Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Beba 340.


__ADS_3

Renita ternyata tidak bisa tenang ketika melihat Reval dan Citra ada di rumah sakit. Udah begitu Citra sempat marah besar karena mendengar ucapan Renita yang mengatakan Reya mati yang langsung membuat Citra kesal.


Dengan langkah yang terburu-buru Renita berjalan dan tidak tau mau kemana sebenarnya Dokter kandungan tersebut yang pekerjaannya ada saja.


"Aneh sekali, Reval dan Citra ada di rumah sakit dan wajah mereka seperti orang yang tidak berduka dan bukannya kemarin mayat Reya baru saja di antarkan. Lalu kenapa mereka berdua tampak santai dan tidak ada sedih-sedihnya sama sekali," gerutu Renita sembari berjalan dengan buru-buru.


Namun tiba-tiba langkah Renita terhenti ketika melihat Sean.


"Sean," gumam Renita yang langsung bersembunyi di balik tembok yang tidak ingin ketahuan Sean.


"Dia juga ada di rumah sakit. Untuk apa dia ada di rumah sakit dan bukannya Reya sudah mati. Atau jangan-jangan dia ada keperluan mengurus surat kematian Reya," batinnya yang menebak-nebak sendiri.


Renita masih memperhatikan Sean yang memasuki salah satu ruang perawatan.


"Untuk apa Sean masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan pasien dan bukan ruangan anak. Jadi mana mungkin anak Sean ada di sana," batin Renita dengan penuh tanya.


Karena penasaran Renita pun melangkah mendekati ruangan itu dengan Renita yang ingin tau apa yang di lakukan Sean di ruangan itu.


Pintu ruangan itu tertutup dan tidak ada cela jendela atau kaca sedikit seperti ruangan lainnya. Jadi Renita tidak bisa melihat ke dalam. Dengan keyakinan Renita memegang perlahan kenopi pintu dan menekan dengan pelan ke bawah yang sangat nekat untuk melihat keberadaan di dalam.


Renita mendorong pintu sedikit sehingga bisa melihat apa yang di lakukan Sean di dalam ruangan itu. Betapa terkejutnya Renita saat melihat dengan jelas ada Reya yang duduk di atas tempat tidur yang sedang di suapi Citra makan.


Mata Regina yang terbelalak sampai bola matanya yang hampir keluar dengan jantungnya yang berdetak kencang. Renita yang benar-benar shock seperti orang melihat setan yang melihat Reya yang masih hidup.


"Ini nggak mungkin," ucap nya yang tidak percaya melihat Reya bukan hanya masih hidup, sudah sadar, sudah membaik dan bahkan sekarang tertawa-tawa.


"Bagaimana mungkin dia sudah sembuh? Dia sudah mati tidak mungkin Reya hidup kembali," Renita yang berbicara sendiri di dalam hatinya yang tidak menerima Reya yang kembali hidup.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Ini pasti ada kesalahan, aku pasti salah lihat,"


"Dokter Renita!" tiba-tiba seorang Suster menegur Renita yang membuat Renita kaget dan refleks pintu yang semakin terdorong melebar yang terdengar suara bunyi yang membuat Reya, Sean, Reval dan Citra melihat kearah pintu.


Mereka semua kaget yang Renita berdiri di depan pintu. Renita juga kaget dengan dirinya yang ketahuan mengintip dan Renita yang kepanikan sendiri melihat kearah orang-orang yang ada di dalam ruangan itu yang menatapnya dengan penuh curiga.


"Renita!" lirih Reya.


"Sial kenapa semuanya jadi seperti ini," batin Renita dengan panik dan bingung harus melakukan apa.


"Dokter Renita untuk apa di sini?" tanya Suster tersebut.


Renita tidak langsung menjawab. Karena mungkin masih mencari jawaban yang cocok pertanyaan itu.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sini Renita?" tanya Sean dengan suara lantangnya yang terlihat sangat marah dengan Renita yang selalu hadir di tengah-tengah keluarganya.


"Oh, aku_ aku_ aku_....."


"Aku apa," sahut Citra yang menyambar.


"Renita apa kamu sedang mengawasi kami," sahut Reval yang menduga-duga.


Renita menelan salivanya yang penuh dengan kepanikan yang tidak tau harus menjawab dari pertanyaan Reval yang.sudah jelas sangat mencurigainya.


"Kenapa kau hanya diam? Apa kau tidak punya mulut?" tanya Sean lama-lama rasanya ingin menerkam Renita.


"Apa yang kalian bicarakan. Mengawasi kalian. Hey jangan asal bicara. Aku itu seorang Dokter dan ini rumah sakit. Jadi wajar jika aku ada di sini," ucap Renita yang pasti punya jawaban atas pertanyaan yang di ajukan kepadanya.


