
...
“Apa ini perhiasan? Cincin? Kalung? Anting? Kau sudah memberikan tiga cincin padaku.” Aku mendongak menatapnya tidak percaya.
“Pertama saat kau melamarku di dapur pagi itu, cincin kedua saat kau melamarku lagi di halaman belakang rumah baru yang kau beli, dan yang ketiga kau juga memasangkan cincin yang berbeda saat acara pernikahan kita padahal cincin kedua dan ketiga kau berikan di malam yang sama. Jadi sebenarnya kau menyiapkan berapa cincin untuk aku pakai?” Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan takjub.
Bayu justru menyeringai mendengar penuturanku. “Aku senang memanjakan istriku.”
Mau tak mau aku tersenyum lebar lalu berjinjit untuk megecup pipinya. “Baiklah suamiku yang tampan, boleh aku buka?”
Bayu mengangguk dengan sorot mata tidak sabar. Lalu jariku segera membuka kotak beludru hitam ini, begitu terbuka, di dalam kotak ada cahaya terang dari lampu kecil di langit-langit dalam kotak untuk menyinari sebuah cincin.
Aku terkesiap dan memandang Bayu dengan sorot tak percaya. “Ini…” Bayu mengangguk seolah meenungguku mengeluarkan decak gaum. “Benar-benar desain yang—aku memang tidak pernah memikirkannya secara khusus tapi…”
“Cincin ini sebenarnya sudah di pesan khusus sebelum aku bertemu denganmu malam itu. Aku memang berniat akan mendapatkanmu kembali bagaimana pun caranya dan menjadikanmu pasangan hidupku.” Seketika Bayu mengingatkanku pada malam ketika aku hampir di tabrak oleh mobil yang di kendarai oleh orang mabuk. Malam ketika dia turun dari mobil jeepnya dan menghampiriku. Pertemuan pertama setelah kami dewasa karena terakhir bertemu dengannya tidak lama setelah lulus SMA.
“Baru datang kemarin, jadi aku harus segera memberikannya padamu.” Bayu menarik rantai tipis perak dari dalam bajunya, dia mengeluarkan cincin warna serupa yang tergantung, menjadikannya bandul kalung.
Aku semakin tersenyum lebar mengetahui fakta kalau ternyata cincin ini di buat untuk kami berdua, bukan hanya untuk ku saja.
“Seharusnya aku memasangkan cincin ini saat pemberkatan kita, tapi yaahh… kau suka ‘kan?”
__ADS_1
“Aku sangat suka.” Mataku masih asik menatap cincin di dalam kotak beludru dengan tak puas. Aku sangat suka desain cincinnya. Di bandingkan dengan tiga cincin sebelumnya, cincin ini memiliki bahan dasar titanium hitam berkilau.
Mengusung konsep sederhana, desain cincin Bayu memiliki permukaan lebar yang menambah kesan maskulin padanya, bentuk dipercantik dengan adanya ornamen garis silver di masing-masing sisi permukaan cincin. Ada batu biru sapphire kecil di tengah cincinnya hingga memiliki tambahan kesan elegan dan sejuk di pandang.
Sedangkan milikku juga berbahan dasar titanium hitam, desain lingkar cincin tidak hanya lingkaran utuh tapi sedikit membelit, mengulir kuat dan memanjang ke atas yang ujungnya di sambung dengan empat kelopak daun semanggi membulat ramping. Setiap kelopak daun di beri berlian kecil di dalamnya dan di tengah-tangah empat daun di beri berlian agak besar dari empat lainnya. Lima berlian kecil di tambah bahan dasar titanium hitam berkilau membuat cincin ini tampak sangat elegant dan mempesona. Bentuk cincin ini sangat dinamis dan fashionable.
“Aku suka sekali karena kau memilih warna hitam sebagai bahan dasarnya.” Kataku mengingat tadi pertama yang membuatku kagum justru dari pemilihan warna.
“Kau yang memilih ide desain ini? Daun semanggi?” Tanyaku mendongak menatapnya.
“Kau tahu ini daun semanggi?” Bayu balik bertanya. Ketakjuban membuat matanya berbinar-binar.
