
Perjamuan yang tadinya ramai kini tampak hening setelah mendengar kata-kata orang tersebut. Fang Ma menyipitkan matanya ke arah orang yang datang, sedangkan Fang Zen sejak awal masih acuh tak acuh dengan situasi kampung itu.
“Tuan Song, kami belum mendapatkan hasil apa-apa dalam beberapa hari ini,” lapor Bandit Ma yang telah berdiri sambil memberi hormat padanya.
Orang yang dipanggil tuan Song itu tidak menghiraukan perkataan Bandit Ma, dia duduk di kursi tempat Bandit Ma lalu mengambil beberapa hidangan dan mencicipinya. Kedua orang yang mengikuti tuan Song hanya berdiri di belakangnya.
“Cuh..” Dia meludahi makanan tersebut ke tanah. “Rasa masakan kalian tidak ada perubahan sama sekali,” sahutnya
Dia mengelap tangannya lalu menaikkan kedua kakinya ke meja makan sambil menendang beberapa makanan di atas meja itu.
Seluruh orang kampung menggertakkan gigi mereka melihat kesombongan orang itu. Fang Ma juga tampak marah menatapnya dengan wajah gelap.
“Ingatlah. Kalian bekerja untuk sekte Pedang Harapan kami. Kalian harus memberikan sumbangan setiap bulan untuk membantu menjaga keamanan kalian di kampung ini.” Tuan Song menjelaskan kedatangannya.
“Bukankah seminggu lalu tuan sudah datang kemari untuk mengambil sumbangan?” Bandit Ma menjawab penjelasan tuan Song.
“Seminggu lalu kamu tidak memberikan jumlah sumbangan yang seperti biasanya,” hardik tuan Song
Orang-orang kampung bandit menjadi sangat kesal dengan kata-kata tuan Song itu. “Tuan, orang-orang yang melewati hutan ini sudah jarang sejak mereka mendengar kami sering menyerang para pejalan yang lewat” sahut seseorang di meja makan.
BUGH..
Orang itu terjatuh setelah kepalanya di lempar dengan daging oleh tuan Song. “Siapa yang mengijinkanmu berbicara,” bentak tuan Song itu.
Semua orang kini terdiam setelah melihat kejadian tersebut. “Sekte Pedang Harapan tidak peduli dengan masalah kalian dalam mencari uang sumbangan, kami hanya peduli pada keamanan kalian tinggal dan bekerja di tempat ini” lanjutnya.
Mata Fang Ma menjadi merah mendengar tindakan semena-mena dari sekte Pedang Harapan itu. “Tuan Song, kamu tidak boleh seenaknya menekan hidup kami” teriaknya tiba-tiba.
Orang-orang kampung terkejut melihat keberanian Fang Ma yang tiba-tiba berdiri dan menyahut kata-kata tuan Song. Fang Zen yang duduk disampingnya juga terkejut karena hal itu.
__ADS_1
“Wah, aku tidak menduga ada barang mulus dan cantik di kampung ini.” Mata tuan Song berbinar setelah melihat kecantikan dari Fang Ma. Dia pun berdiri lalu berjalan mendekati tempat Fang Ma. Pengawal di belakang tuan Song pun ikut mengawal di belakangnya.
“Baiklah, aku akan menunda seminggu lagi uang sumbangan dari kalian, asalkan malam ini kamu menemaniku nona.” Wajah tuan Song tampak menjijikkan menatap ke arah Fang Ma.
Melihat mata tuan Song, Fang Ma merasa bergidik. Dia tidak menyangka apa yang dilakukannya malah membuat dirinya tidak diuntungkan.
“Bawa dia untukku!” Perintah tuan Song pada dua pengawal di belakangnya.
Plak!
Fang Ma menampar wajah salah satu pengawal yang ingin menangkapnya. Dia segera memasang kuda-kuda bersiap untuk melawan kedua pengawal tersebut. Namun kedua pengawal itu bukanlah lawan dari Fang Ma yang belajar bela diri sendiri tanpa pelatihan resmi. Hal itu membuat Fang Ma dengan mudah ditangkap oleh kedua pengawal tersebut dan menariknya.
“Hahaha... aku suka barang galak yang suka menggigit,” seru tuan Song kemudian.
“Fang Zen, tolong aku!” Teriak Fang Ma tiba-tiba sambil menutup matanya.
