
Reya akhirnya sampai juga ketempat acara tersebut yang mana Reya langsung turun dari mobil dan langsung memasuki hotel. Reya masuki tempat acara yang sudah ramai di dan bahkan ada penguman penting yang di sampaikan yang membuat Reya berdiri di tempatnya yang melihat panggung dan terlihat ada Reval di sana.
"Untuk acara ulang tahun Universitas Jakarta tahun ini di adakan dengan sangat yang special. Di mana kita biasanya mengadakan acara tersebut di kampus dan sekarang kita rayakan bersama-sama di tempat yang spektakuler ini," ucap salah seorang Pria yang berbicara dengan hebohnya sehingga mendapatkan sambutan tepuk tangan yang meriah dan juga banyak sorakan para wanita-wanita.
"Dan di detik ini kita juga pasti akan memberikan selamat untuk Pak Reval, dosen tetap kita yang akan menjadi Dosen senior kita," lanjut Pria Ita yang mengangkat tangan Reval dan membuat sambutan tepuk tangan kembali meriah. Tampaknya semu murid-murid menyukai Reval dan sangat heboh dengan Reval yang di jadikan Dosen di kampus mereka.
Sama dengan Reya yang tersenyum melihat Reval dan juga ikut bertepuk tangan yang begitu bangganya dengan Reval. Ternyata Citra juga sama dia juga tersenyum pada Reval. Tampak tatapan Citra begitu tulus kepada Reval.
Awalnya dia sangat membenci dosennya itu yang semena-mena kepadanya. Tetapi Dosennya itu beberapa hari ini baik dan membuatnya ikut bahagia dengan Pria itu yang akan menjadi Dosen tetap di kampusnya.
Namun Citra yang memperhatikan Reval tiba-tiba heran melihat Reval yang tersenyum kepada suatu Arah. Siapa lagi yang jika di senyumi Reval adalah Reya. Citra yang terus memperhatikan hal itu perlahan mencari ke arah mana Reval tersenyum dan Reya yang tiba-tiba berdiri di tempatnya mendapat telpon dan langsung pergi dan untung saja tidak jadi melihat Reya.
"Aneh sekali!" batin Citra heran dan kembali melihat Reval dengan tersenyum.
Namun kali ini bukan Citra yang heran. Namun Barra yang berdiri di samping Citra yang memperhatikan wajah Citra yang tersenyum seperti tidak ada masalah sama sekali.
"Citra!" tegur Barra. Citra tidak merespon dan malah Diam.
"Citra!" tegur Barra lagi dan akhirnya Citra tersentak kaget.
"Iya kenapa?" tanya Citra.
"Aku dari tadi menegur kamu. Kamu malah fokus pada Reval, senyum-senyum segala lagi," ucap Barra dengan wajah kesal.
"Aku tidak sadar kamu memanggilku. Lagi pula aku hanya mendengarkan apa yang di depan dan memang harus fokus bukan," sahut Citra dengan santai.
"Ya tapi nggak harus senyum-senyum juga padanya," sahut Barra kesal.
"Apa sih Barra. Masa iya masalah senyum jadi masalah besar. Lagi pula apa senyum adalah kesalahan," sahut Citra yang merasa Barra itu sangat aneh. Barra tidak menjawab lagi. Dari pada mereka nanti ribut lagi.
"Ehemmm!" tiba-tiba Regina dan Rose menghampiri mereka.
__ADS_1
"Kenapa wajah kalian ber-2 masem seperti ini hah?" tanya Rose.
"Iya benar, bukannya kalian sudah baikan dan kesalahpahaman sudah tidak ada lagi dan iya aku juga minta maaf, beberapa hari ini membuat kaki Citra kesal denganku dan ini sebagai tanda permintaan maaf ku," sahut Regina tersenyum yang memberikan Citra segelas jus.
Citra masih diam yang tidak langsung mengambil jus tersebut.
"Kamu masih marah padaku Citra?" tanya Regina dengan wajahnya yang seolah ingin di kasihani.
"Citra sudahlah kamu tidak boleh menolak niat baik Regina," sahut Barra yang mencoba untuk membujuk Citra.
"Sudah terima aja," sahut Rose yang juga ingin sahabatnya baik-baik aja.
