Terjerat Scandal Cinta Saudara

Terjerat Scandal Cinta Saudara
Bab 88 Pengaduan Reya.


__ADS_3

"Masalah apa?" tanya Reya yang sangat penasaran.


"Regina tidak mengikuti kelas penting dosennya dan meminta bantuan Citra untuk meminta maaf. Tetapi dosennya salah paham dan akhirnya Citra menggantikan hukuman Regina," jawab Sean dengan menjelaskan apa yang di dengarnya dari Citra.


"Sungguh seperti itu?" tanya Reya yang begitu kaget.


"Iya dan aku sudah terus mengingatkan Citra masalah Regina. karena dia juga pernah menipuku dan juga menjebakmu. Tetapi sepertinya Citra tidak akan pernah mendengarkanku dan menganggap apa yang di lakukan Regina waktu itu kesalahannya. Ya aku akui itu kesalahan Citra. Tetapi aku berharap Citra tidak berhubungan lagi dengan wanita itu," ucap Sean.


"Dia memang tidak baik Sean. Aku, aku," sahut Reya yang kelihatan sangat ragu mengadukan apa yang di pikirannya pada Sean.


"Aku apa Reya?" tanya Sean yang menunggu lanjutan kalimat Reya. Yang mana saat ini Reya terdiam.


"Reya apa kamu menyembunyikan sesuatu dari ku?" tanya Sean merasa ada yang tidak beres dengan Reya.


"Sean aku melihat Regina dan Barra bersama," ucap Reya yang akhirnya jujur yang membuat Sean terkejut dan melihat Reya dengan serius .


"Apa maksud kamu? Regina dan Barra bersama. Maksudnya? tanya Sean heran.


"Sean ternyata Barra salah satu penghuni unit Apartemen tempatku tinggalku dan aku melihat Regina dan Barra sudah dua kali di sana dan memasuki salah satu unit Apartemen dan aku juga sudah cek itu milik Barra," kelas Reya yang akhirnya menceritakan pada Sean.


"Jadi Barra juga tinggal di gedung yang sama dengamu?" tanya Sean yang masih terkejut.


"Aku juga tidak tau hal itu. Aku hanya melihat mereka bersama dan masuk salah satu Apartemen dan aku ingin mengatakannya padamu. Namun belum sempat dan untuk yang ke-2 kalinya aku melihat mereka lagi dan aku memutuskan untuk menyelidikinya dan iya ternyata benar Barra tinggal di gedung yang sama denganku," jelas Reya yang berbicara yang sangat terlihat begitu khawatir.


"Kamu yakin?" tanya Sean yang sungguh sangat terkejut dan masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Reya.


"Aku yakin Sean dan aku jelas-jelas melihat mereka dan tidak mungkin salah dan ini sudah yang ke-2 kalianya. Seperti yang aku katakan. Aku mau mengatakannya kepadamu. Tetapi belum ada kesempatan. Aku baru bisa mengatakannya saat ini dan jujur aku sangat mengkhawatirkan Citra," ucap Reya dengan serius bicara dengan penuh kepanikan.


Sean jadi kepikiran dengan apa yang di katakan Reya dan Sean juga sangat khawatir pada adiknya yang mana mempunyai kekasih dan ternyata oh ternyata.


"Dan sepertinya hubungan Regina dan Barra bukan hubungan biasa," sahut Reya melanjutkan dengan apa yang dipikirkannya.


"Maksud kamu?" tanya Sean.


"Aku merasa mereka juga pacaran. Karena aku bisa melihat kedekatan mereka. Pasti mereka berhubungan di belakang Citra. Kalau tidak tidak mungkin Regina memasuki Apartemen Barra dan kata-kata Barra yang aku dengar saat itu sudah menjelaskan hubungan di antara mereka sangat dekat," lanjut Reya yang berdasarkan pemikirannya yang membuat Sean mengepal tangannya yang mulai emosi.


"Memang apa yang kamu dengar?" tanya Sean penasaran dengan menekan suaranya.


"Aku mendengar dari mulut Barra. Jika dia tidak menyukai Citra dan hanya menyukai Regina. Dia sangat mempermainkan Citra," jawab Reya dengan apa adanya yang memang kenyataan yang telah di dengarnya.


