EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun

EMBRACE YOU : Kehadiran & Racun
Episode 240


__ADS_3

...


 


 


 


Dia tertawa, kelihatan senang dengan reaksiku, tangannya mengusap-usap punggungku. “Seharusnya hari ini suasana hatimu lebih baik di bandingkan hari-hari lain, tapi ada hal yang tidak terduga.”


 


 


Aku tahu maksud lelaki ini membawaku untuk jalan-jalan agar keberangkatan bekerjanya besok tidak membuatku sedih, tapi kedatangan ayah dan ibu membuat semuanya berantakkan.


 


 


Ketika tanganku masih erat memeluk lehernya, menghirup aroma tubuhnya, Bayu sedikit mendorong pinggangku untuk melepaskan pelukan kami.


 


 


Masih duduk di atas pangkuannya, tangannya terangkat menyentuh leher dan pipiku, sorot matanya lembut namun terlihat penuh perhitungan. Kemudian bibirnya yang lembut menempelkan bibirnya ke bibirku yang seketika langsung melupakan semua kekhawatiranku dan berkonsentrasi untuk ingat menghirup napas dan mengeluarkannya.


 


 


Jantungku mulai bereaksi berlebihan tiba-tiba saja bibir Bayu ******* bibirku lebih ganas, tangannya menyusup masuk rambutku dan mendekap wajahku erat-erat. Walaupun tanganku juga menyusup masuk ke rambutnya, aku terhanyut dalam ciumannya, agak terlalu antusias malah. Aku bisa merasakan bibirnya tertekuk ke atas saat ia melepaskan wajahnya dan melepaskan tanganku yang sekarang mendekap tengkuknya erat-erat.


 


 


 


 


“Maaf.” Bisiknya dengan napas sedikit memburu.


 


 


Aku terkekeh pelan merasa ikut bersalah karena tidak menghentikannya, wajahku memerah dan aku juga melihat telinganya semakin memerah. Lalu kedua tanganku terangkat menangkup wajahnya sembari memberi kecupan singkat di bibirnya.


 


 


“Jangan nakal.” Kataku.


 


 


Bayu menggeleng. “Kamu juga jangan nakal. Ingat, walaupun aku berangkat tugas tapi aku tetap mengawasimu”


 


 


Aku sedikit menjauhkan wajahku darinya dengan tatapan heran. Apa dia menempatkan mata-mata di sekelilingku?


 


 


“Tentu saja dari Dika, Lucy dan Zac. Kalau perlu dari Alisya.” Katanya seolah membaca pikiranku.


 


 


“Aku akan meminta laporan berkala dari mereka tentang kegiatanmu.”


 


 


“Kalau gitu, aku juga minta laporan berkala tentang kegiatanmu.” Balasku menatapnya serius.


“Akan aku usahakan, tapi kalau sedang tidak di markas mungkin agak susah.” Jawabnya tampak berpikir sebentar.


 


 


“Baiklah, tapi jangan putus kabar dariku.”


 


 


“Yes, ma’am.”


 

__ADS_1


 


Sebenarnya aku merasa agak lelah dan ingin tidur tapi aku mati-matian melawannya, aku tidak mau kehilangan satu detik pun bersamanya. Sesekali sambil kami mengobrol mengenai berbagai hal malam ini, Bayu tiba-tiba memelukku erat sekali atau menciumku, bibirnya yang sehalus kaca menyapu rambutku, dahi, pipi juga ujung hidungku. Setiap kali itu terjadi seolah-olah aliran listrik menyengat hatiku yang lama tidur. Suara degupnya seakan memenuhi seluruh penjuru ruangan.


 


 


Aku benar-benar kehilangan orientasi waktu ketika lengan Bayu memelukku lebih erat saat tak sadar waktu menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Aku mengkeret dalam pelukannya dan lelaki ini memutuskan untuk mematikan TV, mengangkatku dan membawa kami menuju kamar.


 


 


Setelah membaringkanku di atas kasur, dia ikut naik dan masuk ke dalam selimut bersamaku, kami sama-sama mengecek ponsel sebentar dan meletakkan di atas nakas sesudahnya. Aku menguap tanpa sengaja dan Bayu langsung mematikan saklar lampu kamar di atas nakas.


 


 


Dia menggeser mendekatiku dan aku langsung memeluknya erat di bawah selimut, menempelkan sisi wajahku ke dadanya, detak jantungnya seketika menenangkanku akan kekhawatiran besok.


 


 


Bayu seperti mengerti perasaanku, dia mencium keningku lama sekali sebelum mengubur hidungnya di puncak rambutku. Setelah itu hembusan napas panjangnya terdengar lega.


