Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 200


__ADS_3

Mentari pagi tiba. Reya terlihat sedang memasak di dapur yang mana Reya terlihat bangun pagi dan mulai memasak.


"Reya!" tegur Citra.


"Eh Citra kamu sudah bangun? kamu butuh sesuatu?" tanya Reya.


"Tidak kok, aku tidak butuh apa-apa," jawab Citra yang menghampiri Reya.


"Oh begitu," sahut Reya dengan tersenyum.


"Kamu sedang masak apa?" tanya Citra.


"Ini sedang masak makanan untuk kak Sean dan juga kamu, aku membuatkan sup," jawab Reya.


"Kak Sean apa sakit, kok aku melihatnya tadi malam pucat dan sekarang juga tidak keluar kamar," ucap Citra yang khawatir pada kakaknya.


"Aku tidak mungkin mengatakannya pada Citra. Karena kak Sean masih melarang semua ini karena waktunya yang belum tepat," batin Reya.


"Reya kamu kenapa diam? ada apa dengan kak Sean?" tanya Citra heran dengan melihat diamnya Reya.


"Oh tidak apa-apa kok. Kak Sean hanya istirahat saja dan mungkin lagi mager untuk keluar kamar jadi dia tidak apa-apa. Kamu jangan khawatir," ucap Reya dengan tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu, Hmmm aku bantuin kamu memasak ya," ucap Citra.


"Tidak usah Citra aku sendiri saja," tolak Reya.


"Tapi aku ingin bantu, siapa tau saja aku nanti pintar memasak seperti kamu," ucap Citra dengan apa adanya yang memang ingin menjalankan hidupnya dengan normal dan makanya harus melakukan semuanya dengan semestinya. Agar Citra bisa bangkit kembali.


"Kamu yakin ingin membantuku?" tanya Reya. Citra menganggukkan kepalanya dengan samangat.


"Ya sudah kalau begitu," sahut Reya yang tidak masalah sala sekali.


"Makasih Reya," ucap Citra dengan semangatnya yang membantu Reya dengan mengerjakan apa yang bisa di kerjakannya dan Reya juga senang dengan Citra yang sekarang jauh lebih baik-baik saja dari sebelumnya.

__ADS_1


Ya memang bukan waktu yang tepat untuk Reya harus mengatakan siapa Sean dan lagi-lagi Reya hanya ingin Sean yang ambil alih untuk masalah itu. Karena dia tidak ingin ikut campur terlalu dalam walau Sean adalah suaminya.


Citra dan Reya tetap terlihat melanjutkan acara masak memasak mereka yang ke-2nya sama-sama terlihat sangat kompak.


"Reya kamu sangat beruntung ya," ucap Citra tiba-tiba sembari memotong sayur dan Reya sampai melihat kearah Citra ketika mendengar kata-kata itu.


"Beruntung dalam hal apa?" tanya Reya heran.


"Dalam segalanya. Kamu benar-benar sangat beruntung, di saat banyak musibah yang datang pada kamu. Kamu masih punya kak Sean yang benar-benar baik kepada kamu," ucap Citra.


"Apa yang kamu bicarakan Citra. Jadi maksud kamu kak Sean tidak ada bersama kamu saat masalah yang datang menghampiri kamu. Apa kamu mengatakan jika kak Sean meninggalkan kamu," ucap Reya.


"Tidak. Hanya saja kamu jauh lebih beruntung di bandingkan aku. Kita sama-sama hamil. Tetapi kamu lebih memilih untuk pergi saat itu karena tidak ingin mengganggu kak Sean dan kamu bisa mengatasi sendiri. Namun kak Sean yang mengejarmu dan sampai sekarang sangat bertanggung jawab kepadamu yang sangat berbeda dengan apa yang aku alami. Di mana aku di tinggalkan dan tidak ada yang bertanggung jawab," ucap Citra dengan wajahnya yang senduh dan kata-katanya yang terlihat sangat penuh luka saat mengatakan itu.


"Jujur Reya sebenarnya aku sangat iri kepada mu, di mana kamu bisa menjalani hari-hari mu dengan kebahagiaan, saling berjuang bersama-sama dengan kak Sean dan semuanya dan perjuangan kalian tidak ada yang sia-sia," ucap Citra.


"Reya melihat hubungan mu dan kak Sean tidak membuatku takut sama sekali saat mama tidak merestui hubunganku dengan Reval. Karena aku belajar dari kamu dan kak Sean yang mana ingin berjuang sama-sama dan pasti akan mendapatkan hasil seperti kalian. Tapi sayang semuanya hanya pemikiran ku saja. Aku sangat berusaha waktu itu banyak mengalah dengan Reval. Karena aku pikir tidak ada salahnya aku mengalah. Karena aku pikir kami berdua sama-sama saling mencintai. Eh ternyata tidak hanya aku yang terjebak dengan dan sementara dia hanya memanfaatkan ku saja," ucap Citra yang mengingat semua itu membuat hatinya terluka.


