
...
“Menguntungkan secara materi?? Bertanggung jawab? Apa maksud ibu? Dari perkataan ibu barusan, kenapa yakin sekali aku pelakunya?” Tanyaku menatap wanita itu serius.
“Analisa yang tadi di utarakan oleh pria itu masuk akal. Kalau boleh jujur, dengan penampilan dan selama kejadian itu terjadi, kau memang satu-satunya penumpang yang agak mencurigakan.” Jawab wanita itu dengan pandangan selembut mungkin.
“Apa karena aku mewarnai rambutku, ibu bisa menyimpulkannya dengan cepat? Ha! Stigma di dalam masyarakat memang kuat.” Aku menggeleng santai, benar-benar tidak terbawa emosi mendengar tuduhan mereka.
“Hei. Kamu jangan asal tuduh gitu. Tidak ada bukti. Lebih baik serahkan semuanya pada polisi.” Pria paruh baya yang aku ingat duduk di kursi depan ku, menggeleng pada wanita itu.
“Kalau begitu, pak Polisi, boleh aku mengutarakan kecurigaanku tentang kasus ini?” Aku menatap polisi di samping podium.
“Silakan.” Jawabnya.
Semua orang langsung diam, menatapku penasaran.
“Ada kemungkinan justru pelakunya lebih dari satu orang. Biasanya orang yang merasa bersalah akan lebih dulu bicara dan menuduh orang lain.”
“Omong kosong!! Apa yang kamu katakan!!” Orang-orang yang tadi menuduhku langsung berseru protes.
Aku justru tertawa kecil, “sebenarnya aku hanya bergurau dengan dugaanku. Tapi itu tidak menutup kemungkinan bahwa adanya pelaku kelompok kecil di antara penumpang bus. Lagi pula, kalau aku pelakunya, aku tidak akan secara terang-terangan menunjukkan wajah atau penampilanku.”
“Bagaimana ini, pak Polisi? Kami semua harus melanjutkan perjalanan.” Tanya sebagian orang.
“Siapapun pelakunya, cepat mengaku! Perjalanan sebagian orang di sini terhambat karena kamu!” Protes suara pria.
“Polisi bisa mulai mengintrograsi penumpang dari luar kota. Alibi mereka datang ke kota ini harus di pastikan, Pak!” Seru wanita paruh baya yang tadi menuduhku. Matanya menatapku penuh sorot kesal.
Aku mendelik jengkel padanya, wanita yang memakai gelang emas dan dandanan yang mencolok ini balas melotot padaku.
__ADS_1
“Kalau begitu, dia bisa pergi denganku sekarang.” Semua orang menoleh ke asal suara di samping polisi paruh baya yang ada dekat podium.
Berdiri Bayu di sana, kedua tangannya terlipat di atas perut, raut wajahnya sangat dingin dan serius seolah dia sedang berpikir untuk memilih seseorang untuk dimarahi.
Tidak jauh di belakang Bayu, ada empat orang pria berbadan tinggi sedang berbaris, memakai kaos hitam dan celana cargo hitam dan abu. Dari wajah pria-pria itu aku mengenali dua orang di antaranya. Mereka adalah anggota tim Shadow. Pria bermata sipit bernama Mika, dan Vincent, pria tinggi berkulit putih yang aku ingat sering memimpin ke empat anggota lainnya saat menemui Bayu.
Aku tidak sadar kapan mereka semua masuk tapi tidak bisa di pungkiri, perasaan aman menyurutkan emosiku.
“Pak polisi, jika memang anda ingin memeriksa alibi penumpang dari luar kota dulu, maka dia bisa di bebaskan sekarang. Aku adalah alasan dia untuk datang ke kota ini.”
“Oh? Pak Jeremy, apa mungkin wanita itu—?” Polisi paruh baya yang tadi memberi intruksi menatap Bayu terkejut, dia gantian menatapku.
Bayu tersenyum kecil dan mengangguk, “maaf karena harus memperkenalkannya di kondisi seperti ini.”
