Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 110.


__ADS_3

Sean masih bersama ke-2 orang tuanya yang menunggu Citra pulang.


"Citra belum pulang yah. Padahal sudah malam," ucap Anggika yang khawatir pada Citra.


"Kenapa Citra belum pulang. Apa Citra marah dan tidak mau pulang dan ingin menenangkan dirinya. Tetapi di mana dia. Aku jadi khawatir pada Citra takut Citra kenapa-kenapa," batin Sean yang terlihat gelisah.


Dia sangat tau adiknya itu sangat lemah. Dan karena Citra mengetahui hubungannya dengan Reya. Sean takut Citra melakukan sesuatu di luar dugaan karena merasa di bohongi.


"Di luar kan hujan mah. Mungkin saja Citra masih di jalan dan lagian menyetir juga tidak baik hujan begini. Bentar lagi pasti pulang kok," sahut Argantara yang berpikiran positif.


"Tapi pergi sama siapa ya. Mama tadi tidak lihat dia pergi sama siapa. Apa sama Barra ya?" tanya Anggika.


"Dia tidak pergi sama Barra. Citra dan Barra sudah putus," sahut Sean.


"Apa kamu bilang. Barra sama Citra sudah putus," sahut Anggika yang terkejut mendengarnya. Karena biasanya Citra selalu cerita apa-apa kepadanya. Namun hal sebesar ini Anggika tidak tau sama sekali.


"Iya Barra dan Citra sudah putus," sahut Sean menekankan.


"Kok bisa?" tanya Anggika.


"Karena memang dia bukan Pria yang baik. Jadi jelas bisa kalau harus putus dan itu adalah keputusan yang baik untuk Citra. Apa yang di lakukan Citra sudah tepat. Jadi mereka berdua sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," tegas Sean. Argantara dan Anggika saling melihat.


Mereka pasti kaget. Apalagi mereka juga menganggap Barra itu laki-laki yang baik. Karena selama ini memang terlihat sopan dan baik.


"Lalu jika tidak pergi sama Barra. Citra pergi sama siapa?" tanya Anggika.


"Tadi katanya sama dosennya. Aku juga tidak tau kemana. Tapi aku rasa dia akan baik-baik saja," sahut Sean.


Ting.


Tiba-tiba Anggika mendapatkan notif pesan dan langsung di bukanya yang ternyata dari Citra.


"Maaf ya mah, Citra lama pulangnya. Soalnya hujan deras dan jalanan juga tidak baik. Jadi Citra pulangnya agak lama dan kalau hujannya tidak reda juga. Nanti Citra menginap di tempat Rose. Karena rumah Rose dekat dengan tempat Citra sekarang," tulis Citra dalam pesan Wanya.


"Apa Citra mah?" tanya Argantara.

__ADS_1


"Iya pah Citra. Hujan yang membuatnya tidak bisa pulang. Nanti dia akan menginap di tempat Rose," jawab Anggika.


"Di mana Citra? apa dia baik-baik saja?" tanya Sean yang sangat Khawatir.


"Adik kamu baik-baik saja Sean," jawab Anggika.


"Apa perlu aku menyusulnya," sahut Sean.


"Papa rasa tidak usah. Citra lama pulang. Karena hujan deras dan sama saja kalau kamu menyusulnya. Tidak baik menyetir dalam keadaan hujan seperti ini. Nanti bahaya. Jadi kita tunggu saja Citra pulang," sahut Argantara yang memberikan saran.


"Benar kata papa kamu. Kamu juga jangan cari penyakit," sahut Anggika yang setuju.


"Baiklah!" sahut Sean yang akhirnya mendengarkan.


"Aku sangat berharap Citra. Kamu baik-baik saja. Kakak mohon jangan melakukan apa-apa. Kamu harus mendengarkan penjelasan kakak. Kakak tau kamu akan marah," batin Sean yang masih tidak akan tenang sebelum bicara dengan Citra.


"Ya sudah pah ayo kita istirahat!" ajak Anggika.


"Iya mah, Sean kamu juga istirahat," ucap Argantara.


