibu untuk keluar. Saat dokter Stefan


mengomeli Daniel karena dia diam saja. Bukti keterlibatannya semakin nyata, dia berpura-pura peduli padaku dan tanpa aku sadari dia juga yang memanas-manasi ibu agar semakin membenciku.


Aku menenggelamkan wajaku di lehernya, keningku menempel di kulit lehernya. Aku memejamkan mata berharap


bisa sejenak melupakan pikiran-pikiran tentang ibu atau Daniel.


“Kau lelah?” Bayu menepuk-nepuk punggungku pelan.


“Aku hanya tidak bisa berhenti memikirkan ibu dan Daniel.”


“Oh sayangku. Jika yang membuatmu lelah ada di dalam pikiranmu, aku tidak bisa menggunakan senjata.” Aku terkekeh pelan mendengar ucapannya lalu aku melepaskan pelukan kami dan menatapnya.

__ADS_1


“Sekarang aku mengantuk.”


“Apa aku membuatmu menunggu lama sekali?”


Aku menggeleng dan kembali memeluk leher Bayu, menyembunyikan wajahku di bahunya dan mulai terpejam sembari berkata. “Memelukmu seperti ini terasa sangat nyaman.”


Aku tidak peduli apa yang orang-orang pikirkan melihat aku yang sedang bersandar memeluk Bayu seperti ini, sedangkan lelaki ini yang masih berlutut di hadapanku tidak berniat untuk berdiri.


“Bisakah aku pulang?” Aku bertanya sembari melepaskan pelukan kami dan menatapnya dengan tatapan memohon.


“Apa kau yakin sudah baik-baik saja?” Aku mengangguk cepat.


“Hanya butuh istirahat. Aku sudah lebih baik. Dan tentang racun itu, kau sudah dengar?” Suaraku mengecil di akhir


kalimat. Bayu menghela napas pelan dan mengangguk lalu dia bangkit dan mengambil tempat duduk di samping kiriku.


“Aku akan membawa penawar racun secepatnya.” Cepat-cepat aku menggeleng, bukan itu maksudku bertanya padanya.


“Bukankah mereka sudah tahu identitasmu? Aku akan sangat khawatir jika kau harus berhadapan lagi dengan


orang-orang itu.”


“Menghadapi orang-orang seperti mereka sudah menjadi tugasku.”


Aku terdiam, menatap wajahnya yang sedang menatapku penuh perhatian. Ujung lidahku sudah tidak tahan ingin


membantahnya sedemikian rupa agar dia tidak pergi menghadapi orang-orang itu, tapi aku sadar bahwa ini adalah resiko pekerjaannya. Rasanya salah jika aku menginginkan orang lain yang menggantikannya tapi aku juga tidak rela.


“Tatapan matamu mengatakan semuanya. Kau tidak perlu mengatakannya, aku tahu.” Bayu mengusap puncak kepalaku, Intonasi suaranya lebih lembut, perlahan dan teratur.


Aku menghembuskan napas panjang, melipat bibirku menjadi garis lurus tapi tidak berniat mengungkapkan ke


khawatiranku.


“Temani aku makan siang di kantin, hm?” Aku mengangguk menjawab pertanyaannya, lalu kami berdua berdiri, Bayu membantuku membawa gantungan infus dan kami memutuskan untuk berjalan beriringan menuju kantin rumah sakit.


 


...

__ADS_1


__ADS_2