
Anggika masih diam di tempatnya yang masih shock dengan apa yang telah didengarnya dari Citra. Kata-kata Citra dan penemuan Citra mengenai masa lalu dirinya.
"Tidak mungkin ini tidak mungkin!" Anggika sangat berharap apa yang di katakan Citra tidak benar.
"Tidak!" lirih Anggika dengan terduduk lemas melihat foto-foto itu dan termasuk melihat foto anak kecil itu. Laki-laki yang di katakan Citra adalah Reval yang kata Citra juga hidupnya hancur di tangan Reval.
"Ini semua tidak mungkin. Apa yang terjadi pada Citra, dia tidak mungkin mengganggu Citra, tidak mungkin!" Anggika sangat takut jika hal buruk yang terjadi pada Citra yang membuatnya terus kepikiran.
**********
Anggika yang harus tau apa yang terjadi pada Citra yang langsung menuju kampus Citra yang ternyata baru di ketahui Anggika jika Citra sebelumnya punya masalah di kampus. Anggika juga melihat Vidio Citra dan Barra dan juga dengan Reval.
Anggika yang berada di dalam mobil yang parkir di kampus begitu shock dengan apa yang di lihatnya.
"Tidak apa yang di alami Citra selama ini. Ini sangat tidak mungkin. Reval tidak mungkin melakukan semua itu. Dia tidak mungkin dengan mendekatkati Citra hanya untuk balas dendam itu sangat tidak mungkin!" teriak Anggika teriak Anggika di dalam mobil yang terlihat frustasi.
Supir di depan hanya diam saja yang melihat Anggika dari kaca spion. Dia juga takut menyapa atau bagaimana. Karena takut akan ikut campur dan lebih baik diam melihat majikannya yang terlihat histeris.
Tiba-tiba Anggika melihat Reval, "Reval!" lirih Anggika yang langsung keluar dari mobil yang kebetulan Reval lewat dari mobilnya dan Reval harus menghentikan langkahnya ketika Anggika berdiri di depannya.
"Apa yang kau lakukan kepada Citra?" tanya Anggika.
"Kenapa Tante bertanya seperti itu," sahut Reval.
__ADS_1
"Jadi benar, kau sengaja mendekati Citra hanya ingin membalas dendam. Kau sudah menyusun semua skenario dan memanfaatkan Citra!" ucap Anggika menekan suaranya dengan air matanya yang jatuh.
Namun Reval mengeluarkan senyumnya untuk melihat wanita yang sangat menyedihkan itu.
"Dari kata-kata Anda. Jika anda sudah tau. Kalau saya adalah anak dari Pria yang telah kau rebut," ucap Reval dengan tersenyum miring.
"Tapi baiklah memang benar pada kenyataannya. Jika aku memang sengaja mendekati Citra, sengaja membuatnya menyukaiku, menggilaiku, melawan ibunya dan melakukan apapun untukku semua itu sengaja aku lakukan, karena aku hanya ingin menghancurkannya. Aku hanya ingin membalaskan rasa sakit yang telah di alami ibuku. Akibat perbuatan wanita seperti dirimu," ucap Reval dengan santai bicara dan bahkan dengan tersenyum.
"Kenapa kamu tega Reval melakukan semua ini. Kenapa harus Citra. Aku yang sudah melakukan semua kesalahan. Kenapa harus melibatkan Citra!" teriak Anggika.
"Lalu kenapa anda harus melibatkan ibuku. Mata ku sendiri melihat bagaimana pria brengsek itu memilihmu dan meninggalkan ku dan juga ibuku. Aku melihat bagaimana kau begitu bahagia dia atas tangisan ibuku dan sampai detik ini aku masih melihat penderita ibuku karena wanita sepertimu dan apa yang aku lakukan kepada Citra sangat impas. Bagaimana rasanya melihat orang yang paling kau sayangi menderita. Bagaimana rasanya!" teriak Reval dengan matanya berkaca-kaca.
