
Suster dengan buru-buru kembali memasang alat darurat untuk Reya. Karena detak jantung Reya yang sudah kembali berdetak.
Reya tiba-tiba membuka matanya di tengah kesibukan Dokter melakukan ini dan itu untuk menolong dirinya.
"Dokter pasien siuman, mata pasien terbuka," sahut Suster yang kaget melihat Reya. Dokter langsung memeriksa bola mata Reya dengan menyenter-nyenter Reya.
"Ini mukjizat, sungguh-sungguh ini mukjizat," gumam Dokter yang benar-benar kaget apa yang terjadi. Reya mendapatkan mukjizat yang langsung siuman.
"Kondisi pasien normal, pasien sudah bangun dari komanya. Benar-benar di luar dugaan," ucap Dokter.
Para Suster yang ada di ruangan itu mendengar pernyataan dari Dokter ikut lega dengan apa yang di dengar mereka. Mereka penuh perjuangan di dalam sana dan siapa sangka Reya ternyata langsung bangun dari komanya.
Sementara Sean, Reval dan Citra yang masih panik di depan pintu ruangan Reya, panik, takut, cemas dan semuanya yang bercampur aduk di rasakan Sean, Reval dan Citra. Sean bahkan mengingat sebelumnya bagaimana dia melihat kondisi istrinya yang sedang di periksa Dokter.
Dari apa yang di lihatnya Sanga tipis harapan Reya untuk kembali hidup. Namun Sean tetap berpikir positif dan banyak-banyak berdoa dengan apa yang terjadi yang pasti dia mengharapkan istrinya bangun secepatnya.
Di tengah kegelisahan 3 orang itu ada seseorang yang tersenyum yang melihat hal itu. Siapa lagi jika bukan Renita yang bersembunyi di balik dingding yang terlihat sangat bahagia melihat apa yang ada di depan matanya.
"Ya ampun Sean kamu akan menjadi milikku sebentar lagi. Karena apa Sean istrimu itu sudah mati. Dia sudah ku kirim ke Neraka ketempat seharusnya dia sejak awal ada di sana. Sean aku tau kamu pasti sedih. Tetapi sedih kamu akan cepat berakhir karena aku akan ada di sisi kamu dan mengobati rasa sedih kamu itu," batin Renita yang tersenyum miring yang sangat bahagia di atas penderitaan orang lain.
"Aku sudah tidak sabar akan bersama dengan Sean. Aku harus berhasil mencuri perhatiannya. Karena biasanya laki-laki yang ditinggal mati istrinya itu sangat mudah untuk goyah dan aku harus memanfaatkan kesempatan itu," batin Renita dengan senyuman penuh rencana.
"Sebaiknya aku pergi dari sini. Jangan sampai ada yang mencurigaiku. Aku akan kembali muncul saat berita kematian Reya sudah di nyatakan," batin Renita yang langsung meninggalkan tempat itu.
Sean yang mengusap wajahnya dengan kasar dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Apa yang terjadi pada Reya. Baru sebentar aku meninggalkannya dia sudah seperti itu. Ya Allah aku mohon tolong sembuhkan istriku. Aku benar-benar sangat tidak berguna yang beberapa kali menjadi penyebab istriku mengalami hal buruk," ucap Sean yang menyalahkan dirinya sendiri dengan matanya yang berkaca-kaca. Bahkan air matanya sudah keluar.
"Kak Sean, kakak tenang ya. Jangan menyalahkan diri kakak. Percayalah kak Reya pasti baik-baik aja. Kita berdoa yang terbaik dan semoga kak Reya tidak kenapa-kenapa," ucap Citra.
Sebenarnya Citra juga takut dan panik. Tetapi dia juga harus menguatkan Sean. Dan Reval yang menguatkan istrinya. Ya mereka semua saling menguatkan satu sama lain.
Dokter keluar dari ruangan tersebut yang langsung di hampiri Sean.
"Dokter bagaimana istri saya?"
"Istri saya baik-baik saja kan Dok?"
__ADS_1
"Dok apa yang terjadi pada istrinya saja?"
Sean terlihat mendesak Dokter dengan memegang ke-2 lengan Dokter tersebut. Harap-harap cemas yang di rasakannya dan pasti sangat takut terjadi sesuatu Reya.
"Dokter kenapa diam? Jawablah?" teriak Sean yang semakin tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Kak Sean sabar sebentar!" sahut Citra yang ikut menenangkan Sean.
