
Setelah kondisi Citra sudah baikan. Citra pun langsung di antar pulang oleh Reval yang mana mereka berdua sekarang berada di dalam mobil dan kelihatan Citra begitu canggung saat berada di sebelah Reval.
"Pak Reval!" tegur Citra melihat ke arah Reval.
"Ada apa?" tanya Reval dengan suara dinginnya.
"Pak saya tidak ingat semua apa yang terjadi tadi malam. Hmmmm kira-kira ada hal aneh tidak yang saya lakukan yang membuat bapak tidak nyaman. Karena kan wanita yang dalam pengaruh obat biasanya aneh-aneh saja melakukannya," ucap Citra dengan bicara hati-hati.
Reval menelan salivanya yang terdiam dan mengingat saat Citra menciumnya dan bukannya melepas dia malah kembali menciumnya dan bahkan mereka berciuman begitu panas.
"Pak!" tegur Citra membuat Reval tersentak kaget.
"Tidak terjadi apa-apa," sahut Reval yang berusaha untuk tenang padahal dia begitu gugup dengan pertanyaan Citra.
"Syukurlah kalau begitu, saya takut. Kalau saya benar-benar membuat bapak repot," ucap Citra yang merasa tidak enak.
"Kamu adalah mahasiswi saya dan apa yang terjadi sudah sewajarnya saya lakukan dan iya kamu seharusnya harus berhati-hati dalam berteman," ucap Reval yang menyarankan Citra.
"Maksud bapak?" tanya Citra heran. Reval dia yang seolah membuat Citra penasaran dengan perkataan Reval yang tanggung. Bahkan Citra tiba-tiba kepikiran dengan Regina yang mana Regina saat berpegangan tangan dengan Barra dan ada beberapa keganjalan yang di lihatnya yang membuatnya tanda tanya.
"Apa yang terjadi sebenarnya," batin Citra yang tidak bisa menyimpulkan apa-apa.
Tidak lama akhirnya Citra sampai ke rumahnya.
"Makasih pak sudah mengantar saya," ucap Citra dengan membuka sabuk pengamannya dan Reval hanya mengangguk.
"Saya duluan, sekali lagi terima kasih," ucap Citra lagi pamit dan membuka pintu mobil. Saat itu juga Sean yang juga baru pulang dengan mobilnya yang berhenti di belakang Sean dan Sean buru-buru keluar dari mobil.
"Citra!" panggil Sean.
"Kak Sean," sahut Citra yang langsung berlari memeluk Sean dan Sean juga memeluk erat Citra. Pasti tau apa yang terjadi dengan adiknya itu.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Sean yang melepas pelukan itu dan melihat Citra dari ujung kaki sampai ujung kepala yang takut adiknya itu kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Citra tidak kenapa-kenapa kak, Citra baik-baik aja," sahut Citra bohong. Padahal hal besar terjadi padanya dan tidak berani bicara pada Sean yang padahal Sean sudah tau apa yang terjadi sebenarnya
"Kakak sangat mengkhawatirkan mu. Maafkan kakak Citra. Kakak tidak bisa melindungimu ucap Sean yang kembali memeluk Citra.
Pelukan kakak dan adik itu di saksikan oleh Reval yang di lihatnya dengan eksperesi yang tidak terbaca dan Reval langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
***********
Di lain sisi di kampus.
Barra yang sial yang tidak jadi menghabiskan malam dengan Citra mengumpat kesal dan menyalahkan Regina. Di mana 2 orang itu yang berbicara di ruang praktek yang tidak ada penghuninya sama sekali.
"Semuanya berantakan, sial! siapa yang sudah berani memukulku," umpat Barra mengepal tangannya. Regina hanya diam saja yang mendengar Barra marah-marah.
"Regina kita harus melanjutkan rencana kita. Kita tidak bisa membiarkan Citra lolos. Kita harus merencanakan sesuatu," sahut Barra yang tidak mau menyerah dan sudah memikirkan rencana lain.
"Aku tidak mau," sahut Regina yang membuat Barra langsung melihat ke arahnya dengan serius.
"Aku tidak mau melakukannya dan aku juga ingin kita putus," sahut Regina membuat Barra terkejut dengan matanya yang terbuka lebar.
"Regina jangan bercanda. Hanya tinggal selangkah lagi. Kamu jangan malah punya pikiran untuk putus," ucap Barra.
"Selangkah apanya. Selangkah untuk kamu bisa tidur dengan Citra dan memanfaatkan ku untuk membuatmu bisa bersenang-senang dengannya," sahut Regina yang mengejutkan Barra.
