
Reya dan Sean masih sama-sama saling melihat dengan kepanikan yang terlihat jelas di wajah mereka berdua.
"Siapa itu?" tanya Reya dengan paniknya.
"Aku tidak tau. Kamu tunggu di sini. Biar aku yang buka," ucap Sean.
"Tapi bagaimanapun jika itu adalah..." Reya sangat takut dan tidak tau apa yang terjadi jika hal yang di takutkannya akan terjadi nanti.
"Kamu jangan khawatir Reya, aku lihat sebentar. Kamu tunggu saja di sini," ucap Sean yang berusaha untuk tenang dan langsung berdiri dari tempat duduknya menghampiri pintu
"Ya Allah semoga saja itu bukan siapa-siapa. Kenapa aku jadi takut seperti ini," batin Reya dengan perasaannya yang semakin tidak tenang.
Reya tiba-tiba menjadi takut karena tidak pernah ada orang yang datang ke Apartemen tersebut dan tiba-tiba ada yang datang yang membuatnya benar-benar ketakutan.
Sean sudah berada di depan Apartemen, dengan menarik napas panjang dan membuangnya perlahan kedepan dan setelah yakin Sean langsung membukanya pintu
Seseorang yang menekan bel Apartemen mereka ternyata seorang wanita yang sekitar berusia 30 tahunan.
"Selamat pagi tuan! Maaf mengganggu. Saya tetangga baru di sini. Jadi ini saya memberikan bingkisan sebagai salam perkenalan. Semoga tuan menyukainya," ucap wanita itu dengan tersenyum ramah dan Sean pun jadinya menghela napasnya dengan lega karena ternyata bukan siapa-siapa dan hanya wanita yang menjadi tetangga baru mereka.
"Oh begitu rupanya. Makasih ya kalau bwhitu. Seharunya tidak repot-repot," sahut Sean
"Tidak merepotkan sama sekali," sahut wanita itu.
"Sekali terima kasih, semoga anda nyaman tinggal di sini," sahut Sean.
"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi dulu! Sekali lagi terima kasih dan maaf sudah sudah mengganggu," ucap wanita itu. Sean mengangguk dan wanita itu pun langsung pergi.
"Aku pikir entah siapa, untung aja bukan siapa-siapa," batin Sean yang bernapas lega dan langsung menghampiri Reya yang juga cemas di meja makan.
"Siapa?" tanya Reya
"Hanya tetangga baru. Dia hanya memberi ini. Dia baru pindahan. Jadi aman-aman saja. Kamu jangan khawatir," ucap Sean.
__ADS_1
"Huhhhhhh, begitu rupanya. Aku pikir entah siapa, jantungku hampir mau copot," sahut Reya yang menghela napasnya dengan memegang dadanya.
"Jangan di pikirkan dan kamu juga jangan panik, tidak akan ada yang terjadi. Sudahlah lupakan. Ayo kita sarapan lagi, kamu pasti sudah lapar," ucap Sean
Reya menganggukkan kepalanya dan mereka sarapan kembali bersama.
**********
Citra berjalan di koridor kampus dengan memegang ponselnya yang sejak tadi sedang menelpon yang tidak tau siapa yang di hubunginya sama sekali.
"Di mana Barra? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi?" gumam Citra yang berjalan dengan langkahnya yang buru-buru yang terus menghubungi Barra kekasihnya itu.
Bagaimana mau di temukan. Barra sedang berada di salah satu ruang praktek yang juga sedang praktek bersama Regina. Otak Barra memang sudah tidak berfungsi. Bahkan di kampus pun dia melakukan hal yang memalukan itu dengan memaksa Regina untuk memuaskan nafsunya dan bahkan Barra menutup mulut Regina yang berada di atas meja agar tidak mengeluarkan suara-suara.
Semenjak tadi handphone Barra terus berdering. Namun sama sekali tidak di pedulikannya dan hanya ingin kenikmatan dan tidak tau Regina wanita yang keberapa yang telah di cumbui Barra. Bisa di pastikan Barra ini playboy yang hanya memanfaatkan banyak wanita.
