
Citra keluar dari kamar mandi yang mana sebelumnya Citra sudah mandi. Wajahnya tidak henti-hentinya tersenyum ceria. Mungkin karena hari ini dia berbunga-bunga karena begitu dekat dengan Reval.
Citra berjalan menuju meja rias dengan mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Dirinya menatap dirinya di cermin dan kembali lagi Citra tersenyum lebar. Citra kelihatan sangat bahagia.
Ceklek.
Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka dan Citra langsung melihat kebelakang yang ternyata adalah mamanya.
"Mama!" sahut Citra. Anggika tersenyum dan langsung memasuki kamar Citra.
"Ada apa mah?" tanya Citra heran dengan mamanya yang tiba-tiba memasuki kamarnya.
"Mama perhatikan kamu itu sering senyum-senyum sendiri," ucap Anggika yang duduk di pinggir ranjang.
"Siapa yang senyum-senyum sendiri dan lagian kan senyum itu ibadah. Masa iya tidan boleh tersenyum," ucap Citra yang kembali tersenyum dengan wajah berseri-serinya.
"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Anggika membuat Citra semakin merona mendengar pertanyaan mamanya itu.
"Apa maksud mama. Pacar. Pacar apa?" tanya Citra dengan tersenyum malu-malu.
"Citra dari wajah kamu. Kamu sudah menjelaskan jika kamu sedang kasmaran," ucap Anggika yang sangat serius bicara dengan Citra.
"Issss, mama sok tau," sahut Citra yang mengelakkan sesuatu.
"Pria yang kamu katakan dosen kamu. Seperti apa hubungan kalian?" tanya Anggika tiba-tiba.
"Kenapa mama tiba-tiba menanyakan hal itu," sahut Citra.
"Mama khawatir sama kamu. Apa lagi kedekatan kamu dengan dosen itu. Mama tidak ingin Citra hubungan kamu terlalu jauh dengan seorang Dosen," ucap Anggika yang membuat eksperesi wajah Citra langsung berubah menjadi datar. Senyum itu menjadi hilang.
"Apa maksud mamah. Bahkan mama belum pernah bertemu dengan kak Reval. Lalu kenapa sudah menilainya secepat itu," ucap Citra.
"Jadi namanya Reval," sahut Anggika.
"Iya namanya Reval, dia Dosen Citra dan juga sering membantu Citra. Dan dia sangat baik. Jadi mama tidak boleh menilai seseorang sebelum mama tau sebenarnya. Apa lagi. Mama belum pernah bertemu dengannya," ucap Citra yang berbicara begitu serius.
"Citra yang baik menurut kamu belum tentu baik," ucap Anggika.
"Mama bicara apa sih sebenarnya? kenapa kesannya mama itu tidak menyukai teman baru Citra?" tanya Citra.
"Mama hanya ingin kamu berpikir lain kali. Jangan sembarangan mencari pengganti Barra dan kamu terlalu cepat untuk membuka hati dan iya Citra Dosen itu tidak ada yang baik. Termasuk Dosen Pria. Mungkin bukan hanya kamu yang di dekatinya. Tetapi banyak mahasiswi lainnya. Jadi kamu dengarkan perkataan mama. Jangan terlena dengan mudah dengan seorang pria," ucap Anggika mengingatkan Citra dan begitu serius saat bicara dengan Citra.
__ADS_1
Citra sampai tidak bisa berbicara apa-apa lagi dengan kata-kata mamanya yang sudah jelas-jelas tidak menyukai Reval. Padahal belum pernah bertemu dengan Reval sekalipun.
"Dan iya Citra. Kamu tau tidak belakangan ini kakak kamu dekat dengan siapa?" tanya Anggika membuat Citra mengkerutkan dahinya.
"Maksud mama?" tanya Citra.
"Mama rasa kakak kamu sedang dekat dengan seorang wanita," ucap Anggika.
Citra mendengarnya langsung terkejut dengan matanya yang terbuka lebar.
"Apa mama sudah mulai curiga," batin Citra menjadi panik.
"Kenapa mama bicara seperti itu. Apa mama melihat kak Sean dengan seorang wanita?" tanya Citra dengan hati-hati.
"Karin. Karin melihat Sean bersama wanita dan makanya mama tanya kamu. Kamu pasti lebih tau siapa yang dekat dengan kakakmu," ucap Anggika.
"Kak, Karin, apa hubungannya dengan kak Karin? jangan bilang mama menyuruh kak Karin untuk mematai-matai kak Sean?" tebak Citra.
Anggika menganggukkan kepalanya yang membuat Citra semakin terkejut.
"Mama memang menyuruhnya. Karena belakangan ini Sean sangat aneh," jawab Anggika apa adanya.
"Gawat. Jadi mama mencurigai kak Sean dan bahkan menyuruh kak Karin untuk menyelidikinya dan kak Karin sudah melihat kak Sean bersama wanita yang artinya itu Reya," batin Citra dengan jantungnya yang berdebar begitu kencang.
Mendengarnya Citra semakin gemetar dengan wajahnya yang semakin panik. Ya tidak tau kenapa dia seakan takut jika semuanya akan terbongkar nanti.
