Menantu Raja Dewa Iblis

Menantu Raja Dewa Iblis
BAB 473 | Alam Penciptaan


__ADS_3

Seperti sebelumnya, token pintu alam mengeluarkan sinar warna warni lalu menyerap tubuh Shen Long masuk ke dalamnya. Kemudian token itu pun menghilang dan pergi membawa Shen Long menuju ke alam penciptaan.


Sebuah alam yang terletak entah di mana, hanya token pintu alam itu yang mengetahui jalan menuju alam tersebut. Alam yang penuh warna terlihat di setiap benda yang ada di sana.


Daratan dipenuhi oleh warna yang beraneka ragam. Sejauh mata memandang, dunia ini seperti pelangi yang beraneka ragam warna di sekitarnya.


Shen Long kemudian terjatuh di sebuah pohon yang daunnya berwarna-warni lalu terbanting ke tanah yang empuk. Tidak ada rasa sakit yang dirasakannya. Dia merasa seperti terjatuh di atas kasur yang empuk penuh warna.


“Benar-benar dunia penuh warna. Apakah ini alam penciptaan?”


Shen Long terlihat kagum dengan apa yang dilihatnya. Belum pernah dia melihat sebuah pohon yang daunnya berwarna-warni seperti itu. Bahkan batang pohonnya pun berwarna warni seperti daunnya.


Shen Long kemudian memungut kembali token pintu alam dan menyimpannya. “Sepertinya kamu berasal dari alam ini,” gumam Shen Long ketika melihat token pintu alam itu.


Shen Long lalu berjalan ke sekitarnya untuk mendapatkan petunjuk tentang Benih Alam yang dicarinya. Dia sendiri belum mengetahui seperti apa bentuk Benih Alam tersebut.


Meskipun banyak benda-benda aneh dan baru di tempat itu, tapi Shen Long tidak berani mengambilnya. Dia masih mencari sesuatu untuk memberikannya petunjuk tentang Benih Alam.


Ketika dia melewati sebuah gua yang juga berwarna-warni, tiba-tiba dari dalam gua itu muncul seekor naga yang sudah terlihat tua dengan tubuhnya yang juga berwarna-warni.


“Bagaimana seorang manusia bisa datang kemari?”


Naga itu terdengar berbicara dalam bahasa yang dimengerti oleh Shen Long.


“Kamu bisa mengerti bahasaku?” tanya Shen Long pada naga tersebut.


Naga itu meliuk melayang mendekati Shen Long lalu berdiri di depannya. “Aku bisa mengerti semua bahasa yang ada di alam semesta ini,” sahutnya.


“Siapa namamu nak?” Naga itu bertanya pada Shen Long sambil menggerakkan ekornya seolah-olah berenang di udara.


“Namaku Shen Long, aku berasal dari bumi di Loka 3,” sahut Shen Long kemudian.


Naga itu terlihat berhenti tertegun mendengar jawaban Shen Long. “Bumi? Bagaimana bisa manusia dari bumi sekuat kamu?”

__ADS_1


Wajah naga itu tampak tidak percaya dengan merasakan kekuatan di tubuh Shen Long meskipun dia tidak mengerahkannya.


“Aku belajar dari beberapa guru yang mengajarkanku tehnik kultivasi semesta.” Jawab Shen Long.


“Kamu sungguh beruntung, nak. Lalu apa tujuanmu datang kemari?” tanya naga itu lagi.


“Aku ingin mendapatkan Benih Alam.”


Shen Long lalu menceritakan tujuannya mendapatkan benih alam untuk menciptakan Alam Neraka di Loka 888.


Naga itu tidak terlihat terkejut mendengar cerita Shen Long, “Aku tahu tentang Benih Alam, tetapi kamu perlu bertemu dengan pemiliknya terlebih dulu,” sahut Naga itu kembali.


Shen Long menyipitkan matanya pada naga itu.


“Kemana aku bisa bertemu dengan pemilik dari Benih Alam itu?”


“Kamu bisa berjalan ke arah pusat alam ini. Itu tergantung dari keberuntunganmu apakah akan bertemu denganNya atau tidak. Dia adalah Sang Pencipta Alam Semesta ini,” sahut naga tersebut.


“Sang Pencipta?”