Citra yang menelpon tiba-tiba menghentikan langkah kakinya saat berada di depan ruang praktek. Ketika mendengar suara nada dering ponsel Barra yang telah di kenalinnya
"Bukannya itu suara handphone Barra," gumam Citra yang semakin jelas mendengar suara nada dering itu. Bahkan Citra sudah menghadap pintu ruangan praktek. Selain mendengar suara nada dering itu. Citra juga mendengar suara gerusuk-gerusuk yang membuatnya penasaran.
Ceklek Citra langsung menekan kenopi pintu untuk membuka pintu itu.
"Citra!" tiba-tiba suara Pria terdengar membuat Citra tidak jadi membuka pintu dan langsung melihat kebelakang.
"Pak!" lirih Citra menundukkan kepalanya. Ketika melihat Dosen galak berdiri di depannya.
"Aku sampai jantungan," batin Citra.
"Bukannya saya sedang menunggu kamu di ruangan saya. Lalu kenapa masih di sini. Apa kamu sengaja mengabaikan apa yang saya katakan!" ucap Reval dengan dinginnya yang berbicara pada Citra.
"Bukan begitu pak. Saya hanya," Citra mendadak begitu gugup yang sangat malas harus mencari masalah dengan dosennya tersebut.
"Hanya apa Citra. Hanya tidak ingin menuruti apa kata saya, sengaja melalaikan apa yang saya katakan," sahut Reval dengan menaikkan 1 alisnya melihat kearah Citra.
__ADS_1
"Ya ampun kenapa sih nih orang. Sangat suka mencari-cari kesalahanku. Citra kamu harus bisa tenang. Jangan sampai nilaimu kembali hilang begitu saja gara-gara terpancing dengan kata-katanya," batin Citra yang begitu kesal. Namun harus menahan rasa kekesalannya. Karena tidak punya kuasa dengan dosennya yang begitu galak.
"Saya tidak ingin mendengarkan alasan kamu. Sekarang juga kamu keruangan saya," perintah Reval.
"Baik pak," sahut Citra yang langsung pergi sebelum kenak amuk oleh Reval.
Reval geleng-geleng kepala dan melihat ke arah pintu ruangan praktek yang pintunya terbuka sedikit. Reval menarik kenopi pintu dan menutup pintu dengan kuat sampai terdengar suara bunyi sampai kedalam yang mengagetkan Barra dan Regina.
"Siapa itu!" lirih Barra yang kaget.
Regina menyinggirkan tangan Barra dari mulutnya.
"Apa ada orang yang datang?"tanya Regina.
"Aku tidak tau, pasti bukan siapa-siapa. Kamu jangan khawatir," jawab Barra tiba-tiba menjadi sangat panik.
********
Citra akhirnya keruangan Reval untuk mengurus masalahnya dengan Reval yang di sebabkan oleh Regina.
"Saya menolak keputusan bapak atas tindakan bapak kepada saya," ucap Citra dengan berani yang berdiri di depan Reval yang mana Reval menatapnya dengan serius dengan alis yang terangkat.
"Apa kamu bilang. Kamu menolak keputusan saya," sahut Reval.
"Iya benar. Ini tidak adil untuk saya. Saya hanya berusaha untuk membantu Regina dan saya tidak bermaksud apa-apa. Dia hanya memaksa saya dan bapak tidak bisa korbankan nilai saya hanya karena masalah ini," ucap Citra yang memang harus mencari keadilan untuk dirinya. Karena semua ini sudah di pikirkannya dengan matang.
"Tetapi kamu yang mencari masalah Citra. Dengan gaya kamu dan keberanian kamu. Jadi tanggung sendiri resikonya," ucap Reval.
"Bapak tidak bisa seperti ini kepada saya," protes Citra.
"Saya yang punya kuasa dan bisa melakukan apa yang saya mau," tegas Reval.
"Tetapi ini sama saja. Bapak telah mempermainkan saya," sahut Citra dengan penuh keberanianya.
__ADS_1
Bersambung