Menantu Raja Dewa Iblis

Menantu Raja Dewa Iblis
BAB 463 | Mati karena kesombongan


__ADS_3

Kondisi tubuh Shu Zan tampak semakin lama semakin tidak beres. Keringat dingin mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Dia pun kesulitan untuk mengatur nafasnya saat menyerang Shen Long dengan membabi buta.


“Jika kamu terus memaksakan diri seperti ini, nadi spiritmu akan pecah dan kamu tidak akan bisa menggunakan kekuatanmu kembali,” kata Shen Long kemudian.


Namun Shu Zan tidak menghiraukan kata-kata Shen Long. Dia tidak percaya kekuatannya tidak bisa mengalahkan Shen Long. Dia merasa dirinya adalah murid yang berbakat yang akan menguasai dunia persilatan di masa mendatang.


Dia merasa percuma menjadi murid berbakat jika tidak bisa mengalahkan satu orang ini. Shu Zan meningkatkan jurusnya untuk menekan Shen Long.


“Tinju Api Neraka!” Shu Zan berteriak dengan mengepalkan tinjunya kembali.


“Anak ini terlalu sombong. Aku harus memberinya pelajaran,” batin Shen Long.


Shen Long pun meningkatkan kekuatan maksimalnya dan bermaksud untuk mengadu kekuatan mereka saat ini.


Bummmm!


Ledakan kembali terjadi dengan dahsyat dan menggetarkan lingkungan sekitarnya. Mata Shu Zan terbelalak dan wajahnya berubah menjadi merah padam.


Perubahan tampak pada tubuh Shu Zan yang berada di ambang batas kekuatannya, namun dia masih terus memaksakan tubuhnya dengan menyerang Shen Long kembali.


Otot-otot di tubuh Shu Zan mengembang dengan tiba-tiba ketika dia memaksa meningkatkan kekuatannya. Tapi Shu Zan tidak mempedulikan perubahan tubuhnya itu.


Shu Zan melompat di udara lalu mengeluarkan jurus tendangan geledek ke arah kepala Shen Long.


Melihat hal itu, Shen Long hanya bisa menggelengkan kepalanya dan merasa kasihan padanya.


“Kamu benar-benar bodoh dan tidak bisa mendengar perkataan orang lain,” ejek Shen Long yang melihat kebodohan Shu Zan.


Telinga Shu Zan menjadi panas mendengar ejekan Shen Long. Tapi bukannya menghentikan serangannya, dia justru benar-benar menguras habis kekuatannya sendiri.


Shu Zan tidak bisa menerima kekalahan dari Shen Long. “Cih, aku akan mengadu nyawa denganmu,” sahutnya.


Detik berikutnya Shu Zan yang otot tubuhnya sudah mengembang karena paksaan kini dia merasakan kepalanya semakin berdenyut dengan keras. Urat nadi ditubuhnya terlihat keluar dan tampak di kulitnya.


“Ah, sudah tidak tertolong lagi,” pikir Shen Long.

__ADS_1


Shen Long bahkan tidak perlu melakukan apa-apa untuk mengalahkan Shu Zan. Tapi Shu Zan sendiri yang membunuh dirinya dengan kesombongannya sendiri.


“Akhhh...”


Tiba-tiba tubuh Shu Zan berhenti bergerak seperti mesin yang terlalu panas akibat dipaksakan bekerja maksimal tanpa melatihnya dengan baik.


Mata Shu Zan melotot berwarna merah ke arah Shen Long, tubuhnya yang mengembang kini perlahan menggembos dan urat-urat di tubuhnya mengalirkan darah. Darah juga menetes dari hidung dan telinga Shu Zan lalu dia terjatuh dengan tubuh tertelungkup ke tanah.


Brukkk!


Shu Zan mati mengenaskan akibat kesombongannya sendiri memaksakan diri mengerahkan kekuatannya terus menerus dengan kondisi tubuh yang belum terlatih menggunakannya.


Shen Long merasa iba melihat seseorang yang berbakat gugur karena kebodohannya.


Tetua Shu Wei mendekati tubuh Shu Zan dan memeriksanya. Lalu dia menghela nafas dan menggelengkan kepalanya.


“Sampai mati pun kamu tidak pernah mau menerima pendapat orang lain. Semoga kamu terlahir menjadi lebih baik di kehidupan selanjutnya nak,” ucap tetua Shu Wei dengan wajah sedih.