Tuan Song dan kedua pengawalnya terkejut mendengar teriakan dari Fang Ma. Orang-orang kampung menoleh ke arah Fang Zen yang datang bersama Fang Ma.
Fang Zen lalu berjalan perlahan mendekati kedua pengawal yang menangkap Fang Ma. Salah satu pengawal yang menangkap Fang Ma melepaskan pegangannya lalu menyerang ke arah Fang Zen.
BUGH... BRAKK...
Fang Zen meninju kepala pengawal itu hingga pecah dan tubuhnya melayang tak bernyawa menabrak barang-barang di depan rumah penduduk kampung.
Mata semua orang terkejut melihat kekuatan Fang Zen. Mata Tuan Song dan pengawal satunya melotot melihat pengawal yang menyerang itu mati mengenaskan dalam sekali pukul.
Fang Zen meneruskan maju mendekati pengawal itu lalu menampar wajahnya yang masih terbengong. Tubuhnya melayang menabrak barang-barang di rumah penduduk kampung dengan leher terpelintir hingga ke belakang.
Melihat kedua pengawalnya mati mengenaskan, Tuan Song bergidik, “Kamu berani melawan sekte Pedang Harapan? Kamu akan mati tanpa jasad utuh dan kami akan membunuh seluruh keluargamu.”
__ADS_1
“Kamu terlalu banyak omong.” Fang Zen tiba-tiba sudah berada di depan tuan Song dan membuat nyawanya terasa melayang karena terkejut.
BUGH...
Fang Zen meninju dada tuan Song itu hingga terpental menabrak pohon dengan tulang dada remuk dan organ dalam hancur. Pohon di belakangnya hancur karena benturan tubuh tuan Song. Tuan Song mati dalam keadaan mata melotot dan mulut menganga tidak percaya perjalanannya hari ini ke kampung bandit adalah menuju kematiannya.
...
...
Kampung itu mendadak hening, semua mata memandang ke arah tuan Song yang terkapar tak bernyawa. Lalu mereka menoleh ke arah Fang Zen dengan tatapan bergidik dan tubuh menggigil ketakutan. Fang Ma pun yang baru sekali ini melihat kekuatan Fang Zen terkejut karena tidak menyangka dia begitu kuat.
Fang Zen tidak peduli dengan tatapan orang-orang kampung itu. Dia kembali ke tempat duduknya sambil menikmati makanannya kembali.
“Jika waktu itu orang ini melawan kami, maka hari itu adalah kematian kami. Dewa masih melindungi kami.” pikir Bandit Ma dengan tubuh menggigil ketakutan.
Orang-orang kampung kini berhati-hati pada Fang Zen agar tidak membuatnya marah. Fang Zen menjadi orang yang ditakuti di kampung bandit tersebut sejak kejadian itu.
“Ah, aku bosan disini. Kapan kita melanjutkan perjalanan ke gunung Shanji?” Tanya Fang Zen pada Fang Ma keesokan harinya.
Fang Ma tertegun mendengar kata-kata Fang Zen. Dia terlalu egois ingin menikmati petualangannya sendiri dan melupakan tujuan utama dari kepergiannya dari kota Yangsi.
“Maafkan aku Fang Zen. Aku melupakan rencana kita menuju gunung Yangsi,” sahut Fang Ma dengan wajah bersalah.
Wajah Fang Zen tetap acuh tak acuh, dia tidak mempedulikan kata-kata Fang Ma. Dia hanya ingin segera mengetahui siapa dirinya dan mengembalikan ingatan masa lalunya.
Fang Ma segera berpamitan pada orang-orang kampung lalu pergi meninggalkan kampung bandit itu bersama Fang Zen. Sebagai ucapan terima kasih pada mereka, orang-orang kampung membekali mereka beberapa keping uang dan emas untuk di perjalanan Fang Ma menuju gunung Shanji.
Setelah melewati hutan belantara tempat kampung bandit berada, Fang Ma dan Fang Zen tiba di sebuah kota besar yang dinamakan kota Wenka.
__ADS_1
Mereka pun mencari sebuah kedai makanan untuk mengisi perut Fang Ma yang sudah merasa lapar lagi. Fang Zen menghela nafasnya karena perjalanan mereka kembali tertunda karena Fang Ma.
Di kedai makan, Fang Ma memikirkan kata-kata dari tuan Song. “Sekte Pedang Harapan. Kalian benar-benar sekte sampah,” gumamnya dalam hati dengan kesal.