Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 60 Tempat baru.


__ADS_3

Barra dan Citra berada di dalam mobil yang mana Barra menyetir dengan fokus kedepan dan Citra hanya diam di sampingnya yang mana pandangan Citra hanya melihat ke luar jendela.


"Kamu masih marah padaku?" tanya Barra.


"Menurut kamu," jawab Citra dengan ketus.


"Citra masalah itu sudah berlalu sangat tidak masuk akal jika kamu masih marah. Aku bahkan sudah memberi kamu waktu untuk menangkan diri," ucap Barra.


"Barra kamu sadar tidak dengan apa yang kamu lakukan dan kamu masih bilang semua itu tidak masuk akal," ucap Citra dengan kesal.


"Baiklah. Aku minta maaf padamu. Aku mengakui semua kesalahanku dan tidak seharusnya kita terus berlarut-larut dalam masalah ini. Citra aku mencintaimu dan kita baru saja pacaran. Masa iya kamu mau seperti ini terus. Aku minta maaf sama kamu akan melakukan apapun asal kamu memaafkanku," ucap Barra yang membujuk Citra.


Lebih baik mengalah dari pada melihat Citra terus ngambek dan hubungannya bisa berantakan.


"Citra ayolah. Jangan marah lagi padaku. Aku benar-benar minta maaf. Aku janji tidak akan seperti itu lagi. Aku tidak akan melakukan apa yang tidak kamu sukai," ucap Barra lagi.


Citra menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan.


"Reya juga sudah tidak ada. Jadi apa salahnya aku memberinya kesempatan kepadanya," batin Citra.


"Citra!" tegur Barra.


"Baiklah. Aku akan melupakan apa yang terjadi di antara kita. Ini kesempatan pertama dan terakhir kamu setelah ini. Aku tidak akan memberi kesempatan itu lagi," ucap Citra dengan tegas.


Cara tersenyum melihat ke arah Citra.


"Iya aku akan memanfaatkan kesempatan ini. Terima kasih Citra. Aku benar-benar lega sekarang yang mana hubungan kita benar-benar membaik," ucap Barra.


"Iya," sahut Citra hanya datar-datar saja.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu tersenyum dong masa masih seperti ini wajahnya di tekuk terus," ucap Barra melihat ke arah Citra dan Citra yang sudah luluh mengeluarkan senyum tipisnya.


"Begini kamu jauh lebih cantik. Begini terus ya," ucap Barra. Citra mengangguk-angguk dengan tersenyum tipis.


***********


Reya dan Sean akhirnya sampai ke Jakarta. Mereka juga langsung masuki mobil dan Sean yang menyetir. Mobil itu mungkin yang di siapkan Karin bersama supir untuk menjemput Sean. Namun Sean menyuruh supirnya untuk kembali ke kantor dan Sean menyetir sendiri dan Reya berada di sampingnya yang mana Reya terlihat sangat murung yang melihat ke arah jendela saja.


Melihat kembali kota kelahirannya. Melihat gedung-gedung yang tinggi mencakar langit. Suara berisik klakson kendaraan jalanan-jalanan yang masih sama.


"Reya sebenarnya apa yang kau pikirkan. Kenapa kau nekat untuk kembali kedalam neraka yang sudah kau tinggalkan. Apa kau ingin menciptakan masalah baru lagi. Mungkin saat pertama kau kembali ke Jakarta ada 3 orang yang membencimu. Tetapi kali ini pria yang membencimu ada si sampingmu dan sudah tidak membencimu lagi. Melainkan mengatakan dia mencintaimu. Lalu tetap saja aku tidak tau apa yang harus aku lakukan," batin Reya penuh dengan bertanya-tanya dengan tatapan matanya yang kosong.


"Aku mengerti apa yang kau takutkan Reya. Tetapi ini jalan yang terbaik untukmu. Aku tidak bisa membiarkanmu bersama Tante Erina. Aku yang takut jika hal itu terjadi," batin Sean yang melihat ke arah Reya yang tetap melihat ke arah luar.