"Kurang ajar!" umpat Sean dengan penuh emosi mendengar laporan dari Reya yang membuat emosinya menggebu-gebu yang sudah tidak sabaran ingin menghabisi Barra yang berani mempermainkan adiknya.


"Sean aku khawatir pada Citra. Makanya menyampaikannya kepadamu. Aku tau kamu terkejut. Aku sangat yakin Barra punya niat yang jahat pada Citra dan Regina juga wanita yang tidak baik. Aku melihat Regina juga sepertinya di manfaatkan oleh Barra," ucap Reya.


"Aku akan bicara pada Citra masalah ini. Wanita itu memang tidak baik aku memberinya pelajaran sama dengan pri bajingan itu, aku tidak akan mengampuni mereka berdua,"ucap Sean dengan penuh emosi yang pasti ingin memberi Barra pelajaran dan juga Regina.


"Memang apa yang akan kamu lakukan?" tanya Reya yang penasaran.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan dan kamu lihat akan aku akan sampaikan kepada Citra," jawab Sean yang dengan cepat bertindak.


"Aku rasa itu bukan jalan dan rencana yang tepat," sahut Reya yang kelihatan tidak setuju.


"Maksud kamu?" tanya Sean.


"Sean bukannya kamu sendiri yang mengatakan. Jika Citra itu sangat mencintai Barra dan sangat memebela Regina mati-matian. Jadi mana mungkin Citra mendengarkanmu. Jika kamu tidak ada buktinya dan iya jika kamu mengatakan melihat Barra dan Regina. Pasti Citra banyak bertanya dan pasti mencurigai kamu dan terakhirnya dia juga akan tau hubungan kita," ucap Reya yang merasa usaha Sean hanya akan sia-sia saja dan malah memperkeruh suasana.


Sean terdiam dan terlihat memikirkan apa yang di katakan Reya.


"Sean kita perlu bukti untuk Citra agar dia percaya," ucap Reya.


"Aku tidak perlu bukti Reya. Aku pastikan pria itu akan mendapatkan pelajaran dariku. Karena berani mempermaikan Citra. Aku akan membawanya kepada Citra untuk mengakui perbuatannya," sahut Sean dengan wajahnya yang memerah yanga sangat dendam pada Barra dan tidak ingin bertele-tele dalam menghadapi Barra.


"Kamu tenangkan diri dulu Sean. Jangan sampai kamu gegabah dan nantinya akan mempengaruhi hubungan kamu dengan Citra. Kita sebaiknya mencari bukti yang akurat untuk membuat Citra sadar, aku sangat mengerti dengan apa yang kamu cemaskan. Tetapi semua ini juga tidak akan ada hasilnya. Jika kamu tidak pelan-pelan mengatasinya," ucap Reya yang memberikan saran pada Sean agar Sean tidak terbawa emosi dan bisa berpikir dengan tenang.


"Itu sangat lama Reya. Aku tidak mau sampai Citra kenapa-kenapa nantinya," sahut Sean yang sangat Khawatir.


"Aku tau Sean. Tapi percuma kamu melakukan ini itu tidak ada gunanya. Kamu harus tenang dalam menghadapinya. Orang yang jatuh cinta itu buta Sean dan percuma kamu bicara pada Citra. Belun tentu dia mendengarkan mu," ucap Reya memberi masukan.


Sean mendengar perkataan Reya sepertinya masuk akal. Sean membuang napasnya perlahan kedepan yang mencoba untuk tenang walau sebenarnya tidak bisa tenang.


"Baiklah aku akan mengikuti saran kamu," sahut Sean membuat Reya Tersenyum.


"Kamu sabar ya. Kita tidak akan membiarkan terjadi hal buruk pada Citra, aku yakin semua akan baik-baik saja," ucap Reya.


"Terima kasih Reya kamu sudah memberitahuku. Aku sangat senang melihat kamu yang khawatir pada Citra," ucap Sean yang lega dengan pengaduan Reya.


"Sama-sama Sean aku tidak mungkin tinggal diam. Jika melihat Citra seperti ini," sahut Reya tersenyum.


"Baiklah! kita akan bahas masalah ini nanti, sekarang kita makan lagi, jangan mengobrol terus!" ucap Sean.


