
Shen Long diam tidak menjawab pertanyaan dari Shen Wu. Wajahnya tampak bersedih mengingat masa lalunya. “Antarkan aku menemui leluhur sekte kalian,” pintanya pada Shen Wu.
Shen Wu sedikit tertegun mendengar permintaan Shen Long namun dia tidak berani menolak permintaannya.
Kemudian dia mengantarkan Shen Long pergi ke tempat pemakaman keluarga mereka dan melihat tempat makam Yun Mei yang sebelumnya sendiri disana, kini dipenuhi oleh makam anggota keluarga lainnya.
Barisan depan ada 4 makam dengan nisan bertuliskan Yun Mei, Dewi Suci, Gu Yan, dan Chen Mulan. Di belakang keempat makam itu berderet makam anak, cucu dari mereka yang telah banyak lahir setelahnya.
Shen Long berdiri menatap keempat makam tersebut dengan hati perih. Shen Wu dan Shen Gu telah berlutut disamping Shen Long. “Leluhur sekte, akhirnya kami bisa membebaskan kembali sekte Pedang Harapan dan akan mengembalikan nama baik sekte di masa depan” kata Shen Wu sambil berlutut di depan makam itu
Di belakang Shen Long, tampak Shan Lang dan Yun Mei mengikutinya. Mata Yun Mei sedikit terusik oleh tulisan nisan makam paling kiri yang namanya mirip dengannya, Yun Mei.
“Siapa mereka?” bisik Yun Mei pada Shan Lang disebelahnya.
“Itu para istri Yang Mulia,” sahut Shan Lang blak-blakan padanya.
“A-Apa? Benarkah?” Yun Mei merasa kepalanya berat mendengar jawaban dari Shan Lang.
Shen Long berjalan mendekati makam-makam itu. “Istri-istriku. Maafkan aku telah meninggalkan kalian. Aku yang bersalah, kepergianku menyebabkan nama sekte Pedang Harapan menjadi hancur seperti saat ini. Aku berjanji akan memulihkannya kembali.” Shen Long bergumam dalam hatinya.
Raut kesedihan tampak di wajah Shen Long, dia menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya menoleh ke arah Shen Wu.
“Nak, namaku Shen Long. Akulah pendiri sekte ini. Mulai hari ini, aku serahkan sekte ini kembali padamu untuk menjaganya,” sahut Shen Long.
Mendengar kata-kata Shen Long membuat mata Shen Wu dan Shen Gu terbelalak tidak percaya. “Le-Leluhur?” Mereka hampir bersamaan gugup menyebut Shen Long.
“Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal, tetapi ceritanya sangat panjang.”
__ADS_1
“Pedang Harapan!” Shen Long memanggil pedangnya.
Mata Shen Wu dan Shen Gu terkejut melihat pedang Harapan yang dipanggil terbang dari aula sekte setelah Shen Long dengan enteng memanggilnya datang.
Pedang Harapan melayang di depan Shen Long yang menyilangkan tangan dipunggungnya. “Mulai hari ini, kamu harus menjaga keluarga keturunanku. Kamu aku tugaskan menegakkan keadilan bagi sekte Pedang Harapan di masa depan.”
Pedang Harapan mendengung begitu mendengar perintah dari Shen Long. Kemudian Shen Long mengambil pedang itu lalu memberikannya pada Shen Wu.
“Nak, aku titipkan pedang ini padamu. Gunakan pedang ini untuk kebajikan, membela kebenaran dan membantu rakyat membasmi kejahatan. Hukum anggota sekte yang tidak mematuhi aturan sekte dengan tegas,” pesan Shen Long padanya
Shen Wu menundukkan kepalanya menerima pedang itu dari Shen Long. Dia masih belum merasa sadar dari keterkejutan sebelumnya. “Le-leluhur, benarkah itu dirimu?”
Kembali Shen Wu bertanya pada Shen Long, Shen Gu juga tidak mengerti tentang hal itu.
“Benar. Ini aku.” sahut Shen Long dengan tatapan serius.
Shen Wu dan Shen Gu merasa bergidik melihat tatapannya. Mereka lalu bersujud kepada Shen Long. “Oh Leluhur, sebuah kehormatan bagi kami bisa bertemu denganmu,” Shen Wu terisak setelah dia mulai mempercayai hal itu.
