Menantu Raja Dewa Iblis

Menantu Raja Dewa Iblis
BAB 495 | Pulau Feixing


__ADS_3

Shen Long kemudian terbang menuju ke arah gunung itu yang menarik perhatian dirinya. Meskipun malam telah tiba, Shen Long tetap pergi untuk menemukan tempat berlatih di puncak gunung tersebut.


Fasilitas mewah yang disediakan oleh panitia penyelenggara bagi Shen Long bukanlah hal yang utama. Dia lebih mementingkan untuk berlatih daripada menikmati kenyamanan yang disediakan oleh panitia untuk para petarung.


Dengan terbang, Shen Long mendekati puncak gunung yang berada tak jauh dari kota tersebut. Gunung itu mulai gelap gulita tanpa adanya penerangan di sekitarnya. Hal ini berbeda dengan kota yang sudah gemerlap diterangi oleh cahaya malam yang tampak seperti siang hari.


Ketika Shen Long terbang mendekati puncak gunung, dia merasakan tekanan yang sangat besar menarik tubuhnya untuk jatuh ke bawah. Shen Long kemudian turun dan mendarat sebelum mencapai puncak gunung.


“Apakah gaya gravitasi di gunung ini sangat tinggi? Bahkan terbangpun tidak bisa melewati puncak gunung ini,” batin Shen Long.


Shen Long berusaha untuk menerbangkan tubuhnya kembali, namun dia tidak bisa mengangkat tubuhnya lebih tinggi dari satu meter terlalu lama. Shen Long kembali turun ke daratan dengan nafas sedikit terengah-engah.


“Gunung apa ini? Benar-benar gaya gravitasi yang cukup besar.”


Meskipun Shen Long telah mengerahkan kekuatan di tahap pemurnian semesta, dia tidak bisa melangkahkan kakinya dengan cepat untuk naik ke puncak gunung itu. Perlahan Shen Long meningkatkan kekuatannya ke tahapan pencerahan semesta sehingga dia bisa berjalan seperti biasa menuju ke puncak gunung.


Semakin tinggi, tekanan gaya gravitasi semakin besar dan Shen Long pun meningkatkan kekuatannya kembali untuk bisa meneruskan berjalan mendaki ke puncak gunung.


“Sungguh gunung yang sangat menarik,” gumam Shen Long merasa tertantang dengan tekanan gunung tersebut.


Mendekati puncak gunung, Shen Long akhirnya terpaksa mengerahkan kekuatan tahap kesadaran semestanya untuk bisa menuju ke puncak tertinggi gunung itu.


Pada saat tiba di puncak gunung, Shen Long melihat satu untaian rantai yang terbentang dari puncak gunung yang sangat panjang ke sebuah titik di kejauhan yang melayang di langit.


“Sepertinya rantai ini adalah sebuah jembatan menuju ke titik tersebut. Apakah yang berada di ujung rantai ini?” pikir Shen Long.


“Sebaiknya aku memulihkan dulu kekuatanku, berjalan menaiki puncak gunung ini telah menguras hampir seluruh kekuatanku,” gumam Shen Long.


Berada di puncak gunung ini saja Shen Long telah menguras hampir seluruh tenaga dengan mengerahkan kekuatan kesadaran semestanya. Sehingga Shen Long duduk terlebih dulu dengan maksud untuk memulihkan kekuatannya sebelum mencari tahu ujung dari rantai yang membentang itu.

__ADS_1


Selama satu jam Shen Long berusaha untuk menyesuaikan tubuhnya dengan gaya gravitasi di puncak gunung itu agar tidak terlalu besar menguras energinya. Dalam satu jam berikutnya Shen Long akhirnya berhasil untuk menyesuaikan gaya gravitasi di puncak gunung tersebut.


Kemudian Shen Long melompat ke rantai yang membentang di puncak gunung itu.


RRRRRR....


Rantai itu bersuara menggema di kegelapan malam ketika Shen Long melompat dan berdiri di atasnya.


Kemudian Shen Long berjalan dengan keseimbangan tubuh yang tinggi melalui rantai itu menuju ke titik yang terlihat di ujung rantai tersebut. Titik itu semakin lama semakin membesar dan tampak seperti sebuah pulau yang melayang di atas langit.