“Tetua, muridmu sendiri yang memilih jalan hidupnya seperti itu,” kata Shen Long.


“Tuan Shen, karena sekte Matahari Suci sudah musnah. Aku pamit padamu untuk mengasingkan diri keluar dari kota Qinji ini,” kata tetua Shu Wei sambil menundukkan kepalanya.


“Tunggu tetua!” Teriak Shen Long.


Kemudian Shen Long mengeluarkan pil obat dari cincin penyimpanannya dan memberikannya pada tetua Shu Wei. “Minumlah obat ini untuk pemulihanmu. Aku akan mengembalikan luka di lenganmu terlebih dulu,” lanjut Shen Long.


Lalu Shen Long mengambil lengan kanan Shu Wei yang telah patah lalu mengalirkan energinya ke dalam lengan Shu Wei untuk menyambungkan kembali lengannya yang patah itu.


“Aarrghhh...”


Tetua Shu Wei berteriak menahan rasa sakit akibat tulangnya yang patah disambungkan oleh Shen Long dengan menggunakan energinya.


Dalam lima menit, Shen Long telah menyambungkan kembali tulang lengan Shu Wei yang telah patah.


“Sebaiknya lenganmu ini jangan dipergunakan untuk melakukan hal-hal berat terlebih dulu sebelum pulih total,” pesan Shen Long.

__ADS_1


“Terima kasih tuan!”


Tetua Shu Wei merasa senang penyembuhan lukanya dapat dibantu oleh Shen Long. Kini dia merasa sakit di lengannya semakin membaik. Dia merasa lengannya sudah bisa digunakan, namun dia tetap mengingat pesan Shen Long untuk tidak menggunakan lengannya terlalu berat.


Setelah itu Shu Wei pergi dari kota Qinji bersama ketiga monster peliharaannya dan mengasingkan diri ke daerah pegunungan.


Shen Long berjalan di reruntuhan mencari ruang rahasia tersembunyi yang ada di kediaman sekte Matahari Suci. Saat menemukannya, mata Shen Long tampak bersinar senang.


Sesuai dugaannya di dalam ruang rahasia itu tersimpan harta karun yang sangat banyak yang selama ini berhasil dikumpulkan oleh Qin Liu dalam hidupnya.


Shen Long kemudian memindahkan harta karun itu ke dalam cincin penyimpanannya. Lalu dia pergi ke tengah alun-alun dan mengumpulkan penduduk kota untuk memberitahukan tentang musnahnya sekte Matahari Suci.


Penduduk kota yang sebelumnya kehilangan semangat dan berwajah muram kini berubah senang dan bersemangat karena sekte Matahari Suci telah dimusnahkan. Shen Long juga membagikan harta benda yang dia temukan di ruang rahasia sekte kepada para penduduk kota.


Bagi Shen Long harta itu berasal dari rakyat kota, jadi sudah sewajarnya dikembalikan lagi kepada mereka.


Penduduk kota Qinji merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Shen Long karena telah memusnahkan sekte Matahari Suci dan membagikan harta benda milik sekte pada mereka.


Setelah semuanya selesai di kota Qinji, Shen Long pun kembali ke penginapan untuk menemui NingYue.


“Apa yang kita lakukan sekarang kakak Shen?” tanya NingYue.


“Sudah saatnya kita kembali ke Loka 888,” sahut Shen Long kemudian.


NingYue menganggukkan kepalanya menyetujui hal itu. Dia pun merasa bosan berada di dunia yang bukan milik mereka.


Ketika keluar dari penginapan, langkah mereka dihentikan oleh rombongan pasukan berkuda yang berpakaian prajurit kerajaan Liam.


Salah satu penunggang kuda yang datang menatap tajam pada Shen Long. Dia adalah seorang wanita yang berpakaian jendral dan menunjuk kepada Shen Long.


“Apakah kamu yang telah membunuh Shu Zan?”


Shen Long menyipitkan matanya memandang ke arah jendral wanita itu. “Siapa yang bertanya padaku?”


Wajah wanita itu tampak dingin meskipun dalam hatinya merasa marah bercampur sedih.

__ADS_1


“Aku Wang Mi, aku adalah tunangan Shu Zan. Apakah kamu yang telah membunuh tunanganku?” mata wanita bernama Wang Mi itu melotot pada Shen Long


__ADS_2