“Shen Wu, aku mengangkatmu menjadi ketua sekte Pedang Harapan. Terimalah pedang ini. Aku akan memberikan ilmu jurusku padamu dan Shen Gu. Berlatihlah dengan tekun,” lanjut Shen Long
Shen Long lalu memberikan beberapa jurus pedang yang diciptakan olehnya dengan Pedang Harapan dan juga jurus ciptaannya sendiri Sembilan Naga Mengguncang Langit yang merupakan bagian dari jurus Naga Iblis Membelah Langit Kesembilan.
Dengan memberikan jurus melalui dahi mereka berdua, Shen Wu dan Shen Gu bersujud kembali pada Shen Long leluhurnya. “Terima kasih leluhur,” sahut mereka serempak.
“Gunakan juru ciptaanku itu dengan baik” lanjut Shen Long sambil berbalik pergi.
“Leluhur.” Shen Wu memanggil Shen Long dengan tatapan masih berharap dia tetap di sekte membimbing mereka. Shen Long menghentikan langkahnya sejenak.
__ADS_1
“Aku masih harus menyelesaikan masalah Kekaisaran dan dunia bawah. Kamu bisa mengatur sekte Pedang Harapan dengan baik,” ucap Shen Long sambil meneruskan pergi meninggalkan mereka berdua di pemakaman itu.
Kemudian Shen Long pun pergi bersama Yun Mei, Shan Lang dan kedua dewa kembar kuno He Ti dan Che Ti menuju ibukota Kekaisaran Naga.
Setelah kepergian Shen Long, sekte Pedang Harapan mulai berbenah untuk mengembalikan nama baik sekte sesuai petunjuk dari Shen Long pada Shen Wu dan Shen Gu.
Ketika mereka tengah berbenah, tampak dua orang tamu sekte datang diantar oleh dua penjaga menuju halaman kediaman sekte.
“Maaf, siapa nama tuan? Ada keperluan apa ke kediaman sekte kami?” tanya seorang diantara penjaga di kediaman itu.
“Aku Fang Ma. Ini temanku Fang Zen. Kami ingin bertemu dengan tabib dewa Chen.” kata Fang Ma dengan sopan.
Penjaga tersebut tersenyum. “Oh, mari ikuti aku untuk menemui tabib dewa Chen” kata penjaga tersebut sambil menundukkan badannya memberi hormat.
Orang-orang di kediaman sekte Pedang Harapan kembali ke jati diri semula menjadi sopan dan baik pada setiap tamu dan rakyat sesuai perintah dari Shen Long.
“Aneh? Kenapa sekte Pedang Harapan ini berbeda dengan cerita orang-orang yah?” gumam Fang Ma dalam hatinya.
Fang Ma dan Fang Zen lalu diantarkan menuju kediaman tabib Chen yang merupakan penerus dari tabib sakti Chen Mulan istri Shen Long. Mereka diajak menyusuri jalan diluar kediaman menuju lereng bukit sisi lainnya.
Fang Ma dan Fang Zen menyipitkan mata mereka karena diajak ke tempat lain dari kediaman sekte.
“Tabib Chen tidak suka mengurusi tentang sekte, jadi dia hidup menyendiri diluar lingkungan sekte untuk melakukan pengobatan dan penelitiannya.” kata penjaga itu memahami pemikiran Fang Ma dan Fang Zen yang merasa bingung diajak ke tempat itu.
Akhirnya mereka tiba di kediaman tabib Chen yang cukup sederhana di ujung jalan itu. Tampak seorang lelaki tua duduk di depan rumahnya sambil membaca buku dan sebuah tungku pembakaran pil sedang menyala disebelahnya.
“Tabib Chen, kami mengantar tamu yang ingin menemuimu,” kata penjaga itu dengan memberikan hormat padanya.
__ADS_1
Tabib Chen menghentikan membaca bukunya, lalu menyipitkan matanya melihat kearah kedua tamu tersebut. “Silahkan duduk,” sahutnya mempersilahkan Fang Ma dan Fang Zen untuk duduk di depannya.
“Silahkan!” penjaga itu mempersilahkan Fang Ma dan Fang Zen untuk menemui tabib Chen lalu dia pergi dari tempat itu kembali ke kediaman sekte untuk melaporkan tamu tersebut pada ketua sekte.