
Malam hari mobil Sean sampai kerumahnya dan Sean yang keluar dari mobil yang langsung memasuki rumahnya yang sangat kebetulan bertemu dengan Citra dan Reval yang sedang berada di ruang tamu yang sedang mengobrol.
"Kak Sean baru pulang?" tanya Citra.
"Iya Citra," jawab Sean.
"Reya di mana?" tanya Sean.
"Ada kok di atas," jawan Citra.
"Ya sudah kalau begitu kakak keatas dulu ya," ucap Sean.
"Iya kak," sahut Citra.
Citra tersenyum dengan melihat sang kakak.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tanya Reval.
"Sayang bagaimana tidak mau tersenyum. Sepertinya kak Sean akan membujuk kak Reya. Lihatlah dia membawa bunga dan aku yakin mereka pasti akan berbaikan setelah ini," ucap Citra yang tersenyum dengan penuh harapan.
"Memang masalah mereka begitu berat?" tanya Reval.
"Sayang kamu itu kenapa tanya lagi. Bukannya aku sudah mengatakan bagaimana detailnya kan aku sudah menceritakannya. Issss kamu pasti tidak dengarkan aku ya cerita," ucap Citra rada-rada kesal dengan suaminya itu.
"Bukan tidak di dengarkan sayang. Aku hanya lupa," jawab Reval.
"Issss bagaimana mungkin lupa. Pasti kamu memang tidak menyimak kalau istri kamu lagi cerita," ucap Citra jadi bad mood.
"Iya-iya sayang. Kamu ini ya langsung marah. Apa perlu aku belikan bunga juga seperti Sean?" tanya Reval.
"Kenapa tidak?" sahut Reya dengan santai.
"Isss kamu ini ya benar-benar," ucap Reval.
"Jadi tidak di belikan. Atau hanya sekedar bicara saja?" tanya Reya.
"Iya-iya sayang aku akan belikan kamu itu bunga. Kalau perlu sekalian sama toko-tokonya," ucap Reval.
__ADS_1
"Benar?" tanya Citra yang tidak percaya.
"Iya sayangku yang paling bawel," ucap Reval gemes sampai mencubit pipi istrinya tersebut.
"Isss kamu ini," geram Citra yang memeluk Reval yang dia sendiri juga gemas dengan suaminya.
"Kita doakan aja Sean dan Reya baik-baik saja hubungannya," ucap Reval.
"Iya sayang kamu benar. Yang penting masalah di antara mereka cepat kelar," ucap Citra dengan harapannya yang pasti yang baik-baik.
**********
Krekkkk.
Sean memasuki kamar dan melihat Reya yang berdiri membelakangi dirinya.
"Dari mana kamu?" tanya Reya berbalik badan.
"Ya dari kantor lah Reya. Pertanyaan kamu sangat aneh," sahut Sean yang belum memulai apa-apa seperti sudah di interogasi istrinya. Karena sangat terlihat jelas dengan tatapan Reya.
"Aku yang tanya, sebenarnya kamu yang kenapa? Apa yang aku lakukan sampai kamu tega kepadaku," ucap Reya yang menaikkan volume suaranya.
"Apa maksud kamu Reya. Kamu bisa tidak bicara pelan. Di rumah ini bukan hanya kita yang tinggal. Tetapi banyak orang kadi malulah sedikit," tegas Sean yang menekan suaranya. Lama-lama terpancing dengan Reya yang ngegas.
"Apa kamu bilang malu! Kamu menyuruhku malu. Lalu bagaimana dengan kamu apa kamu tidak malu dengan apa yang kamu lakukan. Pertama membohongiku dengan makanan dan sekarang aku tau kenapa kamu sudah tidak menyukai makanan yang aku buat. Ada wanita yang selama ini memberimu makanan," tuduh Reya membuat Sean kaget mendengarnya.
Saking terkejutnya dengan tuduhan itu membuat Sean memegang kuat bunga yang masih saja di pegangnya sejak tadi dan langsung menjatuhkannya dengan kasar.
"Cukup Reya!" bentak Sean yang amarahnya akhirnya kepancing.
