EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 233


__ADS_3

...


 


 


 


 


 


“Sekarang kita akan kemana?”


 


 


“Sekarang jam 2, bagaimana kalau nonton?” Tanyaku yang di balas anggukan olehnya. Kami sedang menunggu pintu lift terbuka, menuju parkiran bawah tanah. Baru saja ayah Evano, Diana, Wildan dan Yudha mengantar kami sampai masuk ke lift perusahaan setelah makan siang. Mereka harus kembali bekerja.


 


 


Begitu bunyi ting yang khas terdengar, pintu lift terbuka otomatis dan udara panas dan pengap langsung terasa.


 


 


“Kalian berdua memakai mobil yang tadi Icha bawa, kami akan memakai mobilku.” Kata Bayu pada Dika dan Lucy.


 


 


“Baik, kami akan mengikuti di belakang.” Jawab Dika sembari menyerahkan kunci mobil.


 


 


Lalu Bayu segera meraih tanganku, menggandeng dan membawaku mendekati mobil jeep nya.


 


 


 


 


“Bukan nya mencurigakan dengan pakaian Dika dan Lucy kalau kita membawa mereka ke mall.” Tanya ku sembari menutup pintu mobil begitu kami sudah sama-sama duduk di dalam.


 


 


Bayu berhenti sebentar saat ingin menyalakan mesin mobilnya, kemudian dia mengangguk pelan. “Ya. Kau benar.”


 


 


“Jadi gimana? Apa kita harus pulang dulu?”


 


 


“Tidak tidak! Itu akan membuang waktu. Aku akan melarang mereka mengikuti kita di mall, biarkan mereka menunggu di mobil.”


 


 


“Tapi apa mereka mau?”


 


 


“Serahkan padaku.”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


“Tidak bisa begitu, kami harus ikut.”


 


 


“Tidak! Kalian harus tunggu di dalam mobil. Apa kau tidak percaya pada kemampuanku? Lagi pula tempat ramai lebih aman.”


 


 


“Tapi kami hanya menjalankan perintah—“

__ADS_1


 


 


“Kau benar-benar meremehkan kemampuan ku, huh?” Bayu melangkah lebih dekat pada Dika yang sejak tadi menolak. Kami berempat sudah sampai di parkiran basement mall.


 


 


“Tolong jangan mempersulit kami, kami hanya menjalankan tugas.”


 


 


“Kalau begitu, kalian harus ganti baju, kami tidak mau di ikuti oleh orang yang memakai kemeja dan jas hitam seperti ini.” Balas Bayu melipat kedua tangan di atas perut. Refleks Dika dan Lucy memperhatikan pakaian mereka yang terlalu formal.


 


 


“Tidak ada salahnya dengan pria yang memakai jas.” Bela Dika.


 


 


“Wanita modern juga pakai jas adalah hal biasa.” Kali ini Lucy angkat bicara.


 


 


“Justru dengan kalian mengikuti kami, membuat kami tidak aman. Akan banyak orang yang curiga.” Bayu menambahkan.


 


 


Aku tersenyum kecil lalu menyentuh lengan Bayu yang membuatnya seketika melirik ku. Aku menggeleng dan berkata. “Sudahlah kita negosiasi kan saja cara lain.”


 


 


“Apa?”


 


 


“Aku pikir kalian punya alat pelacak, kalian bisa berikan pada kami dan melihat posisi kami, setelah kalian pulang untuk ganti baju, kalian bisa langsung datang menemui kami di sini. Aku dan Bayu berencana ingin menonton.”


 


 


“Tapi nyonya—“


 


 


“Mana? Ayo berikan.” Aku memotong protesan Lucy.


 


 


 


 


“Tapi tolong jangan di lepas, di tinggalkan di mana saja atau di tempelkan pada orang lain untuk mengelabui kami.”


 


 


“Kami janji.” Kata ku menerima dua benda bulat kecil itu dan menyerahkannya pada Bayu.


 


 


“Masing-masing satu.” Bayu menunjukkan benda itu yang tampak menyala berkedip kecil pada mereka dan menyerahkannya padaku. Lalu satu lagi dia masuk kan ke dalam saku.


 


 


“Sudah tenang sekarang? Oke, kami pergi dulu.” Bayu berbalik sembari merangkulku.


 


 


Aku yang di bawa olehnya cepat-cepat melirik ke belakang dan melambai pada mereka. Lucy tampak balas melambai kaku pada ku namun detik berikutnya mereka berdua langsung melompat masuk ke dalam mobil seolah tersadarkan oleh sesuatu.


