
Gunung Abadi di wilayah Kekaisaran Naga. Banyak terjadi perubahan di sekte Pedang Harapan pusat di Gunung Abadi. Terlihat bangunan sekte semakin megah berdiri. Asrama murid lelaki dan murid wanita di pisahkan dengan area yang luas masing-masing untuk berlatih.
Sangat jauh berbeda dengan kondisi saat Shen Long masih menjadi ketua sekte, murid sekte masih sedikit dan juga area pelatihan tidak terlalu luas seperti saat ini. Kondisi keuangan sekte semakin meningkat setelah menjadi sekte utama di Kekaisaran Naga.
Saat ini ada empat sekte cabang di masing-masing wilayah kerajaan dan beberapa sekte ranting yang ada di setiap cabang tersebut.
Setiap setahun sekali, selalu diadakan pertemuan internal sekte Pedang Harapan yang dihadiri oleh seluruh sekte cabang dan ranting tersebut. Disamping untuk melaporkan kegiatan dan keuangan, mereka juga mengadakan semacam pembinaan dan pelatihan untuk peningkatan para tetua dan juga murid senior.
Sehari sebelum diselenggarakannya pertemuan tahunan itu, kediaman sekte di gunung Abadi sudah ramai didatangi oleh para ketua sekte, tetua sekte dan juga murid-murid senior dari masing-masing cabang dan ranting.
“Hormat tetua sekte,” tampak para ketua sekte dan rombongannya memberi hormat pada seorang tetua sekte Pedang Harapan pusat di gunung Abadi.
“Ah, selamat datang saudaraku dari wilayah barat,” sahut tetua sekte tersebut.
Mereka pun berjabat tangan dengan wajah gembira karena bisa datang menghadiri pertemuan itu. Para murid senior dari wilayah barat terkagum-kagum dengan bangunan sekte pusat yang sangat megah.
“Hormat tetua sekte.” Kemudian sekte cabang dari wilayah selatan datang bersama ranting-ranting nya. Sekte cabang wilayah selatan adalah yang tertua dari seluruh cabang lainnya. Kediaman sekte berada di kota Pesisir Laut Selatan, merupakan salah satu peninggalan dari pendiri sekte Shen Long pada saat itu.
“Hormat tetua sekte.” Sekte cabang wilayah utara tampak mendatangi kediaman sekte Pedang Harapan bersama pengurus sekte ranting mereka.
Ketiga sekte cabang itu saling berbincang sambil menunggu teman mereka satu lagi dari sekte cabang wilayah timur.
Tiba-tiba seorang wanita datang dengan wajah tegang memasuki kediaman sekte. Tetua sekte menyipitkan matanya melihat raut wajah wanita itu yang tegang, “Tetua Yan Lan, apa yang telah terjadi?” tanya tetua sekte pusat yang bertugas menyambut para tamu.
__ADS_1
“Tetua Wei, ketua sekte wilayah timur Guo Jing telah terbunuh bersama para tetuanya” sahut wanita yang dipanggil Yan Lan itu sambil menundukkan wajahnya.
Seluruh mata yang hadir di tempat itu terkejut mendengar berita tersebut. Meskipun Ilmu Guo Jing tidak terlalu tinggi, namun tidak mudah bagi orang untuk membunuhnya lagipula ada beberapa tetua sekte yang juga berilmu tinggi berada di tempat itu.
“Katakan apa yang terjadi?” tanya tetua Wei dari sekte pusat itu kembali.
Tetua Yan Lan lalu menceritakan saat perjumpaannya dengan Shen Long di kediaman sekte cabang wilayah timur dan juga pembunuhan terhadap dua orang pengawal dari Yan Lan.
“Mereka yang membunuh Guo Jing juga mengatakan akan datang ke pertemuan ini,” kata Yan Lan mengakhiri ceritanya
Semua yang mendengar perkataan tetua Yan Lan menjadi geram, mereka berbisik-bisik diantara mereka. Tetua Wei mengkerutkan keningnya setelah menerima laporan tersebut.
“Baiklah. Kita harus melaporkan berita ini pada ketua sekte.” Sahut tetua Wei sambil mengajak para ketua sekte cabang dan ranting bersama para tetua dan murid senior mereka memasuki kediaman sekte.
