
Setelah makan malam selesai mereka semua kembali pulang kerumah masing-masing. Citra dan Reval hari ini menginap di rumah Sahila dan yang pulang ke rumah Argantara hanya Reya, Sean dan Anggika saja.
Begitu sampai rumah Reya langsung buru-buru masuk rumah yang menghiraukan Sean yang tidak peduli dengan Sean. Anggika dan Argantara masih berpikir biasa-biasa saja dan menganggap memang tidak terjadi apa-apa.
"Reya tunggu!" panggil Sean yang mencegah istrinya yang ingin masuk kamar dengan Sean yang memegang tangan Reya. Namun Reya langsung menepisnya.
"Apa lagi sih," ucap Reya dengan kesal.
"Kamu dengarkan aku dulu. Aku tidak tau apa-apa tentang lipstik itu aku tidak tau kenapa ada di jasku," ucap Sean yang berusaha untuk menjelaskan yang membuat Reya menanggapi dengan tersenyum.
"Sudah tidak perlu di jelaskan dan jangan serius seperti itu. Citra tadi sudah mengatakan kok. Jika lipstik itu milik dia. Jadi tidak perlu lagi harus panik atau mau drama seperti apa. Aku muak," ucap Reya.
"Aku tidak drama Reya dan aku tau apa yang kamu pikirkan," ucap Sean.
"Kamu nggak usah sibuk mengurusi pikiranku. Pikiranku dan hati ku sudah lelah dan terserah kamu mau ngapain. Aku tidak peduli," tegas Reya yang memegang kenopi pintu yang ingin masuk kamar.
"Reya aku belum selesai bicara. Kita tidak bisa seperti ini terus," cegah Sean yang berusaha untuk bicara pada Reya.
"Jangan menggangguku!" tegas Reya.
"Reya!"
"Aku bilang jangan menggangguku!" sentak Reya menguatkan volume suaranya.
"Ahhhhh," Reya tiba-tiba memegang perutnya yang terasa sakit.
"Raya kamu tidak apa-apa?" tanya Sean panik dan ingin membantu Reya. Namun Reya menyetop Sean yang benar-benar Reya tidak mau di sentuh oleh Sean.
Dan Reya yang masih kesakitan memegang perutnya memasuki kamar. Sean tidak mencegahnya lagi. Karena takut Reya jadi kenapa-kenapa nantinya.
"Maafkan aku Reya?" lirih Sean yang mengusap wajah kasar dengan napasnya yang naik turun di depan pintu kamar yang sudah di tutup Reya.
Sean benar-benar semakin frustasi dengan masalahnya dengan istrinya yang tak kunjung selesai juga.
Saat Sean ingin meninggalkan pintu kamar itu tiba-tiba saat membalikkan tubuhnya melihat Anggika yang berdiri tidak jauh darinya dan tidak tau sejak kapan Anggika berdiri di sana.
"Mama!" lirih Sean.
"Kamu lagi tidak baik-baik saja dengan Reya?" tanya Anggika.
__ADS_1
"Aku sama Reya sedang di landa salah paham," jawan Sean.
Anggika menghela napas dan menghampiri Sean, "apa yang terjadi?" tanya Anggika dengan mengusap lengan putranya itu.
"Reya hanya cemburu dengan hal yang tidak jelas dan itu membuat komunikasi kami berantakan," jawab Sean yang malas menceritakan secara detail.
"Dan ada hubungannya dengan lipstik tadi?" tebak Anggika.
Sean menganggukkan kepalanya, "dan itu menjadi masalah yang semakin besar," jawan Sean.
"Apa kamu dan Reya tidak satu kamar?" tanya Anggika.
Dia sudah hampir satu Minggu di Luar Negri bersama suaminya dan tidak tau apa yang terjadi.
"Iya kami pisah ranjang," jawab Sean dengan menghela napasnya kasar dan Anggika juga terkejut mendengarnya.
"Aku akan menyelesaikan masalah ini. Mama tidak perlu kepikiran ini hanya urusanku dengan Reya," ucap Sean yang tau Anggika past tidak akan tenang.