Anggika dan Argantara pun berdiri dari tempat duduk mereka dan langsung pergi kekamar mereka untuk beristirahat. Sean membuang napasnya perlahan kedepan dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.


"Semoga semuanya akan baik-baik saja. Aku kabari Reya dulu. Dia pasti khawatir," gumam Sean dengan suara beratnya.


**********


Citra dan Reval masih berada di pondok untuk berteduh dari hujan deras. Mereka berdiri bersebelahan dengan Citra memeluk tubuhnya dan terlihat sangat kedinginan. Walau sudah memakai jaket Reval. Bukan hanya hujan yang deras suara petir yang sangat kuat membuat Citra beberapa kali terkejut dan juga tiupan angin yang sangat kencang.


Reval dan Citra yang memang di luar gubuk tersebut itu pasti terkena percikan air hujan yang tertiup angin kencang.


Reval menoleh kearah Citra dan terlihat simpatik pada Citra yang terus kedinginan.


Tarrrrr.


Suara petir yang terdengar menyambar membuat Citra kaget dan spontan memeluk Reval dengan erat seolah sangat ketakutan dan butuh perlindungan di dada bidang Reval.

__ADS_1


Saat itu Reval hanya diam dengan Citra yang berada di pelukannya. Citra memejamkan matanya yang terlihat takut. Namun beberapa detik Citra tersadar dengan kelakukannya yang spontan dan dengan cepat langsung melepas diri dari Reval.


"Maaf kak Reval," ucap Citra dengan suara seraknya. Reval hanya mengangguk saja.


Reval melihat di sekelilingnya memang sangat sepi dan bahkan tanda-tanda untuk hujan berhenti tidak ada membuat Reval tiba-tiba kepikiran mendekati pintu gubuk tersebut dan mendorongnya pelan dan ternyata bisa di buka.


Reval yang masih di depan pintu melihat kedalam. Hanya sepetak saja dan terlihat rapi namun sangat gelap. Reval menghidupkan flash ponselnya dan gubuk sepetak itu tidak ada penghuni sama sekali.


"Citra ayo masuk!" ajak Reval. Citra membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Reval. Wajah Citra sangat ragu.


"Di luar terlaku dingin dan anginnya juga sangat kencang. Sama saja. Kita juga akan basah. Jadi sebaiknya kita masuk saja," ucap Reval.


"Tapi apa tidak ada orang?" tanya Citra.


"Tidak ada tempat ini kosong. Kita menunggu hujan reda di dalam saja," ucap Reval.


"Baiklah kak," sahut Citra yang akhirnya mau. Karena memang saran Reval jauh lebih baik.


Citra dan Reval pun memasuki gubuk tersebut dengan Reval yang menyenter ruangan itu. Ya di dalam jauh lebih aman. Tidak terlalu dingin. Namun Citra malah terlihat canggung yang berada di ruangan yang kecil dan hanya berdua dengan Reval.


Reval berjalan kesana kemari yang seperti mencari-cari sesuatu dan sementara Citra hanya berdiri yang tidak tau harus melakukan apa.


**********


Tidak tau dari mana Reval mendapatkan korek api. Yang jelas sekarang Citra dan Reval sudah duduk bersebelahan dan mereka berdua terlihat sangat dekat dengan api unggun di depan mereka.


Di mana ke-2 sama-sama menghangatkan diri mereka dengan api yang ada.


"Kamu merasa lebih baik?" tanya Reval. Citra mengangguk.


"Tidak terlalu dingin lagi. Sudah jauh lebih baik sekarang," jawab Citra. Syukurlah kalau begitu," sahut Reval dengan tersenyum yang saling melihat dengan Citra.


"Kenapa perasaanku sangat berbeda sekarang. Apa yang aku rasakan sebenarnya. Kenapa sangat aneh saat di tatapnya. Tatapannya begitu menyejukkan dan membuat jantungku berdetak tidak menentu," batin Citra yang mendapat tatapan dari Reval yang membuat perasaannya semakin di obrak-abrik.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2