
Sementara di Jakarta di kamar Hotel yang telah di pesan Barra dan Citra ada di dalamnya yang masih terbaring dengan tubuh yang terlihat gelisah. Dan Barra di depannya yang sekarang sedang membuka pakaiannya dan melemparnya ke sembarang tempat.
Setelah pakaiannya terlepas. Bara kembali menaiki ranjang menghampiri Citra dengan menindih tubuh Citra sembari memebelai-belai rambut Citra.
"Sayang malam ini kau akan menjadi milikku," bisik Barra tepat di telinga Citra.
"Hmmmmm, jangan menggangguku! pergilah!" usir Citra yang berusaha menepis tangan Barra yang mengusap-usap pipinya. Barra menyunggingkan senyumnya dan langsung mencium bibir Citra.
Walau kesadaran Citra hilang. Namun ciuman itu dapat di rasakannya dan berusaha mendorong tubuh Barra dengan tenaganya yang tidak ada sama sekali. Namun tidak terdorong dan Barra semakin memperdalam ciumannya yang sangat memaksa yang tidak bisa membuat Citra bernapas.
Lama dalam ciuman itu dan Citra terus memberontak. Barra sekarang sedang mencium leher jenjang Citra.
"Pergi! siapa kamu! pergi!" Citra berusaha kembali memberontak dengan memukul-mukul dada Barra yang begitu tergesa-gesa melakukannya dan bahkan tangan Citra yang mengganggunya di cengkraman dan di letakkannya di atas kepalanya dan Citra sudah tidak bisa melawan lagi.
Barra tidak peduli wanita di bawahnya terus berteriak dengan suara lemah untuk meminta perbuatannya di hentikan. Baginya hanya ingin mendapatkan Citra seutuhnya menjadikan Citra sebagai miliknya adat Citra tidak pernah pergi darinya.
Tangan Barra bahkan sudah menurunkan dress yang di kenakan Citra. Dengan terus menciumi tubuh indah Citra, dari leher sampai kebahunya.
"Kak Sean! tolong Citra," air mata Citra keluar ketika dia yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia sepertinya sadar apa yang terjadi namun tidak berdaya.
"Jangan meminta tolong sayang! aku akan membuatmu ketagihan malam ini. Malam ini hanya untuk kita berdua. Aku dan juga kamu. Jadi jangan meminta tolong padanya. Karena dia tidak akan bisa menghalangi kita berdua," ucap Barra menatap wajah cantik Citra yang mata Citra terbuka sipit yang seakan mengumpulkan tenaga untuk pergi dari Pria yang wajahnya tidak bisa jelas di lihatnya. Pandangan mata Citra benar-benar rabun.
"Kau akan jadi milikku!" ucap Barra yang di penuhi gairah tersenyum miring yang tubuh Citra sudah menyisihkan Pakaian dalam saja begitu juga dengan Barra. Dan Barra yang sudah tidak sabaran untuk memiliki Citra langsung menjalankan aksinya.
Brukkk.
Tidak jadi Barra melakukan itu dan malah jatuh di samping tubuh Citra. Saat sebuah kayu memukulnya yang ternyata adalah Reya.
"Citra!" lirih Reya yang mendekati Citra dan mencoba untuk membangunkan Citra. Agar bisa keluar dari tempat itu sebelum Barra bangun.
__ADS_1
"Citra ayo bangun! Citra!" ucap Reya panik dengan menepuk-nepuk pipi Citra. Citra yang membuka matanya melihat wanita yang membangunkannya itu samar-samar.
"Bagaimana caranya aku membawanya," batin Reya yang kepanikan dan bahkan melihat pakaian Citra sudah terlepas dan semua itu perbuatan Barra yang kurang ajar.
"Reya!" tiba-tiba Reval memasuki kamar itu. Reval heran dengan Barra yang sudah tidak sadarkan diri dan Citra setengah naked. Reya langsung mengambil selimut dan menutup tubuh Citra.
"Reval! kamu kok ada di sini?" tanya Reya heran yang memang tidak tau Reval kenapa ada.
"Aku tadi melihat kamu gelisah dan akhirnya mengikuti kamu dan ada apa ini. Kenapa Citra seperti ini?" tanya Barra.
"Barra pasti berniat jahat pada Citra dan untung saja aku masih berhasil menyelamatkannya dan sekarang Citra tidak sadarkan diri. Sepertinya ada sesuatu yang di minumnya," ucap Reya yang menjelaskan dengan wajahnya yang panik.
