
...
“Kau ingin sekalian aku bawakan, bos?” Bayu berbalik menatap bos besar itu dan di balas gelengan kepala.
“Bawakan aku satu.” Jawaban Mike terdengar tajam dan penuh permusuhan di telingaku.
“Kau tidak takut aku akan memasukkan racun ke dalam minumanmu?” Tanya Bayu tak kalah tajam. Aku yang berdiri di antara kedua lelaki ini hanya menatap bergantian, masih tidak habis pikir bias bertemu dengan Bayu di tempat seperti ini.
“Sudah sudah! Kalian ini bertengkar terus. Hahhaha.” Ucapan bos terdengar bangga, lelaki itu bukannya melerai justru menepuk pelan bahu Bayu sebelum dia masuk ke dalam tenda besar di hadapan kami.
Mike melayangkan tatapan membunuhnya sebelum ikut masuk ke dalam. Rahang Bayu tampak terkatup keras, aku bias melihat lelaki ini kesal sekali pada Mike.
Kemudian Bayu menarikku cepat dan kasar mengikuti langkahnya. Aku yang tidak nyaman sejak tadi di tarik-tarik seperti ini akhirnya memberontak. Lalu dalam sekali sentakkan Bayu menarikku hingga aku berjalan di sampingnya sangat dekat.
“Pura-puralah tidak mengenalku. Aku di sini sedang menyamar dan benar-benar tidak menyangka informasi dari markas Natasha yang di maksud adalah gadisku.” Seolah seperti aku berada lama di bawah terik matahari, kedua pipiku menghangat. Jantungku berdetak cepat mendengar suara kecilnya berbisik di dekatku. Saat ini kami berjalan dan tidak banyak penjaga di dekat kami.
“Dari sekian banyak Natasha di negara ini mengapa harus kau yang ada di sini?” Bayu terdengar menggerutu pelan, tangannya yang masih menarikku kasar menyempurnakan penyamarannya.
“Dengar baik-baik, nanti malam akan ada regu penyelamat datang. Pergilah bersama mereka. Apapun yang terjadi,
jangan berbalik. Kau dan anak-anak itu harus segera meninggalkan tempat ini.”
Mendengar ucapannya entah mengapa membuat hatiku bergetar. Perkataannya terdengar ambigu, seolah nanti malam akan terjadi sesuatu yang besar.
Aku mendongak menatapnya, wajahnya yang terus memandang ke depan tidak menatapku seperti menyakitiku diam-diam. Aku tahu dia adalah Rio sekarang, tapi di abaikan seperti ini olehnya tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya.
Mungkinkah ini yang Bayu rasakan saat aku mengabaikannya satu minggu ini? Terlebih lelaki ini menunggu untuk hal yang tidak pasti, terus menanyakan kabar tanpa aku pedulikan. Aku hanya mempedulikan kesedihanku tanpa memikirkan ada orang yang begitu peduli padaku.
Tenggorokkanku terasa sakit dan mataku mulai memanas. Setetes air mata turun membasahi pipiku dengan cepat. Aku menghembuskan napas perlahan berharap dia bisa mendengar suaraku.
“Maaf.” Bisikkan itu terdengar serak namun aku bisa mendengarnya. Suaraku yang sudah lebih dari satu minggu ini
__ADS_1
tidak terdengar akhirnya keluar.
Tidak ada respon yang berarti dari Bayu, lelaki ini masih terus menarik tangan kananku mengikuti langkahnya. Aku
tidak tahu apa dia mendengarnya atau tidak tapi aku tidak bisa memikirkan perkataan lain selain itu.
Lalu kami sampai di sebuah rumah panggung yang agak besar dari yang lain. Di sana terlihat khusus tempat makan dan dapur besar. Lima orang wanita tampak sibuk menyiapkan makanan. Ada dua orang pria berjaga dengan senjata mereka.
“Dia akan membantu di sini. Bisakah kalian memberiku dua minuman dingin?” Kelima wanita ini refleks sibuk mencari gelas plastik dan menuangkan minuman lalu mencampurkannya dengan es batu. Dari gerakkan mereka terlihat jika mereka sangat gugup dan sedikit ketakutan.
