
Keempat murid sekte Pedang Harapan itu terkejut mendapati seorang wanita datang menghampiri mereka dengan tatapan mata tajam.
“Maaf, kami sedang beristirahat melepas lelah setelah perjalanan,” sahut kakak seperguruan itu. Wanita itu menyipitkan matanya melihat keempat orang murid sekte itu.
“Ini bukan tempat untuk kalian bermain. Pergi dari sini!” bentak wanita itu dengan wajah garang sambil berkacak pinggang.
“Ba-baik. Kami akan pergi,” sahut kakak seperguruan itu kembali sambil mengajak teman-temannya untuk pergi dari tempat itu.
Wanita tersebut memperhatikan kepergian murid-murid sekte Pedang Harapan itu dari kejauhan. Dia mendengus kemudian hendak kembali ke tempatnya, namun tiba-tiba dia merasakan lagi kehadiran orang di belakangnya.
“Kalian datang lagi. Apa kalian hendak mencari masalah?” Wanita itu membalikkan badannya dengan mata melotot. Kali ini dia melihat dua sosok yang datang Fang Zen dan Fang Ma. Fang Zen berjalan mendekati wanita itu diikuti oleh Fang Ma disampingnya.
“Siapa kalian?” tanya wanita itu sambil menyelidiki wajah kedua orang yang datang mendekatinya.
“Maaf tetua, Aku Fang Ma dan ini temanku Fang Zen. Kami bermaksud mencari seorang dewa kuno. Apakah tetua mengenalnya?” tanya Fang Ma dengan sopan. Fang Zen menyadari kekuatan dari wanita itu. Dia merasa wanita inilah dewa kuno yang mereka cari, namun sebaiknya dia meyakinkannya terlebih dulu.
Mendengar kata-kata Fang Ma, wanita itu menyipitkan matanya menilik kedua orang itu. Dia merasakan kekuatan pada lelaki Fang Zen tidaklah rendah. “Untuk apa kalian mencarinya?” tanya wanita itu kembali.
Fang Ma lalu menceritakan tentang kehilangan ingatan Fang Zen yang sudah mencoba mencari beberapa tabib untuk mengobatinya. Namun karena ingatan Fang Zen tersegel, mereka tidak bisa menemukan tabib yang bisa mengobatinya hingga mereka mendapat saran untuk meminta bantuan dari seorang dewa kuno.
Wanita itu melihat pada Fang Zen, dia tidak tahu jika ingatan lelaki itu tersegel. “Untuk apa mengembalikan ingatanmu? Bukankah dengan melupakan masa lalu kadang kala lebih baik,” kata wanita itu kembali.
Wajah Fang Zen menjadi merah mendengar kata-kata wanita tersebut, “Katakan saja dimana aku bisa menemukan dewa kuno itu. Tentang baik dan buruknya ingatanku pada masa lalu itu urusanku,” sahut Fang Zen ketus.
__ADS_1
Fang Ma menghela nafasnya mendengar perkataan Fang Zen. “Ah, orang ini tidak bisa meminta bantuan dengan nada yang baik,” batinnya.
Wajah wanita itu berubah menjadi dingin. “Benar. Itu merupakan urusanmu, dan aku juga tidak ada urusan mengenai hal itu. Pergilah mencari di tempat lain,” sahut wanita itu dingin sambil berlalu.
Wajah Fang Zen menjadi hitam mendengar jawaban wanita itu. Dia segera menyerang ke arah wanita itu. Wanita itu merasakan angin serangan dari arah punggungnya. Dia membalikkan badan dan berkelit dari serangan Fang Zen.
Mata wanita itu menjadi merah setelah melihat Fang Zen menyerang dirinya. Dia menggertakkan giginya. “Apa maksudmu?” Teriaknya kesal.
Fang Zen tidak menjawab pertanyaan dari wanita itu. Dia kembali menghimpun kekuatan dan mengerahkan jurusnya menyerang pada wanita tersebut. Wajah wanita itu berubah kelam melihat Fang Zen mendadak serius menyerang dirinya. Dia kemudian mengeluarkan kekuatan dan jurusnya menghadang serangan Fang Zen
BUMM...
Fang Zen terpental mundur dua langkah namun wanita itu tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Mata Fang Ma terbelalak melihat hal itu. Dia tidak menyangka wanita itu bisa mengimbangi kekuatan Fang Zen.
