Menantu Raja Dewa Iblis

Menantu Raja Dewa Iblis
BAB 271 | Tabib Gunung Shanji


__ADS_3

Melihat orang-orang dari sekte Pedang Harapan dengan mudah memasuki kediaman tabib itu membuat wajah Fang Zen menjadi gelap dan marah. Dia lalu berjalan mendekati para penjaga itu. “Apa maumu?” Pengawal itu segera menghunus pedangnya.


Namun Fang Zen bergerak lebih cepat dari mereka. Dia langsung mencekik leher kedua penjaga itu hingga tewas dan membanting tubuh mereka ke tanah. Fang Ma terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Fang Zen. Dia tidak menduga Fang Zen menjadi marah dan membunuh kedua penjaga tersebut.


“Fang Zen, Apa yang kamu lakukan?” seru Fang Ma cemas.


Fang Zen tidak mempedulikan kata-kata Fang Ma, dengan wajah kesal Fang Zen kemudian masuk ke dalam kediaman tabib itu diikuti oleh Fang Ma yang merasa khawatir padanya.


Di aula kediaman tabib itu, tampak tetua sekte Pedang Harapan telah membaringkan tubuh tetua Song dan para pengawalnya untuk diperiksa oleh tabib gunung Shanji.


“Tuan tabib, tolong periksa penyebab kematian mereka,” pinta tetua dari sekte Pedang Harapan itu pada tabib gunung Shanji.


Wajah tabib itu tampak serius memperhatikan mayat di depannya. Dia berjalan mengelilingi mayat-mayat itu dan memeriksa luka-luka dari tetua Song dan pengawalnya.


“Luka ini sepertinya dibunuh oleh beberapa orang. Tetua Song pasti dikeroyok hingga dia bisa dikalahkan dan di bunuh,” sahut tabib itu dengan wajah bersungguh-sungguh.


“Kurang ajar. Siapa yang berani mengeroyok tetua Song,” wajah tetua sekte Pedang Harapan tampak merah padam mendengar hal itu.


“Ah, ternyata tabib gunung Shanji bukan orang yang cakap. Bahkan memeriksa orang mati saja tidak becus.” Tiba-tiba terdengar suara datang memasuki aula kediaman itu.


Mata tabib gunung Shanji berkedut mendengar teriakan itu. “Siapa berani mengatakan itu?” Teriaknya dengan sengit menatap ke arah datangnya suara tersebut.


Tetua sekte Pedang Harapan dan para murid sekte juga terkejut dan melihat ke arah pintu masuk aula kediaman itu.


Tampak Fang Zen datang dengan tenang sambil menyilangkan tangan dipunggungnya. Sementara Fang Ma berjalan dengan gemetar memasuki aula di belakang Fang Zen.


“Cih, hanya para gelandangan yang datang dan berani menyalahkan pemeriksaanku,” tabib gunung Shanji mencemooh Fang Zen.


“Kamu memang salah memeriksa para korban ini. Mereka tidak dikeroyok oleh orang banyak. Tapi mereka bertiga mati oleh satu orang,” sahut Fang Zen acuh tak acuh.


Tabib gunung Shanji tertawa mendengar kata-kata Fang Zen. “Hahaha... Tidak mungkin, kekuatan tetua Song sangat tinggi, demikian juga para pengawalnya. Tidak ada orang di luar sekte Pedang Harapan yang bisa mengalahkannya seorang diri selain dikeroyok dengan trik curang.”

__ADS_1


Semua orang di ruang aula itu membenarkan perkataan tabib gunung Shanji termasuk tetua sekte Pedang Harapan.


“Pengawal, usir mereka!” Perintah tabib gunung Shanji pada dua pengawal yang ada di aula tersebut.


Segera kedua pengawal itu bergegas menyerang ke arah Fang Zen untuk menangkapnya. Fang Zen hanya diam tidak bergerak, ketika para pengawal itu telah dekat. Dia mengayunkan tinjunya ke arah kepala pengawal di sebelah kiri hingga hancur dan tubuhnya terpental ke belakang.


Kemudian dia memukul dada pengawal di sebelah kanan hingga tulang dadanya hancur lalu terbang menabrak dinding di sebelah kanan.


Seluruh mata orang-orang disana terbelalak melihat Fang Zen membunuh para pengawal itu dalam satu jurus.