"Tapi pasienmu tidak ada di sini," sahut Sean menekan suaranya.


"Sudahlah aku tau. Kalian tidak menyukaiku. Jadi sangat wajar. Jika kalian semua punya pikiran buruk kepadaku. Tetapi is oke itu tidak masalah padaku. Itu hak kalian. Jadi terserah kalian mau berpikiran apa kepadaku. Karena semua itu tidak berpengaruh," ucap Renita yang selalu punya jawaban.


"Maaf sudah mengganggu kalian. Aku hanya tidak sengaja masuk ke ruangan ini," ucap Renita yang tersenyum yang hendak membalikkan tubuhnya.


"Aku peringatkan kepadamu," sahut Reval yang membuat langkah Renita terhenti.


"Pihak Polisi sedang menyelidiki masalah yang terjadi pada Reya. Dan dengan kau yang semakin menunjukkan dirimu membuatku semakin mencurigaimu," lanjut Sean dengan suara beratnya.


"Terserah apa yang ingin kalian tuduhkan kepadaku, aku tidak peduli," sahut Renita yang langsung pergi dari ruangan itu. Sebelum nanti dia yang adanya terpancing dan lebih baik dia pergi saja untuk menenagkan emosinya.


"Dasar wanita gila," umpat Citra dengan kesal.


"Sudahlah biarkan saja dia," sahut Reval. Sean hanya menghela napasnya yang berusaha untuk tenang dengan apa yang barusan terjadi.


"Sayang ada apa sebenarnya, kejadian apa yang terjadi padaku dan apa hubungannya dengan Renita?" tanya Reya dengan kebingungan yang kelihatan memang tidak tau apa-apa dan tidak mengerti dengan apa yang di maksud suaminya.


"Masalah orang yang sengaja menggunting selang pernapasan kamu," jawab Sean.


"Selang pernapasan ku di gunting!" pekik Reya dengan wajah terkejutnya.


"Benar Reya," jawab Sean.


"Dan maka dari itu kondisi kamu langsung drop," lanjut Sean yang menjelaskan sedikit


"Lalu apa hubungannya dengan Renita!" tanya Reya heran.

__ADS_1


"Aku mencurigainya," jawab Sean.


"Maksud kak Sean semua yang terjadi ada hubungannya dengan dia?" tanya Citra yang menduga-duga.


"Aku tidak punya bukti apa-apa. Aku hanya feeling saja," jawab Sean.


"Tapi aku sependapat dengan Sean. Karena aku juga merasa seperti itu," sahut Reval.


"Maksud kak Reval apa?" tanya Citra.


"Citra tadi saja saat dia menemui kita. Wajahnya terlihat kaget seperti itu dan bukannya dia tadi mengatakan jika Reya mati dia seperti orang yang menganggap Reya sudah mati," ucap Reval yang ternyata mengamati ekspresi dan tata bicara Renita.


"Iya juga kamu benar," sahut Citra yang baru sadar dengan gerak gerik Renita yang mencurigakan.


"Jadi maksud kalian apa yang terjadi padaku ada hubungannya dengan Renita?" tanya Reya.


"Iya Reya dan kita yakin itu," sahut Reval.


"Jika memang benar Renita yang berniat mencelakaiku. Dia sungguh sangat kejam," ucap Reya yang jadi sedih.


"Kak Reya wanita memang kejam dan kak Reya seharusnya tidak heran," sahut Citra.


"Semoga saja penyelidikan Polisi cepat selesai. Yang penting sekarang kita hari- termasuk dari Renita," sahut Sean.


"Iya aku juga berharap Polisi secepatnya menangkap perlakukannya," sahut Citra.


"Sayang kamu jangan mikir apa-apa ya. Biar kami yang mengurus semua ini. Kamu hanya perlu fokus pada kesehatan kamu," ucap Sean pada istrinya itu.


"Iya kak Sean," sahut Reya.


*********


"Sial!" umpat Renita dengan kemarahan yang sangat besar dengan menyapu semua benda-benda yang ada di atas meja di dalam ruangannya.


"Ternyata Reya masih hidup, dia bahkan sudah sembuh, sia-sia semua yang aku lakukan,"


"Kurang ajar," teriak Renita seperti orang gila.


"Aku harus hati-hati ancaman Sean tidak bisa di anggap main-main. Aku tidak mau di penjara aku benar-benar harus hati-hati dan Reya kamu belum tentu akan lolos dari ku," batin Renita yang masih penuh dengan rencana yang jahat.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2