"Pak Sean istri bapak baik-baik aja," ucap Dokter yang baru mengatakan kondisi Reya.
Citra, Reval dan Sean kaget mendengarnya dan melihat serius kearah Dokter.
"Jadi istri saya tidak kenapa-kenapa?" tanya Sean yang ingin memastikan.
"Benar pak Sean Bu Reya baik-baik saja dan Bu Reya sudah siuman," ucap Dokter membuat Sean, Citra dan Reval kaget sampai mata mereka yang membulat sempurna.
"Apa kata Dokter?" tanya Reval yang tidak percaya.
"Dokter tidak becandakan?" tanya Citra yang mungkin tidak mudah percaya dengan apa yang di katakan Dokter.
"Alhamdulillah," lirih Sean yang langsung berlutut ketika mendengar kabar bahagia mengenai istrinya itu. Dia tidak menyangka. Jika istrinya itu akhirnya bangun dari koma.
"Ini memang hal yang sangat luar biasa dan saya juga sebagai Dokter menjadi pengalaman pertama saya. Saya berdoa yang terbaik untuk Bu Reya," ucap Dokter yang juga tidak habis pikir dengan apa yang terjadi.
"Lalu apa kami boleh melihat kak Reya?" tanya Citra dengan air matanya yang sudah keluar sejak tadi.
"Suster masih memindahkan Bu Reya. Jadi mohon untuk bersabar sebentar," jawab Dokter.
"Baiklah Dokter kami akan menunggunya," sahut Citra.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu," ucap Dokter pamit.
"Baik Dokter terima kasih untuk semuanya," ucap Reval.
Dokter mengangguk dan langsung pergi. Citra langsung mendekati sang kakak dan memeluk kakaknya itu dengan erat yang mana mereka sama-sama terharu dan pasti sangat bahagia dengan Reya yang akhirnya sadar.
***********
__ADS_1
Setelah kondisi Reya sudah membaik, sudah siuman dan Reya juga sudah di pindahkan keruang perawatan yang hanya Reya di berikan infus saja. Karena kondisinya memang sangat membaik.
Namun Reya yang siuman yang terlihat sedikit linglung dengan melihat langit-langit kamar tersebut. Reya juga memegang perutnya dan sangat banyak yang di pikirkannya yang menjadi pertanyaan di dalam benaknya yang membuat Reya bingung harus melakukan apa.
Krekkkk.
Pintu ruangan rumah sakit itu terbuka yang membuat Reya langsung melihat ke arah pintu yang mana Sean yang masuk kedalam dan melangkah mendekati Reya yang duduk di samping Reya dengan memegang tangan Reya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Sean dengan menatap dalam-dalam istrinya itu.
"Ada apa denganku?" tanya Reya dengan suaranya yang lembut dan sangat pelan.
"Kamu mengalami pendarahan dan juga membuat kamu koma," jawab Sean.
"Aku pendarahan?" tanya Reya. Sean menganggukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana dengan anak kita. Apa kita kehilangannya kembali. Aku melihat perutku sudah rata," ucap Reya yang tampak sangat khawatir terjadi sesuatu pada bayinya.
Sean tersenyum dengan mengelus-elus pipi Reya.
"Sayang anak kita sudah lahir," jawan Sean.
"Aku sudah melahirkan?" tanya Reya yang terlihat begitu bingung.
"Iya sayang kamu sudah melahirkan, kamu melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan,' jawab Sean dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Lalu di mana anak kita. Apa anak kita baik-baik saja," tanya Reya.
Anak kita baik-baik saja dan sekarang dia ada sudah ada di rumah. Kamu sangat hebat, kamu sangat kuat sayang," ucap Sean yang terharu.
"Jadi aku sekarang sudah menjadi seorang ibu?" tanya Reya yang ingin memastikan.
"Iya sayang. Kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu. Kamu ibu yang hebat. Makasih sayang sudah berjuang, melewati semuanya. Makasih sayang," ucap Sean yang membuat Reya juga meneteskan air matanya.
Dia tidak tau berapa lama dia koma. Dia tidak tau apa yang terjadi. Tetapi intinya dia sudah menjadi seorang ibu dan bagaimana dia juga tidak ikut terharu. Sean pun memeluk istrinya dan keduanya yang sama-sama menangis terharu dengan perjuangan yang sama-sama mereka ketahui.
Bersambung.
__ADS_1