
Rose terus memperhatikan penampilan Regina yang menurutnya ada yang berbeda.
"Kamu kenapa Rose. Kok melihat ku seperti itu?" tanya Regina dengan wajahnya yang penuh dengan rasa khawatir.
"Kamu dari mana sih kok berantakan amat, rambut kemana-mana, pakaian kamu juga kusut dari mana sih," ucap Rose yang mencurigai Regina yang membuat Regina begitu gugup dan terlihat sangat gelisah.
"Gawat bagaimana ini. Kenapa rose menayakan hal itu," batin Regina yang sangat gugup dengan menelan salivanya yang tidak tau harus menjawab apa.
"Masa iya sih," sahut Regina yang langsung merapi-rapikan pakaiannya dan juga rambutnya yang tanpa di sadari nya memang sangat berantakan
"Tuh kancing kemeja kamu sampai terbuka," ucap Rose mengingatkan. Regina semakin gugup dan langsung buru-buru memperbaiki salah satu kancing kemejanya.
"Dari mana sih, kenapa berantakan seperti ini?" tanya Rose lagi yang masih menunggu jawaban dari Regina.
" Oh itu. Aku. Aku tadi habis jatuh. Makanya bisa seperti ini, aku juga tidak sempat beres-beres makanya jadi berantakan," ucap Regina yang mencari alasan agar Rose tidak mencurigainya.
"Jatuh di mana?" tanya Rose yang begitu curiga dan ingin tau.
"Di sana!" tunjuk Regina pada sembarang tempat.
"Masa iya jatuh sampai kayak gini," sahut Rose yang tidak percaya.
"Sudah ya Rose, aku pergi dulu.Aku ada kelas. Aku harus buru-buru, Daaaaa," ucap Regina yang dengan paniknya yang langsung meninggalkan Rose begitu saja yang padahal Rose belum selesai dan masih banyak yang ingin di tanyakannya.
"Aneh sekali. Kenapa dia buru-buru. Kenapa sih aku merasa kalau Regina akhir-akhir ini benar-benar sangat aneh. Seperti ada sesuatu gitu yang di sembunyikannya. Tetapi apa ya. Lagian dia itu sering banget belakangan ini sama Barra dan sering tidak fokus," batin Rose yang mencurigai Regina.
"Ada apa ya sebenarnya. Bukannya memikirkan masalahnya dengan Citra dia malah terlihat seperti tidak peduli dan ada sesuatu," Regina bergerutu sendiri di hatinya yang penuh tanda tanya dengan Regina yang berubah sikap belakang ini.
__ADS_1
"Argggghhh sudahlah. Lagian apa urusannya kepadaku. Biarin aja jika dia mau berbuat apa juga. Palingan nanti kalau ada apa-apa aku juga yang di minta tolongin," ucap Rose yang masa bodo dan juga meninggalkan tempat tersebut yang langsung pergi.
Sementara Regina duduk di salah satu bangku yang ada di kampus. Regina duduk yang sepertinya begitu gelisah dengan napasnya yang tidak stabil dan belum lagi kedua tangannya yang saling mengatup dan begitu terlihat cemas.
"Bagaimana jika Citra tau hubunganku dan Barra. Apa yang akan di lakukan Citra kepadaku nanti. Aku tidak membayangkan bagaimana nasibku dan Barra apakah Barra akan membelaku," batin Regina yang baru kepikiran dengan hubungannya dengan Barra.
"Regina kamu kenapa berani sekali mencari gara-gara dengan Citra. Kau bahkan mengenal kakaknya dan kau sangat berani berhubungan dengan Barra. Apa yang harus aku lakukan. Aku juga tidak mungkin selesai dengan Barra begitu saja. Apa lagi aku sudah menyerahkan seluruh tubuhku kepadanya. Tetapi aku juga takut dengan semua ini. Aku takut Citra tau," Regina bergerutu sendiri di hatinya.
Dia menyadari semua kesalahannya dan telah menghiyanati Citra. Namun dia sudah mulai menginginkan Barra dan terlihat takut. Kalau Barra juga akhirnya meninggalkannya. Regina tidak tau saja kalau Barra hanyalah memanfaatkan dirinya.
