
Mentari pagi kembali tiba. Sarapan seperti biasa di kediaman keluarga Argantara, selain Argantara ada juga Anggika, Sean Reya, Citra dan Reval. Namun ternyata walau malam sudah berlalu. Tetap saja Citra dan Reval masih dalam kondisi perang dingin.
Pasangan pengantin baru itu terlihat diam-diam an. Mungkin Reval saat bangun pagi pasti sudah berusaha melakukan hal yang harus di lakukannya untuk membujuk istrinya. Namun mungkin Citra tidak mudah untuk di luluhkan dan sekarang Citra yang terlihat kesal dengan suaminya.
Makanya sekarang masih diam-diam an dengan Reval dan Reval juga tidak mungkin membujuk Citra di depan semua orang. Sean dan Reya saling melihat. Mereka sepertinya sudah tau apa yang terjadi dan melihat adik mereka yang masih diam-diam an.
Saat Reya melihat Sean. Sean hanya mengangkat ke-2 bahunya, bingung juga dirinya harus melakukan apa-apa.
"Oh iya Citra, Reval apa kalian sudah punya tempat untuk bulan madu yang kemarin di bilang papa?" tanya Reval yang memulai pembicaraan dengan obrolan yang mengalihkan kecanggungan.
"Dah lama juga jadi sudah basi," sahut Citra yang menjawab dengan ketus. Reval yang mendengarnya terdiam. Sementara Sean juga seperti kenak sembur.
"Ohhh, Sudja basi toh," sahut Sean yang menghela napasnya yang sudah tidak tau mau mengatakan apa lagi. Dia sudah mencoba untuk mencairkan suasana dan tidak ada yang cair malah semakin menegang.
"Citra kamu baik-baik saja?" tanya Anggika yang mulai menyadari jika Citra sedang ada masalah.
"Citra baik-baik aja mah," jawab Citra.
"Jangan bohong Citra. Mama lihat kamu sedang tidak baik-baik aja. Ada apa sayang apa ada masalah?" tanya Anggika.
Citra terdiam. Karena ekspresinya sangat menunjukkan jika dia memang sedang penuh dengan masalah dan memang dia tidak baik-baik aja sama sekali. Reval menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan kedepan. Lalu Reval melihat ke arah Citra yang begitu ketusnya yang duduk di sampingnya.
"Aku minta maaf Citra!" ucap Reval tiba-tiba yang berani meminta maaf pada Citra di depan semua orang.
"Apaan sih kamu," sahut Citra dengan pelan yang panik dengan Reval. Gara-gara Reval meminta maaf terang-terangan pasti membuat semua orang tau. Jika mereka memang sedang ada masalah.
"Aku tau aku salah, aku kurang peka dengan perasaan kamu, aku tidak tau batasan ku dan mengabaikan kamu. Aku benar-benar minta maaf sudah membuat kamu kecewa," lanjut Reval yang tidak peduli dengan orang-orang di sana. Dia sangat gentelment yang mengakui kesalahan dan meminta maaf di depan semua orang.
Tetapi Citra yang jadinya gelisah dengan apa yang di lakukan Reval. Sean dan Reya saling melihat yang mereka tersenyum tipis yang sangat suka dengan tindakan Reval.
"Reval sudah deh," ucap Citra.
"Aku tidak akan menyudahinya sebelum salah paham di antara kita selesai. Kamu tau bagaimana aku yang sangat mencintaimu dan aku tidak ingin pernikahan kita yang masih baru ini harus seperti ini. Hanya karena ke salah pahaman di antara kita," ucap Reval yang benar-benar tidak gengsi untuk mengeluarkan kata-katanya pada Citra atas apa yang terjadi di antara mereka.
Citra yang gelisah melihat orang tuanya, melihat di sekitarnya yang sepertinya menyerahkan semua kepada Citra.
"Sayang maafkan aku!" ucap Reval lagi.
"Citra kamu ini kenapa. Suami kamu sampai meminta maaf seperti itu," ucap Argantara.
__ADS_1
"Iya Citra dan kenapa justru tidak menjawab apa-apa dan mengatakan apa-apa. Lihat Reval itu minta maaf, kamu masa iya tega melihatnya seperti itu," sahut Anggika.
Citra menarik napasnya dan membuangnya perlahan kedepan, "ya sudah kita lupakan masalah ini," ucap Citra yang akhirnya memafkan Reval.
"Kamu memaafkanku?" tanya Reval.
"Iya," jawab Citra dengan datar.
"Tapi aku tidak melihat ketulusan kamu," sahut Reval.
"Iya aku memaafkan kamu," sahut Citra menekankan.
"Kalau begitu senyum dulu, baru aku percaya," sahut Reval.
Citra pun tersenyum terpaksa dan membuat semua orang ikut tersenyum.