"Ya Tuhan aku hanya akan mengikuti takdir yang berjalan lagi. Aku tidak tau harus berbuat apa dan aku serahkan semuanya padamu," batin Reya dengan matanya berkaca-kaca.


*********


"Kita mau kemana lagi. Kenapa berhenti di sini?" tanya Reya.


"Keluarlah!" jawab Sean dengan perintah dan Sean langsung membuka sabuk pengamannya dan langsung keluar dari dalam mobil yang membuat Reya kebingungan. Namun dia langsung mengikuti saja keluar dari dalam mobil dan Sean yang membuka bagasi mobil mengeluarkan koper Reya lalu langsung menghpiti Reya.


"Kita mau ngapain di sini?" tanya Reya heran.


"Ayo!" Sean tidak menjawabnya dan malah berjalan terlebih dahulu yang membuat Reya kebingungan.


"Mau kemana dia sebenarnya mengajakku dan ini bukannya gedung apartemen," batin Reya yang kebingungan. Namun Reya harus tetap mengikuti Sean yang sudah berjalan terlebih dahulu di depannya.


Benar dugaan Reya. Mereka telah memasuki salah satu Apartemen yang mewah dan Reya terkejut melihatnya yang mana mereka sudah memasuki Apartemen dengan kepala Reya yang berkeliling melihat isi Apartemen mewah itu.

__ADS_1


Penuh dengan barang-barang mewah yang pasti dari desainer terbaik dengan ruangan yang berkombinasi silver keemasan yang begitu indah.


"Milik siapa ini?" tanya Reya setelah melihat dengan penuh ketakjuban.


"Ini Apartemen ku. Kamu akan tinggal di sini," jawab Sean mengejutkan Reya.


"Aku tinggal di sini. Maksudnya?" tanya Reya dengan terkejut.


"Reya aku sudah membicarakan dengan papa apa semuanya dan papa setuju kamu tinggal di sini. Semua ini hanya menjaga kenyamanan kamu dari Citra yang selalu mencari masalah denganmu. Jadi tempat ini sudah yang terbaik," Jelas Sean yang memang tidak mungkin membiarkan Reya tinggal lagi di rumahnya dan Citra pasti tidak setuju.


Kemungkinan Citra bisa melakukan hal yang lebih parah lagi. Kemarin saja dia melakukan hal yang nekat membuat Sean dan Reya terjebak dan mungkin akan terjadi hal yang tidak di inginkan lagi dan Sean juga tidak mau Citra terus berprilaku jahat.


"Jadi aku akan tinggal di sini?" tanya Reya lagi.


"Iya Reya. Kamu akan tinggal dan itu juga atas persetujuan papa," tegas Sean.


"Jika papa menyuruhku untuk di sini. Apa papa juga tau masalah di antara kita?" tanya Reya dengan perasaannya yang dek-dekan.


"Tidak Reya. Papa tidak tau. Biarlah masalah ini akan menjadi urusan kita yang penting kamu bisa nyaman tinggal di sini," ucap Sean.


Reya hanya diam yang tidak tau harus mengatakan apa kepada Sean.


"Reya percayalah padaku. Aku melakukan semua ini untukmu. Aku tidak ingin kamu terluka lagi. Baik di Jakarta dan juga di Paris. Tetap lah di sisiku. Aku akan memberimu kenyamanan dan juga kebahagiaan," ucap Sean dengan tulus kepada Reya.


" Tapi kita berdua..."


"Lupakan hal itu," sahut Sean memotong pembicaraan Reya yang tau apa yang di maksud Reya yang pastinya masalah status adik kakak mereka.


"Aku berharap Reya perlahan-lahan kamu akan melupakan status yang tidak ada artinya itu. Jangan menyiksa diri dengan itu," ucap Sean.

__ADS_1


Reya tidak tau harus mengatakan apa. Yang jelasnya dia melihat ketulusan di wajah Sean yang hanya ingin melakukan segalanya hanya untuknya dan itu membuat Reya lama kelamaan bisa luluh pada Sean.


Bersambung


__ADS_2