"Mama sangat berharap Sean kamu bisa menyelesaikan semua dengan kepala dingin. Istri kamu sedang mengandung dan pasti dia sangat sensitif apalagi dia sudah hamil tua. Kamu harus menyelesaikan semuanya dengan cepat. Jangan sampai Reya kenapa-kenapa dan berpengaruh pada kandungannya," ucap Anggika yang mengingatkan Sean.
"Iya mah, itu pasti," sahut Sean yang meyakinkan sang mama dan tidak ingin membuat mamanya kepikiran.
Reya yang berada di dalamnya yang mencoba untuk tenang yang sudah berbaring di atas ranjang dengan air matanya yang kembali keluar.
Berusaha untuk baik-baik saja di depan semua orang termasuk di depan keluarganya dan dia tetap ikut untuk makan malam untuk menghindari pemikiran keluarganya mengenai hubungan dengan Sean. Namun apa yang di dapatkannya sakit hati kembali dengan lipstik yang terdapat di saku jas suaminya itu.
"Aku tidak percaya. Jika cinta itu bisa luntur ini sungguh tidak pernah kupikirkan dan kamu sanggup Sean," batin Reya yang kembali merasa sesak di dadanya.
*********
Lagi dan lagi Renita si Mak lampir berulah lagi yang mana dia sudah berada di ruangan Sean yang sekarang mengantarkan makan siang dan pasti dia ada di sana dan Sean tidak ada di ruangan itu. Padahal makanan siang yang kemarin saja di buang Sean.
"Kamu makan ya Sean. Aku tidak ingin kamu terlalu banyak makan di luar dan lupa dengan makanan yang aku buat," gumam Renita yang tersenyum miring yang meletakkan bekal itu di meja Kevin.
"Aku harus bersabar menunggumu Sean. Karena nanti jika kau sudah jadi milikku. Aku tidak hanya akan memberimu makanan dengan cara seperti ini. Tetapi aku akan menyuapimu langsung dan aku sudah tidak sabar menunggu hal itu," gumam Renita yang senyum-senyum sendiri yang menghayal penuh.
"Huhhhh, sebaiknya aku langsung pergi saja. Dari pada sekretarisnya yang menyebalkan itu nanti datang lagi," gumam Renita yang langsung meninggalkan ruangan Arga.
Renita menghampiri pintu dan memegang kenopi pintu lalu menekannya kebawah. Namun ada yang aneh pintu itu tidak bisa terbuka yang membuat Renita kaget.
__ADS_1
"Ada apa ini. Kok nggak bisa di buka?" ucapnya dengan panik dan terus menekan kenopi pintu tersebut yang berusaha untuk membukanya.
Bagaimana bisa di buka. Orang di kunci Karin dari luar.
"Emang enak di kunciin makanya jangan sembarangan masuk ruangan bos. Dasar wanita stress," gumam Karin yang memutar-mutarkan kunci itu di jarinya dengan Karin yang menyunggingkan senyumnya.
"Mana lagi Citra?" kenapa lama sekali datangnya. Aku sudah menangkap kutu itu dan seharusnya Citra cepat datang," ucap Karin yang mencari-cari Citra dengan kepalannya yang berkeliling yang menunggu kedatangan Citra.
Sementara Renita harus mati-matian yang berusaha untuk membuka pintu.
"Sial! bagaimana ini?" tanyanya dengan panik.
"Siapa di luar tolong di buka!" teriak Renita yang menggedor-gedor pintu.
Jelas dia kepanikan yang terkurung di ruangan Sean dan pasti takut jika Sean masuk.
"Buka pintunya. Buka siapa di luar? Buka!"
"Tolong buka!"
"Buka pintunya!"
"Ada orang di dalam!"
Karin terus berteriak-teriak ingin di bukakan pintu. Namun Karin yang bersandar di daun pintu hanya sewot saja mendengar teriakan Karin.
"Berbisik banget sih tuh anak. Makanya jangan masuk-masuk sembarangan lihat akibatnya. Dasar sombong. Sudah sembarangan mengataiku. Rasain emang enak di kurung," desis Karin yang terlihat kesal dengan Renita dan apa yang di lakukannya sekalian untuk balas dendam untuk Renita karena Rania sempat mengatainya.
"Buka pintunya!
"Buka!"
"Hey apa ada orang di luar!"
"Tolong buka pintunya!"
Karin benar-benar mengabaikan pertolongan yang tidak penting itu.
Bersambung
__ADS_1