"Itu artinya memang benar orang yang di lihat kak Karin adalah Reya. Karena Reya bersam kak Sean saat di taman dan untung saja Karin tidak melihat Reya," batin Citra.
"Mama hanya menanyakan itu saja kepada kamu. Jika kamu mengetahui sesuatu langsung beritahu mama," ucap Anggika yang berdiri dari tempat duduknya.
"Mah apa perlu mama harus menyelidiki kak Sean apalagi menyuruh kak Karin untuk membuntutinya. Lalu kenapa jika kak Sean ada wanita. Apa itu suatu masalah yang besar," ucap Citra.
Anggika melihat Citra dengan penuh selidik.
"Kenapa melihat Citra seperti itu?" tanya Citra.
"Tumben-tumbenannya kamu sangat santai jika kakak kamu dekat dengan wanita. Biasanya kamu selalu heboh jika ada yang mendekati kakak kamu," ucap Anggika.
"Ya bukan begitu. Hanya saja kak Sean perlu kebebasan. Jadi Citra juga tidak mau nanti kak Sean akan marah. Jika tau mama membuntutinya," sahut Citra memberikan alasannya.
"Mama hanya ingin tau siapa yang dekat dengan Sean itu saja," sahut Anggika.
__ADS_1
"Kalau begitu kenapa tidak menyakannya langsung pada kak Sean. Apa harus membuntutinya," sahut Citra.
"Kakak kamu tidak akan memberitahu. Jadi mama tidak ada maksud apa-apa. Jadi kalau kamu tau sesuatu. Langsung beritahu mama. Jangan ikut-ikutan menyembunyikannya," sahut Anggika membuat Citra menelan salivanya.
Karena memang dia telah menyembunyikan kebenaran yang ada. Jika Sean memang sedang bersama wanita yang tak lain adalah Reya. Namun Citra tidak ingin memberitahu mamanya. Walau dia tidak akan pernah tenang karena ikut menyembunyikan rahasia besar itu.
"Mama keluar dulu, kamu langsung istirahat. Dan satu lagi Citra. Jangan coba-coba menjalin hubungan dengan seorang dosen. Karena seorang Dosen tidak ada yang tulus," tegas Anggika yang langsung keluar dari kamar Citra.
Citra mendengarnya menelan salivanya melihat kepergian mamanya dengan wajahnya yang sendu.
"Kak Sean saja saat bertemu dengan kak Reval sangat welcome berbeda dengan Barra. Lalu kenapa mama mengatakan seperti itu. Seakan-akan semua Dosen itu tidak ada yang benar," batin Citra yang sangat kecewa dengan tanggapan mamanya mengenai seorang Dosen dan dia sendiri sedang dekat dengan seorang Dosen.
"Argggg, Citra kesampingkan dulu masalah itu. Kau harus menemui kak Sean dan mengatakan semuanya. Ini bisa berantakan jika mama sampai tau sebenarnya dan kak Sean juga harus tau. Kalau mama menyuruh Karin untuk menyelidiki kak Sean," batin Citra yang sekarang fokus pada kakaknya. Karena takut akan terjadi masalah besar.
***********
Akhirnya Citra menemui kakaknya yang mana Sean baru pulang dan Citra langsung menariknya kekamarnya dan mengatakan semuanya apa yang telah di ketahuinya dan di pastikan membuat Sean terkejut dengan pengakuan sang adik.
"Jadi mama diam-diam mengawasiku," sahut Sean dengan suara beratnya.
"Benar kak. Dan untung saja saat di taman. Kak Karin tidak melihat Reya," sahut Citra.
"Kamu sendiri tau dari mana. Kalau wanita yang masuk mobil itu adalah Reya?" tanya Sean.
"Karena aku juga ada di sana. Aku juga melihat kakak bersama Reya dan pasti itu yang di maksud kak Karin," ucap Citra.
"Jadi kamu ada di sana dan tidak menyapa kakak?" tanya Sean.
"Maaf kak, Citra belum bisa," jawab Citra apa adanya.
"Tidak apa-apa," sahut Sean.
"Kak Sean sekarang harus lebih hati-hati. Kau yakin mama tidak akan puas jika belum mengetahui semuanya," ucap Citra mengingatkan Sean dengan wajahnya yang penuh dengan khawatir.
"Kamu jangan khawatir Citra. Kakak akan mengatasinya. Termasuk Karin. Kakak juga akan bicara dengan papa. Dan masalah ini akan cepat selesai," ucap Sean.
"Apa yang ingin kakak bicarakan dengan papa. Apa kakak ingin mengatakan kebenarannya?" tanya Citra.
"Masalah itu kakak belum tau. Tapi intinya kamu jangan memikirkan apa-apa. Kamu harus tenang dan semuanya pasti baik-baik saja," ucap Sean.
"Baiklah. Citra hanya bisa berdoa yang terbaik," sahut Citra.
__ADS_1
"Makasih ya kamu sudah suport kakak," ucap Sean. Reya menganggukan kepalanya dan Sean langsung memeluk adiknya itu.
Bersambung