Menantu Raja Dewa Iblis

Menantu Raja Dewa Iblis
BAB 266 | Kampung Bandit


__ADS_3

Fang Zen, nama sementara yang digunakan oleh Zen Luo diberikan oleh Fang Ma karena dia tidak mengingat apapun dari masa lalunya.


Fang Zen tertegun mendengar kata-kata Fang Guo yang menyarankannya untuk pergi menemui seorang tabib di gunung Shanji. Dia tidak tahu kemana arah untuk mencari gunung tersebut.


“Paman, biarkan aku membantunya pergi ke gunung Shanji.” Fang Ma mengajukan diri untuk membantu Fang Zen. Dia sebenarnya sejak lama ingin pergi bertualang namun dia enggan meninggalkan pamannya sendirian.


Fang Guo mengetahui niat keponakannya itu, Fang Ma selalu belajar ilmu bela diri dan tidak tertarik sama sekali untuk menempa besi. Tetapi dia tidak ingin keponakannya pergi sendirian untuk berpetualang. Namun kini dia pergi bersama Fang Zen yang menemaninya.


Meskipun dia belum lama mengenal Fang Zen, tetapi dia percaya pada keponakannya. Dengan berat hati akhirnya diapun mengijinkannya pergi menemani Fang Zen untuk mencari tabib ke gunung Shanji.


Fang Zen merasa lega karena ditemani orang yang lebih mengetahui jalan daripada dirinya sendiri yang sedang hilang ingatan. Fang Ma tampak bersemangat untuk bisa pergi berpetualang. Itu adalah cita-citanya sejak kecil.


Fang Ma lahir tanpa mengenal kedua orang tuanya. Fang Guo memungutnya saat bertemu di tengah hutan dan menjadikannya keponakan karena dia tidak mempunyai istri. Fang Guo merawat Fang Ma dibantu oleh para tetangga disekitar mereka. Sehingga Fang Ma cukup dikenal dan disayang oleh semua orang di kota kecil Yangsi itu.


Ketika akan pergi dari kota kecil Yangsi, Fang Ma berpamitan dengan penduduk kota itu yang selama ini menyayanginya.


Fang Ma berjalan bersama Fang Zen menuju ke arah gunung Shanji yang berada di sebelah selatan kota Yangsi. Mereka menyusuri hutan yang cukup lebat setelah keluar dari kota Yangsi.


Tiba-tiba dari dalam hutan muncul beberapa orang bandit yang memang terkenal sering merampok orang-orang yang berjalan melewati hutan tersebut.


“Serahkan harta atau nyawa kalian!” Teriak pemimpin dari bandit tersebut yang menggunakan ikat kepala merah.


Fang Zen hendak bertindak melawan, namun Fang Ma menahan tangannya dan menggelengkan kepalanya membuat Fang Zen mengurungkan niatnya untuk melawan.


“Kita hanya melawan jika dalam keadaan bahaya,” bisik Fang Ma padanya. Fang Zen menganggukkan kepalanya. Dia hanya menghela nafas menuruti perintah Fang Ma.

__ADS_1


Para bandit itu segera memeriksa mereka. Fang Zen merasa tidak memiliki benda apapun. Fang Ma juga tidak membawa apapun di dalam tasnya kecuali pakaian ganti dan sebilah tongkat.


“Ketua. Mereka orang miskin. Mereka tidak membawa barang berharga apapun.” Teriak bawahannya yang memeriksa barang bawaan Fang Ma.


“Ah, beberapa hari ini kita tidak mendapatkan apapun. Orang itu sudah sering menekan kita untuk meningkatkan setoran padanya.” Ketua Bandit itu mengeluh pada rekan disampingnya.


“Lalu apa rencana kita?”


Rekan disamping ketua bandit itu yang juga bawahan bertanya kembali padanya. Mereka sudah beberapa hari ini merampok namun belum menghasilkan apa-apa. Hal ini tidak sebanding dengan resiko yang mereka hadapi.


“Sudahlah, nyawa mereka juga tidak penting. Tidak menghasilkan keuntungan untuk kita,” gumam ketua Bandit itu lagi.


“Tetapi yang wanita itu sangat cantik ketua. Apa ketua tidak ingin menambah istri lagi?” goda rekannya itu.