"Rose juga sekarang Rose terlihat mencurigaiku. Bagaimana jika Rose tau hubunganku dan Barra. Apa lagi tadi dia terus bertahan dengan mengintimidasi ku. Aku yakin pasti dia mencurigaiku," batin Regina yang memang sangat takut.
"Regina!" tiba-tiba terdengar suara yang mengejutkan Regina dan membuat Regina melihat ke arah suara itu yang ternyata adalah Reval Dosennya.
"Pak Reval," ucap Regina terkejut dan langsung berdiri dengan menundukkan kepalanya.
"Ma-maksud bapak apa?" tanya Regina heran dengan pertanyaan Reval yang seharusnya tidak mempertanyakan hal itu.
"Saya melihat kamu begitu gugup. Apa terjadi sesuatu pada kamu?" tanya Reval yang melihat Regina dengan penuh selidik dan regina semakin gugup dengan tangannya yang memegang ujung dressnya.
"Tidak kok pak, kenapa bapak bilang seperti itu? memangnya saya kenapa?" sahut Regina yang berusaha untuk tenang.
"Saya hanya menduga-duga saja. Kamu seperti orang yang merasa bersalah. Dan seperti merasa bersalah pada Citra," ucap Reval yang mengejutkan Regina membuat tangan Regina di bawah sana memegang kuat dressnya.
"Bagiamana tidak merasa bersalah. Bukannya karena kamu Citra harus menggantikan hukuman kamu," sahut Reval dengan tersenyum penuh arti membuat Regina menghela napasnya.
Regina sudah berpikiran jika Reval tau semuanya. Namun ternyata maksud dari pembicaraan Reval adalah masalah nilai Regina.
__ADS_1
"Atau kamu tidak merasa bersalah sama sekali?" tanya Regina.
"Merasa bersalah kok pak," sahut Regina dengan cepat.
"Benarkah?" tanya Reval.
"Iya Pak, saya merasa bersalah dan seharusnya Citra tidak menanggung kesalahan saya," sahut Regina menunduk.
"Apa kamu merasa seperti seorang penghiyanat?" tanya Reval yang lagi-lagi kata-kata Reval penuh dengan arti membuat Regina semakin dek-dekan.
"Maksud bapak apa?" tanya Regina dengan gugupnya.
"Tidak apa-apa. Lupakan saja. Regina jika seorang sahabat begitu baik kepada kamu. Jangan di manfaatkan kebaikannya dan sahabat kamu tidak akan berpikiran apa-apa. Karena merasa kamu sangat polos. Sekedar menyarakan jangan di lanjutkan sesuatu yang merugikan kamu," ucap Reval dengan kata-kata yang penuh arti.
Regina mendengarnya penuh dengan kebingungan dengan menelan salivanya dan begitu takut di depan Reval.
"Baiklah. Semoga kamu memahami apa yang saya katakan. Saya tunggu di ruangan saya. Karena kamu juga harus mendapat konsukuensi atas lalai dalam kelas saya. Kamu harus bertanggung jawab bukan," ucap Reval.
"Iya pak saya akan bertanggung jawab dan Citra tidak bisa mengambil alis semua kesalahan saya," sahut Regina.
"Bagus kalau begitu. Kamu memang harus mengurangi sedikit-sedikit kesalahan kamu. Baiklah kalau begitu saya tunggu di ruangan saya. Jangan sampai tidak datang dan iya ruang praktek untuk belajar ya bukan untuk yang lain," ucap Reval yang langsung pergi dengan mengeluarkan kata-kata yang penuh arti.
Regina hanya menganggukan kepalanya dan menghela napas panjang setelah kepergian Reval dengan memegang dada nya yang mana jantungnya berdebar tidak menentu.
"Apa yang aku takutkan. Tidak aku tidak menakutkan apa-apa. Kamu harus tenang Regina. Pak Reval membicarakan masalah nilai kamu dan Citra bukan masalah kamu dan Barra. Apa maksud pak Reval tadi ya?" batin Regina yang seolah merasa jika Reval mengetahui hubungannya dengan Barra. Tetapi Regina hanya berusaha untuk berpikiran positif saja. Agar semuanya benar-benar baik-baik saja.
Bersambung
__ADS_1