
Setelah selesai memberi makan Sahila. Sahila pun langsung tertidur dan Citra memakaikan selimut untuk Sahila sampai dadanya. Sangat terlihat jelas memang jika Citra begitu tulus kepada Sahila dan bahkan sangat baik kepada Sahila.
"Tante istirahatlah," ucap Citra dengan menghela napasnya dan langsung pergi keluar dari kamar itu yang tidak ingin menganggu kenyenyakan Sahila dalam tidurnya. Citra selesai menutup pintu kamar dan membalikkan tubuhnya yang langsung terkejut dengan Reval yang tiba-tiba berdiri di depannya.
"Reval!" lirih Citra dengan terkejut yang mengusap dadanya yang sepertinya hampir saja dia jantungan.
"Maaf Citra aku tidak bermaksud," ucap Reval yang merasa tidak enak.
"Kamu ngapain di sini, kamu itu bikin kaget aku aja," ucap Citra yang masih mengatur napasnya.
"Maaf Citra. Jika aku mengagetkanmu. Aku hanya ingin melihat mama saja. Makanya datang kemari," jawab Reval.
"Tante Sahila baru saja istirahat dan sebaiknya kamu jangan mengganggunya dulu. Nanti saja. Jika ingin menemuinya," ucap Citra yang menyarankan.
"Baiklah kalau begitu. Makasih ya Citra. Kamu sudah banyak membantu mama," ucap Reval.
"Tidak apa-apa," sahut Citra datar-datar saja menjawab dan Citra langsung pergi dari hadapan Reval. Namun Reval menahan tangannya dan membuat posisi mereka berdiri bersebelahan.
"Ada apa?" tanya Citra.
"Aku membawa makanan. Ayo makan bersama!" ajak Reval dengan lembut menunjukkan kantung plastik yang sejak tadi di pegangnya itu.
"Maaf Reval, aku sudah kenyang," sahut Citra menolak ajakan Reval.
"Citra kamu mengurus mama dengan baik dan aku tau kamu belum makan sebenarnya. Jadi aku mohon jangan menolak apa yang aku inginkan. Kita hanya makan saja dan tidak ada yang rugi bukan," sahut Reval.
Citra diam sejenak yang bingung dan pasti sebenarnya tidak mau makan sama sekali dengan Reval.
"Citra ayolah. Hanya makan dan aku sudah membelikan nya. Tidak mungkin kan aku akan memakannya sendiri," ucap Reval.
Citra dalam keraguannya menghela napasnya, " baiklah," sahut Citra yang akhirnya menerima tawaran Reval dan Reval tersenyum mendengarnya itu yang memang yang di inginkannya.
***********
__ADS_1
Reval dan Citra makan bersama di ruang tamu yang ke-2nya duduk di lantai yang bersebalahan dan makanan mereka di atas meja.
"Kamu suka ramennya?" tanya Reval yang membelikan Citra ramen dan pasti Citra menyukainya. Karena itu makanan kesukaannya.
"Iya. Aku sangat suka," jawab Citra yang apa adanya.
"Aku membelinya di tempat biasa," jawab Reval yang apa adanya yang mungkin sengaja membelikan makanan kesukaan Citra dan di tempat Citra biasa membelinya yang pasti Reval tau.
"Oh begitu," sahut Citra datar yang hanya menjawab singkat sembari melanjutkan makannya. Tidak masalah bagi Reval dengan cueknya Citra menanggapi usahanya.
"Aku dengar-dengar Reya ingin mencari orang tua kandungnya?" tanya Reval yang selalu punya topik agar tidak hening saat bersama dengan Citra.
"Iya. Aku juga baru tau dan itu semua saran dari mama dan mama juga akan membantu Reya untuk menemukan ke-2 orangtuanya. Karena mama tau Tante Erina tidak akan memberikan petunjuk apa-apa," ucap Citra dengan datar-datar saja.
"Tante Anggika memang baik. Selain dia sudah membawaku kerumah sakit dia juga banyak melakukan hal lain dia wanita yang sangat baik Citra. Aku sangat menyesal pernah jahat kepadanya," ucap Reval.
"Penyesalan selalu datang terlambat. Jadi jangan mengungkit hal itu. Bukannya kalian ber-2 juga sudah saling memaafkan," sahut Citra.
"Lalu bagaimana dengan dirimu. Apa kamu sudah memaafkan ku?" tanya Reval membuat Citra berhenti makan sebentar dan melihat kearah Reval.
