
Shen Long berlutut dengan kepala menunduk pada Sang Pencipta, kekuatannya jauh di bawah kekuatan absolut yang Maha kuat tiada tara. Dirinya hanya semut di hadapan Sang Pencipta.
“Oh Yang Mulia, maafkan diriku yang terlalu sombong di hadapanmu,” kata Shen Long
“Aku bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kekuatanmu. Kamulah pencipta alam semesta ini. Maafkan atas kesombongan dan kebodohanku ini.”
Shen Long lalu bersujud di hadapan Sang Pencipta untuk memohon pengampunannya.
Melihat niat tulus yang terpancar dari dalam hati Shen Long, Sang Pencipta pun tidak lagi meneruskan untuk menekannya. Bagaimanapun dia adalah pencipta alam semesta termasuk isinya. Dan dia menyayangi serta mengampuni ciptaannya yang sadar akan dirinya.
“Tegakkan kepalamu nak! Aku akan memberikan Benih Alam padamu. Tapi seperti yang aku katakan, kamu harus siap untuk menerima konsekuensi yang akan kamu hadapi,” kata Sang Pencipta.
Shen Long mengangkat kepalanya memandang wajah Sang Pencipta yang terasa menyinari wajahnya dengan cahaya yang lembut. Baru kali ini Shen Long merasakan rasa nyaman dan bahagia karena tatapan lembut dari Sang Pencipta padanya.
“Terima kasih Yang Mulia, aku akan bertanggungjawab menerima konsekuensi atas penerimaan Benih Alam itu,” sahut Shen Long.
“Baiklah. Kamu telah bertemu dengan naga YiLong, leluhur dari para naga. Mintalah sebuah telur naga darinya. Itulah Benih Alam,” kata Sang Pencipta.
Mendengar petunjuk dari Sang Pencipta, Shen Long kemudian memberikan hormatnya kembali dan bersujud padanya. Namun saat Shen Long mengangkat kepalanya, Sang Pencipta telah menghilang dari hadapannya.
Shen Long merasa bersyukur bisa mendapatkan petunjuk dari Sang Pencipta. Kemudian dia pergi kembali ke tempat semula untuk bertemu kembali dengan naga YiLong.
Di depan gua warna warni, Shen Long melihat naga YiLong sedang tertidur lelap. Shen Long berjalan perlahan agar tidak mengganggunya. Hidung YiLong bergerak ketika mencium bau Shen Long yang datang mendekatinya.
Naga YiLong membuka matanya menatap pada Shen Long.
“Sepertinya kamu beruntung dapat bertemu dengan Sang Pencipta,” kata naga YiLong.
“Benar. Dan aku diminta untuk kembali menemuimu...” sahut Shen Long.
“-Aku sudah menyiapkan telur naga untukmu. Aku tahu Sang Pencipta telah merestuimu. Tapi kamu harus menanggung konsekuensi yang timbul karena kamu mengambil telur nagaku,” lanjut Naga YiLong kemudian.
__ADS_1
Mata Shen Long berkedut mendengar lagi konsekuensi dari mengambil Benih Alam. Dia tidak tahu apa yang akan dihadapi olehnya karena mengambil telur naga itu.
“Aku akan memberikan petunjuk untuk menggunakan Benih Alam ini,” kata Naga YiLong.
“Saat kamu akan membentuk sebuah alam, kamu harus mengerahkan kekuatan kesadaran semesta untuk memurnikan telur nagaku ini. Kemudian setelah benih naga cukup menyerap kekuatanmu maka benih naga dalam telur akan berubah menjadi benih alam yang sesuai dengan kehendakmu.”
“Kemudian setelah benih alam terbentuk, telur akan pecah dan benih alam akan keluar membentuk alam sesuai keinginanmu,” lanjut Naga YiLong.
Shen Long merenung untuk mengingat petunjuk dari naga YiLong.
“Lalu konsekuensi apa yang akan aku hadapi nantinya?” tanya Shen Long pada naga YiLong.
“Kamu akan mengetahuinya nanti,” sahut naga YiLong yang kemudian menyerahkan telur naga kepada Shen Long.
Telur naga yang sebesar kepala manusia merupakan calon Benih Alam yang nantinya setelah dimurnikan akan menjadi Benih Alam.
