
Anggika berada di dalam mobil yang tidak tau tujuannya ingin kemana, "aku harus menyelesaikan laki-laki itu. Aku tidak tau siapa dia, aku merasa dia ancaman besar untuk Citra. Aku harus mengurusnya. Karena Citra semakin tidak bisa di kasih tau," batin Anggika yang ternyata perjalanan yang menyetir sendiri karena ingin menyelesaikan masalah dengan Reval.
Namun mobil yang di kendarainya Anggika mendadak pelan. Ketika di ujung sana ada mobil yang tiba-tiba berhenti ketika di depannya.
"Mobil siapa itu," batin Anggika yang terlihat kesal dan mau tidak mau dia harus berhenti yang tidak jauh dari mobil yang terparkir menggalang jalannya.
"Apa lagi ini, siapa yang parkir sembarangan di tengah jalan seperti ini," umpat Anggika yang terlihat begitu kesal.
Anggika terus melihat ke arah mobil itu yang tidak lama keluar seseorang yang membuat Anggika heran yang ternyata adalah Erina sang pemilik mobil yang menghalangi jalannya.
"Erina, apa lagi yang di inginkannya, kenapa dia bisa ada di sini," batin Anggika dengan kekesalannya saat Erina lagi-lagi sangat berani dan tidak tau malunya muncul kembali di hadapannya.
Anggika yang begitu marah langsung keluar dari mobilnya dengan menghampiri Erina yang tersenyum kepadanya.
"Apa yang kau lakukan? kau menghalangi jalan ku!" ucap Anggika dengan menekan suaranya saat menghadapi Erina.
"Bukannya memang aku selalu menghalangi setiap apa yang ingin kau lakukan," sahut Erina dengan santai.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya Erina. Tampaknya kau belakangan ini sangat menggangguku," sahut Anggika.
"Anggika aku bahkan memberi informasi banyak padamu, mengenai Reya dan juga Sean. Lalu kenapa kau bukannya berterima kasih dan terlihat sini kepadaku," ucap Erina.
"Aku tidak mengerti dengan yang kau maksud. Informasi yang kau berikan sangat bermanfaat dan seharusnya kau tidak ada di hadapanku. Kau mencari anak mu dan membawanya pergi. Supaya dia dan Sean tidak bersama. Itu yang seharusnya kau lakukan," ucap Anggika.
"Apa kamu takut Sean dan Reya tidak bisa di pisahkan?" tanya Erina.
"Erina Reya dan Sean itu adik kakak. Jadi tidak mungkin mereka bersama dan kau seharusnya mengurus anakmu bukan malah santai seperti ini," tegas Anggika.
"Aku sangat terharu Anggika dengan kau mengakui Reya sebagai adik Sean," sahut Erina dengan tersenyum yang membuat Anggika kesal.
__ADS_1
"Kau dengarkan aku Erina. Walau Sean dan Reya bukan adik kakak. Aku juga tidak akan membiarkan mereka bersama. Jadi sebaiknya kau jangan berpikir aneh-aneh. Kau pinggirkan mobilmu dan enyah dari hadapanku. Kau urus saja anakmu dan iya kau begitu santai seakan-akan Reya bukan anakmu," ucap Anggika dengan sinis yang mengejutkan Erina.
"Apa maksudmu?" tanya Erina.
"Kau telah memberi informasi kepadaku mengenai Reya dan Sean yang artinya kau tau hubungan mereka selama ini dan bukannya menegur mau seakan sengaja membiarkannya dan baru memberitahu ku seakan sebagai serangan untukku," ucap Anggika.
"Anggika-anggika. Kau terlalu banyak berpikir. Aku tidak mengetahui hubungan mereka selama ini dan aku baru tau lalu memberitahu mu ya mungkin untuk membuatmu jantungan dan harus berpikir sendiri untuk mengurus anakmu," sahut Erina dengan santai.
"Kau sengaja melapor semua ini kepadaku. Supaya aku terkejut iya," sahut Anggika menebak.