"Semua ini ada ujungnya Citra dan aku yakin itu," sahut Reval yang tetap keras dan tidak akan pernah menyerah sama sekali.
Ke-2nya saling melihat dengan mata mereka yang saling menatap dengan perasaan yang bisa di pastikan pasti masih ada getaran di antara keduanya.
Dalam keheningan yang saling menatap itu membuat Reval mendekatkan wajahnya pada Citra dengan mengusap lembut pipi Citra dan Citra tidak protes sama sekali. Reval pun mendekatkan bibirnya pada Citra yang ingin meraih bibir Citra. Namun saat semakin dekat. Citra mengalihkan wajahnya yang tidak ingin ada kelanjutan dalam hal itu.
"Jangan melakukan itu," ucap Citra dengan suara seraknya.
"Kenapa? bukannya kita saling mencintai dan meski kamu percaya dengan status kita. Tetapi tetap kita 2 orang yang mencintai," ucap Reval.
Citra menyinggirkan tangan Reval dari pipinya dan langsung berdiri dari duduknya, "kamu pulanglah. Makannya sudah selesai. Jika terjadi sesuatu pada Tante Sahila aku akan mengabarimu. Jadi pulanglah," ucap Citra dengan dinginnya.
Citra tidak ingin mendengar Reval berkata-kata apa-apa lagi dan lebih baik Citra yang pergi sendiri dan Reval hanya menghela napasnya saja yang memang harus lebih banyak bersabar untuk semua yang terjadi untuk hubungannya dan juga Citra.
__ADS_1
**********
Sementara di sisi lain. Reya dan Sean yang sudah berada di rumah Reya dulu mencari-cari petunjuk mengenai Reya agar menemukan orang tua kandung Reya.
Mereka menggeledah semua isi rumah tersebut dengan teliti agar menemukan petunjuk yang bisa membuat Reya tau asal-usulnya.
"Bagaimana sayang? apa kamu mendapatkan petunjuk lain?" tanya Sean.
"Tidak ada sayang. Hanya surat adopsi yang dulu aku temukan saat mengetahui Reval anak mama," jawab Reya dengan lemas.
"Coba aku lihat," sahut Sean yang memintanya pada istrinya dan Reya langsung memberikannya.
Reval langsung melihat-lihat dengan teliti surat adopsi tersebut yang mana Reya di adopsi saat masih berusia 2 tahun dan Reya sama sekali memang tidak mengingat apa-apa. Karena usianya yang masih kecil.
"Panti asuhan sejahtera," lirih Sean yang membaca nama panti asuhan yang tertera
"Ada apa dengan panti asuhannya?" tanya Reya.
"Bagaimana kalau kita ke panti asuhan saja. Tante Erina mengambil kamu dari sana dan pasti kita banyak mendapat informasi dari sana. Jadi alangkah baiknya kita tanya saja ke panti asuhannya," ucap Sean dengan idenya yang tiba-tiba muncul.
"Iya kamu benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran masalah itu sejak tadi," sahut Reya yang langsung setuju dengan Reval.
"Iya kita harus mencari informasi di sana. Karena itu sumbernya," sahut Reval.
"Ya sudah sayang kalau begitu ayo kita langsung pergi saja," sahut Reya yang bertambah semangat.
"Reya, kita besok saja ya perginya. Ini sudah malam kita sebaiknya kerumah sakit dulu. Kita temui mama dan yang lainnya," ucap Sean.
"Memang kamu lelah ya?" tanya Reya.
"Aku tidak lelah. Hanya saja aku tidak mau kamu sampe kecapean. Bukannya kita sudah saling berjanji. Jika kita melakukan semua ini dengan pelan-pelan dan tidak ada yang di buru-buru. Jadi jangan sampai. Kamu atau aku jadi sakit karena masalah ini," ucap Sean yang berbicara lembut pada istrinya.
"Baiklah sayang aku paham kok dengan apa yang khawatirkan. Ya sudah kalau begitu kita pulang saja. Nanti lagi kita melanjutkan untuk mencari orang tua ku," sahut Reya yang akhirnya setuju.
__ADS_1
"Ya sudah ayo!" ajak Sean. Reya mengangguk dan mereka langsung meninggalkan rumah tersebut yang akan melanjutkan keesokan harinya.
Bersambung