
...
“Sari bangun! Kau mendengarku?” Aku berbisik pelan sembari mengguncang tubuhnya. Beberapa saat Sari tampak menggeliat tidak nyaman tapi akhirnya gadis kecil ini membuka matanya.
“Ssstt.. Kita akan pulang. Ayo.” Aku memintanya untuk tidak ribut dan gadis ini mengerti. Dia hanya mengangguk dan segera bangkit. Masih dengan infus di tangannya, aku segera memasukkan kantung infus itu ke dalam tas kecil milik dokter Cilia dan menggendong Sari dengan tangan kananku.
Gadis ini memeluk leherku dan menyembunyikan wajahnya di bahu kananku sangat erat. Sesaat aku harus meringis menahan sakit yang amat sangat dari bahu kiriku saat Sari tidak sengaja menyentuhnya.
Menghembuskan napas perlahan untuk meredakan perih itu, hal ini membuat kedua mataku berkaca-kaca hampir menangis. Benar-benar perih.
Setelah lebih tenang, perlahan aku mendekati pintu dan mengintip dari celah tidak menemukan dua orang penjaga tadi meskipun masih terlihat para penjahat itu berlarian ke arah yang berbeda tempat gudang berada.
Mereka pasti sedang mengejar Bayu.
Meskipun sebenarnya aku ketakutan, malam ini pasti menjadi malam yang panjang. Aku membuka pintu perlahan dan bersembunyi saat mendengar suara langkah kaki mendekat.
Tidak! Aku tidak boleh sampai tertangkap!
Setidaknya rencana yang di susun Bayu tidak akan berantakkan karenaku.
Napasku terengah-engah antara takut ketahuan dan keadaan bahuku yang tampak memerah dari balik perban. Kemudian jalanan mulai sepi, tidak terlihat lagi anak buah bos besar yang berlarian dan tanpa menunggu lagi aku berlari sekencang yang aku bisa untuk menuju gudang.
Penerangan memang sangat minim tapi aku cukup ingat dimana letak tempat itu. Udara malam dan gelapnya pepohonan di sekitarku membuat suasana semakin mencekam. Sari yang masih memelukku sangat erat menambah kepanikanku.
Aku sudah melihat gudang itu, tinggal beberapa meter lagi kami sampai tapi langkahku terhenti dengan adanya
dua orang pria menghalangi jalanku. Mereka seolah sudah tahu pergerakkanku.
Keduanya menodongkan pistolnya dengan bunyi klik pertanda benda itu siap di gunakan.
“Mau kemana? Kabur?”
“A—aku hanya ingin melihat anak-anak yang lain. Maksudku tadi aku mendengar suara tembakan. Aku hanya khawatir.” Jawabku sedikit tergagap.
“Kembali ke tempat semula dan diam di sana!”
“Yaa! Gudang! Tempat awal kami kan di gudang.” Aku tertawa kecil berusaha mencairkan suasana yang tegang ini. Kedua lelaki ini sama sekali tidak menganggap perkataanku. Mereka semakin mendekat dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Aku yang panik refleks menendang tulang kaki mereka sekuat yang aku bisa dan seperti sebelumnya, dua lelaki ini
tersungkur kesakitan. Baru saja aku berlari melewati mereka namun tangan kiriku di tarik oleh salah satu pria yang sudah bangkit berdiri.
Aku memekik kesakitan. Sekarangbahuk u terasa kebas dan aku tidak tahu lagi apa yang harus di lakukan selain
terisak pelan. Selain itu pria ini menyentuh luka di bahuku cukup keras sehingga sekarang aku bisa meraskan basah.
Aku hampir melepaskan Sari dari gendonganku karena sekarang tubuhku tidak tahu sampai kapan bisa menahan semua perih ini.
“Lepaskan!” Aku memekik. Pria ini sudah menarik tangan kiriku, menyeretku.
BRUK!!
Sebuah pukulan tiba-tiba menyerang pria yang menarikku hingga aku bisa melepaskan diri lalu di susul pukulan-pukulan lain pada dua pria ini. Meski pencahayaan sangat kurang tapi aku bisa mengenali dua orang pria sedang memukuli penjahat itu, dari pakaian mereka saja terlihat mereka adalah anggota tentara.
Aku menghela napas lega melihat dua penjahat ini sudah jatuh tidak sadarkan diri karena pukulan itu. Rasanya kakiku berubah jadi jelly karena perasaan lega ini, perasaan aman yang seketika menguasai tubuhku.
“Ayo kita harus keluar dari sini!” Ajakan salah satu tentara itu yang memimpin jalan. Aku hanya mengangguk dan
Ketika kami sedang berjalan mengendap-endap aku bisa mendengar dengan jelas suara walkie talkie dari kedua lelaki ini.