"Baiklah!" Citra menerima minuman itu membuat Regina tersenyum dan Barra juga tersenyum penuh dengan arti, "aku mengambilnya. Karena Pak Reval tidak jadi menukar nilaiku padamu dan masalah kemarin aku mencoba berpikir. Semuanya tidak ada apa-apa dan baik-baik saja. Dan aku akan melupakan semuanya," lanjut Citra.
"Makasih Citra kamu memang sahabat yang terbaik untukku," sahut Regina.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita cheers," sahut Rose mengangkat minuman dan mereka langsung mengangkat gelas masing-masing dan bumi dentingan gelas yang mana mereka sudah cheers dan sama-sama meminum, minuman mereka masing-masing.
Rose hanya tersenyum yang memang tidak tau apa-apa dan menurutnya semuanya baik-baik saja. Ternyata ada sesuatu yang tidak di ketahuinya.
"Malam ini kau akan jadi milikku Citra," batin Barra.
"Setelah aku berhasil melaksanakan apa yang di katakan Barra. Aku dan Barra akan bersama dan dia akan memutuskan Citra. Aku tidak peduli Citra marah atau membenciku dan persahabatan kami selesai yang penting aku bersama Barra dan menjadi wanita satu-satunya untuk Barra," batin Regina yang tersenyum yang sudah tidak sabaran dengan rencananya yang akan berhasil sebentar lagi.
Pasti minuman yang di minum Citra sudaha di campur obat sebelumnya. Obat yang di berikan Barra kepada Regina. Regina mengambil kesempatan mencampurnya setelah Rose tadi tidak ada di dekatnya dan sekarang minuman itu sudah tercampur dengan obat.
*********
"Hallo Sean!" sahut Reya yang mengangkat telpon dari Sean yang sedikit menjauh dari acara tersebut.
"Kamu di mana Reya. Kenapa aku mendengar suara musik yang keras?" tanya Sean yang mendengarkan suara DJ yang sangat keras. Bahkan Sean berpikiran Reya ada di Club.
__ADS_1
"Aku lagi sedang menghadiri acara teman aku yang aku bilang kemarin," jawab Reya. Sebelumnya memang minta izin pada Sean dan Sean pasti memberinya izin.
"Oh itu, memang acara apaan, kenapa berisik sekali?" tanya Sean.
"Peresmian teman aku menjadi Dosen dan acaranya di adakan di hotel. Memang berisik. Karena ini juga sekalian cara ulang tahun kampusnya. Ya berisik memang suasananya," jawab Reya yang berbicara sedikit menguatkan Volume suaranya.
"Memang kampus apa yang ulang tahun di adakan di hotel?"tanya Sean yang merasa berlebihan.
"Universitas Jakarta," jawab Reya.
Sean yang menelepon jauh di sana kaget mendengarnya. Yang pasti Sean tau itu kampus apa dan apa lagi jika bukan kampus adiknya.
"Sean kamu masih mendengarku?" tanya Reya yang tidak mendengar suara Sean lagi.
"Reya kamu ada di sana?" tanya Sean dengan terkejut.
"Iya memang kenapa?" tanya Reya.
"Reya itu kampusnya Citra," jawab Sean yang membuat Reya terkejut, "Astaga aku juga lupa. Citra baru mengirim pesan padaku dan dia sedang menghadiri acara ulang tahun kampusnya," jelas Sean dengan suara paniknya yang membuat Reya juga ikutan panik dengan wajahnya yang penuh dengan kecemasan.
"Kamu serius?" pekik Reya yang benar-benar sangat shock.
"Aku serius Reya. Reya sekarang kamu pulang. Kamu bisa bertemu dengan Citra. Reya aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kamu. Jadi kamu sebaiknya pulang," ucap Sean dengan wajah paniknya yang mengingatkan Reya untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Baik Sean aku akan secepatnya pulang," sahut Reya yang setuju. Karena dia juga panik dan tidak ingin ketahuan Citra.
"Ya sudah kamu hati-hati. Jangan sampai Citra menemuimu," ucap Sean.
"Iya aku tutup telponnya dulu. Kamu jangan khawatir aku akan baik-baik saja," ucap Reya.
"Aku percaya padamu," sahut Sean dan Reya buru-buru mematikan panggilan telpon tersebut dengan Reya yang mengatur napasnya dan wajahnya yang penuh dengan kepanikan.
__ADS_1
Bersambung