
Di kota Mushen, Shen Long telah tiba kali ini bersama Che Ti. Perjalanan menuju Alam Neraka melalui Gerbang Neraka bukanlah hal mudah, Shen Long tidak ingin mengajak Yun Mei untuk pergi kesana bersamanya. Sehingga dia meminta He Ti untuk mengantar Yun Mei kembali ke sekte Pedang Harapan dan menjaganya. Meskipun berat hati, Yun Mei tidak bisa menolak keinginan Shen Long untuk pergi ke daerah barat yang misterius.
Dalam perjalanan, Shen Long berpikir untuk melihat keadaan sekte Pedang Harapannya di daerah barat yang misterius yang dibesarkan oleh istrinya Mu Rong.
“Kota Mushen?” Shen Long tertegun mengingat dalam ingatannya bahwa sekitar tempat itu merupakan daerah kediaman sekte Tanah Barat di masa lalu. Sejak bergabungnya sekte Tanah Barat menjadi sekte Pedang Harapan, Shen Long hanya sempat beberapa kali pergi ke sini mengunjungi istrinya Mu Rong.
Namun beberapa ratus tahun kemudian dia tidak menyangka tempat itu akan menjadi kota Mushen seperti sekarang ini. Penduduk kota Mushen tampak ramai dan Shen Long melihat gerbang kediaman sekte Pedang Harapan di kejauhan yang sederhana seperti dulu namun terawat dengan baik.
“Sepertinya sekte Pedang Harapan di tempat ini tidak mementingkan kekayaan, mereka merawat dan menjaga nama sekte dengan baik. Aku bangga padamu Mu Rong yang telah mendidik murid-muridmu dengan baik,” gumam Shen Long dalam hatinya sambil tersenyum.
Shen Long mengajak Che Ti untuk meneruskan perjalanan menuju tempat lokasi formasi Gerbang Neraka berada. Saat setengah perjalanan dia melihat seorang wanita dengan wajah sedih berjalan dari arah Gerbang Neraka menuju ke arah kota Mushen. “Apa yang terjadi? Orang itu sepertinya mengetahui sesuatu.” Hati Shen Long merasa ada sesuatu yang salah dengan wanita itu.
Dia pun turun bersama Che Ti di depan wanita tersebut yang ternyata adalah Fang Ma. Melihat dua orang tiba-tiba muncul turun dari langit, membuat Fang Ma terkejut, dia tanpa sadar mundur perlahan.
“Maaf, karena kami mengejutkan nona,” kata Shen Long sambil memberi hormat pada Fang Ma yang diikuti pula oleh Che Ti. Che Ti menatap kagum pada Shen Long, meskipun kekuatannya tinggi namun dia selalu bersikap sopan dan merendah pada semua orang.
__ADS_1
Fang Ma menyipitkan matanya melihat kerendahan hati Shen Long yang menatap dirinya dengan tatapan lembut. Hatinya merasa lega, meskipun dia tidak mengenal Shen Long namun dengan melihatnya dia merasakan perasaan nyaman dan damai.
“Nona, apa yang telah terjadi? Mengapa nona terlihat sedih berjalan dari arah sana,” lanjut Shen Long sambil menunjuk ke arah Gerbang Neraka. Fang Ma tertegun mendengar pertanyaan dari Shen Long. Dia tidak tahu apakah harus menjawabnya atau tidak.
“Ah, maafkan aku yang terlalu banyak bertanya. Silahkan nona, aku membawa sedikit perbekalan untuk di nikmati. Mari kita duduk sambil bercerita,” Shen Long meminta Che Ti menyiapkan perbekalan untuk mereka nikmati dan mengajak Fang Ma duduk sambil menikmati makanan itu.
Fang Ma sedikit ragu melihat kebaikan Shen Long dan bermaksud menolaknya, namun perutnya tidak mampu menahan rasa haus dan lapar yang terlihat dari kulit bibirnya yang telah mengering.
Dia pun memberanikan dirinya untuk mengambil bekal dan minuman yang diberikan oleh Shen Long padanya. Shen Long mengetahui keraguan di hati Fang Ma, dia mendahului dirinya menikmati makanan dan minuman itu yang kemudian diikuti oleh Che Ti.
