Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 234


__ADS_3

"Kenapa pikiranmu langsung berubah seperti itu, bukannya tadi saat di kantor polisi kau langsung membuat kesimpulan mengatakan jika mama ku pelakunya," ucap Sean yang memang Reval sempat berpikiran seperti itu.


"Tetapi kan belum tentu Tante Anggika yang melakukannya. Walaupun dia menyuruh semua pekerja di rumah mu pergi liburan, belum tentu dia yang melakukannya. Kita tidak punya bukti untuk semua itu dan sebaiknya jangan menduga-duga yang belum ada buktinya," jawab Reval yang begitu bijak.


Mungkin Reval belajar dari kesalahan sebelumnya. Hanya karena Anggika datang kerumahnya di saat dia babak belur. Dia menuduh Anggika yang melakukan semauanya. Padahal sama sekali tidak dan Reval tidak bisa menunggu Anggika begitu saja. Karena juga tidak ada buktinya.


"Benar kak Sean. Mama mana mungkin melakukan hal itu. Itu sangat mustahil kak dan belum tentu juga mama menyuruh para pembantu di rumah untuk pergi liburan," sahut Citra yang setuju dengan Reval.


"Aku setuju dengan apa yang di katakan Citra. Lagian juga itu pesan hanya di kirim. Dan sangat tidak masuk akal Tante Anggika pelakunya dan gelang itu bukan milik Tante Anggika," sahut Reya.


"Kamu mengenali gelang itu?" tanya Citra, Sean dan Reval dengan bersamaan melihat Reya dengan serius.


"Aku tidak yakin. Tetapi akan memastikannya dan justru ini lebih masuk akal," jawan Reya.


"Siapa pemilik gelangnya?" tanya Sean.


Sebelum Reya memberitahu siapa pemilik gelang tersebut. Tiba-tiba wanita yang di bicarakan mereka datang. Anggika dan juga kakek.


"Mama!" ucap Citra yang terkejut dan langsung berlari menghampiri Anggika yang pasti sangat merindukan Anggika. Citra langsung memeluk erat Anggika dan begitu juga Anggika yang tidak bisa menahan dirinya yang pasti sangat merindukan Citra.


"Mama Citra kangen sama mama. Mama kemana aja selama ini. Apa mama tidak peduli lagi dengan Citra. Mama pergi dan tidak tau kemana. Mama seharusnya tidak meninggalkan Citra dan kak Sean," ucap Citra dengan air matanya yang tumpah.


"Maafkan mama Citra. Mama juga kangen sama kamu dan juga kakak kamu. Maafkan mama nak. Mama hanya butuh waktu untuk menenangkan diri," ucap Anggika.


Sean masih masih berdiri di tempatnya yang tidak memeluk Anggika. Namun Reya mengusap lengan suaminya itu membuat Sean melihat ke arah Reya dengan Reya menganggukkan kepalanya yang pasti menyuruh Sean untuk memeluk mamanya.


Karena semenjak Sean mengetahui dia bukan anak kandung tidak ada pelukan lagi di antara ke-2nya. Sean pun menghela napasnya perlahan kedepan dan menghampiri Anggika.


"Mah!" lirih Sean membuat Anggika melepas perlahan pelukannya dari Citra dan melihat putranya yang di besarkannya selama ini dengan penuh kasih sayang. Rasa haru menyelimuti suasana itu dan tidak mampu untuk membendung air mata dan Anggika langsung memeluk Sean yang melepas kerinduannya pada Sean.

__ADS_1


"Maafkan mama Sean. Maafkan mama," ucap Anggika.


"Mama tidak salah apa-apa. Ini semua salahku. Aku tidak bertanggung jawab sebaik anak. Aku yang bersalah dan membuat mama harus memikirkan semua ini sendirian. Seharunya aku tidak diam di tempat seharunya aku ada di sisi mama dan menemani mama melewati semua ini, maafkan aku mah," ucap Sean yang mengakui dirinya bersalah.


"Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu anak yang baik dan sudah bertanggung jawab. Jadi jangan pernah untuk meminta maaf Sean," ucap Anggika dengan memeluk erat putranya yang sangat dirindukannya itu.


Air mata Reya harus ikut menetes dengan melihat Sean dan Anggika berpelukan dan juga sekarang Citra berpelukan.


"Meski tidak lahir dari rahim tante Anggika. Dia terlihat tulus menyayangi Sean dan sama dengan Reval yang juga bukan anak Tante Sahila tetapi dia sangat menyayangi Reval. Lalu aku kenapa berbeda dari mereka. Aku bukan anak mama, tapi mama membesarkan ku. Tetapi aku tidak pernah mendapat kasih sayang seperti apa yang di rasakan kak Sean dan Reval. Aku hanya di manfaatkan kan, di perlukan kasar baik dari kata-kata dan juga perbuatan. Kenapa aku harus berbeda?"