Ketika semakin dekat, pulau itu tampak terang seperti sore hari dan Shen Long melihat dua rantai lainnya yang terbentang dari pulau yang melayang itu ke arah kiri dan ke kanan.


Shen Long berhenti dan menyipitkan matanya melihat ke arah kejauhan ujung rantai di kiri dan kanannya.


“Pulau ini tampak terang seperti sore hari. Dan aku bisa melihat rantai di ujung kiri yang sepertinya juga berada di puncak sebuah gunung, demikian juga di sebelah kanan,” gumam Shen Long.


Lalu Shen Long meneruskan perjalanannya ke arah pulau yang mengambang di langit itu dan mendarat di atasnya dengan tenang.


“Ah, rupanya ada empat rantai yang terbentang ke pulau ini, dan pulau ini seperti tertambat pada keempat gunung di sekelilingnya.”


Shen Long tertegun dengan hal itu. Dia berdecak kagum dengan pulau yang melayang tersebut.


Ketika Shen Long berjalan mengelilingi pulau itu, dia melihat sebuah tebing yang cukup tinggi di tengah-tengah pulau dan tampak sebuah rumah berada di atas tebing tersebut.


“Rumah? Siapa gerangan yang tinggal di tempat ini?” gumam Shen Long.


Rasa ingin tahu Shen Long membuatnya berjalan mendekati kediaman yang berada di atas tebing itu. Lalu Shen Long melayang menuju ke atas tebing dan berdiri di depan rumah itu.


Shen Long melihat ke sekeliling rumah itu untuk menemukan pemilik rumah. Dia juga mengerahkan kekuatannya untuk memeriksa aura yang ada di sekitar pulau tersebut. Tetapi Shen Long tidak menemukan aura kehidupan selain pepohonan di tempat tersebut, namun dia masih merasa janggal dengan hal itu.

__ADS_1


“Silahkan masuk nak! Sudah lama aku tidak menerima tamu yang datang menemuiku kemari.”


Tiba-tiba sebuah suara lelaki terdengar dari dalam rumah itu dan membuat Shen Long terkejut. Dia sama sekali tidak bisa merasakan keberadaan aura dari orang itu. Hal ini membuat rasa penasaran Shen Long menjadi semakin besar.


“Maafkan aku tetua, karena terlalu lancang untuk datang kemari,” sahut Shen Long.


“Tidak apa-apa. Masuklah nak!”


Suara lelaki itu kembali terdengar dan membuat Shen Long berjalan memasuki rumah itu dengan tenang.


Di dalam rumah, tampak sebuah ruangan yang cukup luas seperti aula tamu dan di ujungnya terdapat seorang lelaki berambut putih panjang yang sedang duduk bersila di atas singgasana.


Shen Long berjalan mendekati lelaki tua itu dengan menyipitkan matanya. Lelaki tua itu tampak masih menutup matanya dan duduk bersila dengan tenang meskipun Shen Long datang mendekati dirinya.


“Tetua, maafkan aku telah mengganggu istirahatmu,” kata Shen Long sambil menundukkan kepalanya memberi hormat pada lelaki tua itu.


Lelaki tua itu kemudian membuka matanya dan memandang Shen Long dengan tatapan yang teduh dan senyuman di bibirnya.


“Aku tidak merasa terganggu. Aku justru senang dengan kedatanganmu kemari,” kata lelaki itu yang kemudian mengangkat tangannya.


Lelaki tua itu lalu menarik sebuah kursi dari samping dan menaruhnya dengan perlahan di belakang Shen Long.


“Silahkan duduk nak! Aku adalah FeiHung” lanjut lelaki tua tersebut.


Shen Long kembali memberikan hormatnya pada lelaki tua bernama FeiHung itu.


“Salam hormatku pada tetua Fei,” sahut Shen Long


“Kamu tentu bukan berasal dari loka ini. Darimana asalmu dan siapa namamu nak?”

__ADS_1


“Namaku Shen Long, dan aku berasal dari loka 3 tetua,” sahut Shen Long kembali.


Lelaki tua bernama FeiHung itu tersenyum mendengarnya. “Pulau ini bernama Pulau Feixing. Aku adalah pemilik pulau ini,” kata lelaki tua tersebut.


__ADS_2