Mata wanita itu berkedut merasa identitasnya telah diketahui oleh lelaki Fang Zen itu. Dia menjadi kesal karena Fang Zen menyerang dirinya untuk menguji kekuatannya.
“Pergilah. Mengobatimu bukanlah urusanku,” sahut wanita itu yang masih berwajah ketus sambil membalikkan badannya hendak berlalu dari tempat itu.
Fang Zen segera mendekatinya dan berlutut di depan wanita tersebut. “Dewa, tolonglah aku. Maafkan atas kata-kataku sebelumnya. Anggaplah itu kentut dan biarkan berlalu,” kata Fang Zen.
“Bangun! Jangan halangi jalanku! “ Wanita itu menghardik Fang Zen. Namun Fang Zen tidak juga berdiri dan masih berlutut dengan harapan dewa itu mau menolongnya.
“Cih... “ Wanita itu melompat terbang meninggalkan Fang Zen yang masih berlutut dan Fang Ma yang tidak mengerti situasi tersebut. Wanita itu pergi ke sebuah gua yang ada di balik bebatuan besar itu lalu duduk bersila dengan mata tertutup untuk bermeditasi.
__ADS_1
Fang Zen dan Fang Ma tampak sudah mengikutinya ke tempat itu. Fang Zen lalu menjatuhkan lagi lututnya memohon pada dewa kuno itu agar mau menolong dirinya mengembalikan ingatannya.
Fang Ma juga tiba-tiba ikut berlutut disamping Fang Zen untuk memohon pada wanita tersebut. “Dewa, tolonglah temanku.” sahutnya sambil bersujud pada wanita itu. Namun wanita itu masih tetap diam di tempatnya bermeditasi, meskipun kedua orang itu berlutut di depannya.
Selama satu jam mereka berlutut, namun wanita itu tetap melanjutkan meditasinya tanpa mempedulikan kedua orang itu. Fang Zen merasa kesal dalam hatinya, namun demi mengembalikan ingatannya, dia harus merendahkan dirinya seperti itu.
Satu jam berikutnya mereka masih berlutut, namun wanita itu membuka matanya melihat ke arah mereka berdua. “Kemarilah, aku akan mencoba membantumu agar kamu tidak menggangguku lagi,” kata wanita itu
Mendengar hal itu wajah Fang Zen menjadi gembira. “Terima kasih dewa.” Fang Zen lalu berjalan mendekati wanita itu dan duduk bersila di tanah depan dewa kuno itu.
Wanita itu mengalirkan kekuatan pada telapak tangan kanannya. Lalu dia menepuk ubun-ubun Fang Zen kemudian mengalirkan kekuatannya masuk ke kepala Fang Zen untuk memeriksa ingatan Fang Zen.
“Hmm... benar. Ingatannya memang tersegel.” Wanita itu merasakan sebuah segel memang menutup ingatan dari Fang Zen. Kemudian dengan energinya, wanita itu mulai melacak posisi segel tersebut di kepala Fang Zen, lalu setelah menemukannya, dia segera mengerahkan kekuatannya lagi untuk membuka segel ingatan tersebut.
Fang Zen merasa kepalanya seperti tersengat listrik. Dia mengerang kesakitan yang amat sangat setelah wanita itu langsung menembak ke arah kekuatannya pada segel ingatan tersebut.
AAARRGGHH...
Fang Zen berteriak keras karena tekanan kuat dari aliran energi yang disalurkan oleh wanita tersebut. Tak lama kemudian Fang Zen merasakan beberapa bayangan muncul silih berganti di dalam ingatannya. Kemudian tubuhnya terpelanting dari depan wanita itu dan jatuh di atas tanah dengan mata melotot menatap langit.
“Fang Zen!” Teriak Fang Ma yang cemas pada kondisi Fang Zen yang tampak tertegun menatap langit dengan tatapan kosong.
“Aku Zen Luo,” gumamnya dengan tatapan ke arah langit. Dia kemudian menatap ke arah Fang Ma dengan tatapan dingin membuat jantung Fang Ma berdetak kencang.
__ADS_1
“Pergilah karena ingatanmu sudah kembali” kata dewa wanita itu sambil menutup matanya dan kembali bermeditasi.