Baik Sang Pencipta maupun naga YiLong tidak mau memberitahukan konsekuensi apa yang akan terjadi karena Shen Long meminta Benih Alam meskipun untuk kepentingan yang baik. Karena pasti ada konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan.
Shen Long yang berjalan ke arah timur menemukan sebuah tempat yang mirip seperti taman, namun tetap dipenuhi oleh beragam warna. Bahkan air danau yang berada di tengah taman itu pun memiliki warna yang beraneka ragam.
“Benar-benar alam yang unik penuh warna,” Shen Long merasa kagum dengan alam penciptaan tersebut.
Ketika Shen Long melihat ke arah ujung taman, tampak seorang berpakaian putih tapi memancarkan cahaya penuh warna dari tubuhnya. Dari kejauhan lelaki itu tampak sudah berumur tua dengan rambutnya yang putih keseluruhan.
Lelaki tua itu tampak duduk bermeditasi di atas sebuah tempat yang empuk di ujung danau. Wajahnya tampak tenang memejamkan matanya, namun auranya yang berwarna-warni terlihat oleh Shen Long.
“Siapakah lelaki tua itu?” batin Shen Long. Karena penasaran Shen Long kemudian berjalan mendekati lelaki tua itu secara perlahan.
Ketika Shen Long berada di dekatnya, lelaki tua itupun membuka kedua matanya dan menatap ke arah Shen Long yang terlihat menjadi serba salah padanya.
“Maaf kakek, aku mengganggu istirahatmu,” sapa Shen Long.
__ADS_1
“Tidak. Ini sudah sesuai dengan ramalan yang aku terima,” sahut lelaki tua itu.
“Ramalan?”
Shen Long mengkerutkan keningnya seakan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh lelaki tua itu.
“Duduklah dulu nak!” Lelaki tua itu menunjuk pada tempat duduk yang tiba-tiba ada di sebelah tempatnya bermeditasi. Tapi bagi Shen Long bertambah keanehan satu lagi bukanlah hal yang mengejutkan.
“Aku mendapatkan ramalan bahwa akan ada seorang petarung terkuat Alam Semesta B1 yang akan datang ke alam penciptaan ini,” lanjut lelaki tua itu dengan tenang.
“Sebentar kek. Alam Semesta B1?”
Kali ini Shen Long terkejut dengan penjelasan dari lelaki tua itu. Dia serasa menghancurkan lagi pemahamannya tentang dunia ini.
“Kamu tidak berpikir bahwa Sang Pencipta hanya menciptakan satu alam semesta ini bukan?” sahut lelaki tua itu menatap wajah Shen Long yang tampak terperanjat ketika dia menyebut alam semesta B1.
Shen Long memaksakan senyumannya pada lelaki tua itu. “Sejujurnya kek, sebelumnya aku berpikir hanya duniaku di Loka 3 yang aku ketahui, kemudian aku mengenal ribuan Loka di alam semesta ini. Kini aku mengetahui lagi bahwa masih ada alam semesta lain selain alam semesta yang aku kenali.”
Lelaki tua itu tersenyum sambil terkekeh mendengar kata-kata Shen Long.
“Benar. Ada ribuan alam semesta lainnya. Dan itu berarti ada jutaan lebih loka secara keseluruhannya,” sahut lelaki tua itu.
Hingga kata-kata terakhir Shen Long terlihat meneteskan keringat dingin di sekujur tubuhnya dan menelan ludahnya sendiri saking terkejut dengan penjelasan lelaki tua itu.
“Se-Seberapa luas alam yang telah diciptakan oleh Sang Pencipta?” Shen Long tergugup bertanya padanya.
“Sangat luas dan tak terbatas,” sahut lelaki tua itu dengan santai
Shen Long ternganga mendengar jawaban dari lelaki tua itu. Dia tidak menyangka Sang Pencipta begitu hebatnya mampu menciptakan sekian banyak alam semesta.
“Aku sungguh naif begitu sombongnya di depan Sang Pencipta yang bahkan aku ini tidak ada seujung rambutpun dibandingkan dengannya,” batin Shen Long mengingat tamparan yang dirasakannya dari Sang Pencipta untuknya.
__ADS_1