"Apa yang telah kamu lakukan kepada Citra?" tanya Anggika dengan menekan suaranya.
"Semuanya. Aku telah melakukan semuanya. Hal yang tidak pernah kau bayangkan. Dan aku hanya tinggal menunggu hasilnya bagaimana dia akan merasakan penderitaan ibuku," jawab Reval dengan tersenyum yang seperti tanpa dosa.
Reval mungkin sangat puas melihat Anggika yang sangat hancur. Baru saja sedikit sudah hancur. Bagaimana jika Citra benar-benar hancur mungkin Anggika juga akan ikut hancur.
"Aku yang bersalah dalam semua ini, kenapa harus putriku kenapa kamu harus membalskan semuanya kepadanya. Kamu tidak tau apa-apa. Kamu hanya mengetahui apa yang kamu lihat saja," ucap Anggika dengan menangis sengugukan.
"Apa yang aku lihat adalah luka yang aku dan ibuku dapatkan selama bertahun-tahun dan semua luka itu dari orang seperti kamu!" ucap Reval dengan merendahkan suaranya.
Rose yang keluar dari kampus melihat dari kejauhan di mana Anggika terlihat bersujud di depan Reval.
__ADS_1
"Tanya Anggika, ngapain Tante Erina dan itu bukannya pak Reval," batin Rose dengan wajah bingungnya.
"Tante Anggika!" panggil Rose. Suara itu terdengar oleh Reval dan Reval langsung pergi dari hadapan Anggika ketika Rose menghampiri mereka. Yang mungkin Reval tidak ingin di tanya ini dan itu.
"Tante Anggika," ucap Rose yang sudah berada di depan Anggika dengan Rose yang berjongkok.
"Tante ada apa ini. Apa yang terjadi?" tanya Rose heran.
"Citra! Citra! Citra apa yang terjadi pada kamu. Maafkan mama Citra, maaf, kamu tidak seharusnya menanggung semua ini, maafkan mama Citra!" lirih Anggika dengan wajahnya yang penuh air mata yang terus menyebutkan nama Citra yang membuat Rose bingung dengan apa yang di lihatnya.
************
Hujan deras dengan suara petir yang menyambar keras. Di mana Citra yang berjalan di jalannya dengan basah-basah kuyup yang memeluk tubuhnya yang pasti dengan air matanya yang terus keluar.
Citra sendiri lagi-lagi harus menanggung semuanya, semuanya benar-benar hancur kehamilannya yang akan menghancurkan dirinya. Langkah Citra membelok pada jembatan. Tidak tau kenapa dia harus membelok pada jembatan itu di mana bahkan Citra berdiri di depan jembatan yang melihat derasnya air yang mengalir.
"Mungkin ini yang di inginkannya melihatku benar-benar hancur dan aku sudah hancur. Aku tidak bisa menjalani hidup dengan seperti ini. Aku tidak sanggup," ucap Citra dengan air matanya yang mengalir terus dengan mengeluarkan senyumnya.
Mata Citra sangat kosong. Dia sudah lelah dengan kehidupan yang di alaminya. Dia lelah dengan semua yang terjadi padanya. Yang membuatnya menjadi korban dari masa lalu sang ibu.
Sementara di dalam mobil Reval yang menyetir dan kebetulan melewati jembatan yang di mana ada Citra yang tampak ingin melompat dan Reval melihat jelas hal itu.
"Citra!" lirih Reval dengan terkejutnya melihat apa yang di lihatnya, "apa yang mau di lakukannya?" tanya Reval dengan panik dan Reval langsung buru-buru meminggirkan mobilnya di tengah-tengah hujan yang deras.
__ADS_1
Sementara Citra yang sudah menaiki jembatan tersebut yang mungkin ingin mengakhiri hidupnya. Benar kata Sean Citra hanya di lihat saja begitu kuat. Namun ternyata dia sangat lemah dan tidak sanggup menghadapi kerasnya kehidupan yang di alaminya yang menjadi korban dari mamanya.
Bersambung