
Setelah membawa perbekalan yang cukup, mereka pun berjalan mendaki pegunungan bersalju itu. Zen Luo sesekali terbang untuk melihat sekelilingnya, namun dia tidak menemukan sumber cahaya tersebut. Dia pun kembali bergabung dengan Fang Ma dan mantan pemimpin sekte Penjaga Makam.
“Apa yang kamu lihat Zen?” tanya Fang Ma saat melihat Zen Luo kembali.
Zen Luo menggelengkan kepalanya. “Sulit menemukan sumber cahaya itu di daerah bersalju ini. Kita sebaiknya menunggu berkas cahaya itu muncul,” sahut Zen Luo
Mereka pun mendirikan kemah di tempat bersalju itu untuk menunggu kemunculan berkas cahaya berwarna ungu saat cahaya bulan muncul.
“Tuan, bagaimana dengan mitos tentang penjaga tempat itu?” tanya Bao Jin pada Zen Luo.
“Aku akan menghadapinya, apapun itu,” sahut Zen Luo dengan wajahnya yang datar seperti biasanya.
Mendengar hal itu, wajah Fang Ma sedikit cemas. Dia juga mendengar beberapa mitos di dalam kota yang berada di kaki pegunungan itu. Mitos tentang adanya penunggu monster atau hantu yang membuat orang-orang yang pergi mencari lokasi berkas cahaya ungu itu tidak pernah kembali lagi.
“Apa kamu tidak takut menghadapi penjaga benda itu Zen?” tanya Fang Ma dengan wajah cemas padanya.
“Jangankan monster atau hantu, bahkan dewa sekalipun aku akan lawan apabila menghalangiku.” Zen Luo menjawab sejujurnya dengan tatapan tajam pada Fang Ma. Melihat tatapan Zen Luo, Fang Ma menjadi bergidik. Dia mengingat saat Zen Luo melawan dewa kuno yang telah menghalanginya untuk masuk ke dalam Gerbang Neraka.
Fang Ma kemudian menghela nafasnya, meskipun dia senang telah dibebaskan oleh Zen Luo namun dia tidak mengerti mengapa saat ini Zen Luo ingin mendapatkan ketiga benda mistis itu. “Untuk apa ketiga benda mistis itu Zen?” tanya Fang Ma kembali.
Zen Luo kembali menoleh pada Fang Ma. “Aku pernah mendengar cerita saat masih kecil. Ketiga benda itu merupakan kunci untuk mendapatkan sebuah senjata pusaka gaib” sahut Zen Luo.
Wajah Zen Luo tampak tegang setelah mengatakan hal itu. Wajahnya merenung dan mengingat pertarungannya dengan dewa Shang Ti yang benar-benar telah menghancurkan harga dirinya.
__ADS_1
Dia menginginkan untuk membalas perlakuan dewa Shang Ti itu. Untuk itulah dia memerlukan sebuah senjata pusaka agar bisa mengalahkannya.
Fang Ma tidak meneruskan pertanyaannya, dia hanya berharap Zen Luo akan mendapatkan ketiga benda mistis itu tanpa menderita luka-luka.
Selama beberapa hari, mereka telah menginap di perkemahan di pegunungan itu. Bao Jin kemudian mengajak para pemandu makam bawahannya untuk turun mempersiapkan perbekalan lagi untuk beberapa hari ke depan.
Saat Fang Ma tengah berdua dengan Zen Luo, tampak muncul berkas cahaya samar-samar berwarna ungu di kejauhan. “I-Itu cahaya ungu!” Fang Ma tertegun saat melihat berkas cahaya tipis di kejauhan kemudian menunjuk ke arah itu.
Zen Luo menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Fang Ma. “Kamu tunggu para penjaga makam itu disini. Aku apan pergi ketempat itu sendiri,” kata Zen Luo pada Fang Ma.
Meskipun Fang Ma tidak ingin ditinggal oleh Zen Luo, namun dia menyadari kekuatannya yang lemah akan menjadi beban bagi Zen Luo dalam menghadapi monster atau hantu yang dikabarkan menjaga tempat tersebut.