"Baiklah! tetapi aku mau ke toilet dulu," ucap Reya berdiri dari tempat duduknya.


"Jangan lama-lama," ucap Sean. Reya mengangguk dan langsung pergi dari tempat itu.


"Awas kau Barra. Kau akan berhadapan denganku. Karena berani macam-macam dengan Citra. Aku tidak akan mengampuni mu," batin Sean mengepal tangannya yang pasti tidak akan tinggal diam. Jika terjadi sesuatu kepada adiknya. Untung saja Reya sudah menceritakannya dengan Sean. Jadi Sean bisa lebih memperhatikan Citra dan mengawasi Citra.


********


Ditempat yang sama ternyata mobil Alphard hitam berhenti di depan Restaurant itu dan ternyata wanita yang ada di dalamnya adalah Anggika yang sedang di setiri oleh supir pribadinya.


"Sebentar ya pak, saya ambil pesanan saya kedalam dulu," ucap Anggika.


"Baik buk," sahut pak supir. Anggika langsung turun dari mobil dan langsung memasuki Restaurant tersebut.


Anggika langsung menuju kasir tempat pemesanan makanan yang mana sebelumnya Anggika sudah memesan makanan dan sekarang tinggal mengambilnya.

__ADS_1


"Sebentar ya Bu. Ibu bisa duduk sebentar," ucap pelayan itu dengan ramah.


"Baiklah kalau begitu," sahut Anggika yang melihat-lihat tempat duduk dan tiba-tiba matanya melihat Sean yang ada di sana.


"Sean!" lirih Anggika yang langsung menghampiri Sean yang makan sendirian. Anggika sampai di meja Sean dan Sean masih makan dan tidak menyadari keberadaan Anggika.


"Sean!" tegur Anggika membuat Sean terkejut dan langsung melihat ke arah suara itu dan dua semakin terkejut dengan menelan salivanya yang melihat keberadaan mamanya.


"Mama!" ucap Sean dengan terkejutnya dan langsung berdiri.


"Kamu di sini juga?" tanya Anggika.


"Oh iya aku di sini. Mama ngapain di sini?" tanya Sean dengan gugup dengan wajah yabg sangat cemas.


"Mama sedang menunggu makanan yang mama pesan mau membawakan untuk papah," jawab Anggika.


"Oh begitu rupanya," sahut Sean yang begitu gugup.


"Gawat bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan. Bagaimana jika Reya datang, semuanya bisa berantakan," batin Sean yang begitu khawatir.


"Kamu sendirian?" tanya Anggika dan Sean terdiam yang bingung harus menjawab apa. Anggika melihat bangku di sebelah Sean ada tas wanita dan juga ada makanan di atas meja yang menjelaskan Sean pasti tidak sendirian.


"Mana mungkin sendirian ada wanita ternyata," sahut Anggika membuat Sean sangat terkejut.


"Siapa wanitanya?" tanya Anggika.


"Oh itu, itu hanya...." Sean berbicara terbata-bata yang tidak bisa menjawab pertanyaan sang mama.


"Klien maksudnya?" sahut Anggika.


"Oh iya benar mah, aku lagi meeting bersama klien di sini dan kebetulan lagi di kamar mandi," sahut Sean yang akhirnya mendapatkan alasannya.


"Hmmm begitu rupanya. Ya sudah mama tunggu di sini saja. Tidak mengganggu kamu kan?" tanya Anggika.


"Tidak kok mah, ayo duduk!" sahut Sean dengan paniknya dengan adanya mamanya yang satu meja dengannya.


Sean melihat ke meja di pinggir meja Reya yang ternyata ada ponsel Reya yang mana wallpaper Reya masih hidup dan Sean langsung mengambilnya dan mencuri perhatian Anggika. Namun Sean tersenyum dan berusaha untuk tenang dengan duduk kembali dengan meneguk air putih dan terlihat keringat dingin.


"Kamu kenapa Sean?" tanya Anggika.


"Aku memang aku kenapa?" Sean kembali bertanya.


"Mama lihat kamu seperti orang cemas," sahut Anggika.


"Aku biasa aja kok mah," sahut Sean, " semoga Reya melihat mama dan langsung bersembunyi," batin Sean yang hanya bisa berdoa di dalam hatinya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2