Menantu Raja Dewa Iblis

Menantu Raja Dewa Iblis
BAB 265 | Fang Zen


__ADS_3

Keempat orang itu mendekati Zen Luo dan mengelilinginya. Mereka menatapnya seolah-olah melihat orang gila karena kehilangan ingatannya.


Tatapan mata Zen Luo tampak kebingungan pada dirinya sendiri dan orang-orang yang mengelilinginya. Dia mendekati salah satu dari mereka, “Katakan siapa aku? Mengapa aku disini? Siapa kalian?”


PLAK... KRAKK...


“Argh... Tanganku.” Orang itu menampar wajah Zen Luo, namun orang itu langsung menjerit karena tangannya sendiri yang patah oleh tamparan itu sedangkan Zen Luo tidak tampak seperti orang kesakitan sama sekali.


Ketiga temannya yang lain terkejut melihat hal itu. “Apa yang kamu lakukan padanya?”


Mereka mendekati Zen Luo lalu memegang lehernya. “Aku? Dia mengelus pipiku. Kenapa kalian menarikku?”


“Mengelus?” Orang yang tangannya patah itu meringis karena saat menampar wajah Zen Luo dia merasa seperti tangannya menampar plat besi yang keras sehingga tangannya sendiri patah.


“Ha-Hajar dia!” Orang yang tangannya patah meminta teman-temannya untuk memukul Zen Luo.


Mereka bertiga segera memukul perut, punggung dan juga wajah Zen Luo.


BUGH... KRAKK...


Arrgh...


Ketiga orang itu mengerang kesakitan, tinju mereka retak dan patah karena memukul tubuh Zen Luo. “Ka-Kamu. Siapa kamu?” mereka meringis kesakitan.


“Aku? Kamu katakan siapa aku? Kenapa kalian memukulku?” Zen Luo tampak seperti orang gila yang benar-benar kebingungan karenanya.


Tiba-tiba...


“Hei, apa yang kalian lakukan. Apa kalian masih saja mengganggu orang lain?”


Seorang wanita muda muncul sambil membawa sebuah tongkat ditangannya menatap geram kepada keempat orang itu. Keempat orang itu langsung ketakutan melihatnya, “Ah, nona Fang, kami tidak salah. Orang ini yang memukul kami” sahut salah satu dari mereka membalikkan kenyataan.


Zen Luo menoleh ke arah wanita tersebut dengan tatapan masih kebingungan, wanita itu melihat ke arahnya dengan tatapan aneh. “Siapa kamu?” Tanya wanita yang dipanggil nona Fang itu.


“Aku tidak ingat siapa diriku.” Zen Luo menundukkan kepalanya kemudian menatap ke langit. “Apa yang telah terjadi? Siapa diriku?”


“Nona Fang, hati-hati. Dia itu orang gila,” seru salah satu dari keempat orang yang masih meringis kesakitan itu.

__ADS_1


“Kenapa kamu memukul mereka?” Nona Fang berjalan mendekati Zen Luo


“Memukul? Orang itu mengelus pipiku?” sahut Zen Luo.


“Mereka meninju perut, punggung dan wajahku.” Zen Luo menunjuk pada ketiga orang itu.


Nona Fang melihat wajah dan tatapan Zen Luo yang tidak berbohong, namun logikanya tidak mempercayai hal itu karena kenyataan yang dia lihat keempat orang itu yang kesakitan dan orang di depannya tidak terluka.


“Aku tidak bisa mempercayainya, mereka yang terluka. Bagaimana kamu bisa tidak terluka?” Nona Fang menyipitkan matanya melihat wajah Zen Luo


“Aku tidak berharap kamu percaya. Aku hanya ingin mengetahui siapa diriku. Jika kalian tidak bisa membantuku, aku akan mencari orang lainnya.” sahut Zen Luo sambil berjalan meninggalkan mereka.


“Berhenti!”


“Kamu harus bertanggungjawab karena telah memukul mereka.” Teriak nona Fang namun Zen Luo tidak mempedulikannya. Dia masih terus berjalan meninggalkan mereka.


“Kurang ajar! Kamu tidak mengindahkanku.” Wajah nona Fang menjadi merah karena kesal. Dia segera mengayunkan tongkatnya untuk memukul punggung Zen Luo.


BRAKK...


Mata nona Fang melotot ketika tongkat yang dipukulnya ke punggung Zen Luo hancur berkeping-keping, namun Zen Luo tidak tampak terluka sedikit pun. Zen Luo seperti tidak merasakan apa-apa. Dia tetap berjalan meninggalkan mereka.


