
...
“Oh ya aku lupa mengatakannya. Kita akan mendiskusikan masalah kemarin dengan ayah dan kakek sore nanti.” Kata Bayu memberitahuku.
“Dengan kakek Jeremy juga?” Aku meliriknya tak percaya. Membahas masalah istri pak Baron yang meminta bantuanku kemarin dan kakek Jeremy terlibat, rasanya jadi aku terlalu merepotkan mereka dengan masalah kecil ini.
“Kakek Alvaro dan ayah Evano akan bergabung juga dalam panggilan video.”
“Sampai mereka juga ikut membahasnya? Kenapa?”
“Tidak tahu. Tapi ayah bilang di telpon, dia akan mengajak mereka untuk bergabung juga.”
“Sepertinya, ini tidak sesederhana yang kita pikir, iya ‘kan?” Tanyaku.
Bayu mengangguk, “dari respon yang ayah berikan, sepertinya ada hal lain yang mau di bahas terkait masalah itu.”
“Jadi, aku tidak bisa keluar sampai sore hari ini?” Tanyaku, bermaksud meminta izin juga padanya.
Bayu menunduk menatapku dengan kening berkerut, “memangnya kamu mau kemana hari ini?”
“Tentu saja aku mau mencari tali yang cocok untuk—“
“Uhuk uhuk uhuk!!!!” Aku ingin tertawa keras melihat Bayu sengaja tersedak oleh air liurnya sendiri untuk menghentikan ucapanku.
Bibirku tertutup rapat, menahan tawa yang sudah di ujung lidah. Menepuk-nepuk pelan punggungnya, berharap bisa meredakan batuknya.
Justin dan pria yang ada di samping kami hanya menatap Bayu dengan pandangan bingung dan ingin tahu, tapi pintu lift di depan kami tiba-tiba terbuka, menampilkan lobi depan gedung apartemen yang ramai seperti biasanya.
Kami membiarkan Justin dan pria itu keluar duluan, lalu merangkul lengan Bayu, menariknya keluar.
“Kamu benar-benar.....” rahang lelaki ini terkatup, menatapku gemas, “nakal!!!”
“Hehehehe... terima kasih.”
Jari tangannya tiba-tiba menjitak keningku, “apa kamu pikir malam ini bisa mengikatku?”
“Tentu saja bisa!!”
“Sebelum kau mengikatku, aku yang akan mengikatmu. Tunggu saja pembalasanku nanti.” Dia berbisik seduktif, penuh ancaman dan menggodaku.
Senyumku mengembang lebih lebar, tidak peduli kalau kami ada di tengah-tengah keramaian, aku segera mengecup pipinya dalam-dalam, menekan kepalanya untuk menunduk agar bisa aku jangkau.
“Hati-hati di jalan. Aku akan menunggumu di rumah.”
Bayu tersenyum lebar, bukan senyum jahil yang penuh godaan, tapi senyum senang dan bahagia pagi ini.
__ADS_1
***
“Tali? Nyonya kenapa beli tali?” Lucy menatapku penasaran.
“Nyonya, apa di rumah ada barang yang rusak?” Dika ikut menanyaiku.
Aku terkekeh pelan, kami baru saja keluar dari toko perkakas setelah membeli tali tambang plastik kecil berwarna biru satu gulung, “tidak ada barang yang rusak. Hanya ingin memastikan sesuatu.”
Berbalik menghadap mereka, mataku menangkap pergerakkan seorang pria bertopi hitam dan pakaian serba hitam, bersembunyi begitu saja di balik mobil yang terpakir.
Benar.
Pria itu mengikuti kami.
Awalnya hari ini aku tidak ada niat untuk keluar, tapi setelah mengantar Bayu berangkat kerja, di antara keramaian lapangan parkir, pria itu diam-diam memperhatikanku, lalu aku memastikan lagi ketika sudah ada di apartemen. Melihat dari balkon kamar ke bawah, pria asing itu menunggu di tempatnya tadi, sembari bersandar di kap mobil.
Aku kembali berbalik membelakangi pria itu, melangkah sejajar dengan Dika dan Lucy, sembari berkata, “apa kalian sadar ada yang mengikuti kita?”
Dua orang yang ada di sisi kanan dan kiriku ini sedikit terkejut, mereka saling melirik sebentar sebelum Lucy menjawab, “nyonya tahu ada yang mengikuti kita dari apartemen?”