"Ya sudah sebaiknya kita bawa Citra pergi dari sini," sahut Reval yang bertindak lebih cepat.
"Baiklah!" sahut Reya mengangguk dan Reval pun mendekati Citra yang di tutupi selimut.
"Aku pakaian sebentar pakaiannya," ucap Reya. Reval mengangguk dan Reya dengan cepat memakaikan pakaian Citra. Pasti Reval tidak melihatnya yang berusaha untuk mengalihkan pandangannya. Walau pertama tadi dia sempat melihat wanita itu setengah naked.
*********
Untung saja Reya datang tepat waktu jika tidak Citra sudah selesai di tangan Barra dan untung ada Reval yang membantu Reya yang sekarang Reval sedang menggendong tubuh Citra ala bridal style yang berjalan keluar dari hotel yang mana Reya juga mengikuti di belakang Reval.
Reya juga melihat ke sekeliling yang juga takut jika ada yang melihatnya. Makanya Reya begitu buru-buru berjalan sembari waspada.
Akhirnya mereka sampai mobil.
"Kamu akan bawa Citra kemana?" tanya Reval yang bingung.
"Aku tidak mungkin membawa Citra pulang. Semuanya bisa berantakan," batin Reya yang tidak ingin mengambil resiko.
__ADS_1
"Reval, aku minta tolong sama kamu. Kamu sebaiknya urus Citra ya. Dia kan mahasiswi kamu. Kamu pasti bisa menjaganya. Aku harus pergi karena ada urusan penting," ucap Reya yang memberikan alasannya.
"Begitu rupanya. Ya sudah aku akan membawanya," sahut Reval yang tidak masalah sama sekali.
"Ya sudah. Kalau begitu aku pergi dulu. Dan iya satu lagi. Kamu sebaiknya jangan bilang sama Citra jika ada aku. Kamu bilang saja kamu yang menemukannya," ucap Reya yang mengingatkan terlebih dahulu.
"Why?" tanya Reval dengan menautkan ke-2 alisnya.
"Nanti aku akan beritahu alasannya. Kamu bawa saja Citra pulang duku," sahut Reya.
"Ya sudah baiklah. Kamu hati-hati," ucap Reval. Reya menganggukan kepalanya dan langsung pergi menuju mobilnya yang supirnya sudah menunggu dan Reval pun langsung membawa Citra menuju mobilnya, membuka pintu mobil dan mendudukkan wanita yang tidak sadarkan diri itu. Reval juga memakaikan sabuk pengaman. Reval menghela napasnya dengan melihat wajah Citra yang begitu polos.
Setelah selesai Reval pun langsung menutup pintu mobil dan langsung menduduki kursi pengemudi. Reval masih melihat Citra dengan ekspresi yang tidak terbaca dan Reval langsung menarik gas mobilnya yang membawa Citra pergi. Tetapi tidak tau kemana.
*******
Reval membawa Citra ke rumahnya. Karena tidak mungkin mengantarkan Citra pulang. Bisa-bisa nanti dia yang di salahkan. Jadi lebih baik membawa Citra pulang dan langsung membawanya kedalam kamar yang langsung merebahkan tubuh Citra di atas ranjang.
"Di mana lagi aku," racau Citra yang menggaruk lehernya.
"Kenapa tubuhku panas sekali!" Citra yang kepanasan berusaha untuk melepas pakaiannya. Sepertinya saat bersama Barra obat yang di berikan Barra tidak beraksi dan malah beraksi saat bersama Reval.
Terbukti saat Reval berusaha menahan tangan Citra agar tidak melanjutkan hal bodoh itu. Citra yang merasa kulitnya tersentuh membuatnya semakin merasakan hal aneh dan bahkan mengalungkan tangannya di leher Barra dan membawa Barra lebih dekat dengannya sehingga Barra yang berada di atas tubuh Citra dengan wajah mereka yang saling berdekatan yang membuat Barra terkejut dengan matanya yang melotot.
Perlahan Citra membuka matanya untuk melihat Pria yang berada di atasnya itu. Wajah tampan dengan aroma tubuh yang begitu khas.
"Pak Reval!" lirih Citra tersenyum yang mengenali Reval.
"Apa bapak akan menghukum saya lagi. Bukannya saya sudah minta maaf. Lalu hukuman apa lagi yang ingin bapak berikan kepada saya?" tanya Citra dengan racauan tidak jelas yang menahan Reval agar tidak jauh-jauh dari dirinya.
__ADS_1
Bersambung