“Nona Fang, kamu tidak menghajarnya?” tanya salah satu dari keempat orang itu kembali.


“Huh, aku tidak sebodoh kalian,” dengus nona Fang tidak mempedulikan keempat orang itu lagi dan menyusul kepergian Zen Luo karena penasaran.


“Hei, tunggu aku.” Nona Fang segera menyusul dan berdiri di depan Zen Luo menghentikan langkah Zen Luo.


“Ada apa lagi?” Zen Luo menatap wajah nona Fang yang menjadi merah karena malu.


“Maaf, aku tidak mempercayaimu tadi,”kata nona Fang.


“Aku tidak peduli,” sahut Zen Luo sambil berjalan kembali mencari seseorang untuk membantunya.


Nona Fang sedikit kesal dengan jawaban sombong dari Zen Luo. Namun dia tetap mengikutinya dan berjalan disamping Zen Luo. “Aku akan membantumu. Apa yang kamu cari?” Nona Fang berusaha berbaikan dengannya.


“Aku ingin tahu siapa diriku.” sahut Zen Luo singkat.

__ADS_1


Kemudian Zen Luo menghentikan langkahnya, “Dimana ini? Mengapa tempat ini sepi sekali?”


“Ini di pinggiran kota kecil Yangsi. Tempat ini tidak banyak penduduknya. Kami tinggal disini sebagai penambang besi.” Nona Fang memperkenalkan kota kecil itu dengan singkat.


Zen Luo memandang nona Fang dengan wajah kebingungan. Nona Fang menjulurkan tangannya pada Zen Luo, “Namaku Fang Ma. Aku tinggal tak jauh dari sini bersama pamanku.”


Zen Luo membalas juluran tangan Fang Ma. “Aku tidak tahu siapa namaku. Senang berkenalan denganmu nona Fang,” sahut Zen Luo dingin.


Fang Ma melihat ekspresi Zen Luo yang tidak berubah sejak awal dan merasa dia benar-benar kebingungan pada dirinya sendiri.


“Ikutlah bersamaku menemui pamanku. Mungkin dia bisa membantumu,” ajak Fang Ma sambil memimpin jalan menuju ke rumahnya.


Zen Luo tidak tahu harus pergi kemana, dia hanya mengikuti Fang Ma di belakangnya.


Sebuah rumah yang sederhana dengan perapian yang besar di depan rumah mereka. Paman Fang Ma merupakan seorang pengrajin besi yang biasa membuat senjata bernama Fang Guo.


TANG... TANG...


Fang Guo menyipitkan matanya ketika melihat keponakannya Fang Ma datang bersama laki-laki tak dikenal. “Fang Ma, siapa laki-laki itu?” Fang Guo bertanya pada Fang Ma namun dia masih tetap memukul besi panas di depannya.


“Paman. Aku menemukannya di jalan. Sepertinya dia hilang ingatan.”


Fang Guo menghentikan pekerjaannya menempa besi itu, dia membersihkan tangannya lalu berjalan mendekati Fang Ma dan Zen Luo. Dia meneliti wajah Zen Luo namun tidak mengenalinya juga.


“Ah, aku tidak mengenalinya. Sebaiknya kamu memberi dia nama sementara dia belum mengingat namanya sendiri.” Fang Guo berbalik kemudian meneruskan kembali pekerjaannya menempa besi panas.


Fang Ma menoleh ke arah Zen Luo, “Sementara kamu tidak ingat namamu. Aku akan menamaimu Fang Zen. Bagaimana?” Fang Ma memberikan nama sementara pada Zen Luo.


“Fang Zen.” Wajah Zen Luo tertegun mendengar nama itu, dia menghela nafasnya. “Baiklah, sementara namaku adalah Fang Zen.” sahutnya.


“Sudahlah. Ayo siapkan makanannya. Aku sudah kelaparan,” seru Fang Guo pada Fang Ma.


“Iya paman.” sahut Fang Ma yang kemudian bergegas pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan.


Beberapa saat kemudian Fang Ma menyiapkan makanan di atas meja lalu mengajak Fang Guo dan Fang Zen menyantap makanan tersebut.


“Nak. Aku hanya seorang pengrajin senjata. Kamu sebaiknya mencari tabib di Gunung Shanji di selatan kota kecil Yangsi ini,” kata Fang Guo

__ADS_1


“Gunung Shanji?” Fang Zen tertegun mendengar nama gunung yang terdengar asing baginya.


__ADS_2