
Setelah semua bersih, tetua Xu kemudian kembali ke aula utama menemui ketua sekte.
“Aku telah mendengar apa yang terjadi hingga hari ini, termasuk pertaruhanmu dengan permaisuri raja” kata ketua sekte sambil melirik tajam ke arah tetua Xu yang langsung berkeringat dingin.
“Ampun ketua sekte, aku diperdaya oleh permaisuri sehingga bersedia mengikuti pertaruhan tersebut” sahut tetua Xu beralasan.
“Hahaha... tidak mengapa, ini masih sesuai rencana besar kita” sahut ketua sekte.
Tetua Xu merasa lega mendengarkan hal itu, dia tidak menyangka ketua sekte tidak memarahinya karena menyepakati pertaruhan tersebut.
“Tetapi lain kali jangan sembarangan lagi mengambil keputusan, atau aku akan membunuhmu” lanjutnya dengan tatapan yang bengis.
“Hamba tidak berani” sahut tetua Xu merasa menggigil oleh tatapan tersebut.
“Baiklah, kamu berikan pil abadi ini pada permaisuri. Ingat ini harus diberikan pada permaisuri raja” katanya lalu melambaikan tangannya pada tetua yang berada disampingnya.
Tetua itu lalu mengeluarkan sebuah kotak keemasan yang di dalamnya berisi pil berwarna bening seperti mutiara beraroma bunga dan memiliki aura yang luar biasa.
“Ketua, pil ini sangat berharga. Kita tidak perlu memberikannya pada permaisuri” sahut tetua Xu.
Plak!
Kali ini tamparan keras mendarat di pipi tetua Xu membuatnya terpental dengan wajah yang bengkak. Kekuatan ketua sekte sangat luar biasa, bisa mementalkan Pendeta Kerajaan yang berada pada tingkat Pendeta Suci dengan mudah.
“Kamu ingin mengajariku? Ingat kamu yang membuat kekacauan ini” bentak ketua sekte yang membuat tetua Xu menggigil tak peduli pada sakitnya.
“Ampuni hamba ketua, hamba tidak berani” sahutnya sambil berlutut.
“Pergilah! Ingat kata-kataku, pil ini harus sampai ke tangan Permaisuri. Jika terjadi kesalahan, aku tidak akan mengampunimu” katanya kembali
Tetua Xu lalu mengambil kotak pil abadi dan segera pergi menuju istana kerajaan Liu untuk memberikannya pada permaisuri raja.
“Kalian berdua, ikuti tetua Chu, tugas kalian belum selesai. Masih ada yang perlu kalian lakukan selanjutnya” perintah ketua sekte pada Xu Huang dan Xu Meng.
“Baik ketua” sahut mereka hampir bersamaan.
__ADS_1
Tetua Chu lalu mengajak mereka ke tempat pelatihan yang telah disiapkan untuk mereka.
“Tetua Shi, apakah persiapan sudah dilakukan?” tanya ketua sekte pada seorang tetua yang masih bersamanya.
“Semua sudah sesuai rencana, tabib Su Cheng sudah menyelesaikan pembuatan pil penguat jiwa” sahut tetua Shi.
“Bagus, kita akan menggunakan pil itu untuk memperkuat raga suci. Hanya pil itu yang bisa membuat tubuh manusia menjadi sangat kuat untuk menahan kekuatan roh tingkat tinggi.” kata ketua sekte.
“Lalu pil abadinya?” tanya tetua Shi selanjutnya.
“Hahaha... aku bukan orang yang bodoh untuk memberikannya pada orang lain” kata ketua sekte tertawa.
“Aku sudah membuat duplikatnya. Kita lihat kekacauan apa yang akan dibuat olehnya. Hahaha...” lanjut ketua sekte sambil tertawa dan pergi menuju ruang pelatihan.
Di ruang pelatihan, ketua sekte melihat sebuah sosok wanita yang tertidur di dalam sebuah batu yang sedingin es namun tubuhnya masih hangat. Wanita itu adalah wanita pilihan yang telah ditemukan oleh mereka sesuai hari kelahiran dan kesuciannya.
“Ketua, semua sudah dipersiapkan” kata tetua Shi dengan hormat.
“Baik, kita tunggu saat bulan purnama untuk membangunkannya. Masih 10 hari lagi” sahut ketua sekte tersenyum.
“Hahaha... akhirnya setelah sekian lama.“ ketua sekte tertawa lepas.
Di istana kerajaan Liu, tetua Xu atau Pendeta Kerajaan telah datang menemui permaisuri raja.
