
“Siapa yang berani berbuat onar di kediaman sekte Pedang Harapanku?” Tiba-tiba sebuah suara muncul.
Tampak seorang dengan wajah tegas keluar diikuti oleh tiga orang di belakangnya. Ketua sekte Pedang Harapan cabang wilayah timur, Guo Jing muncul bersama tiga tetua sekte dibelakangnya dengan wajah marah melihat para penjaga dan murid mereka berserakan di lantai.
Mata ketua sekte cabang Guo Jing berkedut melihat sekitarnya. “Siapa kalian berani berbuat kekacauan di kediaman sekte Pedang Harapanku?”
“Sektemu? Cih...” Shen Long mendengus mendengar perkataan dari Guo Jing seakan-akan sekte Pedang Harapan adalah miliknya.
“Sejak kapan sekte Pedang Harapan ini menjadi milikmu?” Sindir Shen Long selanjutnya.
Wajah Guo Jing menjadi gelap mendengar sindiran dari Shen Long padanya. Ketiga tetua segera bergerak mengurung Shen Long dan He Ti, menunggu aba-aba dari ketua sekte cabang untuk menyerang.
“Apa mau kalian datang kemari?” Tanya Guo Jing selanjutnya.
“Aku ingin membersihkan sampah yang mengotori sekte Pedang Harapanku,” sahut Shen Long menjelaskan sejujurnya
Guo Jing dan para tetua tertawa mendengar perkataan Shen Long, mereka merasa Shen Long itu bermimpi terlalu besar. “Hahaha... kamu terlalu tinggi bermimpi nak.”
Shen Long hanya tersenyum melihat mereka tertawa. “Tertawalah selagi kalian masih bisa tertawa,” sahut Shen Long kemudian
Guo Jing dan para tetua mengakhiri tawa mereka, lalu mereka bersiap untuk menyerang ke arah Shen Long dan He Ti.
“Yang Mulia, biarkan aku yang menghadapi mereka,” pinta He Ti yang dibalas dengan anggukan oleh Shen Long.
Shen Long juga ingin menguji kesetiaan Che Ti dan He Ti, jadi dia sengaja memisahkan mereka dan melihat bagaimana mereka bersikap padanya.
He Ti maju ke depan Shen Long bersiap untuk menghadapi keempat orang itu dengan tenang. Sementara Shen Long berdiri dengan tenang sambil menyilangkan tangan dipunggungnya.
“Cih, hanya kamu sendiri yang melawan kami. Apa kamu pikir dirimu terlalu tinggi? Kamu tidak tahu tingginya langit,” kata Guo Jing yang kemudian memerintahkan para tetua untuk menyerang He Ti.
“Jangan banyak bicara.”
__ADS_1
He Ti langsung bergerak dengan kecepatan kilat menyerang ke arah ketiga tetua itu lalu kembali ke tempatnya berdiri.
BRUKK... BUMM...
Ketiga tetua itu terpental ambruk menghantam dinding aula utama itu hanya dengan sekali sentuhan dari He Ti di tubuh mereka. Jari He Ti yang menyentuh mereka seperti sebuah palu raksasa yang menghantam tubuh mereka.
Shen Long terlihat puas dengan kekuatan yang ditunjukkan oleh He Ti, sementara Guo Jing terkejut. Tubuh Guo Jing menggigil ketakutan melihat ketiga tetua nya terkapar ambruk hanya dengan sentuhan dari He Ti.
“I-Ini kekuatan dewa seperti Jia Ti,” gumamnya dengan mata terbelalak.
“Si-Siapa kalian?” Tanya Guo Jing kali ini dengan gugup ketakutan.
“Aku sudah bilang padamu. Aku datang membersihkan sampah dari sekte Pedang Harapanku,” sahut Shen Long mendekati Guo Jing yang tanpa sadar mundur melihat tatapan Shen Long yang mengerikan padanya.
“Ja-jangan mendekat. Aku dilindungi oleh kerajaan timur. Kami sekte Pedang Harapan juga dilindungi oleh Kekaisaran.” Teriaknya sambil ketakutan mundur.
“Kamu pikir aku takut pada Kekaisaran?” Shen Long tersenyum sinis
Mata Guo Jing melotot dan mulutnya menganga. Dia merasa nyawanya telah keluar dari tubuhnya mendengar kata-kata Shen Long. Tak terasa cairan berbau mengalir di antara kedua kakinya.