“Aku ingat daun semanggi karena menonton drama. Hehehe.” Tukasku menyeringai.
Tangan ku terangkat menyentuh cincin Bayu yang menggantung di hadapanku. “Pangeran Charles memberikan Lady diana cincin batu sapphire biru, salah satu cincin pertunangan paling terkenal di dunia. Tahun 2010, pangeran William memberikan cincin sapphire biru juga pada sang kekasih, Kate Middleton saat melamarnya. Sapphire melambangkan komitmen, cinta, kesetiaan dan kejujuran.”
Bayu mengangguk sembari tangannya terangkat mengusap puncak kepalaku, lalu berkata “Aku memilih berlian untukmu yang melambangkan kesetiaan, kemurnian, keseimbangan, kekuatan dan cinta tiada akhir. Pilihan batu yang klasik, tradisional dan tak lekang oleh waktu.”
“Dan daun semanggi? Aku tidak pernah menyangka kau akan memilih daun semanggi.”
“Beberapa tahun yang lalu saat sedang tugas, aku sempat melewati kebun semanggi yang luas sekali. Pemiliknya mengatakan daun semanggi memiliki tiga helai daun setiap batangnya namun jika beruntung akan menemukan daun berhelai empat yang sulit sekali ditemukan. Memberikan empat daun semanggi pada seseorang mengisyaratkan bahwa si pemberi adalah orang yang paling beruntung karena telah menemukan seseorang yang sulit ditemukan.” Meski aku sudah tahu makna daun semanggi, tapi mendengar penuturan Bayu membuat wajahku menghangat.
__ADS_1
“Daun semanggi juga memiliki khasiat sebagai tanaman obat.” Jawabku “Bayu, kau romantis sekali!” Bayu tertawa kecil, telinganya berubah merah dengan cepat yang aku tahu dia pasti sedang gugup dan malu. Tapi justru itu membuatnya terlihat lebih manis.
Tatapanku terjatuh pada cincin di jari manis kirinya, cincin yang sama persis dengan yang aku pakai juga. Cincin itu memiliki desain silang yang menambah keunikan kombinasi dua warna emas kuning dan putih seperti dua cincin beda warna di satukan, bedanya milik Bayu polos sedangkan milik ku ada empat berlian sangat kecil berjajar di pertemuan silang antara kuning dan putih.
“Oh cincin ini di belikan bunda, sehari setelah aku mengatakan ingin menikah denganmu pada kakek, saat acara di vila, bunda menanyakan apa aku suka desain cincin yang ini. Aku pikir ini bagus, seperti melihat dua orang dengan karakter berbeda, disatukan dalam bentuk pernikahan yang harmonis.” Jelasnya melihat arah pandangku.
Aku menatapnya takjub. “Waahh… aku tidak pernah sadar sisi romantismu yang ini. Kau punya persepsi yang luar biasa.”
Bayu merangkul bahuku dengan sebelah tangan, menarikku dirinya jadi berdiri bersebelahan denganku tidak berhadapan lagi, kemudian sedikit menunduk dan berbisik “Kamu punya spidol hitam ga?”
Aku mengerutkan kening, bingung dengan arah pembicaraan kami. “Ada dalam tas tapi di mobil. Buat apa?”
“Mau warnain kalender, biar enggak ada kata libur dalam mencintaimu.” Aku tertawa keras sembari menarik diri menjauh darinya, lalu memukulnya gemas.
“Ya ampun…” Aku mengipasi wajahku yang panas dengan tangan.
“Hehehe… aku akan merindukan wajah meronamu.” Katanya yang seketika membuat aku teringat lagi sedang di mana. Terlalu terhanyut dengan gombalannya, aku sampai lupa kalau aku di sini sedang mengantar kepergiannya bertugas di luar kota.
“Pokoknya, tolong selalu hati-hati di sana.” Aku kembali menghadapnya, tanganku bergerak untuk memasukkan kembali kalung dengan bandul cincin hitam ke dalam bajunya, merapikan kerah kemejanya. “Jangan lupa makan teratur dan istirahat yang cukup. Selalu ingat kalau aku selalu menunggumu di rumah. Oke?”
“Akan aku ingat.”
...
__ADS_1