 


 


Aku yakin, mereka ingin segera ganti baju agar lebih cepat mengikuti kami.


 


 


 


 


“Kita enggak keterlaluan ‘kan?” Tanya ku saat kami sudah bergabung di keramaian mall siang ini.


 


 


Bayu yang jalan di samping kanan menjawab dengan tenang. “Tidak.”


 


 


“Kalau gitu, kita langsung pesan tiket nonton?” Lanjutnya bertanya.


 

__ADS_1


 


Aku yang sedang asik melihat toko-toko dan orang-orang yang ramai berbelanja langsung menggeleng, tiba-tiba sebuah ide muncul. “Karena paling cepat satu jam mereka akan kembali, bagaimana kalau belanja dulu?”


 


 


Bayu mengangguk setuju tanpa bantahan, akhirnya kami berdua memutuskan untuk melihat-lihat barang yang di jual setiap toko. Meski mall tidak terlalu padat, tapi sejenak aku benar-benar melupakan semua yang mengganggu pikiranku.


 


 


Kami berdua tertawa dan berdebat untuk mencari barang yang cocok. Melangkah ke satu toko dan ke toko yang lain, mencoba baju-baju lalu membelinya ketika di rasa cocok. Bahkan kami menemukan pakaian couple yang sayangnya tidak jadi kami beli karena perdebatan warna.


 


 


Tanpa sadar, kami sudah membawa tiga kantung belanjaan di tangan Bayu. Tangan kirinya membawa belanjaan dan tangan kanannya menggandeng tangan ku.


 


 


“Haus enggak? Ayo duduk dulu.” Ajak ku sembari menarik nya menuju kumpulan meja dan kursi dengan di kelilingi stand makanan dan minuman.


 


 


Setelah di pastikan suami ku ini duduk, aku segera berbalik menuju stand minuman dengan semangat untuk memesan, sampai lupa tidak menanyakan pesanannya. Tapi karena sudah mengenal sosok Bayu yang tidak pemilih, aku tidak khawatir.


 


 


Saat menunggu minuman jadi, pandanganku berpencar memperhatikan suasana mall, di lantai ini khusus stand makanan dan minuman dengan banyak set meja dan kursi.


 


 


Namun mataku tiba-tiba menemukan sosok wanita paruh baya yang aku kenal sedang berusaha mengejar wanita yang lebih muda di depannya sedangkan wanita itu tampak acuh dan tidak mau di ganggu.


 


 


 


 


Itu tante Marisa, ibu Hanna, istri ayah Davin.


 


 


 


Tingkahnya yang sedang menyamai langkah dengan wanita lain di sampingnya tampak mencurigakan bagiku. Mataku terus mengikuti kemana mereka berdua pergi dan arah keduanya menuju toilet.


 


 


Penasaran sekaligus iseng, aku memutuskan untuk mengikuti mereka tepat ktika minuman yang aku pesan telah jadi.


 


 


Cepat-cepat aku membawa minuman itu ke meja dan meletakkannya di sana.


 


 


“Aku ke toilet dulu.” Kataku pamit pada Bayu yang menatapku heran, tanpa menunggu jawabannya, aku setengah berlari menuju toilet di mana baru saja dua wanita itu berbelok masuk.


 


 


Saat masuk, ada orang lain yang keluar dan itu membuatku agak kaget karena mengira aku sudah ketahuan sebelum menguping.


 


 


Lalu aku melangkah pelan dan hati-hati, ternyata toilet sedang sepi dan beruntung sekali ketika aku masuk, tante Marisa sedang ada di depan bilik toilet paling ujung jadi aku bisa diam-diam tanpa suara masuk ke bilik toilet di ujung lain tanpa ketahuan olehnya.


 


 


Begitu aku masuk ke toilet, tidak terdengar apapun, mungkin tanten Marisa sedang menunggu wanita itu keluar. Tak lama pintu toilet di ujung terbuka, dengan pendengaran yang berusaha di tajam kan, aku mulai mendengar percakapan mereka.


 


 


“Tolong lah tante, jangan seperti ini. Aku ke sini ingin bersenang-senang. Jangan mengikuti terus!” Kata suara wanita asing terdengar kesal sekali.


 


 


“Tante mohon Fiona, bantu tante kali ini saja. Tante benar-benar sedang putus asa.”


 


 


“Percuma tan, waktu itu tante pernah bertemu dengan nenek kan? Lalu apa yang dia katakan sudah detail sekali.”


 


 


 


 


 


...

__ADS_1


 


 


__ADS_2