Setelah mendapatkan apa yang di minta lelaki ini, Bayu segera pergi dari sana tanpa melirikku sama sekali. Aku
menghebuskan napas, berpikir mungkin Bayu memang sedang marah padaku.
Aku lalu mendekati salah satu wanita itu, meminta kain dan es batu. Meskipun tidak ada lemari es tapi makanan dan es batu tampak segar di dalam kotak besi di sudut ruangan.
Setelah mendapatkannya aku segera menempelkan es batu yang di tutupi kain itu ke bahu kiriku, bermaksud agar
Memikirkan Mike yang membuatku seperti ini benar-benar membuatku sangat kesal dan marah. Jika aku bertemu
dengannya ingin sekali aku mencakar-cakar wajah menyebalkannya itu.
***
Hari sudah menjelang malam ketika masakan untuk makan malam orang-orang di desa ini telah siap. Porsi makanan yang di buat sangat banyak setiap waktu makan tiba membuat wanita-wanita ini tidak sempat untuk kabur dari sini.
Ternyata setelah dengan susah payah aku berusaha untuk mencari obrolan dengan mereka, wanita-wanita ini adalah asli penduduk desa sebelum penjahat-penjahat ini mengambil alih untuk di jadikan markas mereka.
Aku masih merasa takut-takut saat melihat dua orang penjaga yang selalu berjaga di depan tempat ini, wajah mereka yang memancarkan tatapan kejam dengan pistol besar di tangan mereka seolah bias menembakku kapan saja jika aku melakukan hal yang mencurigakan.
Aku yang sedang duduk di salah satu kursi kayu meja makan besar di hadapanku ini menatap kosong ke jalanan depan yang sepi. Hanya beberapa penjaga sejak tadi berlalu lalang.
__ADS_1
“Ini.” Tiba-tiba seorang wanita menyerahkan kain hangat ke tanganku dan dia kembali masuk kedalam begitu saja.
Aku yang tidak mengerti menatap punggungnya, tubuhku terasa lelah hanya untuk berdiri menyusulnya.
Aku mengusap keningku dan ternyata banyak sekali keringat di sana juga sekarang aku bisa merasakan seluruh badanku terasa panas sekali. Aku mengerti, wanita tadi pasti memintaku untuk menyeka keringat. Dia tahu bahwa aku mulai demam.
Tangan kananku terangkat mengusap wajah dan leher dengan kain pemberian wanita tadi, setelahnya aku berdiri
perlahan dan melangkah masuk untuk mengembalikan kain itu.
“Terima kasih.”
Sekarang aku merasa ingin segera berbaring. Kepalaku mulai terasa sangat pusing dan aku langsung mendekati salah satu penjaga yang sejak tadi memperhatikanku.
“Bisa tolong antarkan aku kembali ke gudang?” Tanyaku pelan. Untuk sesaat lelaki itu melirik temannya dan setelah
mendapat anggukan akhirnya pria ini mulai menuntunku menuju gudang.
Langkah kaki lelaki ini terbilang cepat untuk kondisiku sekarang, sepanjang perjalanan tampak sepi dan hanya yang
menjaga saja terlihat samar-samar di bawah lampu.
Aku bersyukur suaraku terdengar lagi di saat seperti ini meskipun pertamanya tenggorokkanku terasa sakit. Andaikan dokter Cilia ada bersamaku pasti dia menanyakan banyak pertanyaan seputar apa yang sebelumnya aku rasakan hingga suaraku bisa kembali lagi.
“Mau kemana kamu?” Lamunanku buyar saat langkah lelaki yang mengantarku berhenti. Aku melihat di hadapan kami sudah berdiri empat orang pria tak lupa pistol mereka sedang mengantar segerombolan anak-anak dan gadis itu.
“Aku akan mengantarnya ke gudang.”
“Bos besar menyuruh kita untuk membawa tahanan ini untuk makan malam. Kita antarkan mereka ke rumah
kosong.”
__ADS_1
...