Jantung Guo Jing telah berhenti berdetak hanya karena terkejut ketakutan setelah mendengar nama Shen Long di telinganya. Dia mati dengan mata terkejut seperti melihat hantu.
“Cih, benar-benar sampah. Mati pun meninggalkan bau seperti ini,” gumam Shen Long merasa jijik pada Guo Jing.
“He Ti, minta para murid dan pelayan membersihkan tempat ini. Lalu kumpulkan semua orang tidak terkecuali di aula ini,” perintah Shen Long.
“Baik Yang Mulia,” sahut He Ti.
Setelah melihat kematian ketua sekte dan para tetua mereka, para penjaga dan murid-murid sekte tidak ada lagi yang berani melawan Shen Long. Mereka segera membersihkan aula utama sekte lalu berkumpul untuk menerima instruksi dari Shen Long.
“Mulai hari ini, sekte Pedang Harapan dilarang berbuat semena-mena pada rakyat. Jika aku mendengar hal itu masih terjadi. Aku akan membunuh langsung orang tersebut,” perintah Shen Long pada para murid sekte Pedang Harapan.
__ADS_1
“Baik ketua sekte!” sahut mereka serempak setelah mendengar perintah dari Shen Long.
Sebenarnya tidak semua anggota murid sekte yang berkelakuan buruk, masih ada juga yang berkelakuan baik. Tetapi mereka dikalahkan oleh banyaknya mereka yang suka berbuat semena-mena mengandalkan kekuasaan untuk menindas rakyat.
Dengan perintah dari Shen Long, mereka yang baik menjadi lega, kini mereka bisa membersihkan nama sekte Pedang Harapan sesuai maksud didirikannya sekte ini oleh para pendirinya.
“He Ti, selanjutnya kita akan pergi ke ibukota kerajaan timur. Bagaimana kekuatan dari Jia Ti?” Tanya Shen Long saat berdua dengan He Ti setelah para murid dibubarkan.
“Yang Mulia, Jia Ti jauh lebih kuat dari kami. Jurusnya lebih kejam dari jurus kami yang tidak ingin menghancurkan alam sekitarnya,” sahut He Ti
Shen Long merenungkan perkataan dari He Ti, “Apa kalian berdua pernah bertarung dengannya?”
“Kami tidak pernah Yang Mulia. Tapi kami mendengar dia sering berlatih bersama Shang Ti pemimpin kami,” sahut He Ti kembali
Mendengar hal itu membuat Shen Long bertambah semangat, dia ingin segera bertemu dengan Jia Ti dan melihat kekuatannya.
“Ah, baiklah. Besok kita pergi ke ibukota kerajaan timur.” Shen Long lalu berdiri dan pergi ke kamar ketua di kediaman sekte Pedang Harapan dan termenung di ranjangnya sebelum tidur.
“Setelah terlempar ke alam Maya, apa yang terjadi dengan Zen Luo?” gumamnya memikirkan musuh bebuyutannya Zen Luo. Sementara dia sudah mengetahui apa yang terjadi pada Raja Yama.
*****
Kembali saat terhempas, di suatu tempat di wilayah kerajaan utara, Zen Luo yang terhempas disana terjatuh di sebuah hutan dekat kota kecil yang cukup dingin. “Dimana aku?” gumamnya
Zen Luo bangun dan berdiri melihat sekeliling tempat itu. Lalu dia berjalan keluar dari hutan tersebut dan bertemu kota kecil. Hawa di tempat itu cukup dingin, namun Zen Luo tidak merasa kedinginan sama sekali.
“Hei, kamu. Aku baru melihatmu di kota kecil ini. Siapa kamu?” tanya seseorang yang berjalan mendekati Zen Luo. Sementara ada 3 orang lain mengikutinya dari belakang.
“Aku?” Zen Luo merasa bingung untuk menjawab pertanyaan orang itu. Sementara ini dia juga tidak mengetahui siapa dirinya.
“Argh... Aku tidak ingat siapa diriku?” Zen Luo memegang kepalanya yang merasa sakit setelah mencoba mengingat siapa dirinya.
__ADS_1