“Tidak tidak! Senang akhirnya bisa bertemu dengan nyonya.”
“Hahaha. Saya percaya Pak. Semua keluarga Jeremy yang saya kenal adalah orang berbakat dan bertanggung jawab.”
Bayu dan polisi itu justru saling bergurau dan tertawa, mereka berbicara seolah hanya berdua padahal sekarang orang-orang memperhatikan mereka.
Aku melirik sekilas wanita yang menuduhku tadi, menatapnya dengan sorot mata puas, sambil mengulum senyum, aku menyambut Bayu yang sudah melangkah mendekatiku.
“Ayo pulang.” Katanya mengulurkan telapak tangan kanannya. Senyumku semakin lebar saat pandangan mata kami bertemu.
Aku tidak perlu ragu lagi untuk menyambut ajakannya, mengulurkan tangan untuk membalas uluran tangan Bayu. Menggenggam tangan besar itu dengan erat.
Mika datang dari belakang punggung Bayu, pria itu meraih koper yang ada di samping kiriku, membantuku untuk membawanya. Tanpa mengatakan apapun dia tersenyum menyapa padaku.
__ADS_1
Aku sadar kalau orang-orang memperhatikanku, tapi aku tidak peduli lagi dan hanya menuruti langkah kaki Bayu yang menuntunku menuji polisi paruh baya di dekat podium.
Lelaki ini saling memperkenalkanku dengan polisi itu, namanya pak Salaman. Aku menjabat tangannya dan memperkenalkan diri dengan singkat.
“Rekan-rekan saya sebagian akan menunggu di sini untuk perkembangan kasus. Bagaimana pun, kami juga ada di tempat kejadian sebelum ledakan itu. Mohon pak Salaman mengerti.” Ujar Bayu sangat sopan.
Pak Salaman mengangguk diam, aku juga mengerti maksud perkataan Bayu, itu pasti ada hubungannya dengan laporan untuk markas. Terlebih lagi ada Gia di sini yang harus segera di laporkan juga.
Tiba-tiba saja ujung mataku menangkap sosok pria muda yang agak tersembunyi di antara kerumunan sedang menatap ke arahku. Aku meliriknya dan sadar kalau pria itu adalah orang yang naik terakhir ke dalam bus dengan tas coklat tua di dekapannya saat itu. Tapi saat ini dia justru sedang memegang tas hitam dengan model yang sama.
Aku menarik tangan Bayu agar kami lebih dekat dengan polisi ini, sambil berbisik aku mengatakan, “pak, pria yang memegang tas hitam di arah jam 9 dariku itu awalnya dia membawa tas coklat tua. Aku ingat sekali karena dia penumpang terakhir yang naik dan sempat menjatuhkan barang-barangnya. Bapak bisa tanya pada sopir atau penumpang yang duduk di depanku.”
Mendengar penjelasan singkatku, pak Salaman memberi isyarat pada salah satu polisi yang membawa dokumen agar mendekat, kemudian di mengecek tempat duduk penumpang bus yang ada di laporan dokumen itu.
“Baik, kalau gitu kami akan coba kroscek ulang di tempat kejadian juga, takutnya dia meninggalkan tas di sana.” Jawab pak Salaman menatapku.
Setelah itu, Bayu dan aku pamit sekali lagi setelah di izinkan pulang oleh orang yang bertanggung jawab dalam kasus ini.
.
..
...
“Vincent dan Tofan, kalian berdua ikut selidiki kecelakaan hari ini. Jangan lupa beritahu Jack dan Justin untuk siaga saat menjaga Gia.” Bayu memberi intruksi pada Vincent dan pria di sampingnya, tanpa bertanya lagi, dua orang itu menanggguk dan segera berbalik.
Saat ini kami berdua sudah ada di lapang parkir kantor polisi. Banyak orang yang berlalu lalang di sekitar kami tapi Mika yang membawa koperku segera memasukkannya ke dalam bagasi mobil hitam yang tadi di bawa Bayu.
__ADS_1
...