
Sean dan Reya hubungannya bahkan semakin parah dan Sean yang berada di taman belakang yang duduk dengan menghela napasnya dengan kasar dan beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar dengan mengatur napas beratnya.
Jika seperti ini dia sendiri pun lama-lama akan semakin emosi dengan Reya yang ada saja menjadi penambah dalam masalah yang mereka hadapi.
"Apa lagi semua ini. Kenapa sih Reya hal yang tidak perlu kamu permasalahan. Jadi kamu permasalahan. Hanya karena semua ini Reya
Kamu belum mencari kebenarannya. Sudah meledak-ledak seperti dan siapa lagi yang mengirim foto-foto tidak jelas seperti itu. Dari makanan dan sekarang merambat kemana-mana. Semua menjadi kacau," umpat Sean dengan penuh kemarahan yang tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia benar-benar sangat lelah dengan banyaknya masalah yang terjadi yang semakin panjang.
Bagaimanapun tidak kepala Sean mau pecah dengan semua permasalahan yang terjadi dan termasuk yang sekarang terjadi.
Citra dan Reval yang berada di depan pintu yang melihat dari kejauhan bagaimana stressnya kakaknya itu yang menghadapi masalah besar itu membuat Citra dan Reval saling melihat.
"Sayang kamu coba bicara dengan Sean," ucap Reval.
"Aku harus bilang apa. Aku takut salah malahan nanti," ucap Citra yang tidak berani bicara pada Sean.
"Kamu coba tenangkan hatinya dulu dan pelan-pelan bicara," Icao Reval yang menyarankan istrinya.
"Ya sudah kalau begitu. Aku coba aja bicara dulu dengan kak Sean," ucap Citra yang memutuskan dan dengan menarik napas panjang dan membuangnya perlahan kedepan Citra langsung menghampiri Sean dan Reval memilih untuk menunggu saja.
Biarkan istrinya yang bicara dengan tenang pada Sean. Mungkin jika wanita yang berbicara Sean jauh lebih tenang.
Citra yang sudah berdiri di samping Sean. Namun masih hanya diam yang belum mengatakan apa-apa sama sekali yang membuat Citra sebenarnya ragu untuk menemui Sean dan sampai Sean menoleh kesebelahnya yang merasa ada yang berdiri.
"Citra!" lirih Sean dengan suara seraknya.
Wajah itu masih sangat memerah dengan wajah yang terlihat juga berusaha untuk mengendalikan diri.
"Citra boleh duduk?" tanya Citra dengan lembut.
Sean bergeser, "duduklah," jawab Sean yang memberikan Citra tempat.
"Kak Sean baik-baik aja?" tanya Citra.
"Kamu mendengar semuanya dan mana mungkin baik. Untung mama dan papa tidak ada di sini," ucap Sean yang memang Anggika dan Argantara sedang tidak ada. Jadi keributan yang terjadi hanya di ketahui Citra dan Reval. Sangat besar cerita kalau orang tuanya tau dan pasti masalah akan semakin panjang.
"Apa lagi yang terjadi kak?" tanya Citra.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau. Reya terlalu berlebihan, hal kecil di besarkan dan hanya gara-gara makanan apa aku harus mengakui hal yang tidak aku lakukan sama sekali agar dia puas," ucap Sean dengan suara beratnya.
"Jadi masalah bekal itu belum selesai?" tanya Citra.
"Kamu tau masalah itu?" tanya Reval kembali.
"Sebelumnya kak Reya menceritakannya kepadaku dan iya dia sangat kecewa dengan tindakan kak Reval. Aku juga melihat usah kak Reya yang setiap hari menyiapkan makanan dan bahkan dengan keadaan hamil tidak membuat kak Reya melupakan tugasnya dan mungkin semangatnya itu hilang karena kecewa dan tidak terima begitu saja," kelas Citra yang tidak bermaksud untuk berpihak pada Reya. Namun hanya memahami perasaan sesama wanita saja.
"Tapi masalahnya Citra. Aku tidak membuang makanan itu. Setelah selesai meeting. Aku kembali ke ruanganku dan aku melihat bekal di atas mejaku. Aku memakan apa yang di masak Reya dan Karin juga ada di sana yang kebetulan ada pekerjaan dan tiba-tiba saja malamnya dia malah mengamuk dan mengatakan ini dan itu," jelas Sean.
"Tapi kak Reya mengamuk juga ada alasannya kak. Itu karena dia menemukan bekal dan nasi yang masih utuh," sahut Citra.