"Aku sangat iri dengan kalian yang bisa di sayangi seorang ibu, bisa di cintai dan melakukan apa saja demi anaknya. Aku tidak pernah di beri kesempatan untuk mendapatkan semua itu," batin Reya yang merasa sedih.


Dia sangat berbeda dari yang lainnya dan dia pasti sangat iri dengan suaminya dan orang-orang yang di sekelilingnya yang bisa di cintai dan bahkan bukan anak kandung juga.


Reval melihat kearah Reya seakan tau apa yang di pikirkan Reya, "kasihan kamu Reya. Kamu pasti sedih karena kamu tidak mendapatkan semua itu. Dulu kamu sering bercerita bagaimana inginnya kamu di sayang oleh Tante Erina, di perhatikan dan di manjakan. Namun kamu hanya berusaha bahkan sampai kamu bertahun-tahun berusaha dan di finalnya kamu di patahkan dengan kamu yang bukan anak kandung. Aku percaya Reya kamu pasti akan mendapatkan kasih sayang yang jauh lebih banyak lagi," batin Reval yang mengerti perasaan sahabatnya itu.


Mereka berteman lama dan sering curhat dan sangat wajar mereka saling tau dan Reval tau apa yang di pikirkan sahabatnya yang sedang menangis itu.


Setelah acara keharuan dan acara melepas rindu selesai mereka semuanya mengobrol dengan serius.


"Mama tidak mengirim pesan apapun pada pekerja yang ada di rumah," ucap Anggika yang membantah jika dia tuduh sebagai pengirim pesan tersebut.


"Aku percaya mah, itu memang tidak mungkin," sahut Citra.


"Mama kamu benar Citra. Lagian saat mama kamu datang ketempat kakek. Dia tangan kosong. Bahkan ponsel juga tidak ada. Jadi sangat mustahil jika yang kamu katakan itu," ucap kakek.


"Itu berarti ada yang memanfaatkan ponsel dari Tante Anggika dan sengaja mengirim pesan untuk semua orang yang bekerja di rumah semua itu mereka lakukan agar tidak ada orang di rumah dan Om Argantara yang sendirian di sana," sahut Reval mengambil kesimpulan.


"Aku setuju dengan Reval ini benar-benar ada pelaku lain yang memanfaatkan mama, yang mengkambing hitamkan mama," sahut Sean.

__ADS_1


"Mama tidak menyangka jika papa kalian bisa sampai seperti itu dan ini seperti sebuah perencanaan," sahut Anggika.


"Untung ada Rose mah yang datang kerumah. Jika tidak Citra juga tidak tau apa yang akan terjadi pada papa. Mungkin saja papa sudah tidak lagi ada di sini," ucap Citra yang masih tidak bisa membayangkan.


"Lalu bukannya di rumah banyak Cctv. Kenapa tidak melihat dari Cctv saja?" tanya Anggika.


"Pasti ada masalah Anggika dengan Cctv. Kalau tidak pelakunya pasti sudah di temukan," sahut kakek.


"Benar kata kakek mah, Cctv semauanya hilang dan tidak ada petunjuk untuk menemukan pelakunya," sahut Sean.


"Ya Allah. Siapa sebenarnya orangnya," lirih Anggika yang jadi khawatir.


"Mama pelakunya," sahut Reya yang tiba-tiba mengeluarkan statement dan jujur sangat mengejutkan semua orang dan mata mereka tertuju pada Reya.


"Maksud kamu Tante Erina?" tanya Reval.


"Iya mama pelakunya," sahut Reya dengan yakin.


"Reya dari mana kamu tau. Apa kamu punya buktinya. Walau banyak kemungkinan dia pelakunya. Karena memang hanya dia manusia jahat dan tega yang pernah aku temui. Tetapi tetap saja jika tidak ada buktinya. Kita tidak bisa menuduh sembarangan seperti itu," sahut Citra yang tidak mau menuduh jika tidak buktinya.


"Buktinya sudah ada," sahut Reya


"Apa buktinya?" tanya Sean.


"Gelang yang di temukan Polisi adalah milik mama," jawab Reya dengan yakin yang mengejutkan semua orang.


"Kamu yakin Reya?" tanya Sean dengan wajah terkejutnya.


"Aku yakin, aku yang memberikan gelang itu saat ulang tahun mama beberapa tahun lalu dan di pastikan gelang itu milik mama dan mama yang mencelakakai papa," ucap Reya dengan sangat yakin dalam pemikirannya yang membuat semua orang benar-benar terkejut.

__ADS_1


"Kurang ajar," umpat Sean dengan mengepal tangannya yang kali ini dapat di pastikan Sean tidak akan melepaskan Erina. Jika terbukti bersalah.


Bersambung


__ADS_2