
Citra duduk dari tidurnya yang terus berada di atas ranjang rumah sakit yang mana terlihat Citra masih sedih karena kehilangan bayinya. Saat Citra ingin turun dari ranjang. Anggika tiba-tiba memasuki ruang perawatan Citra.
"Mamah," sahut Citra. Anggika tersenyum dan menghampiri Citra dengan membawa kantung plastik yang sejak tadi di pegangnya.
"Mama membawakan kamu makanan. Kita makan ya," ucap Anggika. Citra mengangguk dan Anggika langsung menyiapkan makanan untuk putrinya itu, lalu mengambil kursi dan duduk di samping Citra.
"Makan yang banyak. Supaya kondisi kamu membaik," ucap Anggika memeberikan pada Citra. Satu box makanan.
"Makasih mah," sahut Citra tersenyum tipis yang mengambil makanan itu. Anggika menghela napas dengan membeli rambut putrinya itu.
"Mama juga makan. Bukannya mama bilang kita makan bersama," ucap Citra.
"Iya. Kita memang makan bersama. Mama akan makan sama dengan kamu," sahut Anggika yang tersenyum dan juga ikut makan bersama dengan Citra.
Citra jauh lebih baik dari Reya dan mungkin sudah menerima musibah yang di hadapinya. Dia memang harus kuat.
"Sewaktu aku tau aku dan Reval adalah saudaraan. Aku sempat frustasi dengan hubungan kami," ucap Citra tiba-tiba yang memulai pembahasan sembari makan.
"Aku tidak bisa menerima hubungan itu. Itu sangat aneh, aku mengingat kak Sean dan Reya dan itu terjadi padaku. Aku tidak bisa menerima kenyataan. Jika aku dan Reval sedarah dan bahkan aku telah mengandung anaknya. Aku juga takut dengan anak yang aku kandung, aku benar-benar frustasi dengan pemikiran yang kemana-mana dan aku sempat mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan kehamilanku," ucap Citra yang curhat pada mamanya.
"Dan sekarang aku baru menyadari. Jika tuhan sedang menghukumku. Aku yang punya masalah dengan Reval. Tetapi aku mengorbankan janin yang ada di rahimku dan tuhan benar-benar mengambilnya dan ini akan membuatku menyesal dan merasa bersalah seumur hidup," ucap Citra dengan matanya yang berkaca-kaca yang merasa bersalah dengan semua yang terjadi.
__ADS_1
"Ternyata kehilangan janin yang ada di rahim kita, itu sangat menyakitkan di bandingkan semua yang aku alami selama ini dan hal itu sangat menakutkan. Karena Citra sendiri pernah tidak menginginkannya," ucap Citra.
Anggika langsung menyeka air mata Citra yang akhirnya jatuh dengan mengusap-usap bahu Citra untuk memberikan Citra kekuatan atas musibah yang di hadapinya.
"Mama mengerti perasaan kamu dan semua ini bukan salah kamu. Kamu pernah tidak menginginkannya dan kamu menyesali hal itu dan bukan berarti Tuhan menghukum kamu dengan mengambil bayi kamu. Bukan berati itu hukuman untuk kamu yang di buat kehilangan dengan penuh penyesalan. Citra ini adalah musibah dan kita tidak tau musibah itu datang dengan seperti apa dan kapan datangnya. Bagi mama kamu dengan kamu yang mejalani semuanya, berjuang sendirian itu sudah sangat hebat dan sekarang kamu kehilangan bayi kamu itu juga pasti ada hikmahnya. Jangan pernah merasa bersalah, kamu sudah melakukan yang terbaik," ucap Anggika yang mencoba untuk menenangkan Citra yang kembali sedih.
Citra menarik napasnya panjang dan membuangnya kedepan dengan perlahan. Lalu menyeka air matanya dengan mengukir senyum tipis di wajahnya
"Mama benar, semua ini ada hikmahnya dan Citra akan menerima takdir ini lagi. Karena rencana Tuhan jauh lebih indah dan anak yang sempat di rahim Citra. Sudah bahagia di atas sana. Semua ini pasti ada hikmah yang jauh lebih indah," ucap Citra dengan tersenyum yang menunjukkan jika dia sangat kuat.
Anggika tersenyum dengan membelai-belai rambut Citra, "kamu jangan sedih lagi ya. Kamu harus menjalankan hidup kamu. Hidup kamu masih panjang dan masih banyak kebahagian ada di depan kamu," ucap Anggika.
