
...
“Nenekmu itu memang paling suka dengan orang yang aktif bertanya, bahkan pertanyaan yang konyol sekalipun.” Beritahu kakek yang lagi-lagi mendapat tatapan melotot dari wanita tua di hadapanku ini.
Namun, sebelum aku menanggapinya, suara ribut-ribut tak jauh di belakang nenek mengembalikanku pada kenyataan. Ceasar, pacarnya, staf hotel, pasangan tua Jona-Lelei dan 2 polisi yang baru datang tampak ribut-ribut.
“Jadi, sebenarnya apa yang terjadi?” Nenek bertanya padaku, kembali ke topik utama.
Akhirnya, aku menceritakan secara singkat pada mereka berdua. Bagaimana semua ini bermula ketika aku sedang mengobrol dengan Bayu di sambungan panggilan video sampai aku yang memukuli Ceasar karena dia mengasari pacarnya dan dia yang menyewa tentara bayaran di vila.
“Ya ya. Kakek ingat kejadian itu. Hari pertama kamu datang ke rumah kita, untuk membahas Ceasar. Ini semua salah kakek karena terlalu gegabah.”
“Aku tidak bermaksud menyalahkan kakek.” Ujarku cepat, memang benar, sekarang, ketika berhadapan dengan Ceasar, aku tidak menyalahkan kakek.
“Biar kakek yang urus. Kamu diam di sini.” Kakek Alvaro berbalik sebelum aku menjawabnya.
Dia memanggil Dika, sepertinya memita dia untuk menemani kakek bertemu dengan kumpulan orang-orang itu, sedangkan aku, nenek dan Lucy hanya menatap punggung dua pria yang semakin menjauh.
“Apa yang kamu pikirkan tentang kakekmu saat kalian pertama kali bertemu?” Nenek yang tiba-tiba bertanya seperti itu membuatku agak kaget karena tidak menyangka dia akan menanyakan hal seperti itu.
Aku melirik nenek tapi pandangan matanya masih menatap kakek di kejauhan.
“Hari itu, aku tidak terlalu memikirkannya.” Jawabku, mengingat lagi hari saat aku bertemu kakek, “tapi yang penting, pendapatku tentang keluarga Danendra berubah sekarang.”
“Berubah?” Nenek melirikku penasaran, kerutan di keningnya entah kenapa mengingatkan ku pada tante Kenzie.
“Terutama nenek. Pertama kali nenek bicara padaku saat di pernikahanku ‘kan? Saat itu aku berpikir, cara nenek berbicara, kata-kata nenek, pandangan mata nenek, mirip sekali dengan ibu versi 2. Tapi, semakin lama nenek bicara padaku, ternyata nenek berbeda dengan ibu.”
“Berbeda dalam hal apa?”
Aku berpikir sebentar untuk mencari kata yang tepat, lalu tersenyum kecil dan menjawab, “meski kita baru-baru ini saling mengenal, tapi aku pikir, nenek mengerti aku, bahkan tanpa perlu di ucapkan. Sedangkan ibu, meski aku mengenalnya seumur hidup, tapi ibu tidak mengerti aku. Ibu hanya sekedar mengenalku dari luar dan tidak pernah benar-benar mau mengerti.”
Nenek menghela napas pelan, dia masih berdiri di sampingku dengan dua tangan yang terlipat di atas perut, “darah lebih kental dari pada air. Ungkapan itu ada bukan hanya sekedar ungkapan ‘kan?”
__ADS_1
Aku mengangguk setuju.
Menit berikutnya, kami berdua tidak lagi berbicara, hanya memperhatikan kakek dan orang-orang itu. Ketika Ceasar mendekat pada kakek dan mereka sempat bicara singkat, ekspresi Ceasar berubah kaget dan dia langsung melihatku.
Aku menduga, kakek pasti memberitahunya kalau aku adalah Icha, orang yang hampir mau di jodohkan dengannya.
Ketika pria itu terus menatapku dari kejauhan sembari mengobrol dengan kakek, aku mendelik padanya, memalingkan wajah dan memasang wajah dingin penuh dendam.
Namun tak lama setelahnya, kakek dan Dika berbalik kembali, melangkah mendekati kami, kali ini dengan Ceasar yang mengikuti di belakang mereka.
Sebelum aku protes, kakek sudah mengatakan, “Ceasar ingin bicara berdua denganmu sebentar.”
“Tidak!” Tolakku.
“Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu, secara pribadi. Kau akan menyesal jika tidak mendengarnya.” Kata Ceasar melangkah maju hingga sekarang berdiri di samping kakek.
“Ini yang terakhir, aku tidak mau kau mengganggu cucuku lagi.” Kakek melirik Ceasar tajam.
“Aku beri lima menit.”
“Satu menit juga cukup.” Katanya mendekatiku.