 


 


Tanpa sadar aku terkekeh dengan mata terpejam.


 


 


“Apa?” Tanya nya.


 


 


Aku menengadah sembari menggeleng, meski samar-samar tapi wajahnya masih menampilkan ekspresi bingung yang kentara.


 


 


“Selamat malam.” Bisikku.


 


 


 


 


Pada akhirnya malam ini kami tertawa-tawa di pencahayaan redup kamar, saling menjahili di bawah selimut tebal.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


***


 


 


 


 


 


 


Jam menunjukkan pukul enam lewat lima menit pagi saat aku sudah selesai berdandan dan sedang menyiapkan sarapan untuk kami, hanya ada telur dan roti di tambah susu sereal hangat untuknya dan teh hangat untukku.


 


 

__ADS_1


Sekali-kali mataku melirik Bayu yang sedang sibuk dengan telponnya sejak dia keluar dari kamar mandi di ruang depan. Sepertinya ada situasi tak terduga.


 


 


Melihat tangan kanannya sibuk di telpon dan tangan kirinya sibuk mengeringkan rambut dengan handuk membuatku gemas sekali melihatnya.


 


 


Dika dan Lucy datang mengantarkan perlengkapan Bayu sejak tiga puluh menit yang lalu dan mereka pamit akan sarapan di luar, padahal aku menawarkan mereka sarapan bersama tapi melihat ekspresi mereka, keduanya tidak ingin mengganggu kami.


 


 


Lalu aku melangkah mendekati Bayu ketika dia sudah selesai berbicara di telpon dan sekarang sedang mengotak atik ponselnya. Tanganku menyentuh tangannya dan berhasil mengalihkan perhatiannya padaku.


 


 


Tanpa berbicara aku menariknya menuju kamar, mendudukan nya di depan meja rias. Dia tampak bingung tapi ketika aku merebut handuk kecil yang sejak tadi dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya, Bayu tersenyum kecil dan membiarkan aku mengurusnya.


 


 


“Sepertinya ada situasi darurat.” Kataku.


 


 


“Yeah, ada perubahan rencana pada pasukan Sam tapi aku tidak bisa membantunya hari ini karena harus kembali bekerja. Selain itu markas mengabariku ada tugas lain yang harus di selesaikan lebih dulu di bandingkan tugas tugasku yang mendesak lainnya.” Aku mengerutkan kening mendengar keluhannya sembari tanganku sibuk mengeluarkan hair dryer dalam laci meja rias.


 


 


“Apa kita harus berangkat sekarang? Sepertinya mereka sangat memerlukanmu.” Bayu meletakkan ponselnya di meja lalu menatapku dari pantulan cermin dengan pendar lensa hitamnya.


 


 


“Tidak.” Aku mengangguk dan mulai mengeringkan rambutnya.


 


 


Kami tidak berbicara lagi selama beberapa menit, aku asik dengan pengering sedangkan dari sudut mataku dia hanya diam sembari sesekali memejamkan mata.


 


 


“Ngomong-ngomong, tugas apa yang sedang menunggumu di sana?” Tanyaku setelah mematikan hair


dryer, menatapnya di bayangan cermin.


 


 


Ada sekelebat pandangan heran yang di tujukan padaku, kemudian dia berdiri untuk berbalik menghadapku.


 


 


“Selama ini aku—mmm aku tidak terlalu penasaran dengan tugas apa yang kau kerjakan karena aku takut terlalu mengkhawatirkanmu, tapi sekarang setidaknya aku harus tahu apa yang menantimu di sana supaya aku bisa mengkhawatirkanmu.” Kataku melihatnya yang tidak langsung menjawab. “Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu.”


 


 


Bayu tersenyum lembut untuk menarikku ke dalam pelukannya. “Hmm…, intinya sih tentu saja tentang Rey dan Alfred. Kami menemukan petunjuk-petunjuk tentang mereka… juga beberapa pelatihan gabungan —dan beberapa tugas penjagaan di perbatasan. Mungkin ada tugas dadakan lainnya.“


 


 


Sekuat tenaga aku menahan pertanyaan tentang nama Luc yang di singgung ayah Rasha kemarin pagi. Aku tidak ingin kami membahas itu saat-saat terakhir dia akan berangkat tugas dalam waktu lama.


 


 


Lalu dia tiba-tiba berdiri dan berbalik menghadapku, tangannya merebut hair dryer dan berbalik untuk di simpan di atas meja riasku. Rambut hitamnya masih agak basah dan berantakkan tapi perhatiannya tertuju padaku sepenuhnya.


 


 


 


 

__ADS_1


...


__ADS_2