
Pagi keesokan harinya Shen Long setelah berpamitan dengan paman Ji, Yun Jiang dan istrinya Yun Mei, dia pun berangkat menuju ibukota kerajaan Liu untuk mencari petunjuk hilangnya ketua dan tetua Yun.
Untuk menghindari kecurigaan, Shen Long melakukan perjalanan secara umum mengendarai kuda menuju ke arah utara dari kota Weiyang. Sebelum tiba di ibukota kerajaan, dia akan melewati sebuah kota yang padat bernama Jishang.
Di dalam kota yang padat, Shen Long turun dan menuntun kudanya mencari sebuah tempat beristirahat untuk dia dan kudanya.
“Pergi, jangan pernah kemari lagi. Dasar pengemis sialan. Penyakitan” teriak seseorang dari dalam sebuah warung makan sambil menendang seseorang keluar dari tempat itu.
Seorang pemuda yang kurus memiliki penyakit kulit yang bernanah di sekujur badannya berusaha memungut barang-barangnya yang berserakan karena ditendang oleh pemilik warung makan tadi.
Shen Long berhenti sejenak dan membantu pemuda itu memungut barang-barangnya.
“Terima kasih tuan” sahut pemuda itu sambil menundukkan kepalanya dan berlalu meninggalkannya.
“Berhenti!” teriak Shen Long.
Pemuda yang berumur sekitar 16 tahun itu menghentikan langkahnya, dengan menundukkan kepalanya dia tidak berani melihat ke arah Shen Long.
“Ada apa tuan? Apakah ada yang salah?” sahutnya gemetaran ketakutan akan dipukuli lagi.
“Ayo ikut makan denganku” ajak Shen Long tersenyum.
“Tapi tuan, aku takut mengganggu selera makanmu dan orang-orang di tempat itu” katanya masih menundukkan kepalanya. Tubuhnya masih menggigil ketakutan oleh tendangan pemilik warung makan tadi.
“Aku yang bertanggungjawab, kamu adalah temanku. Apakah mereka berani memukuli temanku?” sahut Shen Long.
Pemuda itu perlahan mengangkat wajahnya melihat Shen Long yang tersenyum padanya dengan tangan terbuka mengajaknya masuk ke warung makan itu.
Dengan ragu, pemuda itu memberanikan diri mengikuti Shen Long dibelakangnya. Mereka pun berjalan memasuki warung makan tersebut.
“Kamu masih berani datang kemari lagi? Apa kamu sudah bosan hidup?” teriak pemilik warung makan itu setelah melihat pemuda itu lagi.
Pemuda itu menggigil ketakutan dipukul olehnya lagi dan bersembunyi di belakang tubuh Shen Long.
Ketika pemilik warung itu hendak mendekati pemuda itu, Shen Long menghalanginya.
“Aku mengajak temanku ini untuk makan disini, apakah kamu melarang kami?” tanya Shen Long dengan tatapan yang tajam.
__ADS_1
Pemilik warung itu melihat penampilan Shen Long merasa bahwa dia adalah dari keluarga yang kaya. Lalu dia tersenyum.
“Ah, jika anak ini adalah teman tuan muda, tentu kami tidak berani melarangnya” sahut pemilik warung makan tersebut lalu mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam warung.
Pemilik warung dengan sigap mencatat pesanan Shen Long dan segera membuat dan mengirimkannya ke meja mereka. Shen Long mempersilahkan pemuda itu untuk menikmati makanannya.
Shen Long melihat pemuda itu dengan teliti memperhatikan wajah dan sekujur badannya yang memiliki bentolan bernanah.
“Siapa namamu teman?” tanya nya.
“Namaku Wu Chen.” sahutnya singkat.
“Kamu berasal darimana?” tanya Shen Long lagi.
“Aku berasal dari tempat pinggiran ibukota” sahut pemuda bernama Wu Chen yang masih menikmati makannya.
“Apakah keluargamu masih ada disana?” tanya Shen Long kembali.
Wu Chen menghentikan makannya, matanya berkaca-kaca lalu menggelengkan kepala dan menundukkan wajahnya.
“Wu Chen, sejak kapan kamu mengidap penyakit kulit ini?” tanya Shen Long.
“Aku bisa membantu menyembuhkan penyakitmu” kata Shen Long kemudian.
“Be.. benarkah kakak? Apakah kakak seorang tabib?” teriak Wu Chen tiba-tiba mengejutkan semua orang disekitarnya yang tadi merasa jijik dengan kehadiran Wu Chen makan bersama mereka.