Fang Ma menghela nafasnya melihat tindakan Shen Long yang santai kemudian turut menikmati makanan dan minuman yang diberikan Shen Long padanya. Hatinya merasa lega dan tenang menikmati makanan yang enak itu. Perasaan hatinya yang sebelumnya hancur perlahan menjadi pulih kembali.
“Namaku Fang Ma, tidak apa-apa. Aku senang bisa bertemu dengan kalian,” sahut Fang Ma dengan hati yang mulai membaik.
Fang Ma sebelumnya memang orang yang senang bergaul untuk memiliki banyak teman. Namun kejadian di Gerbang Neraka membuat hatinya tidak bisa menerima kenyataan itu. Kedatangan Shen Long menyadarkan dirinya bahwa masih banyak hal lain yang bisa dia lakukan dalam hidupnya. Dia harus tegar menghadapi pengalaman dalam petualangan yang dia impikan sejak dulu.
__ADS_1
“Aah...” Fang Ma merasa lega setelah menghela nafasnya, dia mencoba untuk tersenyum pada Shen Long. “Terima kasih tuan Shen atas makanan dan minumannya,” kata Fang Ma.
Shen Long merasa lega melihat perubahan suasana hati Fang Ma. “Nona Fang, daerah ini bukan tempat yang biasa dikunjungi seorang diri. Mengapa nona berada sendirian di tempat ini. Kemana tujuan nona?,” sahut Shen Long mulai bertanya pada Fang Ma.
Fang Ma melihat lurus ke arah Gerbang Neraka dengan wajah kelam. “Aku sebenarnya tidak datang sendirian. Aku datang bersama seorang teman. Namun-“ Fang Ma tidak melanjutkan kata-katanya. Dia merasa berat mengingat kembali kejadian hari itu.
Mendengar hal itu Shen Long menjadi semakin yakin telah terjadi sesuatu dengan Fang Ma yang berhubungan dengan Gerbang Neraka. Namun melihat raut wajah Fang Ma, Shen Long tidak ingin untuk memaksanya bercerita. Dia lalu membuatkan teh untuk dirinya dan Fang Ma agar membuatnya menjadi lebih tenang.
Che Ti tidak mengerti kenapa Shen Long membuang waktu bersama wanita itu, bukankah jika dia melanjutkan perjalanan ke Gerbang Neraka maka dia akan tahu langsung apa yang telah terjadi. “Yang Mulia-“bisiknya pada Shen Long.
Shen Long mengangkat tangannya memotong perkataan Che Ti. Dia mengerti apa yang ada dalam pikiran Che Ti, namun Che Ti tidak mengetahui Shen Long merasakan aura yang terasa dekat dengan dirinya dari tubuh Fang Ma. Hal inilah yang menarik perhatian Shen Long. Dia tidak mengerti kenapa dari tubuh Fang Ma dia merasakan aura yang terasa dekat dengan dirinya.
“Nona, aku mengerti dengan perasaan yang kamu alami. Kadang kala beban akan terasa ringan jika kita melepaskannya dan iklas menerima keadaan itu,” sahut Shen Long pada Fang Ma sambil menyesap tehnya.
Mendengar kata-kata Shen Long membuat hati Fang Ma terasa tersentuh. Dia menghela nafasnya. “Benar aku harus melepas beban ini, aku terlalu banyak berharap pada sesuatu yang diluar kendaliku.” Fang Ma menghela nafasnya kembali.
__ADS_1
Kemudian dia menceritakan kejadian yang terjadi di Gerbang Neraka itu pada Shen Long, dan dirinya merasa lega setelah menceritakan hal itu. Seakan-akan beban dalam pikirannya yang terlalu berharap tinggi telah lepas. Kini dia siap untuk memulai kehidupan petualangannya sendiri.
“Jadi Zen Luo itu juga hilang ingatan dan ditemukan oleh wanita ini dan diberi nama Fang Zen,” gumam Shen Long dalam hatinya setelah mendengar apa yang diceritakan oleh Fang Ma. “Pantas saja aku merasakan aura yang dekat denganku, sepertinya itu aura milik Zen Luo yang tersisa pada tubuh wanita ini.”