Zen Luo kemudian terbang menuju ke arah berkas cahaya berwarna ungu itu. Semakin mendekat, cahaya berwarna ungu itu semakin jelas dilihatnya memancar dari dalam tanah.
Kemudian Zen Luo telah berhenti di pinggir sebuah lubang yang memancarkan cahaya berwarna ungu itu. Dia kemudian bermaksud untuk masuk ke dalam lubang itu dan menemukan sumber dari cahaya itu.
Tiba-tiba Zen Luo merasakan desiran angin kencang yang mengarah pada dirinya. Mata Zen Luo berkedut merasakan keganasan serangan itu. Dia tetap tidak bisa melihat siapa penyerangnya itu.
Zen Luo hanya bisa berkelit menghindari serangan tersebut. Dia mundur beberapa langkah ke belakang untuk menghindari serangan itu dan segera menyiapkan serangan balasan untuk sosok itu.
“Sebaiknya aku mengadu pukulan dengan kekuatan penuhku saat dia ingin memukul diriku,” batin Zen Luo yang kemudian bersiap dengan waspada.
Sesaat kemudian Zen Luo kembali merasakan angin serangan yang mengarah pada dirinya. Zen Luo segera mengerahkan kekuatan penuh miliknya yang berada di alam Bintang untuk menghentikan monster tersebut.
__ADS_1
BUMMM...
Suara ledakan terdengar keras dan merobohkan beberapa salju yang berada di dekat tempat itu. Zen Luo terdorong mundur ke belakang satu langkah sementara dia melihat sosok yang tadi dihadang dengan kekuatannya mulai terlihat dan berada agak jauh darinya dengan wajah menghitam.
“Siapa kamu berani datang ke wilayahku ini?” tanya sosok tersebut.
Sosok itu tampak mulai jelas dengan tubuh yang tinggi besar, kepalanya juga besar namun memanjang ke atas. Dia memiliki ekor di belakang tubuhnya serta tangannya yang panjang hingga ke tanah yang dilengkapi dengan kuku yang panjang.
Wajahnya menyeringai dengan lidah menjulur dan mata yang berjumlah 5 buah di kepalanya. “Mahluk apa ini?” gumam Zen Luo yang baru pertama kali bertemu dengan mahluk seperti itu.
Melihat pertanyaannya tidak dijawab, mahluk itu kembali menyerang ke arah Zen Luo dengan kecepatan yang lebih cepat dari sebelumnya. Zen Luo tidak mengelak lagi, dia kembali menghadang serangan itu dengan telapak dan tinjunya.
BUMM...
Ledakan terdengar berkali-kali saat benturan tenaga antara Zen Luo dengan mahluk tersebut. Gerakan mahluk itu sangat aneh, kadang Zen Luo melihat dia menyerang dengan kedua tangannya, namun dia juga merasa mahluk itu seperti menyerang dengan kedua kakinya beberapa kali.
Mahluk itu benar-benar licin dan sulit untuk diterka arah serangannya. Zen Luo hanya bisa bertahan dan memberikan perlawanan padanya dengan beberapa pukulan yang menghadang serangan mahluk tersebut.
Mahluk itu tidak menyerah meskipun dia mengetahui serangannya bisa dipatahkan oleh Zen Luo. Mahluk itu kemudian melompat ke udara untuk menyerang Zen Luo dari arah atas.
Serangan itu mengunci gerakan Zen Luo, sehingga dia tidak bisa bergerak keluar dari kuncian tersebut. Namun setelah mengerahkan kekuatan penuh nya, Zen Luo kemudian bisa melepaskan dirinya dari kuncian tersebut.
“Aku harus secepatnya menyelesaikan pertarungan ini sebelum semua salju runtuh dan menutupi lubang itu,” gumam Zen Luo dalam hatinya.
__ADS_1
Ketika berhasil memukul mundur mahluk itu, Zen Luo segera pergi menuju lubang tersebut lalu masuk ke dalamnya. Dia lebih mementingkan untuk menemukan benda apa yang membuat berkas cahaya berwarna ungu tersebut.
Melihat mangsanya pergi menuju lubang itu, mahluk tersebut juga mengikutinya masuk ke dalam lubang untuk mengejar Zen Luo.