"Apa maksudmu Regina?" tanya Barra dengan menekan suaranya.
"Barra aku tadinya berusaha untuk berpikiran jika apa yang kamu katakan kemarin adalah benar dan demi hubungan kita. Tetapi ternyata tidak. Setelah aku melakukan yang semua kamu mau dan membuat Citra tidak sadarkan diri. Kamu bukan membawanya pada teman-teman mu yang kau katakan sebagai taruhan itu. Tetapi justru kau lah yang ingin bersamanya," ucap Regina membuat Barra benar-benar sangat terkejut.
"Apa yang kau bicarakan Regina. Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu kepadaku?" tanya Barra yang masih mengelak.
"Aku mengikuti mu saat kamu membawa Citra pergi. Kamu membawanya kedalam kamar hotel dan tidak ada siapa-siapa. Kamar hotel yang di tutup membuatku tidak bisa masuk dan hanya menunggu kamu yang bersenang-senang dengan Citra. Namun ternyata gagal karena saat itu...." Regina tidak melanjutkan kalimatnya.
Regina terbayang saat menunggu Barra di depan kamar hotel dengan penuh kegelisahan. Ternyata Regina melihat Reya dan Regina bersembunyi dan melihat Reya memasuki kamar yang mana ada Citra dan Barra.
__ADS_1
"Ya untung saja gagal dan aku melihatmu di kamar itu sendirin dan tanpa pakaian," lanjut Regina yang tidak menceritakan lebih detailnya termasuk membawa nama Reya.
"Jadi kau ada di sana?" tanya Barra menekan suaranya. Regina mengangguk dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Jika kau ada di sana. Lalu siapa yang membawa Citra pergi?" tanya Barra yang ingin tau.
"Aku tidak tau. Tetapi yang jelasnya aku sudah tidak mau menjalankan apa rencanamu. Aku sudah menghiyanati Citra dengan berselingkuh di belakangmu dan juga aku sudah menjebaknya, karena percaya kata-kata mu dan aku tidak akan menjalankan apa yang kau katakan lagi!" tegas Regina dengan keputusannya.
Hal itu membuat Barra menyunggingkan senyumnya dengan geleng-geleng pada Regina.
"Jadi kau ingin melupakan apa yang terjadi di antara kita dan kau ingin kembali menjadi teman baik Citra. Apa menurutmu itu semudah itu," ucap Barra membuat Citra heran.
"Apa maksudnya?" tanya Regina yang merasa ada yang tidak beres.
"Regina kau tidak punya pilihan selain membuat Citra menjadi milikku dan iya aku memang memanfaatkan mu untuk bisa mendapatkan Citra dan jika kau tidak mau. Maka aku akan menyebar Vidio mu yang tidak memakai sehelai benang pun," bisik Barra membuat Regina terkejut dengan matanya yang melotot.
"Barra apa yang kau katakan, kau merekamku?" tanya Regina dengan panik.
"Bukan hanya tanpa pakaian. Tetapi orang-orang juga akan melihat bagaimana kau mendesah kenikmatan," ucap Barra dengan seriangi nakal di wajahnya penuh kemenangan pada Regina yang benar-benar shock dengan tangannya yang terkepal.
Barra memegang dagu Regina dengan mengangkatnya dan mensejajarkankan pada wajahnya dan Barra mengecup bibir Regina sekilas.
"Jadi sayang jangan macam-macam padaku. Jangan membuatku kesal. Jika kamu tidak mau tubuhmu yang sangat nikmat ini di lihat semua orang," ucap Barra dengan penuh ancaman.
Regina diam dengan tubuhnya yang bergetar yang lebih dengan ketakutan..
"Lakukan saja apa yang harus kau lakukan," ucap Barra yang kembali mencium bibir Regina dan kali ini tidak sekilas. Barra ******* kasar bibir Regina dan membuat Regina tidak bisa menolak. Karena sekarang takut dengan Barra yang mempunyai senjata untuk menghancurkannya.
Ternyata di depan pintu yang terbuka sedikit. Berdiri seorang wanita yang tak lain adalah Rose yang mengarahkan ponsel ke arah dua orang itu yang merekam apa yang terjadi
Tidak tau sejak kapan Rose di sana. Rose pasti sangat terkejut melihat apa yang terjadi dan geleng-geleng kepada 2 orang itu. Lalu Rose pun pergi membiarkan 2 orang itu masih berciuman yang penting dia sudah merekam sebelumnya.
Bersambung
__ADS_1