"Awas ya kalau kamu sampai melakukan hal itu lagi, aku benar-benar tidak akan tinggal diam," ucap Citra dengan wajahnya yang masih cemberut.
"Iya sayang. Aku janji tidak akan membuat kamu bete lagi," jawab Reval dengan memegang tangan Citra.
"Nah kalau begini kan enak di lihat. Jadi kalian jangan bertengkar-tengkar lagi," ucap Reya yang lega melihat adiknya itu yang sekarang sudah berdamai dengan suaminya.
"Reval kamu jangan mencari masalah. Kalau penuh dengan masalah cewek itu sangat ribet. Jadi kalau tidak mau ribet. Kamu jangan cari masalah," sahut Sean.
"Aku tidak akan berani kali ini," sahut Reval yang mengundang tawa semua orang dengan mereka yang sama-sama penuh dengan kebahagiaan.
**********
Reval dan Citra berada di dalam mobil yang mana Reval yang menyetir dan Citra berada di sampingnya.
"Sayang kita mau kemana?" tanya Citra.
"Ada deh," sahut Reval. Citra mengkerutkan dahinya mendengar kata ada deh. Seperti rahasia saja yang suaminya itu ingin mengajak ke mana.
"Sayang aku serius?" tanya Citra lagi.
Tin-tin tiba-tiba suara klakson mobil yang menyalip mereka terdengar kuat.
"Ayo cepat!" teriak Reya yang dari mobil sebelah yang membuat Citra heran.
__ADS_1
"Kok ada kak Reya sama kak Sean, mereka mau kemana?" tanya Citra. Reval lagi-lagi hanya mengangkat bahunya yang membuat Citra penasaran saja.
Tidak ada jawaban dari Reval yang hanya menyetir. Tidak berapa lama daerah yang mereka lewati berada di atas jalanan aspal yang terdapat di pinggir pantai yang terlihat sangat indah membuat Citra takjub sampai-sampai Citra menurunkan kaca mobil agar bisa melihat ke indahan tersebut.
"Sayang, ini indah sekali," ucap Citra yang takjub.
Sementara Sean dan Reya yang juga di dalam mobil yang di depan Reval dan Citra. Terlihat Sean yang membuka menurunkan atap mobil sampai terbuka dan Reya semakin mudah melihat keindahan alam tersebut.
Dengan wajahnya yang berseri-seri dengan tersenyum indah, tangan yang di lentangkan terlihat Reya yang benar-benar menikmati keindahan alam tersebut. Rambutnya yang menari-nari yang terkadang tangannya harus menyelipkan rambutnya ke belakang daun telinganya.
"Kamu suka?" tanya Sean.
"Iya sayang ini sangat luar biasa. Ini sangat indah," ucap Reya yang memang begitu bahagia.
Mendengarnya Sean tersenyum membahagiakan istrinya adalah yang ingin terus di lakukannya. Karena kebahagiaan istrinya adalah kebahagiaan dirinya.
Tidak lama mobil itu sudah berhenti di pinggir pantai. Reya dan Citra yang sudah keluar dari mobil masing-masing berlari dengan bergandengan tangan menuju titi yang ada di sana. Keduanya terlihat tersenyum bahagia yang saling melihat dengan lari-lari kecil sampai ke ujung Titi yang melihat ke indahan lautan.
Keduanya memilih untuk duduk bersebelahan di ujung titi menatap lautan yang luas dengan kaki mereka yang menggantung dan di goyang-goyangkan dengan mereka yang sama-sama tertawa yang jangan di tanya pasti sangat bahagia.
"Kamu suka tempatnya?" tanya Reya.
"Sangat suka, ini ide siapa?" tanya Citra.
"Tidak tau. Tetapi pasti ini ide para suami kita," jawab Reya.
"Mereka tau aja apa yang kita suka," sahut Citra.
"Karena memang mereka sangat the best yang memberikan semua ini untuk kita," ucap Reya dengan tersenyum.
"Memang paling the best," sahut Citra yang setuju dengan apa yang di katakan kakaknya itu.
Sementara Reval dan Sean berdiri jauh di belakang Citra dan Sean yang mana mereka berdua yang sama-sama melihat tangan di dada mereka yang melihat istri-istri mereka yang seperti sudah melupakan mereka.
"Apa kita akan terlupakan?" tanya Sean.
"Sudah menjadi kodrat suami. Jika istrinya menemukan kebahagiaan pasti kita akan terlupakan," jawab Sean.
"Ya itu sudah pasti memang sangat menyedihkan nasib kita," sahut Reval yang ke-2nya sama-sama tertawa yang pasti juga sangat bahagia dengan melihat istri-istri mereka yang bahagia.
__ADS_1
Bersambung