“Awalnya kami ingin merahasiakannya dan membereskannya seperti biasa—“
“Bodoh!” Lucy memukul punggung pria ini lewat belakangku.
Aku tertawa kecil, menggeleng karena sudah biasa dengan pertengkaran mereka. Di antara dua orang ini, Dika yang paling tidak bisa berbohong, terkadang dia tidak sadar mengatakan hal yang harusnya menjadi rahasia, seperti tadi.
“Jadi?” Aku mendesaknya. Kami berjalan di sepanjang trotoar jalan menuju halte bus karena aku melarang mereka bawa mobil.
“S—sebenarnya, semenjak satu bulan lalu, memang selalu ada yang menguntit nyonya. Pak Bayu bilang, kami harus merahasiakannya.”
“Merahasiakan?? Kau yang membocorkannya!” Lucy masih menatap Dika galak.
“Bagus sekali! Bayu oh Bayu. Dia selalu seperti itu, merahasiakan bahaya apapun yang berhubungan denganku.” Gumamku, mendesah kecil.
“Karena pak Bayu sangat mencintai nyonya.” Lucy berseru semangat, mencoba membangkitkan semangatku.
Aku jadi merenung, “cinta? Hmm...”
“Lalu, apa yang terjadi dengan orang-orang yang menguntit itu?” Tanyaku tiba-tiba penasaran.
“Setelah kami menyerahkannya pada pak Bayu, kami tidak di beri informasi apapun lagi.” Jawab Dika.
Sekali lagi aku menghela napas panjang, Bayu memang seperti itu. Merahasiakannya dan berjuang sendirian, membuatku tak tahu apa-apa.
__ADS_1
Dia itu sebenarnya bodoh atau terlalu baik?!
Aku jadi jengkel sendiri, dengan berani melirik pria yang menguntit tadi secara terang-terangan. Berbalik menatapnya langsung.
Pria itu berhenti melangkah lima meter di belakang kami, sepertinya dia tidak menyangka aku akan memergokinya.
“Kamu!! Ke sini!!!” Aku memekik marah, menunjuk pria itu.
Tidak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar kami, memperhatikanku sesaat.
Pria yang memakai pakaian serba hitam itu mulai melangkah mundur, hendak kabur dan sebelum aku meminta Dika untuk menangkapnya, pria ini langsung berlari menghampiri si penguntit, meninggalkan aku dan Lucy di tempat.
“Oy Dika!! Kami tunggu di halte!!” Lucy berteriak kencang saat Dika dan pria itu berlari semakin jauh.
.
..
...
Pada akhirnya kami tidak menunggu Dika di halte bus, tapi di sebuah cafe kecil sebrang halte karena aku sangat haus.
Tak lama setelah kami memesan minuman, Dika datang bersama pria tadi, mendorong penguntit itu dengan mencengkram bahu dan tangannya dari belakang.
“Oh! Kau sudah bekerja keras!” Aku menyambut Dika sambil berdiri, melihat wajahnya penuh keringat, aku tiga tega dan menyuruhnya untuk segera duduk.
“Letakkan dia di sini.” Kataku, meminta Dika untuk mendorong penguntit itu duduk di kursi depanku.
“Lucy, Dika, kalian pesanlah dulu minuman, aku ingin berbicara dengan dia empat mata.” Dua orang ini mengangguk, mereka tidak banyak bertanya atau khawatir karena meninggalkanku berdua saja, bagaimanapun, Dika dan Lucy sudah hapal perangaianku, mereka tahu kalau aku bukan wanita lemah yang dengan mudah ketakutan.
Cafe tempat kami duduk memang tidak ramai, aku sengaja memilih tempat di sudut agar tidak ada yang curiga dengan kami.
“Jadi...” Aku menghela napas kecil, menatapnya penuh ancaman, “siapa kau?”
Pria di depanku ini hanya diam, tidak mau balas menatapku dan hanya menunduk, semakin menyembunyikan wajahnya di balik topi.
“Kau lebih suka aku serahkan kepada suamiku, atau kau bicara sekarang!!” Ancamku sudah tidak sabar lagi.
Dia mau melirikku takut-takut, aku memajukan sedikit badan untuk membuatnya lebih terintimidasi, “kalau kau menguntitku, kau pasti sudah tahu siapa suamiku, iya ‘kan?”
Dia masih diam.
“JAWAB!!!”
...
__ADS_1