
Setelah mendapatkan perawatan yang cukup dan kondisi Reya yang membaik. Akhirnya Reya pulang juga kerumah. Kondis Reya yang baik dan sembuh sudah di perbolehkan Dokter untuk pulang.
Sean, Reval dan Citra yang menjemput Reya dari rumah sakit dan setelah melakukan perjalanan yang tidak terlalu jauh. Akhirnya mereka semua sudah sampai di depan rumah Reya. Rumah yang pasti sangat di rindukan Reya.
Sean langsung buru-buru keluar dari mobil, di susul oleh Reval yang langsung membuka bagasi mobil untuk menurunkan kursi roda. Karena Reya yang masih lemah untuk berjalan. Jadi mau tidak mau Reya harus memakai kursi roda.
Setelah itu Sean langsung menggendong istrinya ala bridal style dan mendudukkan istrinya di atas kursi roda dengan Reya yang tersenyum dan melihat di sekelilingnya.
Dari wajahnya sudah sangat kelihatan jika Reya sangat merindukan rumahnya dan dia pasti tidak menyangka akan berada di sana. Setelah cukup lama berada di rumah sakit dan cukup bosan dengan suasana di rumah sakit.
"Bagaimana kak Reya apa kak Reya bahagia?" tanya Citra.
"Iya Citra. Aku tidak percaya bisa pulang dengan cepat," jawab Reya dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Sayang ini rumah kamu dan pasti pemiliknya harus kembali. Kamu sangat merindukan tempat ini bukan dan setelah berjuang dari sakit kamu bisa kembali lagi kerumah ini," ucap Sean.
"Iya kamu benar, aku benar-benar tidak percaya. Aku sangat merindukan beraktivitas di rumah ini," jawab Reya dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita masuk. Karena di dalam sana ada yang lebih merindukan," sahut Reval.
"Iya ayo kita masuk!" ajak Citra.
Sean langsung mendorong kursi roda istrinya untuk memasuki rumah tersebut dan Reya sangat eksaitit sekali. Karena benar-benar begitu merindukan suasana yang sudah lama tidak di rasakannya.
2 daun pintu yang menjulang tinggi ke atas itu terbuka. Suara pintu yang terdengar oleh Anggika dan Argantara yang duduk di sofa dan melihat ke arah pintu.
Mereka sungguh terkejut melihat kedatangan Reya dan sampai dengan serentak mereka berdiri dan langsung menghampiri Reya.
"Reya!" lirih Anggika yang langsung memeluk Reya.
"Mama," sahut Reya yang juga merindukan Anggika
"Pah," Reya juga melihat papanya dan Argantara yang tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Alhamdulillah Reya kamu sudah pulang," ucap Anggika yang sudah melepas pelukan itu dengan memegang ke-2 pipi Reya.
"Iya mah, Reya sudah pulang," jawan Reya.
"Mama senang kamu akhirnya kembali. Makasih ya Reya kamu sudah berjuang melawan semuanya," ucap Anggika.
"Mama tidak perlu berterima kasih. Justru Reya yang berterima kasih dan minta maaf kepada mama, papa dan yang lainnya yang pasti selamat Reya di rumah sakit sudah merepotkan kalian semua," ucap Reya yang tidak tahan dengan air matanya yang juga jatuh.
"Kamu tidak perlu berterima kasih Reya. Karena itu sudah kewajiban kami dan kami semua sangat bahagia melihat kamu yang telah kembali. Kamu sangat kuat yang sudah berjuang begitu banyak. Kamu hebat sekali. Kamu anak papa yang sangat hebat," ucap Argantara dengan matanya yang juga bergenang.
"Makasih pah," sahut Reya. Orang-orang yang ada di sana juga terharu dengan situasi itu yang pasti terharu karena kebahagiaan yang ada.
