EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 147


__ADS_3

...


 


 


 


“Bukankah itu artinya dua minggu lagi?” Bunda bertanya menyadariku Bayu meminta pernikahan pada keluarganya secepat itu.


“Aku bahkan berpikir ingin menikahinya minggu depan tapi aku ingat kalau aku tidak bisa ambil cuti saat itu jadi—“


“Bunda, biarkan kami berdiskusi dulu! Bayu tidak membicarakan soal ini denganku.” Aku memotong ucapan lelaki ini karena sekarang aku merasa gugup dan tidak percaya diri. Aku tidak tahu apa yang di pikirkan kakek atau ayah Rasha tentangku mengingat baru pertama kali kami bertemu hari ini.


Mereka harus tahu siapa aku, siapa keluargaku dan bagaimana kehidupanku sebelum menikahkan anak kebanggaan mereka.


 


“Aku tidak ingin menundanya lagi!” Bayu menatapku sangat serius, dia kemudian menatap kakek, bunda dan ayah –yang sudah pindah duduk di samping bunda- yang sudah duduk di hadapan kami.


 


“Aku ingin memberinya rasa aman di sampingku, aku ingin dia dengan percaya diri mengatakan kalau aku adalah suaminya. Aku ingin dia balas dendam pada wanita-wanita di luar sana yang membuatnya kesal tadi!” Aku justru tertawa kecil mendengar ucapan terakhirnya.


 


Kakek Jeremy menatapku dan bertanya. “Berikan aku nama orang itu! Orang yang telah membuat masalah denganmu tadi pagi!”


Aku menggeleng dan tersenyum lebar, tidak tega kalau harus memberikan nama Sandra. “Siklus kebencian tidak akan berakhir kalau seperti itu. Tapi balas dendam yang terbaik adalah dengan membahagiakan diri sendiri, iya ‘kan kek?”


 


Ayah Rahsa mengangguk dan tersenyum kecil padaku. Rasanya aku senang hanya dengan gesture singkat yang di berikannya.


 


“Sekarang aku punya dua cucu yang bisa berdebat denganku, hm?” Bunda dan ayah tertawa mendengarnya.


“Hanya dengan mengobrol singkat dengan Icha aku sudah menyukai anak ini. Tapi sekarang kakek ingin bertanya padamu, Bayu. Kakek tidak bisa membiarkan wanita yang mencintaimu dengan tulus ini tersakiti nantinya karena keegoisanmu.”


 


“Ya ampun ayah! Kau tidak percaya pada cucumu ini?!” Itu protesan bunda.


“Aku tidak akan berdebat kek.” Bayu tiba-tiba menatapku yang membuatku seketika merinding dan gugup.


 

__ADS_1


“Aku tak perlu bermimpi indah karena ada dia di hidupku. Aku ingin dia yang sempurna untuk diriku yang biasa, aku ingin hatinya, aku ingin cintanya, aku ingin semua yang ada pada dirinya.” Wajahku memenas, jantungku berdetak sangat cepat dan aku jadi salah tingkah.


Bayu berpaling menatap ketiga orang di hadapan kami lalu melanjutkan. “Aku hanya manusia biasa dan tuhan bantuku untuk berubah. Untuk memiliki dia, untuk bahagiakannya dan menjadi orang yang sempurna untuk dia.”


Aku melipat bibir lebih dalam, berusaha menahan senyumanku. Nada suaranya yang serius dan perkataannya yang manis menghangatkan rongga dadaku. Aku merasa sangat di cintai.


 


“Jika kakek minta bukit keseriusanku, aku tidak bisa memberikannya sekarang karena hanya waktu yang bisa menjawab.”


“Ya ampun! Anak bunda keren sekali!” Tiba-tiba bunda terisak pelan menatap Bayu, dia mengusap ujung matanya dengan jari tangan.


Mungkin jika hanya aku dan Bayu di ruangan ini aku tidak akan malu menangis terharu seperti Bunda.


 


Kakek Jeremy tiba-tiba berdiri, dia menatapku dan Bayu bergantian. “Karena aku sudah berjanji, aku akan mengizinkan.”