"Iya aku ingin melihat kau begitu shock dengan suami yang kau pertahankan dan anak-anak yang kau banggakan yang telah menutupi hal besar dari mu," ucap Erina.
"Dari caramu bicara Erina aku melihat kau itu masih menginginkan suamiku. Baiklah Erina jika kau masih menginginkannya. Maka ambillah dengan sesukamu," ucap Anggika dengan tersenyum miring yang tidak peduli dengan Argantara lagi.
"Kau sangat mudah menyerahkannya Anggika," sahut Erina.
"Aku harus memberinya pada wanita kehausan sepertimu," desis Anggika membuat Erina marah dengan kata-kata kasar itu.
Tampaknya Erina tidak tau hal itu. Walau dia juga mengawasi Sean. Tetapi masalah kehamilan itu sepertinya tidak di ketahuinya.
"Apa yang kau katakan?" tanya Erina dengan perasaannya yang tidak tenang.
"Aku mengatakan hal yang sudah jelas. Jika Reya sedang mengandung," tegas Anggika sekali lagi yang sangat mengejutkan Erina dengan mata Erina yang melotot yang hampir keluar.
"Kau jangan menghalangi jalanku. Minggirlah. Jika tidak aku akan menabrakmu. Urusanku masih banyak," tegas Anggika yang langsung pergi dari hadapan Erina yang masih terlihat sangat terkejut.
"Apa yang di katakan Anggika, Reya, Reya sedang mengandung," batin Erina yang tak percaya dengan hal itu.
Tin-tin tin tin tin tin
__ADS_1
Suara klakson mobil terdengar kuat mengagetkan Erina yang tak lain Anggika yang ingin melajukan mobilnya. Jika Erina tidak menyinggir juga maka mobilnya akan melaju dengan kencang.
"Arghh sial," umpat Erina dengan emosi dan mau tidak mau harus menyinggirkan mobilnya dari pada di tabrak Anggika.
**********
Sean dan Reya berada di dalam mobil yang berhenti di depan sebuah rumah mewah. Rumah mewah yang tidak tau tempat siapa itu. Namun sejak tadi ada beberapa orang dengan pakaian yang sama yang seperti pelayan yang lalu lalang.
Reya kebingungan dengan tempat itu dengan kepalanya yang keluar melihat lokasi tersebut. Rumah mewah itu begitu luas dengan halaman yang juga luas dengan pepohonan yang sangat banyak yang menambah keasrian.
"Rumah siapa ini?" tanya Sean heran.
"Ayo masuk kamu akan tau," jawab Sean yang membuka seat belt nya dan terlebih dahulu keluar dari mobil.
Reya dengan kebingungannya akhirnya keluar dari mobil dan berdiri di samping Sean dengan kepalanya yang berkeliling.
"Ayo Reya!" ajak Sean dengan menggenggam tangan Sean dan akhirnya membawa Reya masuk dan Reya hanya mengikut saja walau dia sebenarnya kebingungan.
Reya dan Sean di antarkan seorang pelayan sampai menuju ruangan yang di ruangan itu duduk seorang pria tua dengan berkacama mata yang memakai salt dan terlihat membaca koran.
Raya semakin bingung dengan pria itu siapa. Karena sejak tadi Sean tidak mengatakan apa-apa.
"Tuan, tuan Sean datang," ucap pelayan tersebut. Pria tua itu mengangkat kepalanya Ndan melihat kearah Sean lalu melihat kearah Reya. Reya bingung harus berekspresi seperti apa.
"Saya permisi tuan," ucap pelayan yang langsung pergi.
"Kakek!" sapa Sean. Apakah mungkin Pria tua itu kakek Sean.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku datang membawa calon istriku dan akan pulang jika kakek sudah menikahkan kami," ucap Sean yang langsung bicara apa yang ingin di sampaikannya yang membuat Reya terkejut.
__ADS_1
Mungkin sebelumnya ada pembicaraan antara Sean dan Pria itu. Makanya Reya langsung datang kerumah pria tua itu yang sepertinya bisa membantunya.
Bersambung