“Kalian periksa mayat itu, apakah kematiannya sama dengan mereka,” kata Fang Zen ringan sambil menunjuk pada mayat tetua Song dan pengawalnya.


Mata tabib gunung Shanji dan tetua sekte Pedang Harapan berkedut keras. Murid sekte Pedang Harapan dan murid tabib itu segera memeriksa tubuh pengawal tersebut. Mata mereka terbelalak setelah melihat luka kedua pengawal tersebut.


“Tabib, cara mati pengawal ini mirip dengan tetua Song dan pengawalnya itu,” Teriak mudir yang memeriksa tersebut.


Mereka lau menoleh ke arah Fang Zen dengan wajah geram.


“Apa kalian sudah mempercayaiku sekarang?” senyum Fang Zen dengan santai.


“Bunuh orang ini!” Perintah dari tetua sekte Pedang Harapan.


Murid-murid sekte Pedang Harapan segera menyerang ke arah Fang Zen dengan ganasnya, namun kembali Fang Zen menggunakan satu jurus untuk menjatuhkan mereka satu persatu.


BUGH... BUGH... BUGH...


Para murid sekte Pedang Harapan dan murid tabib gunung Shanji terbunuh dengan mengenaskan. Wajah tetua sekte Pedang Harapan menjadi hitam lalu menyerang ke arah Fang Zen.


Fang Ma menutup matanya melihat hal itu, namun Fang Zen lagi-lagi bersikap acuh tak acuh melihat serangan itu.


Ketika tetua sekte Pedang Harapan berada beberapa inci darinya, Fang Zen segera bergerak. Dia langsung mencekik leher dari tetua sekte Pedang Harapan itu hingga tubuhnya terasa lemas tidak bisa melepaskan dirinya.

__ADS_1


KRAKK...


Fang Zen tidak memberi ampun langsung mematahkan leher tetua itu dan melempar tubuhnya. Alis tabib gunung Shanji berkedut melihat hal itu, dia menggigil ketakutan saat ini. Fang Zen langsung mendekatinya dengan wajah geram.


“A-Apa maumu?” tanya tabib itu gemetaran


“Semula aku ingin berobat padamu. Tetapi melihat kemampuanmu ini, aku yakin kamu tidak akan bisa menyembuhkanku,” sahut Fang Zen dengan menatap tajam tabib tersebut.


“Aku mungkin tidak bisa menyembuhkanmu, tapi aku bisa memberimu petunjuk.” sahutnya sambil berlutut.


“Katakan!” kata Fang Zen


“Kamu bisa menggunakan giokku ini untuk meminta pengobatan pada Tabib Dewa di Gunung Abadi” kata tabib itu dengan gemetaran


“Gunung Abadi?” Fang Zen mengkerutkan keningnya


Fang Ma yang mendengarkan tentang Gunung Abadi segera mendekat untuk mendengar lebih jelas.


“Iya, Tabib Dewa itu keturunan dari Tabib Sakti Chen Mulan. Dia pasti bisa mengobatimu,” kata tabib tersebut.


Fang Zen segera mengambil giok milik tabib itu dan melihatnya. Setelah itu dia menendang dada tabib itu dan membuatnya terbunuh dengan mata melotot.


Fang Ma terkejut melihat hal itu, dia memandang ke arah Fang Zen dengan wajah tidak percaya.


“Aku tidak ada mengatakan akan melepasnya,” kata Fang Zen dengan ringan sambil berlalu.


Fang Ma menggelengkan kepalanya mendengar kata-kata Fang Zen lalu mengikutinya.


Aula kediaman tabib gunung Shanji telah berubah hancur dengan banyaknya mayat yang terbunuh oleh Fang Zen termasuk tuan rumah tabib itu sendiri bersama para muridnya.


Fang Zen lalu bergegas pergi bersama Fang Ma dari tempat itu. “Nona Fang, apakah kamu tahu lokasi dari Gunung Abadi?” tanya Fang Zen padanya.

__ADS_1


“Aku pernah mendengar namanya. Dia berada di wilayah Kekaisaran Naga di pusat dataran tengah ini.” sahut Fang Ma.


“Gunung Abadi, Kekaisaran Naga.” gumam Fang Zen menatap ke arah selatan.


__ADS_2