“Tapi yang ini sayang sekali ketua. Atau kita bawa saja untuk menjadi pelayan dan membantu pekerjaan istri-istri ketua,” usul rekannya itu


Wajah ketua bandit itu tampak berseri mendengar ide dari rekannya tersebut. Dia pun menyetujuinya. Lalu seluruh bandit itu menggiring Fang Ma dan Fang Zen ke tempat persembunyian mereka.


Perkampungan Bandit, tempat itu tersembunyi di kaki pegunungan dan ditengah hutan lebat yang tadi dilewati oleh Fang Ma dan Fang Zen. Kampung itu juga dialiri oleh sungai yang cukup jernih yang menjadi salah satu sumber makanan mereka selain berburu binatang.


Menjadi bandit adalah pekerjaan sampingan bagi mereka karena permintaan dari seseorang yang meminta pajak keamanan pada kampung tersebut.


Ketua Bandit merupakan juga kepala kampung bandit yang bernama Ma Lang dan biasa dipanggil Bandit Ma. Orang-orang kampung segera menyerbu mereka setelah mereka datang dari ‘berburu barang-barang berharga’. Namun kali ini mereka kembali tidak mendapatkan hasil apa-apa dari perburuan tersebut, kecuali dua orang asing yang datang bersamanya.


“Bandit Ma, meskipun tidak mendapatkan barang-barang bagus. Sebaiknya jangan membawa orang asing yang akan menghabiskan jatah makan kita sekampung,” teriak istri pertama ketua bandit tersebut.

__ADS_1


Mata Bandit Ma berkedut mendengar perkataan istri pertamanya yang juga dibenarkan oleh orang-orang kampung bandit itu.


“Istriku, mereka bisa membantu meringankan pekerjaan kita,” sahut Bandit Ma.


“Lihatlah, mereka sangat kuat dan kelihatan cakap dalam pekerjaan. Kita bisa memanfaatkan mereka untuk membantu kita,” lanjut Bandit Ma kembali sambil memperlihatkan Fang Ma dan Fang Zen.


Mata Fang Zen berkedut mendengar perkataan Bandit Ma. Dia malas berurusan dengan hal-hal seperti itu dan ingin langsung pergi ke gunung Shangji. Namun dia melihat Fang Ma tersenyum dan menikmati suasana itu membuatnya menjadi bersabar kembali.


Fang Ma adalah orang yang senang bergaul, tentu saja berada di kampung bandit ini membuat hatinya senang karena mendapat pengalaman dan teman baru. Fang Ma tidak merasa mereka orang-orang jahat. Jadi dia tidak bermaksud untuk melawan mereka kecuali dalam keadaan berbahaya.


“Baiklah. Aku menerima mereka, asalkan kerja mereka bagus,” sahut istri pertama Bandit Ma itu kembali dengan ketus.


“Nah, kalian bisa tinggal di tempat ini dan membantu pekerjaan istri-istriku itu,” kata Bandit Ma pada Fang Ma dan Fang Zen.


Malam harinya setelah pergi ‘berburu’ mereka selalu mengadakan jamuan makan bersama di tengah-tengah kampung. Tampak Fang Zen dan Fang Ma juga turut serta dalam perjamuan tersebut.


Fang Ma merasa mendapat pengalaman baru, para bandit tidak seburuk yang dipikirkannya. Mereka juga memiliki kehangatan seperti orang-orang dikotanya. Fang Zen menahan dirinya dan berusaha mengikuti rencana Fang Ma yang ingin menikmati petualangannya.


“Ketua, tuan Song datang bersama dua orang menuju kemari,” kata pengintai yang bertugas mengintai di sekitar kampung bandit itu.


Mata Bandit Ma berkedut mendengar kedatangan orang itu. “Sialan, mereka sudah datang lagi,” geramnya


Fang Ma melihat perubahan wajah Bandit Ma yang menjadi jelek saat mendengar berita dari pengintainya. “Apa yang terjadi?” gumamnya dalam hati.


Tak lama kemudian datang tiga orang berjalan dengan santai mendekati perjamuan mereka. “Hahaha... sepertinya kalian mendapatkan hasil yang besar beberapa hari ini,” teriak orang yang datang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2