
Di sebuah dataran yang cukup luas, hanya tampak bebatuan besar dan padang ilalang yang tumbuh setinggi tubuh manusia. Langit berwarna kekuningan tanpa terlihat awan sejauh mata memandang.
Di sebuah bebatuan besar terdapat gua yang tersembunyi ditutupi oleh padang ilalang yang tinggi. Tampak seseorang terbaring di atas tumpukan ilalang yang kering. Terlihat orang itu penuh dengan balutan kain di sekujur tubuhnya
“Apa yang terjadi padaku? Dimana aku?” Zen Luo melihat sekeliling tempat tersebut. Dia merasa badannya sulit untuk digerakkan. “Ugh...” dia memegang dadanya yang masih terasa sakit saat berusaha untuk bangkit.
Zen Luo kembali berbaring karena tidak mampu bangkit karena luka dalamnya. Ingatan terakhirnya adalah saat pertempuran melawan Shen Long, diapun menggigil mengingat kejadian tersebut.
“Bagaimana pertempuran itu? Mengapa aku bisa ada di tempat ini?”
“Apakah aku sudah mati?” gumamnya kembali tak berdaya.
Wajah Zen Luo tampak putus asa karena kekalahan yang dideritanya dalam pertempuran itu. Dia mengingat kejadian masa lalunya saat ayahnya masih menjadi Kaisar Langit dan memanjakan dirinya.
Masa dimana dirinya sangat di hormati oleh seluruh dewa dunia langit dan bisa berbuat apapun tanpa ada yang berani menentangnya.
__ADS_1
“Ayah, maafkan anakmu ini tidak bisa membalaskan kematianmu” gumamnya.
Hatinya terasa sakit mengingat berita kematian ayahnya ditangan Shen Long. Dia merasa sedih karena tidak bisa membalaskan kematian ayahnya tersebut.
Tak terasa air mata menetes saat dia memejamkan matanya dan menyadari kekuatannya yang masih jauh dari Shen Long. Bahkan seorang iblis yang kejam pun bisa menangis saat merasa putus asa pada dirinya sendiri.
Wajah Zen Luo tampak muram mengingat dirinya yang tidak berguna, bahkan kekuatannya pun tidak berguna untuk mengalahkan Shen Long.
“Akhirnya kamu terbangun cucuku” tiba-tiba sebuah suara mendatanginya
Seorang lelaki tua berambut putih panjang berjalan mendekati Zen Luo yang terbaring di tumpukan ilalang kering itu.
Mendengar suara yang seperti dikenalinya, Zen Luo berusaha untuk bangkit dan menoleh ke arah datangnya suara tersebut dan melihat samar-samar sosok lelaki tua yang seperti dikenalnya namun telah lama menghilang.
“Kakek” suaranya lirih saat sudah melihat dengan jelas kedatangan kakeknya Shang Quan.
__ADS_1
Shang Quan lalu membantu cucunya itu untuk bangkit secara perlahan dan duduk di atas ilalang itu.
“Pelan-pelan cucuku, luka dalammu masih belum pulih sepenuhnya” sahut Shang Quan pelan
Setelah duduk, tak terasa air matanya kembali menetes di wajah Zen Luo, rasa rindunya di masa kecil yang sangat disayangi oleh kakeknya terekam jelas dalam benaknya.
Kakeknya Shang Quan lebih sering menghabiskan waktu bersamanya dibanding ayahnya Shang Luo karena kesibukannya mengatur dunia langit. Zen Luo tidak mengenal ibunya yang telah meninggal saat melahirkan dirinya. Jadi masa kecilnya lebih banyak diasuh oleh kakeknya.
“Kakek, dimana kita?” tanya Zen Luo pada kakeknya dengan tatapan sedih bercampur senang bertemu kakeknya.
“Kita berada di tempat persembunyianku di Alam Reinkarnasi” sahut kakek Shang Quan tersenyum padanya.
“Alam Reinkarnasi? Apakah ini berarti aku telah mati?” tanya Zen Luo kembali
Kakek Shang Quan tersenyum padanya, ”Sembuhkanlah lukamu dulu. Aku akan menceritakannya nanti padamu” sahutnya sambil memberinya pil obat penyembuhan dari cincin penyimpanan miliknya.
__ADS_1
Zen Luo segera memakan pil obat penyembuhan dari kakeknya Shang Quan.
Wajah Shang Quan tampak senang melihat cucunya kembali, namun dibalik itu dia terlihat sedih pada nasib cucu kesayangannya itu.