“Yang Mulia, hamba telah membawakan Anda pil abadi sesuai pertaruhan kita” kata tetua Xu menundukkan kepalanya dan menyerahkan kotak emas.
Permaisuri lalu membuka kotak emas yang diserahkan oleh tetua Xu padanya, tercium aroma obat dan bunga yang harum. Pil seindah mutiara itu disebut pil Abadi, namun baik tetua Xu ataupun permaisuri tidak mengetahui bahwa pil itu bukan yang asli, melainkan duplikatnya.
Dengan senang hati permaisuri menerima hadiah tersebut lalu menyimpannya.
“Terima kasih tetua Xu. Tadinya aku pikir kamu tidak akan memberikannya padaku” kata permaisuri raja.
Wajah tetua Xu masam, sebenarnya dirinya tidak mau memberikannya secara ikhlas, namun dia tidak berani menentang perintah ketua sekte. Jadi dia hanya bisa mengangguk dan tersenyum pada permaisuri.
“Hamba tidak berani, jika tidak ada hal lain, hamba mohon ijin untuk pamit” kata tetua Xu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“Baik, silahkan tetua Xu” sahut permaisuri raja.
Setelah kepergian tetua Xu, permaisuri merasa sangat senang. Pil abadi yang diidam-idamkannya kini telah berada ditangannya. Dia memandangi pil tersebut berusaha meneliti keasliannya.
Permaisuri bukan lah orang yang sangat ahli dalam obat-obatan, jadi dia hanya mengetahui sedikit tentang pil abadi, sehingga dia merasa pil itu adalah pil asli. Dia sedikit ragu untuk meminumnya, jadi sementara dia hanya menyimpannya dulu.
Kembali pada perguruan Wuming, tiga hari setelah pertandingan bela diri, tetua dan ketua Yun telah berhasil meracik obat penawar racun peraga sukma. Kemudian mereka memberikannya pada tetua Yang Fei dan nona Xie Lin.
Untuk membantu mempercepat pemulihan, Shen Long mengalirkan energi spiritual dirinya ke dalam tubuh mereka.
Tak lama berselang, tetua Yang dan Xie Lin pun tersadar dari tidur mereka yang panjang.
“Dimana aku?” tanya tetua Yang setelah sadar.
“Ah, tetua Xie. Saudara Shen. Apa yang telah terjadi? Mengapa aku bersama kalian?” tanya nya kembali ketika melihat tetua Xie dan Shen Long berada di tempat itu.
“Kakek” teriak Xie Lin setelah sadar dan memeluk kakeknya.
Mata tetua Xie berkaca-kaca melihat cucunya telah pulih, dia sangat bersyukur pada Shen Long yang telah membantu menyelamatkannya.
“Tetua Yang, Nona Xie, beristirahatlah dulu. Tubuh kalian masih lemah.” kata Shen Long.
“Benar, kalian makan lah dulu beberapa suap untuk memulihkan kondisi kalian” sahut ketua Mu yang telah menyiapkan bubur lembut untuk mereka.
Tetua Yang kebingungan tidak mengerti apa yang telah terjadi, tetapi karena tetua Xie dan Shen Long bersamanya, dia merasa tenang dan segera mencicipi makanan yang telah disediakan.
None Xie pun sama seperti tetua Yang, dirinya merasa senang melihat kakeknya kembali. Ingatannya terakhir adalah pulang ke sekte pelepas arwah bersama kakeknya, setelah itu dia tidak mengingat apapun sama sekali.
Kemudian mereka semua meninggalkan kedua orang yang baru sembuh itu, hanya tetua Xie yang masih disana menemani mereka.
“Shen, sepertinya tugas ku sudah selesai. Aku dan Yun Chao akan kembali ke kota Weiyang. Apakah kamu akan ikut bersama kami?” tanya tetua Yun
“Maaf tetua Yun, aku telah berjanji untuk pergi ke Lembah Suci membantu melihat kondisi Guru Suci. Lagi pula aku harus menyelesaikan masalah sekte pelepas arwah dan sekte Gunung Abadi” sahut Shen Long.
“Baiklah, kembalilah ke kota Weiyang menemui kami jika urusanmu telah selesai” kata tetua Yun kemudian.
__ADS_1
“Baik tetua Yun” sahut Shen Long sambil menundukkan kepala menghormati mereka.
Bagaimana pun juga tetua Yun dan ketua Yun adalah orang yang telah memungutnya dari jalanan dan memberikan keluarga pada dirinya. Jadi hutang budi ini tidak akan pernah Shen Long lupakan dalam hidupnya.