Aku segera berbalik dan membawa pria ini menjauh dari kakek, nenek, Dika, Lucy dan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar kami, hingga jarak sepuluh meter memisahkan kami.
“Ada apa?” Tanya ku langsung tanpa menurunkan sorot tajam dari mataku.
“Ya ampun, galak sekali.”
“Cukup basa basinya. Kau bilang satu menit!”
“Baik baik!” dia mengangkat kedua tangannya menenangkanku, “aku hanya ingin mengatakan alasan aku mengirim tentara bayaran itu.”
“Mengaku juga sekarang kalau menyewa orang-orang itu untuk mencelakai Bayu?”
__ADS_1
“Aku punya alasan kuat kenapa mengirim orang-orang itu.”
“Katakan yang jelas!” Desakku.
“Begini, setelah kakekmu membicarakan tentang perjodohan kita, aku mencari informasi tentangmu dulu, tapi orang ku belum bisa menemukan foto cucu keluarga Danendra dan justru menemukan foto laki-laki bernama Bayu yang gosipnya beredar kalau dia adalah pacarmu. Sebelum aku lebih lanjut mencari info tentangmu, aku baru ingat kalau pernah bertemu Bayu. Dia adalah orang yang berbahaya, untuk itulah aku mengirim orang-orang itu sebagai peringatan agar dia tidak mendekati cucu keluarga Danendra.”
“Apa maksudmu dia berbahaya?!” aku semakin marah sekarang, “dan di mana kau bertemu dengannya?”
“Saat itu aku sedang bertemu seorang broker di restoran hotel dekat gedung Prognoz dan tidak sengaja melihat pria bernama Bayu itu sedang menemui madam Carol. Broker yang aku temui mengatakan madam Carol adalah orang yang bekerja di perusahaan MeFa grup. Aku memperhatikan Bayu karena saat itu dia tamu yang membuat keributan dengan memukul dua pria besar di samping madam Carol.”
“Lalu apa yang berbahaya dari itu? Mungkin mereka teman.”
“Kau tahu, salah satu anak perusahaan MeFa grup mensponsori sebuah lab penelitian dan satu bulan terakhir ini ada obat yang di sebarluaskan secara sembunyi-sembunyi, obat ini sudah jadi rahasia umum di antara kalangan direktur perusahaan. Banyak di antara mereka yang ingin membelinya dengan jumlah besar. Kau bisa mencari tahu lab penelitian bernama Osa dan anak perusahaan yang mensponsori lab itu adalah Raksa. Setelah itu, kau akan mengerti kenapa aku mengatakan Bayu berbahaya.” Ceasar tersenyum kecil menatapku sebelum dia berbalik, hendak pergi tapi aku segera melangkah ke depannya untuk menghalangi langkah pria ini.
“Maksudmu, Osa itu singkatan dari laboratorium Asura dan perusahaan itu namanya Raksasa?”
Ceasar mengerutkan kening, “jadi kau tahu tentang perusahaan ini? Waaah padahal perusahaan Raksasa sulit di lacak dan hanya broker dan orang-orang tertentu yang tahu.”
“Jadi, jelaskan lebih detail tentang wanita yang di sebut madam Carol.”
“Ini sudah lebih dari satu menit, jadi...” Ceasar mengangkat kedua tanganya, “kalau kau butuh aku, kita bisa bertemu nanti, polisi masih menungguku, ingat?”
Dia dengan santainya berbicara tentang polisi seolah yang menunggu adalah temannya. Tiba-tiba dia berbalik dan berkata, “oh ya, sayang sekali aku tidak bisa bertemu denganmu lebih cepat. Jika tahu kalau cucu keluarga Danendra secantik dan semenarik ini, aku pasti akan menggunakan segala cara untuk menghentikan pernikahanmu yang dadakan itu.”
“Coba ulangi sekali lagi!” Aku sudah siap melepas sepatu heels untuk di lempar padanya, tapi Ceasar justru tertawa riang dan berbalik lagi, melangkah semakin menjauh.
Aku tidak ingin menghentikan kepergiannya, lagi pula sekarang aku punya petunjuk lain untuk di berikan pada Talia.
Namun ketika aku sedang merogoh ponsel di tas tangan kecil yang di bawa, aku baru ingat kalau nomor Talia ada di ponsel pribadiku yang mati karena kehabisan baterai, sedangkan aku tidak ingat nomornya untuk di hubungi lewat ponsel satu lagi.
Madam Carol? Siapa dia? Dan jika benar Bayu bertemu dengannya, kenapa Bayu tidak membeirtahuku? Sebenarnya apa yang dia sembunyikan? Dan gedung Prognoz dia bilang? Bukan kah itu nama komunitas peramal Prognoz yang pernah disebutkan oleh Fiona?
...
__ADS_1