“Tidak. Kamu belum mati nak. Tapi untuk bertemu dengan Sang Pencipta tergantung pada ketekunanmu dan juga keberuntunganmu. Hanya itu yang bisa aku beritahukan padamu. Pergilah ke arah sana! Menuju pusat alam penciptaan ini,” jelas naga itu sambil menunjuk ke arah utara.


Kemudian naga itu meliuk ke udara lalu menghilang di atas langit yang penuh berwarna-warni.


“Terima kasih tuan naga!” teriak Shen Long kemudian ketika melihat kepergian naga tersebut.


Setelah itu, Shen Long berjalan menuju ke arah yang ditunjukkan oleh naga tersebut. Lalu dia melewati beberapa tempat yang aneh dan unik di sepanjang perjalanan. Tapi Shen Long tidak menemukan siapapun selama perjalanannya itu.


Tanpa mengenal lelah, Shen Long berjalan menuju ke arah utara. Dia berusaha untuk mengerahkan kekuatannya untuk melayang, namun dia tidak mampu melakukannya.


“Aneh, mengapa aku tidak bisa terbang di tempat ini?” gumamnya dalam hati yang terkejut ketika dia tidak bisa menggunakan kekuatan terbangnya.


Lalu terngiang kata-kata naga tadi. “Ketekunan dan keberuntungan.” Dua kata yang membuat Shen Long menghela nafasnya sebelum melanjutkan kembali perjalanannya itu.

__ADS_1


Shen Long tidak tahu berapa lama lagi dia akan sampai di pusat alam penciptaan itu. Dia merasa perjalanannya masih jauh dan belum menemukan tanda-tanda pusat dari alam penciptaan itu.


Hal itu dikarenakan semua keadaan sekitarnya hampir sama, dan itu membuat Shen Long tidak tahu apakah dirinya telah sampai atau tidak.


Shen Long lalu melanjutkan perjalanannya terus mengikuti petunjuk naga itu menuju ke arah utara.


Selang sekitar dua jam Shen Long akhirnya menemukan sebuah batu berwarna warni yang cukup besar di tempat itu. Selain batu itu, semua keadaan di sekelilingnya sama persis karena warnanya yang sama.


Shen Long lalu berjalan mendekati batu warna-warni itu lalu dia melihat ke sekelilingnya untuk mencari petunjuk dari Sang Pencipta.


“Tidak ada tanda-tanda seseorang di tempat ini,” gumamnya.


“Apakah naga itu membohongiku?”


Namun Shen Long menepis pemikiran itu. Bagaimana pun juga naga itu terlihat baik meskipun wajahnya yang sangar namun pikirannya lebih tenang daripada dirinya ketika mereka saling berhadapan.


Karena Shen Long tidak menemukan siapa-siapa di tempat itu, dia pun berjalan mendekati batu warna warni itu lalu duduk di atasnya untuk memulai bermeditasi.


“Sebaiknya aku bermeditasi di tempat ini untuk bisa bertemu dengan Sang Pencipta.”


Shen Long kemudian memejamkan mata untuk memusatkan pikirannya pada Sang Pencipta yang berada di alam penciptaan ini. Shen Long tidak mengetahui sosok dari Sang Pencipta. Hal itu menyulitkan dirinya untuk membayangkan bagaimana wujud dan rupa Sang Pencipta.


Kemudian dalam kebingungannya mencari wujud untuk memudahkan konsentrasinya, Shen Long tiba-tiba teringat dengan anaknya bersama Putri Shui yang diberi nama Shen Shui oleh istrinya.


Dalam meditasinya muncul sosok anaknya Shen Shui yang berusia belasan tahun saat itu. Wajahnya tersenyum mengingat wajah anaknya yang baru sekali itu ditemuinya ketika mengunjungi dunia langit.


Shen Long merasa tenang lalu berada dalam keadaan meditatif. Dia menyelaraskan tubuhnya dengan alam penciptaan ini.


“Hei, apa yang kamu lakukan di sini?”


Tiba-tiba Shen Long mendengar suara anak kecil yang muncul di depannya. Kemudian Shen Long terkejut dan mengusap matanya berkali-kali karena wujud dan rupa yang muncul di depannya adalah anaknya Shen Shui.


“Siapa kamu?” tanya Shen Long pada wujud anaknya itu.

__ADS_1


“Aku yang ingin kamu temui,” sahutnya sambil tersenyum.


__ADS_2