"Ya tapi aku memakannya dan mungkin saja itu punya orang lain yang kebetulan tempatnya sama. Perusahaan itu banyak orang ratusan lebih dan tidak ada yang tidak mungkin. Masa iya hanya gara-gara bekal aku harus mengumumkan siapa lagi pemilik bekal yang sama itu. Itu hal yang tidak masuk akal bukan," ucap Sean yang semakin stres memikirkan masalah itu.
"Iya juga sih," sahut Citra yang garuk-garuk kepala yang juga bingung harus berpihak pada siapa.
"Seharusnya Reya memeperyaiku dan jika aku bilang aku memakannya dan seharusnya dia percaya. Kami bukan kenal kemarin sore. Bisa-bisanya masalah seperti itu menjadi masalah besar," ucap Sean dengan memijat kepalanya.
"Lalu tadi kenapa semakin parah kak?" tanya Citra.
"Aku sudah berusaha untuk berdamai. Oke aku mengalah dan tadi kamu lihat sendiri aku membawa bunga untuk mengakhiri pertengkarana kami dengan kesalah pahaman itu. Tetapi apa yang di lakukannya. Begitu masuk kamar dia langsung marah-marah dengan masalah yang berbeda," jelas Sean.
"Aku tidak tau dari mana mendapatkan foto aku berpelukan dengan wanita lain yang aku juga tidak pernah berpelukan dan aku juga tidak ingat kapan itu terjadi," jawab Sean.
Mungkin memang dia lupa kejadian dengan Renita. Kerena dia juga tidak merasa memeluk Renita.
"Pelukan!" pekik Citra.
"Iya itu yang membuatnya semakin marah, cemburu tidak jelas," ucap Sean dengan menghela napas.
"Memang siapa wanita itu?" tanya Citra..
"Kakak tidak tau Citra," sahut Sean yang mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aneh sekali. Apa jangan-jangan ada orang iseng lagi. Kak Reya mendapat foto berpelukan dan tidak mungkin kan kak Reya yang mengambil foto itu sendiri pasti ada yang mengirimnya dan yang mengirimnya pasti orang punya maksud tujuan lain," batin Citra yang jadi mencurigai sesuatu dalam permasalahan rumah tangga kakaknya itu.
"Entahlah Citra aku benar-benar pusing dengan semua masalah ini. Di sisi lain aku tidak bisa terima dengan semu tuduhan Reya. Namun di sisi lain aku juga khawatir dengan aku yang terus keras dan lama-lama dia yang tertekan dan bayi kami jadi kenapa-kenapa," ucap Sean.
__ADS_1
"Kak Sean lebih mengalah lagi pada kak Reya. Citra yakin masalah ini jika di bicarakan baik-baik maka akan selesai," ucap Citra yang mencoba untuk memberikan saran.
"Siapa yang tidak mau menyelesaikan semua masalah ini Citra. Kakak juga mau," ucap Sean.
"Kalau begitu selesaikan lah dengan kepala dingin," ucap Citra.
Sean tidak bicara lagi dan hanya kembali yang mengatur napas dengan mengendalikan diri mereka.
*********
"Jadi karena Sean yang berpelukan dengan wanita lain?" tanya Reval.
Citra dan Reval yang berada di dalam kamar yang membicarakan masalah Sean dan Reya.
"Iya sayang," ucap Citra.
"Siapa wanita itu?" tanya Reval.
"Itu dia masalahnya kak Sean juga tidak tau dan dia juga mengatakan tidak melakukan apa-apa. Makanya sangat aneh," ucap Citra.
"Lalu menurut kamu bagaimana?" tanya Reval.
"Sepertinya ada yang sengaja yang ingin mengaganggu kak Reya dan kak Sean. Aku punya feeling tidak enak dan masalah bekal yang di anggap spele aku jadi merasa ada hal besar," ucap Citra yang mencurigai sesuatu.
"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Reval.
"Ya mau tidak mau aku harus bergerak pelan-pelan untuk menyelidiki apa yang terjadi. Menyelidiki masalah di antara mereka sampai menemukan titik terang," jawab Citra.
"Dengan cara?" tanya Reval.
"Aku akan bicara dengan kak Reya lagi dan siapa tau dia bisa tenang dan bisa lebih mengendalikan diri dan setelah aku juga punya rencana mau kekantor kak Sean ya pokoknya aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan," ucap Reya.
"Ya sudah sayang terserah kamu saja. Aku mendukung kamu saja yang terpenting kamu jaga kesehatan kamu dan juga bayi kita semoga masalah ini cepat selesai," ucap Reval yang mendukung dan memberi pesan untuk istrinya.
"Iya sayang. Terima kasih sudah mendukung ku," ucap Citra yang tersenyum pada Reval yang selalu memberinya dukungan.
Bersambung
__ADS_1