
Setelah mendengarkan penjelasan tentang Kultivasi Kesadaran Semesta membuat Shen Long menjadi lebih terbuka wawasannya. Bahwa apa yang dia pikir alam lebih tinggi sebelumnya bukanlah apa-apa di alam semesta yang luas ini.
“Apakah ada yang bisa menembus hingga tingkatan tertinggi Alam Kesadaran Semesta itu?” tanya Shen Long pada Raja Yama.
Raja Yama yang masih menyesap tehnya kemudian menaruh gelasnya di atas meja dan memandang Shen Long dengan wajah serius. “Sang Pencipta Semesta ini bahkan melebihi Alam Kesadaran Semesta itu sendiri,” sahut Raja Yama. “Namun aku belum pernah bertemu dengan yang melebihi dari Alam Bintang hingga saat ini. Kaisar Dewa Cahaya yang berada di Alam Maya mungkin saat ini berada di Alam Bintang tingkat 3 atau 4.”
“Kamu harus melepas segelmu terlebih dahulu kemudian menemui Kaisar Dewa Cahaya sendiri untuk meminta petunjuk darinya dalam menghadapi Dewa Penghancur tersebut,” lanjut Raja Yama.
Mendengar hal itu, Shen Long menundukkan kepalanya. Bertemu dengan orang yang menyegel dirinya membuat hatinya sedikit gelisah. “Apakah dia bersedia untuk membantu Loka kita?” gumamnya dalam hati.
“Tempatmu ini cukup bagus. Bolehkah aku tinggal disini sebelum aku kembali ke Alam Reinkarnasi? Sepertinya aku mendapatkan waktu liburan yang cukup lama dan aku harus menikmatinya sebelum kembali. Hehehe...” Raja Yama terkekeh gembira.
“Nikmatilah liburanmu ini Raja Yama,” sahut Shen Long sambil tersenyum padanya.
Ketika Shen Long tengah berbincang dengan Raja Yama, tiba-tiba Yun Mei datang bersama ketua sekte Shen Wu sambil menyapa dan memberi hormat. “Leluhur, kami sudah menyiapkan hidangan untuk bersantap. Silahkan untuk menikmati bersama tamu.” kata Shen Wu.
“Raja Yama, mari menikmati hidangan yang aku buat khusus untuk kalian,” ajak Yun Mei sambil tersenyum
Raja Yama merasa senang diperlakukan secara hormat dan ramah oleh orang-orang dari sekte Pedang Harapan. “Shen, mungkin aku akan minta jatah liburanku diperpanjang lagi nanti untuk bisa tinggal di tempatmu ini.” canda Raja Yama.
Shen Long tersenyum mendengar kata-kata Raja Yama itu. Dia sudah bertambah semangat untuk meningkatkan kekuatannya ke arah Kultivasi Kesadaran Semesta untuk bisa melindungi Loka ini dari kehancuran.
Setelah menikmati hidangan bersama Raja Yama, Yun Mei dan orang-orang sekte Pedang Harapan, Shen Long lalu pergi ke tempat latihannya di Gunung Abadi. Dia membuat tempat latihan kultivasi sendiri di dalam Gunung Abadi dengan menggunakan kekuatan pikirannya.
“Terakhir Kaisar Dewa Iblis menyebut segel yang tersisa adalah 87 lagi, mungkin butuh waktu tak lebih dari sebulan untuk bisa membuka semuanya,” gumam Shen Long dalam hatinya.
__ADS_1
Shen Long kemudian bermeditasi untuk mulai melatih tubuhnya agar bisa mulai meningkatkan perlahan penggabungan kekuatan di dalam tubuhnya. Dia ingin menggabungkan kekuatan dewa naga miliknya dengan kekuatan iblis purba dan kekuatan kaisar dewa iblis.
“Penggabungan itu akan sulit dilakukan jika aku tidak melatih tubuh fisikku dari sekarang,” batin Shen Long.
Sementara Shen Long tengah berlatih meditasi untuk melatih tubuhnya, Zen Luo tengah berlatih fisik di sebuah tempat di daerah barat yang misterius. Dia pun tidak ingin kalah dari kekuatan Shang Ti. Meski mereka bersama-sama di alam Bintang, namun kekuatan Shang Ti terasa lebih kuat darinya.
Saat Zen Luo tengah berlatih, dia mendengar ada beberapa orang tengah berbicara mendekati sekitar tempatnya berlatih. “Aku dengar ketua telah menangkap seorang wanita yang sangat cantik namun orang itu sangat galak,” kata seorang diantara mereka.
“Hahaha... benar, ketua sangat beruntung. Meski wanita itu galak, tetapi kekuatannya tidaklah tinggi. Aku rasa ketua akan mudah menundukkan wanita itu dalam pelukannya,” sahut salah satunya lagi.