"Aku sangat lucu ya Reya jika mengeluh," ucap Citra yang tersenyum.


"Apa yang kamu bicarakan Citra, apa karma yang kamu maksud. Citra kamu sudah menyadari kesalahan kamu dan dari pada kamu menyesali apa yang terjadi dan membuat hidup kamu hanya tidak tentu arah. Lebih baik kita saling belajar untuk hidup yang lebih baik. Tidak ada karma untuk kamu Citra. Kamu juga jahat kepadaku itu karena kamu juga tidak bisa menerima kenyataan dan itu juga bukan salah kamu seperti apa yang kamu katakan. Itu kesalahan orang tua kita," ucap Reya.


"Reya kamu sangat baik dan aku sangat bahagia jika kak Sean bisa menemukan wanita sepertimu, aku sangat bahagia kak Sean bisa berdampingan denganmu karena aku melihat kak Sean sangat bahagia denganmu," ucap Citra dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Kamu juga sangat baik Citra. Tidak ada yang jahat dan aku juga yakin kamu juga akan menemukan laki-laki yang baik nanti yang menerima kamu apa adanya dan bisa mengarahkan kamu ke jalan yang lebih baik," ucap Reya yang berdoa dengan tulus untuk Citra.


"Semua itu mustahil Reya. Tetapi aku tetap harus mengucapkan terima kasih untuk doa kamu," ucap Citra dengan tersenyum dan Reya langsung memeluk Citra dengan erat.


"Aku ingin memanggilmu kak Reya. Tetapi aku tidak ingin panggilan itu justru mengingatkan hubungan darah antara kamu dan kak Sean. Maaf Reya aku tidak bermaksud untuk menyinggung masalah itu," ucap Citra yang merasa bersalah dengan menyinggung status Reya dan Sean.


"Kamu tidak perlu minta maaf Citra. Karena aku sama Sean tidak ada hubungan saudara," batin Reya.


**********

__ADS_1


Anggika hanya mengurung diri di dalam kamar karena kenyataan yang sulit di terimanya. Dengan Sean yang ternyata bukan anak kandungnya dan itu suatu hal yang tidak mudah baginya dan apalagi semenjak itu Sean belum menemuinya dan Anggika pasti takut kehilangan Sean. Sudahlah Citra tidak ingin bertemu dengannya dan sekarang Sean bukan anaknya. Jadi bagaimana Anggika tidak semakin stress.


tok tok tok tok


Pelayan rumah mengetuk pintu kamar Anggika dengan pelayan yang membawakan nampan untuk Anggika.


"Nyonya makanannya sudah siap!" ucap pelayan itu yang sejak tadi mengetuk-ngetuk pintu. Namun tidak ada respon dari Anggika yang membuat pelayan itu hanya terus memanggil sejak tadi.


"Nyonya! nyonya, nyonya harus makan sejak tadi pagi nyonya belum makan," ucap pelayan itu.


"Ada apa ini bi?" tanya Argantara yang berdiri di dekat bibi.


"Maaf tuan saya dari tadi memanggil-manggil nyonya Anggika dan sama sekali tidak ada respon. Saya hanya ingin mengantarkan makan siang. Karena nyonya tidak makan sejak tadi malam," jawab bibi.


Argantara menghela napasnya yang juga tau istrinya hanya diam saja. Bahkan bertemu dengan dirinya pun istrinya tidak mau sama sekali.


"Ya sudah tidak apa-apa. Biar saya yang masuk, berikan pada saya," ucap Argantara yang mengambil alih nampan itu dan pelayan memberikan saja.


"Kamu kembalilah bekerja," ucap Argantara.


"Baik tuan," sahut Bibi yang langsung pergi dan Argantara memutuskan untuk memasuki kamar istrinya untuk melihat keadaan Anggika.


"Anggika kamu makan dulu!" ucap Argantara yang melihat Anggika yang bersandar pada kepala ranjang dengan wajahnya yang sembab yang pasti Anggika hanya menangis terus.


"Untuk apa kamu peduli kepadaku. Kamu sudah menyembunyikan rahasia begitu lama selama ini. Jadi jangan sok peduli kepadaku, kamu sudah membuatku kehilangan dua anakku dan aku harus menanggung semua ini," ucap Anggika dengan suara seraknya yang habis karena menangis.


"Aku mengerti perasaanmu dan aku benar-benar minta maaf kepadamu. Tetapi semua sudah masa lalu, mau Sean anak kandung kita atau bukan. Dia tetap anak kita," tegas Argantara.


"Tetapi buktinya sampai sekarang Sean pergi. Dia tidak menemuiku sama sekali," ucap Anggika.


"Dia butuh waktu untuk menerimanya semua ini. Dia pasti sangat terkejut. Jadi biarkan waktu yang membawanya kemari dan percayalah tidak akan ada yang berubah," ucap Argantara yang mengingatkan sang istri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2