Tampak seorang lelaki setengah baya duduk di singgasana ketua sekte Pedang Harapan, nama ketua sekte Pedang Harapan itu adalah Wang Xiao. Tingkat kultivasinya telah berada di alam Abadi tertinggi.
Disebelah Wang Xiao tampak seorang berpakaian jendral yang mereka panggil dengan penasehat dewa bernama Bai Ti, dia adalah salah satu dewa kuno kelompok 13 dewa kuno dari alam Loka tetangga yang kekuatannya melebihi Jia Ti.
“Selamat datang saudaraku di kediaman sekte pusat Pedang Harapan,” kata ketua sekte Wang Xiao menyambut mereka.
“Ada apa semuanya tiba-tiba datang menemuiku sebelum acara dimulai?” lanjut ketua sekte Wang Xiao ketika melihat raut wajah tegang dari orang-orang sekte itu.
“Ketua sekte, tetua Yan Lan melaporkan bahwa ketua sekte dan para tetua sekte cabang wilayah timur telah dibunuh oleh dua orang. Dan mereka juga bermaksud untuk datang menghadiri pertemuan kita esok hari,” sahut tetua Wei sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Cih, hanya dua tikus saja. Kalian tidak perlua khawatir, aku masih disini bersama kalian.” Dewa kuno Bai Ti menyahut dengan nada sombong dan wajah meremehkan.
“Kalin sudah mendengarnya, penasehat dewa sudah mengatakan kalian tidak perlu khawatir pada dua tikus itu,” ketua sekte Wang Xiao menekankannya.
Mendengar hal itu, para ketua dan tetua sekte menjadi lega. Mereka mengetahui kekuatan penasehat dewa konon melebihi kekuatan ketua sekte, namun dia tidak menghendaki jabatan sebagai ketua sekte. Jadi dia cukup puas dan bebas menjadi penasehat dewa sekte.
Para ketua sekte dan tetua sekte lainnya segera dibubarkan untuk kembali ke tempat yang telah disiapkan oleh sekte pusat untuk mereka tempati selama pertemuan ini.
Tetua Wei perlahan maju mendekati ketua sekte Wang Xiao. “Ketua, sebaiknya kita juga menyiapkan pertahanan untuk menghadapi kedua tikus tersebut,” saran dari tetua sekte Wei.
“Baik. Kamu segera atur pertahanan kita. Jika kedua orang itu berani menampakkan diri mereka, bunuh saja,” ketua sekte Wang Xiao telah memberinya perintah.
Wang Xiao lalu berbalik dan kembali menuju ke belakang aula pertemuan. Tampak sebuah bangunan yang berdiri tak jauh di belakang aula kediaman sekte. Wang Xiao menuruni tangga yang ada di tempat itu menuju ke sebuah pintu yang dijaga ketat oleh dua orang di luar ruangan itu.
“Ketua,” Kedua penjaga itu memberi hormat padanya lalu membukakan pintu ruangan tersebut.
Tampak diujung ruangan itu dua orang lelaki setengah baya dan muda dengan tubuh dirantai pada kedua tangan dan kakinya ke dinding ruangan tersebut.
Wang Xiao berjalan mendekati mereka dan berhenti tepat di depan lelaki setengah baya tersebut. “Hahaha... Shen Wu aku tak menyangka melihatmu masih bertahan setelah berbagai siksaan yang diberikan oleh bawahanku.” kata Wang Xiao sambil tertawa.
“Cih, aku bukan orang yang bisa kamu takuti dengan mudah,” Shen Wu meludah ke lantai tanpa merasa takut pada Wang Xiao.
“Katakan dimana kalian menyembunyikan benda pusaka itu dan juga barang-barang berharga peninggalan sekte kalian,” kata Wang Xiao tanpa rasa takut
__ADS_1
Wang Xiao memegang wajah Shen Wu dan mencengkeramnya, “Katakan atau aku akan membunuh anak itu,” seru Wang Xiao sambil menunjuk pada lelaki muda yang juta dirantai kaki dan tangannya ke dinding tembok tersebut.