Owe owe owe owe owe owe owe owe owe
Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi di tengah-tengah rasa ke haruan itu. Hati Reya bergetar mendengar suara tangis bayi yang semakin dekat itu dan ternyata baby siter yang menuruni anak tangga yang menggendong bayi itu.
Air mata Reya jatuh kembali dan melihat ke arah suaminya yang berdiri di sampingnya. Sean menganggukkan kepalanya seolah tau apa yang ingin di tanyakan Reya.
"Bu bayinya sejak tadi menangis. Makanya saya bawa kebawah," ucap Suster yang berbicara pada Anggika.
"Anakku," lirih Reya dengan bibirnya yang bergetar dan bahkan menjulurkan ke-2 tangannya yang ingin mengendong anak tersebut.
"Bagaimana dia tidak menangis dia tau jika ibunya sudah datang, berikan kepada-nya," ucap Anggika.
"Baik Bu," sahut Suster tersebut yang langsung memeindahkan gendongan itu kepada Reya dan Reya tidak hentinya air matanya keluar saat bayi kecil yang tampan itu sudah berada di gendongannya dan bayi itu bahkan diam saat berada di gendongan Reya.
"Ini anak kita?" tanya Reya pada Sean yang sudah berjongkok di samping Reya dengan satu lututnya yang menjadi penyanggah.
"Iya sayang, ini anak kita. Kamu sudah memperjuangkannya, kamu membuatnya melihat dunia ini, membuat kebahagiaan kepada semua orang, kamu bukan hanya istri yang sangat hebat tetapi seorang ibu yang benar-benar kuat," ucap Sean yang juga tidak dapat membendung air matanya.
Sean mencium pucuk kepala Reya dan merangkul istrinya itu yang masih menatap bayi mereka.
"Sayang maafkan mama ya. Mama sudah tidak ada di saat kamu menangis. Maafin mama sayang," ucap Reya.
__ADS_1
"Jangan meminta maaf Reya. Anak kita justru ingin berterima kasih kepada kamu. Karena dia telah di lahirkan dari rahim seorang ibu yang sangat baik," ucap Sean.
Reya tidak dapat berkata-kata lagi dan mencium lembut kening bayi itu. Keharuan semakin dalam saat semuanya merasakan kebahagiaan yang tidak akan bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
********
Malam hari kembali tiba Reya yang berada di atas tempat tidur yang sedang menidurkan bayinya yang berada di dalam gendongannya dan Sean yang baru masuk kamar langsung menaiki ranjang yang duduk di samping istrinya.
"Bagaimana apa dia sudah tidur?" tanya Sean.
"Sudah! Dia seperti sangat kekenyangan," jawab Reya.
"Bagaimana tidak kekenyangan untuk yang pertama kalinya dia meminum asi ibunya," jawab Sean.
"Kamu benar sayang, malang sekali nasib anakku ini," gumam Reya yang sangat terharu melihat bayinya.
"Sudahlah jangan seperti itu. Aku sudah mengatakan dia anak yang kuat sama seperti kamu. Jadi jangan kasihan kepadanya nanti dia marah," ucap Sean.
"Iya kak Sean benar," sahut Reya.
"Ya sudah berikan kepadaku, aku akan memindahkannya ke tempat tidurnya. Biar kamu juga bisa istirahat," ucap Sean.
"Nanti dulu, aku masih ingin menggendongnya dan lagian aku juga belum mengantuk," ucap Reya dengan suara manjanya yang tidak mau berpisah dengan bayinya.
"Ya sudah kalau begitu," sahut Sean yang pasti akan menuruti istrinya itu.
Sean juga ikut menemani Reya dengan merangkul Reya dan sama-sama melihat bayi mereka dengan wajah mereka yang sama-sama penuh dengan kebahagiaan.
"Dia sangat tampan, sama seperti kamu," puji Reya
"Banyak yang mengatakan seperti itu," sahut Sean yang sangat percaya diri.
Bersambung
__ADS_1