“Tenangkan dirimu. Iya. Aku akan menyembuhkanmu” kata Shen Long.
Wu Chen merasa gembira di dalam hatinya, hidup sendiri di jalanan sangatlah berat apalagi memiliki penyakit seperti ini. Setiap orang menghindarinya karena takut ketularan. Namun Shen Long tidak berpikir seperti itu, dia tidak takut tertular oleh penyakit Wu Chen.
Shen Long lalu memanggil pemilik warung.
“Tolong siapkan dua kamar untuk kami, berikan kudaku makanan yang cukup. Ini bahan resep obat, tolong bantu aku mencarikannya” kata Shen Long sambil menyerahkan uang untuk membayar seluruh yang dipesannya.
“Apakah uang itu kurang?” tanya Shen Long lagi.
“Tidak.. tidak. uang ini terlalu banyak” sahut pemilik warung itu.
__ADS_1
“Kamu pegang saja dulu, aku masih akan beristirahat di tempatmu ini. Jika nanti kurang, kamu bisa meminta lagi padaku” katanya.
Pemilik warung itu sangat senang kedatangan Shen Long yang kaya raya di matanya, dia segera bergegas menyuruh pekerjanya untuk mempersiapkan dua kamar untuk Shen Long dan Wu Chen.
Kemudian dia menyuruh seseorang untuk membeli bahan obat yang di pesan oleh Shen Long.
“Aku akan beristirahat, tolong nanti antar bahan obat itu ke kamar ku” kata Shen Long yang kemudian mengajak Wu Chen ke kamar mereka masing-masing diantar oleh pemilik warung.
Bagi pemilik warung, asalkan mereka bisa membayar seberapapun kotor dan penyakitan dirimu tetap akan dilayaninya.
Tak berapa lama, pemilik warung mengetuk pintu kamar Shen Long untuk menyerahkan bahan obat tersebut.
“Apakah tuan seorang tabib?” tanya pemilik warung itu padanya.
Shen Long tertegun sejenak, untuk melakukan penyamaran dengan sempurna memang sebaiknya dia menjadi seorang tabib dan melakukan beberapa pengobatan untuk lebih meyakinkan orang-orang.
“Iya. Aku seorang tabib. Aku akan mengobati temanku itu. Tolong siapkan air panas di kamarnya untuk mandi.” kata Shen Long.
“Baik tuan, aku akan mempersiapkan semua permintaan tuan” sahutnya dengan patuh.
Setelah meracik ramuan obat dari ingatan kitab pengobatan dewa Yan Luo, Shen Long lalu mengetuk pintu kamar Wu Chen.
Wu Chen membuka pintunya lalu mempersilahkan Shen Long untuk masuk, bersamaan setelahnya pekerja membawa bak air panas ke dalam kamar Wu Chen.
“Wu Chen, aku akan mengobati penyakitmu” kata Shen Long yang kemudian menaburkan bubuk ke dalam bak mandi yang telah disiapkan tersebut.
“Kamu mandilah dulu untuk mengobati luka luar dan membersihkan badanmu. Setelah itu aku akan mengobati penyakitmu dari dalam” lanjutnya.
Wu Chen percaya dan mengikuti instruksi dari Shen Long. Setelah mandi dia lalu berbaring tengkurap di ranjangnya. Shen Long membuka pusaka jarum perak yang diperolehnya di gua mistika alam rahasia.
“Ini pertama kali aku menggunakanmu, aku ingin melihat kekuatan apa yang kamu miliki untuk membantu pengobatan” gumam Shen Long pada jarum peraknya.
Segera Shen Long menancapkan jarum tersebut di beberapa titik pada punggung Wu Chen sesuai petunjuk dalam buku pengobatan yang berada dalam pikirannya. Kemudian dia mengalirkan energinya untuk mengaktifkan jarum-jarum perak tersebut melakukan pengobatan pada tubuh Wu Chen.
Wu Chen merasakan tubuhnya dialiri oleh energi yang hangat membuat bentolan bernanah di sekujur tubuhnya mengering lalu menghilang secara perlahan.
Sekitar tiga puluh menit kulit tubuh Wu chen kembali bersih dan tidak ada bentolan bernanah lagi. Wu chen melompat gembira melihat dirinya kembali seperti dulu, dia tidak pernah menyangka penyakitnya akan bisa terobati dengan cepat.
__ADS_1
Selama pengobatan berlangsung, pemilik warung melihat kejadian tersebut dan terkagum dengan ketrampilan Shen Long.