"Apa kamu tidak bisa tidak menuduhku. Aku capek dengan semua yang kamu katakan yang tidak masuk akal. Aku berusaha baik-baik dengan hati yang tulus. Karena aku tidak tenang seharian di kantor dan pulang-pulang kerumah ini yang kamu berikan ada saja yang kamu pikirkan," bentak Sean.
"Kamu bilang tidak tenang. Bagaimana mungkin tidak tenang. Jika sudah mendapat pelukan dari wanita lain. Jangan bersandiwara di depanku. Jika sudah tidak menyukaiku katakan," teriak Reya.
"Aku bilang cukup menuduhku!" sahut Sean yang tidak kalah berteriak.
"Aku tidak biacara tanpa bukti!" tegas Reya yang mengambil ponselnya dan berdiri di hadapan suaminya menunjukkan layar ponselnya pada suaminya dengan tepat di depan mata suaminya yang mana Sean yang memeluk seorang wanita dan wanita itu Renita yang tidak dapat di lihat wajahnya. Karena hanya bagian belakangnya saja yang terlihat.
__ADS_1
"Siapa yang tidak tau malu di antara kita. Aku apa kamu hah! Siapa yang tidak tau malu. Aku apa kamu hah! Kamu berpelukan dengan wanita lain di tempat umum. Kamu yang memalukan!" teriak Reya dengan penuh emosi.
"Ini salah paham Reya. Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan," sahut Sean mencari pembelaan.
"Selalu saja mengatakan salah paham, tidak yang aku pikirkan ini dan itu. Kamu selalu saja mengelak, punya alasan. Basi semua yang kamu lakukan," tegas Reya yang sudah berapi-api dengan air matanya yang keluar.
"Aku tidak percaya Sean. Jika kamu bisa seperti ini. Aku tidak tau di mana letak kesalahanku sampai kamu harus mendua. Kamu menyukai wanita lain, sudah bosan padaku, apa aku sudah tidak menarik lagi," ucap Reya yang merasa insecur.
"Raya kamu tenang dulu!" Sean berusaha untuk menenangkan Reya yang semakin meledak-ledak.
"Sudahlah pergi kamu dari sini! Pergi! Aku muak melihatmu, kamu itu benar-benar jahat, sangat jahat," umpat Reya yang mengusir Sean dari dalam kamar.
Sean berusaha untuk menjelaskan dan mempertahankan diri di kamar itu. Namun Reya yang penuh emosi mendorong suaminya dengan kuat dengan penuh kemarahan sampai akhirnya Sean keluar dari kamar itu dan Reya langsung mengkunci pintu kamar.
"Reya buka pintunya! Reya dengarkan aku dulu! Ini hanya salah paham! Ayo bicara baik!' Reya,"
"Risya buka pintunya!"
"Reya kamu jangan seperti in!
"Reya! Reya! Reya!" Sean dengan mengetuk-ngetuk pintu dengan kuat yang berusaha untuk menjelaskan ke salah pahaman yang terjadi.
Namun Reya yang terduduk lemas di lantai kamarnya yang menagis dengan sengugukan yang sakit hati karena suaminya yang menghiyanatinya. Bahkan Reya tidak peduli dengan Sean yang sejak tadi memanggil-manggil dirinya.
Ternyata Reval dan Citra yang ada di bawah mendengar keributan itu melihat Sean yang berteriak-teriak ingin di bukakan pintu.
"Ada apa sebenarnya ini Citra?" tanya Reval.
"Tidak tau sayang. Aku juga bingung kenapa masalah mereka semakin besar dan aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Tetapi malah seperti ini," ucap Citra yang pasti sangat sedih dengan permasalahan di Anatar kakaknya itu.
"Reya sepertinya memang penuh amarah. Aku juga tidak mengerti," sahut Reval yang ikut kepikiran.
"Kita coba tanya kak Sean saja. Semoga saja tidak ada apa-apa," ucap Citra.
"Iya kamu benar. Jika nanti Sean sudah agak lumayan tenang kita bicara padanya," sahut Reval yang setuju.
Bersambung
__ADS_1