“Hahaha... kamu benar. Wanita itu selalu mengutuk ketua bahwa dia punya kekasih bernama Fang Zen yang akan membalasnya. Hahaha... wanita itu sungguh membual terlalu tinggi,” sambung salah satunya lagi.
Mereka bertiga membicarakan hal itu sambil tertawa berjalan di sekitar tempat berlatihnya Zen Luo. Mata Zen Luo berkedut mendengar nama Fang Zen disebut oleh orang itu.
Keempat orang itu terkejut melihat Zen Luo yang tiba-tiba berdiri menghadang jalan mereka. “Siapa kamu?” tanya salah satu dari mereka sembari waspada dan bersiap.
“Katakan, dimana kalian menyekap wanita itu?” tanya Zen Luo terus terang.
“Wanita siapa maksudmu?” tanya orang berikutnya.
Zen Luo tidak lagi bermaksud bicara panjang lebar, dia kemudian bergerak cepat dan meraih leher orang itu dan mengangkatnya. “Aku bisa mematahkan lehermu dengan satu tangan.” ancam Zen Luo padanya.
Ketiga teman orang itu terkejut melihat Zen Luo yang bergerak cepat tanpa mereka sadari telah mencekik leher teman mereka dan mengangkatnya. Mereka lalu bersiap menyerang Zen Luo untuk membebaskan temannya itu. Namun saat Zen Luo menoleh dengan tatapan dingin membuat ketiga orang itu menggigil dan mengurungkan niat mereka untuk menyerangnya.
“Katakan! Aku tidak akan mengulangi kata-kataku lagi.” kata Zen Luo.
__ADS_1
“Akh... A-A...ku ti...dak bi...sa bica...ra,” sahut orang itu terbata-bata.
“Tu-tuan terlalu mencekiknya. Jadi dia tidak bisa berbicara,” sahut salah satu teman mereka.
Zen Luo melepaskan cekikannya dan melempar tubuh orang itu hingga terhempas luka namun tidak mati. “Ukh...” orang itu muntah darah oleh lemparan Zen Luo
“Ada kalian berempat, aku hanya memerlukan satu orang yang memberitahuku. Aku bisa membunuh tiga orang lainnya,” kata Zen Luo dengan tatapan dinginnya.
Keempat orang itu bergidik mendengar ancaman Zen Luo, sontak mereka berlutut dan bersujud padanya. “Ampun tuan, kami tidak berani. Kami akan mengantarmu ke tempat kami menyekap wanita itu,” sahut salah satu dari mereka sambil tetap bersujud.
“Bangun! Antarkan aku ke tempat itu!” perintah Zen Luo
Dua orang dari mereka segera memanggul temannya yang terluka oleh Zen Luo. Mereka berempat lalu berjalan mengantar Zen Luo ke markas mereka untuk menunjukkan tempat itu padanya. “Cih, di markas kami ada ribuan pasukan. Kamu akan mati disana. Belum lagi kekuatan ketua kami yang tinggi akan membunuhmu dengan mudah.” batin salah satu dari mereka yang menahan marahnya.
Zen Luo berjalan dibelakang mereka dan mengikutinya dengan acuh tak acuh. Mereka menuju ke sebuah lembah di balik tebing pegunungan terjal dan tandus di bagian utara daerah barat yang misterius.
Tempat itu dinamakan Lembah Bersiul karena setiap hembusan angin yang kencang bertiup akan mengeluarkan suara siulan dari bebatuan yang ada disana. Mereka pun mengajak Zen Luo memasuki sebuah gerbang yang memasuki kediaman mereka yang bertuliskan Sekte Penjaga Makam.
Mata Zen Luo berkedut membaca nama sekte mereka. Sekte Penjaga Makam sebenarnya bukanlah benar-benar menjaga makam. Namun mereka lebih kepada penjarah makam untuk mendapatkan barang-barang berharga dari makam yang digali oleh mereka.
Keberadaan sekte Penjaga Makam sering dibicarakan oleh orang-orang pada masa itu. Mereka tidak segan-segan membongkar makam para raja-raja untuk mendapatkan kekayaan dari barang-barang berharga yang berada di dalam sebuah makam.
Mereka juga sering mendapatkan pesanan dari berbagai rumah pelelangan yang menjadi tempat favorit mereka dalam menjual hasil penjarahan makam. Anggota mereka cukup banyak hingga ribuan orang, hal ini tampak dari banyaknya rumah-rumah sederhana yang ada di dalam Lembah Bersiul itu.
Kekuatan mereka tidak diketahui oleh masyarakat umumnya karena mereka jarang bergaul di dalam masyarakat dan selalu menghindari tempat-tempat umum. Mereka hanya bergerak secara sembunyi-sembunyi dalam menjarah pemakaman.
__ADS_1