Perasaan senang membuncah dalam hati, nada lembuat kakek barusan terdengar seperti vonis membahagian bagiku. Jadi benar, kakek sudah menerimaku? Aku masih tidak percaya!


Selama ini aku selalu berpikir kalau kakek, ayah dan anaknya masuk militer akan lebih susah dan ketat untuk urusan seperti ini. Tapi ternyata, bahkan bunda Kirana dan ayah Rasha menyambutku.


“Terima kasih kek! Aku sangat menyayangimu!” Bayu bangkit berdiri, merentangkan kedua tangannya hendak memeluk kakek Jeremy tapi kakek mengangkat tangannya.


“Tunggu dulu! Kakek masih tidak mengerti. Saat itu kamu bilang akan mengenalkan pacarmu dan dengan percaya diri mengatakan kalau kakek akan langsung menyukainya tapi kau membawanya masuk ke sini dengan nama samaran. Kenapa?”


Bayu melirikku, tampak tenang. “Aku merasa tersanjung kamu mengerti aku sampai segitunya.”


“Ya ampun! Aku tidak tahan lagi dengan cinta yang berterbangan ini! Sudah cukup selama ini anakku yang selalu bermesraan dengan suaminya di hadapanku.” Kami semua tertawa mendengar gerutuan kakek.


Pria tua itu melangkah pergi menuju pintu sembari berkata. “Waktunya acara penutupan!”


 


 


 


***


 


 


 


Aku masuk ke aula besar ini sendirian karena tadi saat kami keluar dari ruangan, aku pamit pada Bayu ingin ke toilet dan menyuruhnya untuk pergi duluan.

__ADS_1


Mataku melihat panggung di paling depan dengan speaker, mic, piano, gitar di sana. lalu makanan berjejer seperti parasmanan di kedu sisi aula, lalu di tangah aula sudah banyak meja bundar dan kursi-kursi dengan dekorasi seperti kami menghadiri acara pernikahan.


Semua orang yang bercampur antara pria dan wanita tampak asik mengobrol dan tertawa karena acara belum di mulai. Lalu di antara mereka semua mataku menangkap sosok Bayu sedang mengobrol bersama Lifer, Ronald, Benny dan dokter Stefan di satu meja. Lebih membuatku memperhatikan mereka karena di meja belakangnya, Sandra beserta dua wanita lain sedang bisik-bisik sembari menatap lelaki itu. Dari tingkah mereka saja aku tahu kalau Sandra mencoba ingin dekat dengan Bayu.


 


Astaga! Haruskah aku menggunakan cara yang ekstrim untuk menyingkirkannya? Tapi aku tahu kalau keadaan ini akan segera berakhir.


 


“Putri!” Tiba-tiba aku mendengar suara Putri Larasati tidak jauh dari tempatku berdiri.


Wanita itu melambai padaku bersama dengan seorang pria di sampingnya. Aku tersenyum balas melambai dan segera berjalan menghampirinya.


“Sayang, ini yang tadi aku ceritakan. Putri Nataremy.”


“Oh halo, senang berkenalan denganmu. Namaku Joseph.” Pria yang memiliki kulit putih ini mengulurkan tangannya.


“Halo juga.”


Setelah berkenalan, beberapa teman Putri dan Joseph menghampiri kami sampai berakhir dengan aku berkenalan juga dengan mereka semua.


 


Seperti yang di katakan Putri sebelumnya kalau hampir semua wanita dari kemiliteran yang di undang ke sini sudah memiliki pasangan karena sejak tadi yang datang menghampiri kami adalah dua orang yang saling bergandengan tangan.


Karena acara masih belum di mulai, Putri mengajakku untuk duduk bersamanya agar dia bisa mengobrol denganku.


 


“Kau lihat Sandra di sana! Ya ampun apa yang sedang dia lakukan?” Pertanyaan Putri mengalihkan pandanganku.


Sekarang aku melihat Sandra tampak di dorong-dorong oleh dua temannya lebih dekat dengan Bayu sembari wajahnya terlihat malu-malu.


 


 


Astaga! Aku tidak tahan lagi dengan tingkah konyolnya!


 


 


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2