“Bagaimana penyelamatan? Sudah semua?”
Itu suara Bayu! Mendengar suaranya saja aku bisa menebak lelaki itu bersusah payah untuk mengambil napas
sebanyak-banyaknya.
“Dua lagi sudah kami temukan dan menuju tempat jemputan.” Jawab lelaki di depanku ini.
“Pastikan mereka keluar dari sini. Aku akan menahan mereka selama mungkin.”
“Kapten, kita harus pulang bersama-sama!”
“Aku sedang sibuk di sini. Kalian pergi duluan! Ini perintah!”
Pria di hadapanku ini tampak mengerang pelan, kesal. Tidak hanya dia, tapi aku pun yang mendengarnya merasa
__ADS_1
kesal dan khawatir. Tidak terbayang olehku bagaimana nasib Bayu di tengah hutan seperti ini dengan musuh yang mengejarnya. Terlebih dia hanya sendirian!
Tidak!
Lelaki itu belum menjelaskan mengenai pertunangan yang di batalkannya itu. Kami berjanji untuk saling terbuka mengenai permasalahan yang terjadi dan kami belum sempat saling mengenal lebih jauh.
Dia datang untuk menjadikanku pacarnya lagi. Dia juga belum meminta maaf padaku. Terlebih lagi aku belum mengatakan yang sebenarnyara, bahwa aku menyesal telah mengabaikan semua pesannya, bahwa aku ingin mendengar penjelasannya, bahwa aku merindukannya dan aku mencintainya.
Membayangkan aku harus kehilangan Bayu secepat ini membuatku gugup seketika. Aku bisa melihat tak jauh di depan kami ada sebuah pesawat tentara sudah siap untuk terbang di rumput yang luas setelah keluar dari area hutan. Angin kencang menerpa tubuhku membuat baju yang aku pakai terasa semakin dingin.
Tiba-tiba aku berbalik, menghentikan langkahku dan menyerahkan Sari pada pria yang sejak tadi menjaga kami dari
belakang, tidak lupa aku menyerahkan kantung kecil berisi kantung infus dan obat-obatan di sana.
“Dia harus tetap di infus. Ada gadis bernama Gia yang akan membantumu merawatnya dalam perjalanan. Kalian harus pergi dari sini, aku akan memastikan kapten kalian selamat!” Aku berteriak kencang karena mendengar suara mesin helicopter mendekat.
Tampak pria di hadapanku ini kewalahan antara menerima Sari dan mendengar penjelasanku. Tanpa mendengar jawabannya aku segera berlari cepat masuk kembali kedalam hutan.
Tujuanku hanya satu, segera menemukan Bayu, memastikan lelaki itu baik-baik saja.
***
Diam-diam aku mengendap-endap di antara pengawal yang berlarian dengan senjata mereka. Sangat yakin mereka menuju tempat Bayu berada.
Angin yang berhembus dingin menerpa tubuhku, suasana hutan yang gelap semakin terlihat menyeramkan di luar sana. Lalu kegaduhan di desa kecil ini semakin membuatku ketakutan. Jantungku berdetak kencang, suhu tubuhku yang terasa panas memastikan aku masih demam tinggi. Kepalaku masih terasa pening dan mungkin saja jika bukan di suasana seperti ini aku sudah tidak bisa lagi berdiri atau berlari, tapi keinginanku untuk keluar dari sini sangat kuat.
Sekarang bahu kiriku yang berdenyut dan perih hanya karena udara dingin meniupnya pelan, keringat dinging keluar semakin banyak dari pelipisku. Ketika aku masih beradaptasi dengan denyutan menyakitkan di seluruh kepala dan tangan kiriku, aku sudah menemukan segerombolan pria sedang berkelahi.
Yang semakin membuatku kaget adalah tidak ada Bayu di sana, justru ada seorang lelaki tak terduga berkelahi seorang diri melawan Mike dan anak buahnya.
Aku hanya memperhatikan mereka dari balik pohon, menyadari lelaki itu Rey, dia lebih hebat berkelahi. Buktinya dia sendirian bisa menumbangkan belasan pria-pria di sekeliling Mike.
“Kamu masih ingin melawanku?” Itu suara Rey, tersenyum miring ketika lawannya tinggal Mike seorang diri. Aku masih tidak menyangka Rey bisa berada di tempat ini, terlebih dia mengenal Mike? Apa dunia sangat sempit?
“Aku tidak akan menyerahkannya! Bos besar mempercayaiku untuk segera membunuhnya!” Sahutan Mike terdengar.
__ADS_1
….