"Iya sayang," sahut Anggika yang tersenyum.
"Oh iya mah, bagaimana keadaan Reya?" tanya Citra.
"Kakak mu masih terus bersamanya. Dia pasti sangat terpukul dan mama juga yakin dia akan kuat dalam menerima kenyataan itu. Mama belum bisa bicara kepadanya. Karena dia masih sedih. Jadi biarkan saja kakakmu yang di sisinya yang menguatkan dirinya," jawab Anggika.
"Aku sangat berharap kak Sean dan Reya di beri ketabahan dan kekuatan," sahut Citra yabg tidak lupa memberikan doa untuk kakaknya.
"Iya sayang, kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua," sahut Anggika dengan tersenyum dan Citra pun merasa jauh lebih baik yang kembali melanjutkan makan bersama Anggika.
__ADS_1
********
Erina yang memakai pakaian penjara dengan ke-2 tangannya yang di borgol kedepan yang sekarang sedang di bawa dua polisi wanita kedalam ruangan pengunjung.
Ruangan penunggu itu terbuka dan ternyata yang ingin mengunjungi Erina adalah Anggika yang duduk di tempatnya dan melihat Erina yang berdiri di depan pintu.
"Masuk!" pinta Polisi yang mendorong pelan Erina untuk masuk dan dengan malas Erina langsung duduk dan Polisi itu menjaga di luar.
"Untuk apa kau datang kemari? kau ingin menertawakanku?" tanya Erina dengan sinis.
"Jika aku dirimu. Maka mungkin iya. Aku akan tertawa karena melihatmu seperti ini. Tetapi aku bukan dirimu," sahut Anggika.
"Begitukah. Jangan merasa menang Anggika. Meski aku di penjara. Tetapi aku tidak kalah dan kau tidak akan pernah menang," ucap Erina seperti orang yang tidak merasa bersalah sama sekali.
"Terserah apa yang kau katakan. Aku hanya mengatakan kepadamu. Jika aku tidak pernah bertanding denganmu dan soal menang dan kalah. Aku rasa sampai kapanpun kau tidak akan pernah menang sama sekali," sahut Anggika yang menanggapi kata-kata Erina dengan berkelas. Namun Erina mendengarnya tersenyum.
"Apa katamu. Aku tidak menang. Anggika buka matamu dan lihat semua ini. Aku sudah merebut suamimu. Aku tidur dengan suamimu di malam pengantin kalian, dia berselingkuh darimu dan rela diam-diam hidup bersamaku demi anakku dan iya kamu merasa menang di mananya. Karena dia menceraikanku dan membuangku bersama Reya. Kamu tidak menang di sana dan lihat balasan yang aku berikan kepadamu. Jika putrimu harus tidur bersama kakak kandungnya sendiri. Kau masih sanggup melihat semua itu dan masih menyombongkan dirimu seperti sekarang ini. Sadar Anggika bukan hanya kau yang ku hancurkan. Tetapi 2 anakmu yang ku hancurkan dan kau mengatakan aku kalah dan kau menang," ucap Erina dengan menyunggingkan senyumnya yang mengejek Anggika. Namun Anggika hanya menanggapi dengan tersenyum tipis.
"Erina dengan kau mengatakan semua ini kepadaku. Kau sudah menunjukkan kekalahan mu. Walau aku tidak pernah bertanding denganmu. Aku tidak mempermasalahkan malam pertamaku yang di gantikan olehmu. Jika tidak ada malam itu. Aku tidak akan bisa melihat penderitaan mu sekarang ini. Aku tidak peduli dengan kau berselingkuh dengan suamiku. Jika kau tidak berselingkuh. Aku tidak akan melihat Citra dan Reya yang ternyata anak-anak yang sangat hebat. Aku tidak akan pernah melihat Reya yang sebagai wanita yang di cintai anakku. Dan jangan berpikir Erina dengan semua yang kau lakukan membuatku jatuh tidak Erina. Karena kita berdua tidak satu kelas. Kau jauh di bawahku sehingga ini tempat yang pas untukmu," ucap Anggika dengan santai sembari tersenyum yang membuat Erina mengepal tangannya dengan saling bertatapan mata tajam dengan Anggika.
Bersambung.
__ADS_1